
Saat pulang ke rumah, Richard terlihat lebih segar dari sebelumnya. Ia jadi lebih banyak senyum-senyum sendiri dan seperti orang yang bebannya agak berkurang.
Ia pergi mandi dan masih memikirkan pertemuan tadi dengan Nadya. Ia mengingat setiap suara, perkataan dan juga senyuman wanita itu.
"Ah."
Betapa ia lupa dan sudah tidak peduli lagi jika Nadya merupakan istri Hanif. Baginya Hanif begitu bodoh, menyia-nyiakan berlian demi dua butir batu ginjal.
Sungguh merupakan perbedaan yang jauh antara Nadya dan dua istri Hanif lainnya. Soal usia, Nadya bahkan belum menyentuh 40 tahun. Ia jauh lebih muda ketimbang Hanif.
Biasanya permasalah laki-laki yang mencari istri baru adalah karena urusan ranjang. Tetapi Nadya bukan perempuan tua yang mungkin sudah tidak mampu lagi melayani. Dia cantik dan juga masih muda, meski tak semuda Yayah dan juga Susi.
Mungkin memang sudah menjadi penyakit Hanif, untuk selalu merasa kurang dan tidak bersyukur atas apa yang sudah ia miliki.
Sementara itu tak jauh berbeda. Entah mengapa pikiran Nadya kini tertuju pada Richard. Wanita itu berusaha menepis pikirannya dan menyadari jika ia telah bersuami.
Ia tak boleh memikirkan pria lain dan harusnya hanya memikirkan Hanif. Nadya pun beralih dari mengingat Richard, menjadi berusaha mengingat Hanif.
Namun ketika wajah Hanif melintas, ada rasa sakit yang teramat sangat menusuk di hatinya. Ya, dua perbuatan yang telah suaminya itu lakukan turut serta melintas di benak Nadya. Kala ia coba memikirkan pria tersebut.
Rasa sakitnya begitu dalam terpendam, hingga kemudian muncul lagi bayangan Richard yang tampan dan berwibawa. Yang bahkan di usia sekarang saja, ia belum memiliki istri satu pun.
"Ah."
Nadya kembali menepis pikiran itu. Betapa rumput tetangga memang selalu lebih hijau jika dipandang. Rumput dihalaman sendiri seperti semak belukar yang dipenuhi ular. Ular Yayah dan juga ular Susi.
"Dert."
"Dert."
Handphone Nadya bergetar, ternyata telpon dari Hanif.
"Iya mas."
Nadya berujar pada suaminya itu.
"Kamu sudah pulang ke rumah?" tanya Hanif.
"Su, sudah mas." jawab Nadya agak terbata-bata.
__ADS_1
Sebab ia mengingat kebersamaannya dengan Richard tadi sebagai sebuah kesalahan. Ia sangat takut berbuat salah, sebab dibesarkan dalam keluarga yang menuntut dirinya menjadi wanita sempurna.
"Baguslah kalau sudah dirumah, jangan kemana-mana tanpa seizin aku."
Hanif takut istrinya itu berpaling, sementara dirinya ingin dibebaskan kemanapun ia hinggap.
"Iya mas, aku nggak akan kemana-mana koq, dirumah aja."
"Ya sudah, aku mau menemani Susi jalan-jalan. Dia ngidam pengen ditemani ke pantai."
Ada rasa menusuk dihatinya saat Hanif berbicara demikian. Bayangan Susi yang bermanja-manja memanfaatkan kehamilannya terlintas di benak Nadya.
Namun sekali lagi ia menarik pikirannya ke arah yang positif. Ia mencoba seikhlas mungkin dan berlapang dada. Meski itu adalah sesuatu perbuatan yang sulit.
***
Di kediaman Richard beberapa waktu kemudian. Richard tampak mencuci mobilnya di halaman samping. Sebuah kebiasaan baru yang mengejutkan seisi rumah.
Mengingat selama ini pria itu selalu pergi ke car wash untuk membersihkan kendaraan. Dan ia masih memiliki uang banyak untuk melakukan hal tersebut.
Namun kali ini ia tampak melakukannya sendiri, dengan wajah yang tak henti-hentinya tersenyum. Padahal hari telah gelap dan seharusnya ia berganti piyama lalu bersantai di kamar.
"Pak bos kenapa dah?" tanya salah seorang sekuriti pada sekuriti lainnya.
"Iya kali ya, tumben-tumbenan nyuci mobil sendiri di jam segini sambil senyum-senyum gitu."
Sama halnya dengan dua sekuriti tersebut. Dari arah belakang beberapa asisten rumah tangga Richard juga tengah memperhatikan dirinya. Mereka merasa aneh dengan Richard yang tiba-tiba melakukan hal tersebut, di jam yang tidak wajar.
"Tumben pak Richard." celetuk salah seorang dari mereka.
"Iya ya, seumur-umur baru kali ini liat dia begitu." yang lainnya menimpali.
"Pak Richard lagi jatuh cinta say, jadi energinya berlebih."
Lita yang melintas mengabarkan itu semua.
"Sama yang dia curhatin ke kita itu?" tanya salah seorang asisten rumah tangga yang ada didekatnya.
"Yes, sama istri orang. Tapi cantik banget, tadi gue, Ayu, sama Siti ketemu di supermarket."
__ADS_1
"Oh ya?. Emang kayak apa sih cantiknya?" Para asisten rumah tangga tersebut mulai penasaran.
"Pokoknya kayak artis tapi kalem dan tertutup. Kita semua nih lewat cantiknya sama dia." ujar Lita.
"Wah, jadi penasaran pengen ketemu." ujar salah seorang dari mereka lagi.
"Eh Lit, tapi kira-kira dia tipe mak lampir bukan?. Ntar misalkan berhasil di dapatkan oleh pak Richard, jadi ngeselin lagi." ujar yang lainnya.
"Iya Lit, ntar sok nyonya besar lagi. Atau cemburuan sama kita. Kan gawat kalau sampai kita kehilangan pekerjaan gara-gara dia. Mana emak gue dan adek-adek gue bergantung sama kiriman dari gue lagi." Asisten lain menimpali.
"Kalau menurut penilaian gue sih, nggak. Karena orangnya baik banget." jawab Lita.
"Sama Maryam-Maryam yang kemaren gimana?" Lagi-lagi salah satu dari asisten rumah tangga itu bertanya.
"Enakan sama yang ini. Orangnya ramah dan nggak enakan terhadap orang lain." jawab Lita.
"Tapi kasihannya, dia itu dimadu sama suaminya. Suaminya punya dua istri, satunya baru dinikahi tempo hari." lanjut wanita itu.
"Oh iya yang pak Richard cerita."
"Nah kata pak Richard, madunya itu nggak ada yang cakep. Mirip cobek ulekan sambel semua, tapi suaminya itu doyan banget nikah mulu."
"Ih amit-amit ya. Pasti cowoknya nggak ganteng. Biasanya yang bertingkah gitu mukanya pas-pasan."
"Bukan lagi pas-pasan say, kurang. Sangat kurang." ujar Lita.
"Gue geliat fotonya di handphone pak Richard. Sumpah, gue biar kata pembantu kayak gini, ogah. Nggak mau gue sama cowok kayak gitu." lanjutnya lagi.
"Ibarat kata lo playboy, doyan nikah. Kalau muka lo kayak Jeffri Nichol orang maklum ya." ujar salah seorang dari mereka.
"Lah iya, ini kagak ada setengah-setengahnya dari Jeffri Nichol. Seperempatnya aja nggak ada, tapi lagu-laguan punya bini banyak."
Mereka semua pun tertawa-tawa. Sementara Richard melanjutkan pekerjaannya. Bahkan pria itu kini membuka baju kaos yang ia kenakan lantaran basah oleh air.
"Waduh."
Para asisten rumah tangga menghentikan aktivitas dan melihat ke arah bos mereka tersebut.
"Anjay panas dingin gue." ujar salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Ganteng banget, njir. Sayang majikan gue." yang lainnya nyeletuk.
Richard terus menyiram mobilnya, bahkan kini menyiram tubuhnya sendiri. Para asisten rumah tangga seperti kehilangan tulang dan terpesona oleh ketampanan serta keindahan tubuh bagian atas dari bos mereka tersebut.