Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mari Berlibur


__ADS_3

Satu bulan berlalu, ayah Rangga telah dijatuhi vonis hukuman yang bahkan lebih berat dari mami Bianca. Rangga dan ibunya sudah lebih tegar dari saat di awal penangkapan sang ayah terjadi.


Daniel sendiri dinyatakan tidak bersalah dan pernikahannya dengan Lea dianggap sah. Walau masih ada saja netizen yang berkata miring terhadap dirinya dan juga sang istri. Namun kini lebih banyak lagi yang membela mereka berdua.


Daniel memeluk Lea, saat semuanya telah selesai dan ia merasa seperti orang yang baru saja keluar dari himpitan baru besar.


Lega sekali rasanya. Pikiran Lea pun awalnya sudah kemana-mana. Ia sempat mengira Daniel akan dipenjara, kemudian mereka akan dicerai paksa. Lalu Darriel akan menjadi anak yang keluarganya berantakan.


Namun apa yang menjadi ketakutan Lea tersebut ternyata tidak terjadi. Ia bersyukur semua itu hanyalah bagian dari otaknya yang over thinking.


"Aku senang mas, akhirnya masalah kita selesai." ucap Lea.


"Aku juga sama, Le. Rasanya kayak orang sembelit terus berak tau nggak." seloroh Daniel.


Lea tertawa kali ini.


"Koq analoginya ke situ?" tanya Lea heran.


Daniel yang terkekeh kali ini.


"Pokoknya aku tenang dan lega sekarang." ujar pria itu.


"Ayah dan orang kantor kamu udah tau kan?" tanya Lea lagi.


"Udah, aku akan diaktifkan lagi di kantor. Tapi sebelum itu, kita nikmatin dulu aja masa libur aku. Kita jalan-jalan ke luar negri yuk, ajak Darriel sekalian."


"Emang Darriel udah boleh naik pesawat?" tanya Lea lagi.


"Umur tiga bulan aja udah boleh koq. Dia udah lebih." jawab Daniel.


"Oke deh kalau gitu. Udah lama juga kita nggak jalan." ucap Lea dengan wajah penuh sumringah.


Daniel mencium kening istrinya itu.


"Darriel mana?" tanya nya kemudian.


"Tuh di kamar lagi ngoceh-ngoceh. Nggak mau tidur." jawab Lea.


Daniel tertawa lalu melepaskan pelukan. Ia kini bergerak ke arah kamar Darriel diikuti oleh Lea.


"Oh ya mas, ntar kita kemana?. Ke negara mana?"


"Ntar kita bicarakan lagi." jawab Daniel.


"Kita naik jet pribadinya Ellio." lanjutnya kemudian.


"Kita naik itu?"


"Ya iyalah, apa fungsinya Ellio sebagai teman kalau barangnya nggak boleh dipinjam."


"Definisi teman nyusahin." seloroh Lea.


"Yoi."


Keduanya lalu sama-sama tertawa.


***

__ADS_1


Clarissa di ketemukan, ternyata ia di sekap oleh orang suruhan ayah Marvin. Bukan oleh Marvin-nya sendiri.


Dan yang lebih parah lagi adalah, Clarissa mengalami ruda paksa dari mantan sugar daddy nya. Bahkan dari hari pertama ia diculik.


Richard sangat menyayangkan hal tersebut dan menyesali diri. Mengapa dirinya tak bisa menyelamatkan perempuan itu di hari yang sama saat ia dibawa.


Clarissa mengalami trauma berat, beruntung bayinya sangat kuat dan tak terjadi apa-apa. Richard menemui dan memukuli Marvin. Ia mengatakan jika pemuda itu adalah pemuda paling menjijikkan. Yang mau begitu saja melepas tanggung jawab, padahal sudah melakukan kesalahan.


"Anak itu belum tentu anak gue."


Marvin masih membela diri walau susut bibirnya sudah mengeluarkan darah, akibat pukulan dari Richard.


"Memang belum tentu anak lo. Tapi lo juga jangan membiarkan orang tua lo menyiksa dia." teriak Richard.


"Apa lo bilang?. Orang tua gue?"'


Richard lalu mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ayah Marvin dan mantan sugar daddy Clarissa telah mendalangi penculikan wanita itu. Marvin sangat terpukul, ia bahkan tak berpikir sampai kesana.


Ia semula mengira Clarissa-lah yang membuat pemberitaan buruk tentang dirinya. Ia berniat menemui wanita itu untuk membuatnya berhenti berbuat demikian. Tetapi tidak memiliki niat untuk mencelakai apalagi sampai merudapaksa hingga berkali-kali.


"Oke kalau misalkan itu bukan anak lo. Kalau dia ternyata darah daging lo sendiri gimana?. Sebagai ayah lo udah membiarkan dia tersiksa bahkan saat masih dalam kandungan ibunya."


Marvin benar-benar terpukul mendengar semua itu. Ia bertanya pada Richard dimana Clarissa berada saat ini. Richard mengantarnya sampai kesana.


Namun keluarga Clarissa menolak dan memaki Marvin. Marvin kini jadi merasa sangat bersalah.


Ia sejatinya bukan orang yang begitu jahat. Hanya pemuda yang merasa dirinya mempunya power dan bisa melakukan banyak hal, termasuk menolak perempuan yang mengaku-ngaku tengah mengandung anaknya.


Masalah tersebut selesai sampai disitu. Urusan Marvin mau di bawa ke pihak yang berwajib atau tidak, itu bukan menjadi urusan Richard.


Lea juga tak mau membalas jahat, mengingat Clarissa tengah mengandung anak yang tak bersalah. Lagipula hidupnya kini sudah hancur, dan mentalnya tak mungkin pulih dalam waktu yang sebentar.


Sudah cukup karma buruk yang diterima perempuan itu, dan ia layak mendapat kesempatan kedua.


***


"Gimana mas, udah siap?" tanya Lea ketika akhirnya mereka memutuskan untuk berlibur.


"Udah." ujar Daniel seraya menyeret koper yang berisi pakaian.


"Mereka melangkah menuju lift."


Tiba-tiba keduanya merasa ada yang kurang, namun mereka tak tau itu apa.


"Kayak ada yang tinggal deh mas. Tapi apa ya?" tanya Lea.


Keduanya saling bersitatap, pintu lift pun tertutup.


"Mas, Darriel."


"Astaga."


Daniel buru-buru memencet kembali tombol lift dan untungnya masih bisa terbuka. Sepasang suami istri itu berlarian ke kamar sang anak. Darriel yang sudah siap dengan setelan baju berwarna biru dongker itu tampak tertawa-tawa.


"Heheee."


"Hehe, hehe. Tau nggak kamu hampir ketinggalan."

__ADS_1


Seloroh Lea sambil mendorong stroller anak itu. Ia dan Daniel pun menarik nafas dalam-dalam kemudian sama-sama tertawa.


"Saking antusiasnya ya mas." ujarnya kemudian.


"Efek jarang liburan, Le. Jadinya lupa semua." Daniel menimpali.


Mereka pun lalu turun ke bawah. Mereka menitipkan keamanan penthouse pada sekuriti. Kemudian mulai bergerak menuju bandara.


Sesampainya disana, karena memakai jet pribadi. Mereka tak harus mengantri untuk check in.


"Delil mau kemana Delil?" tanya Lea kemudian.


"Hokhoaa, heheee."


"Seneng banget ya." ujar Lea.


Bayi itu tampak antusias. Mereka pun akhirnya berangkat. Di dalam pesawat, Darriel diletakkan di tempat khusus bayi. Bentuknya seperti box dengan sabuk pengaman didalamnya.


Kedua telinganya di tutup dengan headphone bulu. Lea dan daniel kini saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Makasih ya Le, atas semuanya."


Daniel mencium tangan Lea.


"Aku juga makasih mas, atas semua yang kamu lakukan untuk aku dan Darriel. Semoga kedepannya kita selalu sehat dan makin bahagia lagi." ujar Lea.


Daniel mengangguk dan tersenyum. Semua masalah kini telah berakhir. Mungkin akan ada masalah-masalah lain yang bakal mereka hadapi di depan nanti.


Tetapi yang jelas, mereka kini sudah menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Mereka percaya jika mereka terus bersatu, maka mereka akan mampu menghadapi apapun.


Jauh di sudut lain, Richard tampak menikmati hidupnya dengan berendam di air hangat dengan ditemani segelas wine. Ia merindukan Darriel, tentu saja. Namun cucunya itu akan segera kembali dalam waktu dekat.


Ia benar-benar merasa tenang kali ini. Sebab semua masalah telah clear dan kehidupan mereka sudah kembali seperti sedia kala.


Mengenai siapa jodohnya nanti, Richard tak terlalu ambil pusing. Toh di luar negri sana berhamburan laki-laki berusia 40-50 tahun yang belum menikah.


Jika tujuan orang menikah adalah untuk memiliki keturunan. Richard sudah memiliki Lea dan juga Darriel.


Ia benar-benar ingin menikmati hidupnya kali ini. Orang tuanya pun sudah tak lagi merongrong dan membiarkan Richard berbahagia dengan caranya sendiri. Mereka hanya mendoakan yang terbaik untuk anak mereka itu.


Sementara kini Ellio, sangat berkonsentrasi untuk kehamilan Marsha. Bahkan ia sudah mulai memilih-milih, kamar mana yang akan dijadikan kamar anaknya nanti.


Kehidupan teman-teman Lea pun tampak normal dan bahagia. Vita dan Nina dikabarkan tengah menjalin hubungan dengan seseorang. Nina sudah bisa move on meski masih selalu teringat pada mendiang anaknya.


Tak ada masalah dalam kehidupan Adisty, Ariana, Iqbal, Rama dan juga Dani. Sama halnya dengan kehidupan ini Lea yang kini lebih berwarna dengan kejadian kembali ayah Leo.


Sharon sudah lebih energik dari sebelumnya. Ia kini membangun channel motivasi kehidupan di YouTube dan telah memiliki ratusan ribu subscriber.


Arsen tak lagi di bully. Ia mendaftarkan diri pada lembaga konservasi alam dan cagar budaya. Di samping ia masih mensupport teman-temannya yang mengurusi masalah perlindungan bagi anak dan perempuan.


Edmund dan ibu dari anaknya berbaikan, kini Danisha telah ia akui sebagai darah dagingnya dan juga adik dari Daniel.


Semua orang kini bahagia di jalannya masing-masing.


***


SEKIAN

__ADS_1


__ADS_2