
"Aku mau kita udahan."
Hans berkata di suatu siang yang dingin, akibat hujan turun dengan deras dari semalam. Dan hanya berhenti beberapa kali, lalu kembali hujan di jam-jam tertentu.
Suasana siang itu begitu muram, sama halnya dengan langit yang tampak kehilangan cahaya. Lea berdiri dihadapan Hans yang ingin menyudahi hubungan mereka dengan segera.
"Ta, tapi kenapa Hans?. Apa salah aku?" tanya Lea setengah terisak.
Bukan apa-apa, ia takut ditolak lagi kali ini lantaran ia miskin. Ia takut Hans telah mengetahui soal keluarganya yang bukan orang kaya raya. Lea tak siap dihina dua kali, setelah dulu Rangga dan keluarganya mendepak Lea lantaran dirinya miskin. Bahkan Rangga sendiri pun tak sanggup membela Lea di depan keluarganya tersebut.
"Kamu nanya apa salah kamu?" tanya Hans seraya menatap Lea penuh kemarahan.
"Aku nggak nyangka ya, kalau kamu itu sok lugu. Dibalik sifat kamu yang keliatan kayak cewek baik-baik, kamu nggak lebih dari sampah."
"Hans, apa maksud kamu?" Kali ini Lea berteriak di muka kekasihnya itu.
"Kamu simpanan om Daniel kan?"
Kerasnya volume suara Hans membuat Lea mendadak malu, sebab ada banyak orang yang mendengar dan langsung menoleh ke arah mereka berdua.
Ia dan Hans janjian disebuah tempat ngopi, awalnya terlihat biasa saja. Namun lama kelamaan menjadi sebuah keributan.
"Hati-hati kamu kalau ngomong." Lea berujar dengan volume tak kalah kerasnya.
"Hati-hati kamu bilang."
Hans menarik salah satu sudut bibirnya, Lea kini mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa, marah?. Bener kan yang aku bilang?" Hans kembali berujar.
"Ini nggak seperti yang kamu kira."
"Lantas apa?"
"Kenapa kamu bisa tinggal sama dia selama ini?"
Lea tercengang mendengar semua itu, dari mana Hans tau perihal tersebut. Tadinya ia mengira jika Hans hanya mendengar gosip perihal ia simpanan Daniel. Tetapi bukan rumor mengenai dirinya dan Daniel yang tinggal serumah.
"Masih nggak mau ngaku?"
Hans menatap Lea dengan mata memerah, sementara Lea kini terdiam.
"Aku udah ngikutin kamu setiap hari, Lea. Aku tau semuanya."
__ADS_1
Emosi Hans benar-benar seperti meledak.
"Om Ellio, dia nggak punya keponakan. Kamu bukan keponakan dia kan?"
Lea makin terkunci ditempat, namun ia menatap mata Hans yang kini juga menatap matanya.
"Apa?. Masih mau menyangkal kamu?" tanya Hans dengan nada yang seolah menyudutkan.
"Aku nggak seperti yang kamu kira, Hans."
"Lantas siapa itu mami Soniaaa?"
Petir menggelegar, hujan kembali turun dengan derasnya. Lea kian membeku dan tak bisa lagi menghindar, ia tidak tahu darimana Hans mendapatkan informasi tersebut.
"Harusnya kamu dari awal jujur, kalau emang kamu simpanan om Daniel. Aku nggak akan ganggu kamu, aku juga nggak peduli sama jalan hidup yang kamu pilih. Tapi kenapa harus bohongin aku, salah aku apa?"
"Hans, aku..."
"Cukup Lea, aku udah nggak mau lagi ngomong sama kamu. Kita sampai disini aja."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Lea untuk membela diri lebih lanjut, Hans pun meninggalkan tempat itu.
***
Lea menangis dihadapan Vita dan juga Nina, yang baru saja tiba dimuka. Kedua sahabatnya itu langsung mendatangi lokasi, tempat dimana Hans meninggalkannya dalam kesakitan yang begitu dalam. Sesaat setelah Lea memberitahu kejadian tersebut via WhatsApp.
"Vit."
Lea memeluk Vita sambil menangis sesenggukan, sementara Nina kini mengusap-usap punggung gadis itu.
"Sabar ya, Le." ujar Nina kemudian.
Tak menunggu waktu lama, mereka kini sudah berada di apartemen Vita. Ia dan Nina fokus mendengarkan cerita Lea, yang masih penuh dengan Isak tangis tersebut.
"Ya udah kalau emang dia nggak mau kasih lo kesempatan buat ngomong. Lo jelasin aja semuanya di WhatsApp secara detail, biar dibaca. Mau ditanggapin syukur, nggak juga nggak apa-apa. Yang penting lo udah jujur."
Vita berujar panjang lebar, sementara Lea masih berkutat dengan air matanya yang tak henti mengalir.
"Iya, Le. Pokoknya lo harus siap kalau Hans nggak mau lagi berbaikan dengan lo." timpal Nina.
"Lagipula beberapa waktu belakangan ini, lo juga sering curhat kan. Soal hubungan lo sama Hans, yang lo bilang mulai kehilangan feel. Karena lo terus-terusan inget om Dan, saat lagi sama dia." lanjut Nina lagi.
"Lo juga egois, Le." Vita kembali berujar.
__ADS_1
"Harusnya emang lo memilih, jangan jadiin si Hans sebagai cadangan elo. Coba dari kemaren-kemaren lo tinggalin dia secara baik-baik, mungkin masalahnya nggak akan sampe kayak gini. Lo tinggal cari alasan aja ke dia, bilang mau fokus belajar kek atau apa. Kalau kayak gini kan, akhirnya lo juga yang sakit." lanjut Vita lagi.
"Gue tuh takut, Vit, Nin."
Lea mengusap air matanya.
"Takut kalau misalkan dia gue tinggalin, terus om Daniel nggak jelas. Kan rugi di gue, ibarat kata ngarepin hujan dari langit, tapi air dalam penampungan gue buang habis." lanjutnya lagi.
"Nah justru itu yang nggak boleh, apalagi si Hans ini kan kata lo baik. Lo mendua hati dengan orang baik, Le. Ya lo kena karmanya sekarang. Kalau emang mau om Dan, ya udah fokus ke dia aja. Hans nya lepasin."
Lea makin terisak dalam tangis, Vita mengambil tissue dan memberikannya pada gadis itu.
"Gimana kalau malam ini, kita sama-sama ngilangin penat?" ujar Vita.
Lea menatap sahabatnya itu.
"Gue juga abis berantem hebat sih sama sugar daddy gue." lanjutnya lagi.
"Gue juga lagi selisih paham." celetuk Nina.
"Kita mau kemana?" tanya Lea. Vita dan Nina pun lalu tersenyum.
Malam itu Lea di ajak ke sebuah klub malam, Vita mengatakan jika saat ini Lea sudah diperbolehkan masuk, karena sudah genap berusia 17 tahun sekitar tiga bulan lalu. Dan lagi ia kini sudah memiliki KTP, karena diurus oleh orang yang terpercaya. Sehingga hasilnya tidak bertele-tele. Lea yang belum pernah masuk tempat hiburan malam itu pun antusias.
Ia juga penasaran dengan bagaimana rasanya menjadi dewasa, bisa pergi ketempat seperti itu dan pulang dalam keadaan mabuk. Sungguh perbuatan yang sejatinya tak harus dilakukan dan tak patut ditiru. Namun bagi Lea, ia hanya ingin melupakan sejenak masalahnya.
Ia ingin menertawakan hidupnya malam ini. Ya, hidupnya yang selalu dan selalu saja mendapat ketidaksenangan.
***
"Hidup tuh emang bangsat."
Teriak Lea sambil mengacungkan gelas berisi minuman, dihadapan Vita dan juga Nina. Ini sudah gelas yang ke sekian yang ia akan teguk, sejak kedatangannya ke tempat ini.
"Untuk hidup kita yang bangsat." teriak Vita.
"Untuk semua kenyataan yang nggak berpihak." teriak Nina.
"Bangsaaat."
Ketiganya mengumpat lalu menyatukan gelas mereka, hingga beradu dan menimbulkan suara. Sesaat kemudian mereka pun mereguk minuman tersebut.
"Cekrek."
__ADS_1
Dari sebuah sudut, seseorang mengambil gambar Lea dan teman-temannya yang tengah minum. Dan dalam sekejap, gambar tersebut terkirim ke WhatsApp milik Daniel, yang kebetulan saat ini masih berada di kantor karena lembur. Daniel yang semula tenang, kini mendadak naik pitam.