
Lea dan kedua temannya beserta supir, tiba di kota Bandung. Sejatinya Lea sudah sering pergi ke kota ini. Namun entah mengapa jika jalan-jalan bersama teman baik itu, segala sesuatu akan terasa istimewa. Meski tempat yang kita datangi terbilang tak begitu istimewa di mata orang lain.
Ibarat kata, jalan ke mal saja, jika bersama orang-orang yang satu frekuensi dengan kita. Itu merupakan sesuatu yang benar-benar menyenangkan hati.
Lea, Adisty dan Ariana turun usai parkir, mereka melihat bus yang membawa teman mereka tengah menurunkan muatan. Mereka telah sampai beberapa menit lalu, sebelum Lea dan teman-temannya tiba.
"Check in dulu deh kita." ujar Lea.
Maka mereka semua check in ke dalam hotel. Sementara sang supir pamit, untuk mengunjungi orang tuanya. Sang supir sejatinya di beri uang saku dan di fasilitasi Daniel untuk menginap di hotel tersebut. Namun ia meminta tambah mentahan saja, dan izin menginap di rumah orang tuanya. Kebetulan ia berasal dari kota tersebut.
Daniel menyetujui, asal sang supir siap jika Lea minta di antar kemanapun. Sang supir pun sepakat, ia mengatakan jika jarak rumah orang tuanya dan hotel tempat dimana Lea menginap tidaklah jauh. Maka tak ada masalah untuk itu.
"Hai."
Cindy dan teman mereka yang lainnya berpapasan dengan Lea, Adisty dan juga Ariana. Ketika ketiganya telah tiba di muka pintu kamar hotel masing-masing, yang kebetulan berdekatan.
"Hai."
Lea, Adisty dan Ariana membalas sapaan mereka.
"Mau ikut nggak?" tanya Cindy.
"Kemana?" Lea balik bertanya.
"Jalan lah, sambil kulineran. Laper lagi gue soalnya." ujar Cindy.
"Gue mau mandi sama tidur dulu bentar deh." ujar Lea.
"Sama, gue juga mau tidur bentar." timpal Adisty.
"Gue aja, gue ikut." ujar Ariana.
"Iya tuh Ariana." tukas Lea.
"Dia udah tidur tadi di jalan, soalnya." lanjut perempuan itu kemudian.
"Ya udah ayok...!" Cindy berkata pada Ariana.
"Tungguin, gue tarok barang dulu."
"Iya."
Ariana membuka pintu kamar hotelnya, begitu juga dengan Lea dan Adisty. Dalam sekejap Lea sudah berada di dalam dan meletakkan barang-barang yang ia bawa. Tak lama ia pun merebahkan diri ke atas tempat tidur.
***
"Cekrek."
"Cekrek."
Suara dari kamera yang sengaja tak di silent tersebut terdengar di telinga Lea dan juga Adisty. Mereka berdua akhirnya berjalan-jalan ketik hari telah mulai sore.
Mereka berjalan bersama Iqbal dan yang lainnya. Mendatangi tempat-tempat hits dan mengabadikan momen.
"Dis, fotoin gue di sana dong..!" pinta Lea.
"Ayo...!" Adisty melangkah ke arah yang dimaksud, Lea segera mengambil posisi dan berpose.
"Yang bener ya Dis, jangan paus banget gue keliatannya."
Adisty tertawa.
"Tenang aja, gue pinter ngambil angle koq. Percaya aja, paus bisa jadi ikan teri di tangan gue." ujar Adisty.
Maka foto Lea pun akhirnya diambil.
__ADS_1
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
"Mana-mana liat." ujar Lea.
Seperti kebiasaan perempuan lainnya setelah diambil gambar, Lea pun gatal untuk melihat hasil. Dan ternyata apa yang dikatakan Adisty memang sesuai kenyataan. Foto yang didapat semuanya bagus.
"Wih, emang profesional nih kayaknya nih. Cocok Dis, lo jadi fotografer." ujar Lea.
"Kan gue emang hobi moto." ujar Adisty.
"Bagus, bagus." ujar Lea lagi.
"Sini lo gue fotoin." lanjutnya kemudian.
"Tapi yang bagus lo ngambilnya." ujar Adisty.
"Iya, tenang aja." Lea berusaha meyakinkan Adisty, meski gadis itu tampak ragu-ragu.
Usai berfoto di satu spot, mereka mulai mengeksplor tempat lain. Satu hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Lea dan teman-temannya, yakni makan.
Lea bahkan tak ada kenyangnya sejak tadi. Padahal ia sudah memakan berbagai macam jenis makanan.
"Lo kenapa sih ngeliatin gue gitu?" tanya Lea pada Iqbal, yang sedari tadi penuh tawa memperhatikan dirinya. Ia saat ini tengah makan sosis bakar.
"Nggak apa-apa, gemes aja." ujar Iqbal.
"Mirip karung beras ya, gue?" tanya Lea.
Seketika Iqbal ngakak.
"Iya makan mulu, tapi lucu. Gue suka ngeliat lo kayak gini." ujar Iqbal.
"Eh kita foto yuk...!" ajak Iqbal sambil menghidupkan kamera handphone.
"Ok."
"Cheers."
"Cekrek."
Foto mereka pun berhasil diabadikan. Lalu ia dan Iqbal kembali berjalan, sambil mencari target makanan selanjutnya.
***
"Mas."
"Hai Lele, lagi dimana kamu?"
Lea menelpon sang suami ketika malam telah beranjak naik.
"Di kamar hotel mas." jawab Lea.
"Nggak jalan?"
"Udah balik, udah capek."
"Oh, tadi kemana aja?"
"Ya ke sekitar sini aja, mas lagi dimana?. Masih di kantor?"
"Nggak, udah pulang. Baru selesai makan."
__ADS_1
"Makan apa?"
"Nasi sama orek tempe, sama tumis brokoli."
"Beli?"
"Bikin sendiri, kan bahannya ada di kulkas."
"Oh kirain mas beli, tumben makan itu doang."
"Belum berani makan yang hewan, takut Baymax lagi."
"Hahaha." Lea tertawa, begitupula dengan Daniel.
"Om Ellio bener-bener nih. Sampe kamu trauma banget ya mas."
"Asli, trauma parah aku, gara-gara si Bambang."
Lagi-lagi Lea tertawa.
"Tapi enak kan makan gitu doang?"
"Enak sih, nggak penuh rasa bersalah. Aku kalau abis makan protein hewan gitu, kayak ada rasa bersalah sama diri aku sendiri. Takut kolesterol naik, takut lemak tubuh meningkat dan lain-lain. Pas makannya sih biasa aja, tapi ketika udah selesai kayak ada rasa ganjel gitu di hati."
"Mungkin mas sudah saatnya menjadi seorang vegetarian atau vegan." ujar Lea lagi.
"Hahahaha, iya kali ya."
"Iya mas, biar lebih hemat pengeluaran."
"Eh jangan salah, jadi vegetarian atau vegan itu lebih biaya loh." ujar Daniel.
"Emang iya mas?"
"Iya, karena bahan makannya rata-rata import, raw, organik. Harganya juga lumayan. Mereka kan nggak bisa makan sembarangan protein, bumbu dan sebagainya.
"Oh gitu toh, aku pikir ya makan nasi sama sayur aja tiap hari."
"Bisa sih, tapi resikonya ya bosen." ujar Daniel.
"Iya sih." jawab Lea.
"Baby lagi ngapain?" tanya Daniel.
"Nih lagi getar, tau kali ya aku nelpon papanya."
Daniel tersenyum bahagia.
"Tau dong, kan papanya sayang sama mamanya. Begitu tersambung, hati mamanya kan bergetar. Nyampe deh getarannya ke dia."
"Ah papa bisa aja, mama jadi pengen gigit sendal hotel."
"Hahaha." Keduanya tertawa-tawa.
"Tadi banyak makan nggak kalian?" tanya Daniel.
"Hmm, bukan lagi. Itu mah nggak usah ditanya mas, kalau bisa seisi bumi aku makan."
"Kadang aku juga suka khawatir, pas tidur sama kamu. Takut pas bangun pagi badan aku udah gompel, bekas di makan sama kamu."
"Semengerikan itu kah mas, selera makan aku?"
Daniel tertawa-tawa.
"Iya sih, tapi nggak apa-apa. Kalau selera makan kamu masih baik, berarti kondisi kamu juga baik. Yang penting diperhatikan aja apa yang dimakan. Harus juga mengandung gizi lengkap dan seimbang. Karena percuma makan banyak, kalau nggak ada benefitnya bagi tubuh."
__ADS_1
"Iya mas."
Malam beranjak naik, Lea dan Daniel terus terlibat dalam obrolan.