
Daniel menunggu Lea menelpon. Karena tadi saat ia di kantor, Lea sudah berjanji. Namun setelah pulang ke rumah, Daniel tak jua di hubungi oleh istrinya itu. Sedang saat Daniel coba menelpon, nomor Lea tidak aktif.
Daniel merasa suntuk, dulu saat belum mengenal Lea. Biasanya ia akan menghabiskan waktu di klub malam, jika tengah mengalami kepenatan.
Namun saat ini ia sudah menjadi calon ayah, Daniel ingin menjauhi alkohol secara perlahan. Ia tidak ingin membiasakan diri lagi, berada di dalam keadaan yang tidak sadar. Takut terbawa jika anaknya nanti lahir.
Daniel terus menunggu, bahkan sampai ia merasa bosan. Daniel melangkah menuju ke kamar Lea. Ia memperhatikan ruangan itu sejenak, lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Tak lama ia pun berbaring dan terlelap di sana.
***
Waktu berlalu.
Daniel terbangun oleh getar handphone, yang ada di dalam genggaman tangannya. Entah sudah berapa jam ia tidur di tempat itu.
"Lea."
Ia begitu bahagia menerima panggilan video call dari sang istri, meski wajahnya sendiri masih terlihat begitu mengantuk.
"Mas maaf, tadi ayah ngajak aku makan di luar. Aku nggak bisa nolak, karena nggak enak juga. Selama ini kan, sebelum aku tau dia ayah aku. Dia juga udah baik sama aku. Maafin aku ya, mas."
Daniel menghela nafas dan tersenyum, ia tak akan menyalahkan Lea. Sebab Lea pun sangat kekurangan kasih sayang ayahnya sejak kecil. Ia membutuhkan Richard, meski Daniel sejatinya kesal setengah mati atas sikap sahabatnya itu.
"Iya, nggak apa-apa. Aku juga ketiduran tadi." ujar Daniel.
"Mas tidur di kamar aku?"
Daniel mengangguk, lalu menguap karena nyawanya baru kembali.
"Kangen kamu, makanya aku kesini."
"Aku sayang kamu, mas."
"Aku juga sayang kamu."
"Pengen peluk." rengek Lea.
"Iya sayang." ujar Daniel seraya memperhatikan istrinya itu.
"Tadi kamu makan apa?" tanya Daniel.
"Makan sate ayam, sama nasi satu, lontong dua."
Lea tertawa, namun sang suami lebih tertawa lagi.
"Serius kamu makan semuanya?"
"Serius, mas."
"Abis?"
"Abis dong." ujar Lea.
"Anak kamu nih, makannya banyak banget." lanjutnya lagi.
Mendadak hati Daniel pun menjadi haru.
"Dia sehat kan?" tanya nya kemudian.
"Sehat, mamanya aja sehat. Mas udah makan?"
Daniel menggeleng.
"Loh kenapa?" tanya Lea heran.
"Males, nggak kepengen."
"Jangan gitu mas, makan ya?"
"Ntar aja, mau ngobrol dulu sama kamu."
"Nggak mau. Pokoknya kalau nggak makan, aku matiin handphone nya."
__ADS_1
"Koq kamu jahat sih?" tanya Daniel.
"Mas yang jahat sama diri sendiri."
Kali ini Daniel tertawa.
"Kalau nggak makan itu namanya menyiksa diri sendiri, mas."
"Iya, bawel. Ibu hamil emosian amat."
Kali ini Lea tersenyum.
"Ayo makan, aku temenin."
"Iya, ini mau makan."
Daniel berjalan ke arah dapur, ia membuka rak kitchen set. Mengambil roti tawar dan juga selai coklat.
"Mas nggak masak?"
"Males, Le. Udah nggak sempat mikir mau masak ini itu, lagi. Sepanjang hari aja aku mikirin gimana caranya, supaya Richard balikin kamu ke aku."
Lea terdiam, ia menjadi begitu kasihan pada suaminya tersebut.
"Maafin aku sama ayah, ya mas."
Lagi-lagi Daniel menghela nafas.
"Iya nggak apa-apa." ujarnya lalu duduk di meja makan.
Ia kemudian menyandarkan handphone ke toples berisi gula, yang ada di meja makan. Lalu ia mulai membuka roti dan mengoleskan selai diatasnya. Tak lama kemudian, ia mulai makan di hadapan istrinya itu.
Daniel melahap roti tersebut hingga beberapa gigitan. Sampai kemudian ia tersadar jika saat ini Lea tengah memperhatikan dirinya, sambil menelan ludah.
"Kayaknya enak banget ya, mas?. Aromanya serasa sampe sini loh, bau roti sama coklat."
Mendadak Daniel jadi terdiam dan merasa bersalah.
"Abis gimana?. Aku pengen roti sama selai coklat juga."
Lea merengek layaknya orang ngidam pada umumnya. Bahkan mungkin lebih parah.
"Di meja makan Richard kan, biasanya ada." ujar Daniel.
"Ada sih, sebenernya aku juga bisa minta ambilin. Tapi gimana, lagi nelpon gini. Ntar yang nganterin tau terus ngadu ke ayah. Masalah lagi."
"Ya udah kamu matiin dulu, ntar kalau udah ada baru telpon aku lagi."
"Mmm, iya juga sih ya."
"Ya udah sana, minta ambilin. Aku tunggu."
"Jangan di habisin dulu makannya, bareng aku."
"Iya."
Lea kemudian mematikan handphone, dan menyembunyikan perangkat tersebut. Tak lama ia mengetuk pintu dari dalam, berharap ada maid yang mendengar.
"Tok, tok, tok."
"Mbak, mbak."
"Iya mbak Lea."
Seorang maid membuka pintu, Richard memang menyuruh satu orang menjaga di dekat kamar Lea secara bergantian.
"Mbak mau roti tawar sama selai coklat dong." ujar Lea.
"Mau berapa lembar mbak?" tanya maid tersebut.
"Mau satu bungkus bawa kesini, sama selainya yang coklat."
__ADS_1
"Coklat aja, coklat hazelnut, atau choco rice crispy."
"Bawa aja semuanya mbak."
"Ok."
Lea pun menutup pintu dan menunggu. Kalau masalah air minum, ada galon dan kulkas di dalam kamar tersebut. Sejatinya di dalam kulkas itu ada banyak makanan, namun Lea saat ini ingin makan roti tawar. Daniel telah mempengaruhi seleranya.
Maid tiba beberapa saat kemudian. Setelah menerima roti dan selai yang ia minta, Lea mengunci pintu dan kembali video call dengan Daniel.
"Mas, hehe."
"Udah ada?" tanya Daniel seraya tersenyum.
"Ada nih, satu bungkus."
Lea mulai membuka roti tersebut dan mengoleskan selai coklat di sana.
"Mas makan lagi dong." ujar Lea.
"Iya, ini aku makan."
"Hmm, aromanya mas."
Lea mencium bau dari roti dan selai coklat yang ada di tangannya. Tak lama kemudian, ia pun mulai makan.
"Hmm, hmm." ujarnya seraya menggigit lagi dan lagi.
Daniel tertawa memperhatikan istrinya itu, mereka makan sambil lanjut berbincang.
"Mas nambah lagi dong." Lea berujar ketika Daniel telah menyelesaikan suapan terakhir.
"Udah, Le. Aku udah kenyang."
"Beneran?"
"Iya beneran."
"Baru juga dua, mana nggak makan nasi lagi kamu."
Lagi dan lagi Daniel tertawa.
"Ini kan juga karbohidrat, Jamilah." ujarnya kemudian.
"Emang mas nggak laper, makan sedikit begitu?"
"Ya jangan bandingkan sama kamu, yang perutnya ada isi."
Kali ini Lea yang tertawa.
"Nggak tau mas, laper mulu."
"Tapi kalau pagi, udah jarang muntah kan?"
"Udah jarang sih, sesekali doang paling."
Daniel kemudian beralih ke arah kulkas dan mengambil satu botol susu steril. Tiba-tiba Lea berhenti mengunyah dan memperhatikan suaminya itu.
"Kenapa Le?" tanya Daniel heran.
"Mau susu juga."
Lea bergegas menuju ke kulkas dan mengambil sebotol susu di sana. Daniel meminum susu yang ada di tangannya sambil menahan tawa, karena takut tersedak. Baru kali ini ia menghadapi perempuan hamil dan baginya itu sangat lucu.
"Mas ngetawain aku ya?" tanya Lea.
"Iya, abis kamu lucu. Apa yang orang makan, minum, kamu juga mau."
"Aku malu tau, mas. Tapi gimana, mulut aku pengen makan terus."
Daniel terus saja tertawa bahkan nyaris tak pernah berhenti lama. Dalam perbincangan kali ini, keduanya benar-benar merasa seperti tak terpisahkan oleh jarak. Penuh kehangatan, dan juga kebahagiaan.
__ADS_1