Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kalung


__ADS_3

Esok harinya, sesuai janji. Sang sugar daddy membawa Clarissa ke outlet perhiasan yang diinginkan perempuan itu.


Namun sampai disana, sang sugar daddy justru menolak membelikan Clarissa perhiasan yang ia inginkan. Dengan alasan terlalu mahal dan buang-buang uang. Clarissa kemudian dipilihkan model lain yang tak begitu ia sukai.


Clarissa sempat merajuk, namun sugar daddy nya anti mendapat protes. Ia bahkan tak menggubris sama sekali sikap Clarissa yang marah, ketika dibelikan perhiasan berbeda bentuk serta harga yang lebih murah.


Perempuan itu dongkol setengah mati. Padahal lusa ia dan sugar daddy nya itu, akan menghadiri sebuah acara pertemuan dengan para bos di sebuah tempat.


Sebagai ajang mendekatkan diri dan siapa tahu bisa bekerjasama. Even ini rutin diadakan oleh para pengusaha kaya, biasanya mereka akan membawa pasangan masing-masing dan pasangan mereka itu akan berlomba-lomba menjadi cantik serta menarik.


Namun kini Clarissa sangat kecewa, padahal ia ingin sekali memakai perhiasan yang limited edition tersebut agar terkesan eksklusif.


***


"Lea."


Daniel memanggil Lea sesaat setelah ia pulang kerja.


Lea membuka pintu kamar.


"Iya, om." ujarnya kemudian. Tampaknya gadis itu habis rebahan, karena rambutnya agak sedikit berantakan.


Daniel masuk ke kamar Lea, gadis itu mengerutkan kening. Ia berpikir jangan-jangan Daniel ingin menidurinya kali ini.


"Om mau ngapain?" tanya Lea dengan wajah cemas.


"Mau ngasih sesuatu lah." ujar Daniel seraya menatap gadis itu, namun mata Lea tertuju pada tongkat bagian bawah milik Daniel. Ia berfikir jika "Sesuatu" yang dimaksud adalah bagian tersebut.


"Tapi om, aku belum siap. Aku walaupun sering ganjen dan nyosor om duluan, tapi aku belum mikir ke arah sana."


Wajah Lea tampak ketakutan, namun kemudian Daniel mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sebuah paper bag.


"Itu apa, om?" tanya Lea.


"Ini yang mau aku kasih." jawab Daniel kemudian.


Wajah Lea mendadak merah, ia malu sekali sudah berfikir begitu mesum. Padahal Daniel saja tidak bermaksud ke arah sana.


"Jadi yang mau om kasih tuh, ini."


"Menurut kamu?"


Lea pun nyengir, Daniel lalu membuka kotak tersebut dan terlihatlah sebuah kalung yang berkilauan.


"Bagus banget, om." ujar Lea menatap takjub ke arah kalung tersebut.


Daniel lalu memberikan kalung itu berikut box nya pada Lea.


"Lusa, ada acara yang harus aku hadiri. Kamu ikut dan jangan lupa pakai kalung itu." ujar Daniel.


Lea pun menerima kalung tersebut dengan hati yang begitu gembira, sekaligus gemetaran.


"Hati-hati jaga kalung ini, karena harganya nggak murah. Dan yang lebih penting lagi, kalung itu cuma ada 15 di dunia."


"Hah, serius om?" tanya Lea tak percaya.


"Bohong kali." ucapnya sambil tertawa.


"Beneran, aku nggak bohong." ujar Daniel.

__ADS_1


"Kamu ada masak apa hari ini?" tanya pria itu kemudian.


"Ada tuh, om liat aja di meja makan."


"Ok, aku mau mandi dulu."


Lea mengangguk, Daniel lalu pergi meninggalkan tempat itu dan menuju ke atas. Sementara Lea masih mengagumi kalung tersebut.


***


Hari pertemuan para bos itu pun tiba, sehari sebelumnya Lea dibelikan Daniel gaun yang harganya cukup fantastis. Karya dari seorang desainer ternama. Tak lupa ia juga membeli tas dan sepatu yang tak kalah mewahnya untuk gadis itu.


"Om, om tuh beli barang mahal mulu buat aku. Nggak sayang apa sama uangnya." ujar Lea saat menerima semua itu, Daniel hanya tertawa.


"Nanti kita cari lagi uangnya." ujar pria itu kemudian.


Lea pun menerima barang-barang tersebut dan hari ini ia mengenakannya.


"Lea, udah siap?" tanya Daniel pada gadis itu. Ia kini telah turun ke lantai dua, tempat dimana Lea berada.


"Udah, om."


Lea keluar dari dalam kamar dan seketika Daniel pun tertegun, pasalnya gaun tersebut sangat cocok pada tubuh Lea. Mendadak kejantanannya memberontak, karena Lea tampil elegan dan sexy saat itu.


"Sini!"


Daniel mendekati Lea, lalu mencium bibir gadis itu dan mendorongnya kembali ke kamar. Perlahan ia merebahkan Lea dan menyibak gaun berbelahan itu. Tangannya mulai mengeluarkan sebuah tongkat yang kemudian ia tempelkan pada bagian milik Lea.


"Om."


"Ssst."


"Nggak sampai dalam, disini aja." ujar Daniel kemudian, ia lalu menahan kedua tangan Lea dengan tangannya.


"Hmm, sshh."


"Tenang sayang."


"Sakit, om."


Lea memberontak dan mendorong Daniel agar menghentikan aktivitasnya.


"Ssstt, ini bakalan enak."


Daniel kembali mengunci pergerakan Lea dan terus bergerak maju mundur. Hingga dalam satu hentakan,


"Aaaakh, ooom sakiiit."


"Om, om Dan kenapa?"


Lea membuyarkan lamunan Daniel, Daniel pun seketika terhenyak dan menepis segala pikiran kotornya itu. Nyatanya sejak tadi ia tak melakukan apa-apa pada Lea, itu adalah keinginan dalam hatinya saja. Lea kini masih berdiri dengan cantiknya di hadapan pria itu.


"Mana kalung kamu?"


Daniel menyadari jika Lea belum mengenakan kalung pemberiannya tempo hari.


"Aduh lupa." ujar Lea lalu kembali ke dalam kamar dan mengambil perhiasan tersebut.


"Sini!" ujar Daniel seraya meraih perhiasan itu.

__ADS_1


Ia pun lalu memakaikannya pada Lea. Daniel lalu menyuruh gadis itu melihat ke arah kaca, dan betapa takjubnya Lea, melihat dirinya sendiri yang begitu menawan didalam cermin.


"Om, bagus banget." ujar Lea tak percaya.


"Dari kemaren-kemaren kamu belum nyoba?"


Lea menggelengkan kepalanya.


"Belum om, takut rusak. Kan kata om ini mahal, mana berani aku cobain."


Daniel tertawa.


"Ya kamu tinggal hati-hati aja, ini udah jadi punya kamu loh."


Lea tersenyum.


"Iya om, jawabnya kemudian.


Lea kembali mematut dirinya didepan kaca, tak lama mereka pun sudah terlihat berada dibawah. Seorang supir membukakan pintu Rolls-Royce yang belum pernah dilihat Lea. Gadis itu kemudian masuk, diikuti oleh Daniel.


"Ini mobil siapa, om?" tanya Lea pada Daniel.


"Minjem." ujar Daniel seraya tertawa. Supir yang ada didepan hanya tersenyum.


Lea balas tertawa, ia tak menyangka jika Daniel juga memiliki mobil seperti ini dan memiliki seorang supir. Karena selama ini ia selalu sendiri dalam menyetir dan bukan mobil ini yang sering ia gunakan.


"Nanti ada aturannya nggak disana?"


Lea bertanya pada sang sugar daddy karena takut jika ia nanti bersikap memalukan.


"Bersikap elegan dan tenang aja, itu udah cukup." jawab Daniel.


"Kamu udah banyak diajarin kan di agency kamu?" lanjutnya lagi.


Lea mengangguk."


Kadang masih ada yang lupa sih." ujar Lea.


"Kan cuma 3 bulan juga disana." lanjut gadis itu kemudian.


"Ok, pokoknya jangan bersikap berlebihan. Kalau ada yang ngajak ngobrol, tanggapi dengan baik."


"Ok." jawab Lea.


Mobil itupun terus melaju.


Sementara ditempat pertemuan, suasana hari itu lebih mirip kepada pesta kelas atas. Karena isinya juga dihadiri oleh pengusaha-pengusaha yang kekayaannya terbilang tinggi. Mereka membawa pasangan yang cantik-cantik.


Saat Clarissa dan sang sugar daddy tiba, semua mata tertuju pada mereka. Sebab Clarissa tampil sangat cantik malam itu, menurut mata para bos yang hadir disana. Bahkan mengalahkan pasangan-pasangan yang mereka bawa hari itu. Mereka sangat iri pada sugar daddy Clarissa, yang bisa punya istri cantik dan juga simpanan yang tak kalah menarik.


Clarissa mendapat pujian melalui suaminya, para bos memuji kepada sang sugar daddy. Clarissa amat sangat tersanjung dan melayang di udara, namun itu tak berlangsung lama.


Pasalnya setelah itu, Daniel tiba dengan membawa Lea. Banyak para bos yang belum pernah melihat gadis itu, pandangan mata mereka pun kini beralih.


Clarissa mendadak terbakar hatinya, ketika menyadari banyak orang yang terkagum-kagum pada Lea. Dan yang membuatnya lebih geram lagi adalah,


"Kalung itu?"


Clarissa menutup mulutnya, ia begitu syok melihat Lea mengenakan kalung yang amat sangat ia inginkan.

__ADS_1


"Kurang ajar tuh cewek, bisa-bisanya dia pake kalung itu." ujarnya seraya mengepalkan tangan.


"Brengsek." ujarnya lagi.


__ADS_2