
"Come on, Dan."
"Go, Richard."
Daniel dan Richard meminum minuman mereka sloki per sloki. Ada yang menyemangati Richard, namun tak sedikit pula yang mendukung Daniel.
Suasana malam itu begitu riuh, Richard yang terkenal paling kuat minum tersebut masih terlihat santai saja. Disaat Daniel sendiri sudah mulai oleng.
"Dan, lo harus bertahan demi Lea dan anak lo."
Ellio menyemangati Daniel, pria itu pun kembali minum. Ia terus bertahan, meski bartender yang ada dihadapan mereka menuang lagi dan lagi.
Suasana kian riuh, banyak diantara para bos yang taruhan. Mengenai siapa yang akan menang diantara Daniel dan juga Richard. Sementara di beberapa sudut, banyak wanita yang mengungkapkan kekecewaannya.
"Serius nggak sih, Daniel udah nikah?" tanya salah seorang dari mereka.
"Ntar deh gue tanya sama orang kantornya. Gue punya temen yang kerja di kantornya dia." ujar wanita yang lainnya.
"Padahal gue ngincer Daniel udah lama tau, siapa sih itu cewek?" Wanita yang lainnya lagi ikut-ikutan nyeletuk.
Malam terus beranjak, suasana pesta itu tak berubah. Mereka semua tetap riuh dan memberi dukungan pada masing-masing kandidat yang mereka jagokan.
"Richard lah yang pasti menang." ujar salah seorang bos dengan penuh percaya diri.
"Orang dia dewa tuak." lanjutnya lagi.
"Heh, jangan seneng dulu. Lo liat tuh Daniel aja nggak mau nyerah." celetuk yang lainnya.
"Gue yakin Dan bentar lagi tumbang."
Pendukung Richard kembali sesumbar, namun pada detik berikutnya semua terdiam. Saat akhirnya Richard berlari ke suatu sudut dan memuntahkan seluruh alkohol yang ia minum. Daniel memenangkan pertandingan tersebut, meski pada akhirnya ia nyaris jatuh pingsan.
***
Ellio mengantar Daniel sampai ke rumah, dan membaringkannya di kamar. Ia juga membantu sahabatnya itu dengan memberikan air putih serta segala yang ia perlukan. Sementara Richard pulang dengan supirnya.
Ellio menunggu Daniel sampai tertidur, setelah itu ia meninggalkan kediaman sahabatnya tersebut. Ia menyambangi rumah Richard dan mengecek keadaannya.
__ADS_1
Biar bagaimanapun juga baik Daniel maupun Richard, Ellio tak bisa mengabaikan salah satu diantaranya. Meski dalam pertandingan ini ia lebih mendukung Daniel. Tapi dalam hal persahabatan, ia ingin semuanya seimbang.
"Om."
Tiba-tiba Lea muncul dari dalam kamarnya dan menghampiri Ellio, yang baru saja keluar dari kamar Richard. Lea sekarang sudah tidak dikunci lagi didalam kamar, sang ayah telah melonggarkan sedikit peraturan. Ia memperbolehkan Lea pergi kemana saja di rumah itu, asal ia tidak berencana untuk kabur.
Karena hukumannya masih akan sama. Jika kabur, maka siapapun yang bertugas hari itu akan dianggap lalai dan di pecat tanpa pesangon. Lea tak berani macam-macam, karena ia percaya jika Daniel akan menemukan cara untuk meluluhkan hati ayahnya.
"Lea, kamu baik-baik aja?" tanya Ellio.
"Baik om, ayah kenapa bisa minum sama mas Daniel?. Tadi ayah meracau dan bilang mas Daniel brengsek, harusnya dia yang menang. Pas aku tanya supir, katanya emang ada pertandingan minum di dalam pesta."
Ellio menghela nafas, sejatinya ia enggan menceritakan hal ini pada Lea. Karena khawatir perempuan muda itu akan cemas, dan itu bahaya untuk kehamilannya. Namun berhubung Richard sendiri yang sudah berkata, Ellio pun tak mampu mengelak lagi.
"Mereka berdua, membuat pertandingan minum." Kalau Daniel menang, Richard harus mengembalikan kamu kepada dia.
Lea terdiam mendengar semua itu. Meski tak sekaget di awal, saat ia mendengar langsung dari bibir Richard yang sedang mabuk.
"Apa tadi mas Dan menang?" tanya Lea.
"Ya." jawab Ellio kemudian.
"Mas Dan gimana?. Apa keadaannya juga sama seperti ayah?"
"Dia baik-baik aja, tapi udah tidur. Tadi om yang nganter dia pulang." ujar Ellio lagi.
"Oh syukur deh kalau gitu. Kalau tau dari awal tadi mah, aku marahin mereka."
"Udalah Lea. Daniel sama Richard itu kalau lagi ada masalah, emang suka kayak anak kecil. Masa kecil dan remaja kami itu kurang bermain, karena sibuk merintis karir. Makanya walaupun udah pada tua, tetap kadang bertingkah ajaib. Karena masih pengen mendapatkan waktu-waktu yang dulu pernah hilang."
Lea menghela nafas, ia mencoba mengerti dengan semua ini.
"Ya udah, om pulang dulu ya."
"Om Ellio nggak mau minum dulu?"
"Om besok masuk pagi, Lea. Ada rapat penting."
__ADS_1
"Oh ya udah deh, makasih banyak ya om. Hati-hati di jalan."
"Iya, sama-sama."
Ellio pun akhirnya berpamitan, Lea segera mengabari Dian. Ia terus berkabar dengan Dian melalui nomor kontak, yang ia dapat di direct message sosial media beberapa hari lalu.
Dian mencurahkan isi hatinya pada Lea dan lea menanggapi dengan baik. Ia tak masalah ayahnya memiliki hubungan dengan perempuan itu. Namun saat ini Richard memang tengah begitu membenci Dian.
Lea meminta maaf atas semuanya, begitupun dengan Dian. Tak ada yang salah diantara mereka, hanya saja keegoisan Richard tengah menguasai segalanya.
***
Esok hari, menjelang siang. Ellio yang sudah selesai rapat menemui Daniel. Ia memiliki waktu sebentar untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
"Dan, are you ok?" tanya nya ketika masuk ke ruangan Daniel.
"Ya." ujar Daniel lalu menghentikan aktivitas pekerjaannya dan menatap ke arah Ellio.
"Well, gue cuma memastikan lo baik-baik aja apa nggak."
"Mending lo duduk dulu, temenin gue minum." ujar Daniel.
Ellio pun akhirnya duduk dihadapan sahabatnya itu. Daniel menuangkan segelas teh hangat ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Ellio.
"Lagian lo berdua ide banget sih, bikin pertandingan konyol kayak gitu. Udah tau, udah pada tua. Pada nggak inget umur, kalau kenapa-kenapa kan gue yang repot."
Daniel tertawa.
"Ya Richard nya juga mau. Gue tantang sekali, dia minta tiga kali. Minta diadakan pertandingan lain. Itu kan artinya dia emang nungguin momen, supaya bisa mengalahkan gue." ujarnya kemudian.
Ellio mereguk teh yang ada di hadapannya.
"Orang kek, negoisasi, duduk, berembuk kalau lagi ada masalah antara mertua sama menantu. Lo berdua malah ngadain lomba, gesrek tau nggak lo pada."
Daniel kembali tertawa.
"Gue nggak sabar ngalahin dia di sirkuit, lo kan tau kalau Richard payah disitu."
__ADS_1
"Lo jangan terlalu percaya diri, liat semalem. Richard itu dari dulu minumnya lebih kuat diantara gue sama lo. Dia belum ada apa-apanya, kita udah mabok sampe hampir pingsan. Tapi ujung-ujungnya karena faktor luck, elo yang menang. Kayak gitu juga di sirkuit balapan. Gue tau lo rajanya jalanan, kalah supir metromini mah sama lo. Tapi siapa tau besok yang menang malahan Richard, karena sesuatu terjadi sama lo. Bukan gue nyumpahin ya, gue cuma nggak mau lo over pede. Karena kepedean juga bisa bikin kita nggak maksimal dalam melakukan sesuatu."
Kali ini Daniel menghela nafas, benar apa yang di katakan Ellio. Ia tak boleh terlalu percaya diri dalam hal ini, karena bisa saja keberuntungan malah berpihak kepada Richard.