
Lea terbangun sendirian di pagi hari, tanpa ada Daniel disisinya. Ia juga masih mengenakan gaun tidur tipisnya yang semalam. Namun ada satu hal yang berbeda kini, yakni rahimnya terasa hangat dan juga nikmat. Menandakan kejadian semalam bukanlah mimpi belaka.
Semua itu nyata, ia masih mengingat jelas saat Daniel bergerak penuh keperkasaan di atas tubuhnya. Tak ada satu adegan pun yang terlupa oleh gadis itu, apalagi saat Daniel berteriak sambil menumpahkan benihnya yang begitu banyak.
Lea merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang tiada tara, bahkan semua itu masih terasa hingga kini. Sementara Daniel telah meninggalkannya sejak tiga jam yang lalu. Karena pria itu memang terbiasa bangun lebih pagi, untuk mengecek pekerjaan kantornya.
Biasanya ia akan berkutat dengan laptop hingga matahari muncul, dan mengusir gelap yang masih tersisa.
Lea beranjak, ia adalah seorang istri sekarang. Setidaknya di pagi hari ini, ia harus menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Maka ia pun bergerak menuju dapur dan melihat apa yang bisa ia lakukan.
Satu jam kemudian Daniel turun, dalam keadaan yang sudah rapi dan siap berangkat kerja. Ketika keluar dari lift, ia berpapasan dengan Lea yang hendak pergi ke bawah.
"Mmm."
Keduanya tampak salah tingkah, karena sama-sama mengingat kejadian semalam. Mendadak suasana pun menjadi canggung.
"Hai." ujar mereka berdua di waktu yang nyaris bersamaan.
Daniel membuang tatapan ke arah lain sambil tersenyum, begitupun dengan Lea.
"Sa, sarapan dulu, om eh, mas."
Lea semakin gugup, Daniel menghela nafas karena tak kalah gugupnya. Entah mengapa ia menjadi seperti remaja yang baru menyukai seorang perempuan.
"Ok." ujar Daniel kemudian, Lea pun kembali bergerak.
"Ka, kamu mau kemana?" tanya Daniel pada istrinya itu.
"Ke minimarket depan, mau beli susu." jawab Lea.
Gadis itu mencoba menatap Daniel, sementara yang ditatap kembali menarik nafas dan mengangguk.
"Aku tunggu." ujar Daniel, Lea mengangguk lalu masuk ke dalam lift.
Usai membeli susu, Lea kembali. Tampak Daniel sedang sarapan di meja makan. Jantung Lea kembali dag, dig, dug, dear. Sementara Daniel pun merasakan hal yang sama, bedanya ia kini sudah lebih bisa mengontrol sikap.
Lea duduk dihadapan Daniel dan mulai mengambil nasi goreng yang tadi ia buat. Ketika suapan pertama, Lea kaget dan terdiam.
"Mas, ini agak asin ya?" ujarnya kemudian.
Lea gugup dan malu, karena ini pertama kalinya ia menyediakan makanan untuk Daniel sebagai seorang istri. Dan rasanya cukup amburadul.
"Ya." jawab Daniel masih terus makan, Lea makin merasa bersalah serta down.
"Tapi tadi pas aku cicipin, nggak asin."
"Mungkin kamu ngaduknya kurang rata dan mencicipi bagian yang nggak kena."
"Iya kali, ya." Lea makin dilanda rasa bersalah.
"Nggak apa-apa, lebih buruk masakan Ellio koq." ujar Daniel lalu menatap Lea.
"Om Ellio?. E, emangnya dia?"
"Giant, tau Giant temennya Nobita kan?"
Lea mengangguk.
"Tau kalau Giant masak?"
__ADS_1
Lagi-lagi Lea mengangguk. .
"Ellio gitu tuh sifatnya, kalau dia masak kita dipaksa makan banyak. Kalau nggak, dia marah."
"Padahal rasa masakannya?" tanya Lea.
"Mending puasa seharian, nggak usah berbuka."
Lea mulai tertawa, Daniel tersenyum pada perempuan itu.
"Emang segitu buruknya?" tanya Lea lagi.
"Kapan-kapan kamu harus nyobain. Kalau kamu pengen tau sensasi racun bunga kecubung, yang berasal dari bukan bunga kecubung. Tapi dari racikan bumbu Ellio."
Lea benar-benar terbahak kali ini, Daniel lalu mereguk air putih. Apa yang ia katakan tentang Ellio tersebut tidaklah salah, namun tak sepenuhnya benar juga. Dulu masakan Ellio memang menyeramkan, namun sekarang ia sering belajar dari YouTube.
Daniel hanya ingin menyenangkan hati Lea pagi ini, karena istrinya itu sudah bersusah payah menyiapkan sarapan untuknya.
"Nggak usah dimakan lagi mas, kalau nggak enak." Lea masih sedikit tak enak hati.
"Udah abis, orang laper." ujar Daniel kemudian.
"Yah, maaf ya mas." Lea seakan tak pernah kehabisan stok rasa bersalah.
"It's ok." jawab Daniel santai.
"Kan bisa kamu perbaiki nantinya." lanjutnya kemudian.
Lea tersenyum, mendadak ada kehangatan yang menjalar dihatinya. Sementara Daniel kini beranjak dan menggosok gigi di kamar mandi. Tak lama setelah itu ia mengambil tas kerjanya dan bersiap untuk berangkat. Lea sendiri mengantar suaminya tersebut hingga ke pintu lift.
"Mas, jangan ceritain ya. Kalau masakan aku hari ini nggak enak." ujar Lea penuh harap, Daniel pun tersenyum.
"Aku pergi ya." ujar Daniel lagi.
Lea meraih tangan pria itu dan menciumnya. Sejenak Daniel kembali terdiam, sensasinya sama persis dengan pernikahan kemarin. Saat Daniel selesai memasangkan cincin di jari manis istrinya itu. Saat itu juga Lea mencium tangan Daniel dan membuat Daniel terdiam sejenak.
"Aku pergi dulu."
Daniel mencium kening Lea dan berpamitan sekali lagi.
Lea pun mengangguk, Daniel kemudian menghilang di balik pintu lift.
***
"Mas, kenapa tadi pipis disitu?"
Lea bertanya pada Daniel, saat Daniel masih berada di atas tubuhnya. Pria itu pun tertawa, lalu mencium bibir Lea beberapa kali. Malam pertama mereka baru saja dilaksankan.
"Tapi enak kan?" tanya Daniel kemudian.
"Enak, tapi apa itu nggak bahaya?. Kan harusnya buang air kecil di toilet.
Daniel kembali tertawa sambil menatap istri polosnya itu. Lea benar-benar tidak mengetahui jika yang dikeluarkan oleh Daniel bukanlah seperti yang ia kira. Melainkan benih yang sejatinya dimiliki laki-laki.
"Bahaya, itu bisa menginfeksi dan bikin perut kamu gede berbulan-bulan."ujar Daniel.
"Tuh kan, kamu mah nggak mikirin aku mas."
Lea mulai panik, ia tidak terpikir jika infeksi yang dimaksud oleh Daniel adalah kiasan untuk kehamilan. Ia mengira makna infeksi tersebut benar-benar adalah infeksi, dalam arti sebenarnya.
__ADS_1
Daniel terus tertawa, lalu kembali mencium bibir gadis itu dengan gemas.
"Itu bukan air seni, Lea." Daniel berbicara serius kali ini.
"Terus apa dong?"
"It's love."
Lea terdiam menatap Daniel, ada perasaan cinta yang tiba-tiba menjalar dihatinya.
"Kalau aku nggak cinta, nggak mungkin aku melakukan ini semua ke kamu." ujar Daniel lagi.
Detik kemudian keduanya larut dalam perasaan yang penuh emosional. Lea menarik Daniel ke dalam pelukannya, sementara pria itu memejamkan mata dan balas memeluk Lea.
Daniel mengingat semua kejadian itu di kantornya, kini pria itu senyum-senyum sendiri sambil menatap ke suatu sudut.
Tentu saja hal ini mengundang perhatian Richard dan Ellio yang memang berniat mengunjungi Daniel, demi memastikan pria itu baik-baik saja.
"Nape lu senyum-senyum, kayak patung Mekdi."
Ellio berceloteh, diikuti tawa Richard.
Seketika Daniel pun tersadar, namun senyumnya tak bisa hilang begitu saja. Meski ia coba tutupi dengan menghisap pod vape miliknya.
"Hmm, gue tau nih. Rona-rona nya."
Ellio menebak-nebak, sementara Richard memberikan tatapan yang menyebalkan bagi Daniel. Sahabatnya yang satu itu hanya tersenyum, namun senyumnya penuh maksud.
Raut wajah Richard seakan mengatakan, jika ia mengetahui rahasia Daniel. Kini ia duduk dihadapan Daniel dan menatapnya tanpa bergerak.
"Apaan sih?"
Daniel mulai risih dengan senyuman dan tatapan yang diberikan oleh Richard. Sementara Ellio kini mulai mengikuti temannya itu. Ia juga duduk menatap Daniel, sambil tersenyum dan tak bergerak sama sekali. Hingga Daniel pun terdesak dan merasa perlu mengklarifikasi.
"Ok, iya. Gue udah lakuin itu semalem." ujar Daniel kemudian.
Richard dan Ellio high five, lalu Richard beranjak ke arah Daniel dengan melebarkan tangan. Daniel berdiri dari duduknya dan menerima pelukan dari sahabatnya itu.
"Lo baik-baik aja kan, bro?"
Daniel mengangguk sambil tersenyum, Richard lalu melepaskan pelukan tersebut dan menepuk bahu Daniel.
"Gue bahagia buat lo, Dan." Ellio gantian memeluk Daniel dan menepuk bahu pria itu.
Runtuhlah sudah segala kekhawatiran yang ada didalam diri Richard maupun Elio terhadap Daniel. Mereka tak perlu cemas lagi memikirkan kesehatan sahabat mereka itu.
"Lo harus traktir gue sama Richard, Dan." Ellio berujar di menit berikutnya.
"Iya, mau di traktir apa lo?. Traktir di pijat plus-plus, mau?" seloroh Daniel.
"Nggak apa-apa, asal lo bayarin."
Daniel dan Richard tertawa.
"Gue bilangin cewek lo, liat aja?" ujar Daniel lagi.
"Ya jangan, Bambang. Panjang urusannya nanti." Ellio sewot.
Ketiga sahabat itu lalu tertawa.
__ADS_1