
Nadya terus terpikir akan ucapan sang pembantu. Bahkan setelah beberapa jam berlalu. Ia kini berada di sisi Arkana yang sudah mulai bisa makan, meski sedikit.
"Arka, Arka kangen nggak sama papa?"
Nadya mulai memancing jawaban pada sang anak. Ia ingin membuktikan ucapan dari Putri mengenai ketidaksukaan Arkana terhadap Hanif. Benar atau tidaknya hal tersebut.
"Nggak." jawab Arkana tegas.
Hal itu tentu saja membuat Nadya tersentak. Namun ia pikir mungkin saat ini Arkana hanya tengah marah saja pada ayahnya itu. Nanti juga baik lagi.
"Itu kan papanya Arka, kenapa Arka nggak kangen?" Nadya masih berusaha membuat semuanya terasa normal.
"Udalah bu, ngapain ngomongin dia. Dia aja nggak pernah mikirin perasaan Arka sama ibu." ujarnya kemudian.
Nadya makin tersentak hatinya.
"Arka nggak suka dengan orang seperti papa. Arka selalu berharap dia itu bukan papa Arka." lanjut anak itu lagi.
Kali ini Nadya benar-benar yakin dengan apa yang tadi di ucapkan oleh Putri.
"Arka nggak boleh gitu ya. Mau seburuk apapun, itu tetap papanya Arka."
"Biarin, bodo amat." ujar Arka kemudian.
***
Di kantor.
"Gimana, udah diselesaikan?" tanya Richard di telpon.
"Sudah pak, semua sudah sesuai seperti yang bapak minta." jawaban itu terdengar dari seberang.
"Baik, terima kasih banyak ya." ujar Richard lagi.
"Sama-sama, pak."
Richard kemudian menyudahi telpon tersebut dan senyum-senyum sendiri. Tak lama ia menerima sebuah pesan singkat, dan ternyata itu dari Nadya.
"Pak, kita butuh bicara." ujarnya.
"Mau telpon atau ketemu, Nad?" tanya Richard.
"Saya butuh bertemu, pak." ucap wanita itu lagi.
"Tapi saya bisanya nanti, setelah pulang kerja. Karena kerjaan saya banyak sekali hari ini."
"Baik, pak. Saya tunggu nanti." ucap Nadya.
"Yes, huhui."
Richard hampir berjingkrak, namun tak jadi ia lakukan karena takut sekretarisnya tiba-tiba masuk dan menemukan ia dalam keadaan yang demikian. Bisa-bisa ia kehilangan wibawa nantinya.
Ia senang akhirnya Nadya mau menghubunginya duluan dan mengajak bertemu. Meski ia belum tau apa maksud dari pertemuan ini nantinya. Yang jelas, ia ingin berbahagia saja dulu.
***
__ADS_1
"Ibu sama papa mau balikan?"
Lea kaget mendengar berita tersebut dari ibunya. Hari ini ia menyempatkan diri untuk mengunjungi wanita itu bersama Darriel.
Sebelum besok dan seminggu ke depan ia akan menjalani jadwal perkuliahan yang padat, serta diharuskan untuk hadir tahap muka.
"Iya, ibu pikir ini yang terbaik. Mengingat adik-adik kamu masih membutuhkan sosok seorang ayah. Kalau ibu mencari laki-laki lain belum tentu bisa sayang sama adik-adikmu." tukas ibu Lea.
Lea pun lalu menghela nafas panjang.
"Kalau aku sih, terserah ibu aja bu. Kalau menurut ibu itu baik, ya lakukan aja. Lagipula ini butuh pendamping, biar ada tempat berbagi cerita." ujar Lea.
Ibu Lea menganggukkan kepala.
"Makasih ya Le." ujarnya kemudian.
"Iya, bu. Semoga ibu bahagia." ujar Lea lagi.
Mereka sama-sama tersenyum. Lalu Darriel pun tertawa.
"Heheee."
"Cie Darriel mau punya kakek satu lagi." tukas Lea pada sang anak. Ibu Lea tersipu malu sambil tersenyum.
"Heheee."
Lagi-lagi Darriel tertawa. Tak lama ayah Leo tiba beserta Leo nya sendiri. Mereka lalu bergabung di meja yang sama dan saling berinteraksi.
Darriel sendiri langsung minta gendong pada Leo dengan mengulurkan tangan. Kemudian Leo menyambut bayi itu dan menggendongnya.
"Kamu mah ikut siapa aja mau." ujar Lea pada Darriel.
"Heheee."
Darriel terus tertawa-tawa, karena memang ia sedang senang melakukan hal tersebut.
***
"Bro."
Daniel menghentikan Richard pada sore hari setelah jam kantor usai. Saat itu Ellio telah pulang duluan mengantar Marsha.
"Kenapa bro?" tanya Daniel.
"Lo udah ambil hasil medical check up belum?" tanya Daniel.
"Belum, bro. Gue masih ada urusan." ucap Richard.
"Mau kemana lagi sih, lo?. Perasan beberapa hari ini pergi mulu lo keluar. Kayak banyak banget kegiatan." tukas Daniel.
Richard tertawa.
"Posesif lo ya sama gue?" ledeknya kemudian.
"Lo sih udah punya anak bini, jadi sulit kan kemana-mana." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Iya kan yang gue nikahin anak lo sendiri, Junaedi." Daniel sewot.
Richard kembali tertawa.
"Udah ah, gue mau jalan dulu." ujarnya.
"Kemana sih?. Gue nggak boleh ikut emangnya?" tanya Daniel.
Bukan Richard tak mau mengajak, namun ia saat ini belum bisa jujur mengenai Nadya. Siang tadi ia ia sudah janjian dengan wanita itu untuk bertemu.
"Lo mendingan pulang aja, ajak Darriel main. Dia lebih butuh lo ketimbang lo kesana-sini sama gue. Kecuali emang ada hal penting." ujar Richard.
Daniel sejatinya khawatir dengan kesehatan mertuanya itu. Namun ia juga tak bisa terlalu menghalangi langkah Richard.
"Ya udah, lo hati-hati yang penting." ujar Daniel kemudian.
"Iya, lo tenang aja." jawab Richard.
Tak lama mereka pun berpisah di halaman parkir.
***
"Lele dimana?"
Daniel menelpon Lea. Ia mendadak memiliki rencana untuk mengajak istrinya itu makan di luar.
"Di tempat ibu, mas. Di toko kue." jawab Lea.
"Oh, oke. Aku kesana ya." ujar Daniel.
"Mas Dan mau nyusul?"
"Iya, makan di luar yuk, Le. Kamu ajak Darriel nggak?" tanya Daniel.
"Iya, ada nih."
"Ya udah, tunggu aku ya."
"Oke mas."
Daniel pun akhirnya menyusul ke ke toko kue ibu mertuanya. Sesampainya disana ia dikabari Lea perihal sang ibu yang ingin menikah lagi dengan ayah Leo.
Daniel tentu saja kaget dan merasa ini semua lucu. Tapi ia setuju saja asal ibu mertuanya itu bahagia.
"Lumayan, Darriel jadi punya kakek baru." ucap Daniel pada Lea.
"Makanya mas, biar Darriel jadi banyak tempat minta duit. Hahaha."
"Kamu tuh Le, Le."
"Heheee."
Darriel tertawa.
"Didukung ya mamanya." ucap Daniel.
__ADS_1
"Heheee."
Bayi itu kembali tertawa. Daniel dan Lea membeli berbagai kudapan di toko tersebut. Setelah itu mereka pamit untuk pergi dan kemudian mereka mencari restoran untuk makan bersama.