
Daniel baru selesai mandi, malam itu. Ia masih mengenakan handuk dan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada.
Ia melangkah ke arah lemari dan hendak mengambil pakaian. Secara tiba-tiba Lea masuk ke ruangannya, mereka memang janjian untuk nonton bersama di tempat tersebut.
"Mas." ujar Lea menyapa sang suami.
Daniel menoleh, kini keduanya sama-sama tertegun. Daniel terdiam menatap Lea yang hanya dibalut sehelai gaun tidur tipis menerawang. Sedang Lea terpaku menatap tubuh sixpack suaminya yang terpampang nyata di depan mata. Ada tonjolan mengeras di balik handuk.
Seketika area sensitif keduanya pun sama-sama bereaksi, membentuk sebuah sensasi denyutan yang sangat hebat.
Nafas keduanya mendadak memburu, tanpa terasa langkah kaki membawa mereka jadi semakin dekat. Bahkan kini mereka hanya dipisahkan jarak beberapa centimeter saja.
"Mas."
Daniel menatap mata Lea dan begitupun sebaliknya. Tangan pria itu mulai mengelus-elus perut istrinya yang berisi bayi. Sementara tangan Lea langsung melucuti handuk yang menutupi bagian bawah sang suami. Lalu ia pun memegang benda panjang yang kini sudah menegang di bawah sana.
"Hhhh, Lea. Hhhh."
Nafas Daniel kian tak teratur, begitupula dengan Lea. Tangan laki-laki itu mulai meraba bagian sensitif istrinya dan bermain-main di sana.
"Mas, hmmh."
Nafas Lea yang naik turun, membuat bongkahan dadanya juga terlihat ke atas dan kebawah. Menjadikan tangan Daniel yang satunya langsung menangkup dan memberikan remasan di area tersebut.b
Gairah keduanya makin memuncak, seketika saja mereka berciuman dengan ganasnya. Dengan tangan yang terus saling menyentuh satu sama lain.
Dalam sekejap Lea sudah mendesah-desah dibawah kendali sang suami. Daniel selalu mendominasi permainan dan Lea sangat menyukai hal tersebut. Ia pernah bercerita pada Daniel, jika ia suka pria yang mendominasi.
Dan Daniel pun sejatinya sangat suka menjadi dominan dalam hubungan suami-istri yang mereka lakukan. Ia merasa begitu perkasa dan memiliki kuasa atas permainan yang tengah berlangsung tersebut.
Ia juga sangat menyukai bercinta dengan tetap saling berdialog. Entah itu saling memuji, memohon atau mengungkapkan kata-kata yang terdengar nakal.
Lea adalah partner terbaik di ranjang, yang pernah Daniel miliki. Sebab perempuan itu ternyata memiliki fantasi yang satu server dengan Daniel. Apa yang disukai sang suami, ia juga sama menyukainya.
Berbeda dengan Grace, yang kadang ingin mengambil alih permainan. Meskipun Daniel sangat puas dengan pelayanan yang diberikan mantan kekasihnya itu. Namun Daniel masih merasa ada yang kurang dalam hubungan mereka. Kini bersama Lea, ia bisa mewujudkan segala fantasi yang ia miliki.
"Lea, aku ma...."
"Please di dalam, mas. Aku juga mau...."
"Aaakkkh."
Keduanya sama-sama mengerang, setelah sekian lama saling memberi kenikmatan dalam permainan. Kini mereka terhempas, dengan nafas yang sama tersengal.
"Mas ini lebih lama dari biasanya loh." ujar Lea, ketika telah beberapa menit mereka diam sambil berpelukan.
"Stamina aku lagi baik." ujar Daniel lalu tersenyum. Lea pun ikut-ikutan tersenyum.
"Perut kamu nggak sakit kan?" tanya Daniel seraya mengelus perut Lea.
"Ssshhh." Lea mengeluarkan suara sambil memejamkan mata.
"Sakit ya?" tanya Daniel panik.
__ADS_1
"Nggak mas, enak." ujar Lea kemudian.
Daniel lalu mencubit bagian belakang istrinya itu.
"Gatel kamu, dasar." ujarnya dengan nada gemas. Lea tertawa.
"Liat nih sampe buncit begini, ganjen sih." ujar Daniel lagi.
"Hahaha, abis mas enak. Mana ganteng lagi."
"Ada ya, cewek yang jujur banget kayak kamu." ujar Daniel sambil tertawa.
"Cewek lain jaim loh." lanjutnya lagi.
"Alah jaim-jaim amat, emang enak koq. Apalagi orangnya ganteng, makin enak."
Keduanya sama-sama tertawa, lalu kembali berciuman dan berpelukan.
"Kayaknya aku nggak jadi nonton deh, mas." ujar Lea pada detik berikutnya.
"Ngantuk ya?" tanya Daniel.
"Iya, ngantuk. Tapi mau mandi dulu."
"Iya abis ini kita mandi, ganti seprai dan tidur. Ok?"
"Ok."
Keduanya saling menatap dan sama-sama tersenyum.
***
"Dan lo dimana?"
Ellio terdengar panik di telpon.
"Gue baru selesai mandi, Ellio. Ini mau berangkat kerja, lo kenapa?"
"Richard."
"Richard kenapa?" tanya Daniel.
"Dia kritis sekarang."
"Kritis gimana, kenapa bisa. Bukannya lo bilang dia udah nggak apa-apa dan cuma butuh istirahat doang."
"Pokok ya lo kesini dulu deh." Suara Ellio terdengar makin panik, terlihat jelas jika saat ini dirinya tengah tertekan.
"Ok, gue kesana sekarang."
Daniel bergegas mengambil kunci mobil, namun kemudian ia tersadar jika Lea tidur di kamarnya. Dan saat ini perempuan itu telah terbangun.
"Lea."
__ADS_1
Dunia Daniel mendadak kacau. Pasalnya Lea duduk terdiam menatapnya, dalam keadaan yang syok.
"Lea, aku bisa jelasin."
Lea tak bergeming, ia seperti menatap Daniel dengan penuh kekecewaan.
"Lea, Richard..."
"Kenapa mas bohongin aku?"
"Lea, aku..."
"Kenapa mas bohongin akuuu?" Lea berteriak di hadapan suaminya itu.
"Ok fine, kamu mau tau?. Saat aku menantang Richard untuk minum sama-sama. Richard mengajukan tantangan lain, dia mau kami bertanding di sirkuit balap dan juga ring MMA. Kami balapan di hari saat aku bilang, kalau aku ada urusan. Aku hampir menenangkan balapan itu, tapi Richard keluar dari lintasan dan menabrak pembatas."
Lea benar-benar terkejut kali ini, air mata perempuan itu mengalir deras.
"Richard langsung dibawa ke rumah sakit dan dokter menyatakan dia baik-baik aja. Tapi tadi dia...."
Lea berteriak dan menangis kencang, membuat suasana seketika menjadi begitu runyam. Kepala Daniel rasanya seperti di tusuk ratusan pisau.
"Lea udah, tenang dulu."
"Kenapa kalian selalu kayak anak kecil." teriaknya lagi, perempuan itu makin histeris. Hingga Daniel berusaha keras menenangkannya.
"Ssshhh, jangan teriak. Aku minta maaf."
"Aku benci sama mas."
"Ok iya, sekarang kamu mau nangis disini atau ikut aku." tanya Daniel seraya mengatur nafas, dan menahan perasaan berkecamuk di hati serta benaknya.
Lea istrinya, Richard sahabatnya. Mereka berdua adalah orang yang penting untuk Daniel, begitu juga dengan Ellio.
***
Dalam sekejap keduanya kini telah berada di mobil. Daniel terus menyetir sambil berusaha keras untuk berkonsentrasi. Meski saat ini ia tengah cemas memikirkan Richard, dan juga bersalah pada Lea yang kini ada di sebelahnya.
Di sepanjang perjalanan itu Lea hanya diam, dan membuang pandangan ke sisi jalan. Sementara Daniel begitu kacau, sekacau-kacaunya.
"Dan, lo dimana?" Ellio kembali menelpon Daniel.
"Bisa sabar nggak, Ellio. Gue di jalan." jawabnya kemudian.
"Richard udah stabil sekarang."
Daniel menghela nafas lega, air mata merebak di pelupuk matanya. Ia sudah sangat takut kehilangan sahabatnya itu.
"Lea, Richard udah baik-baik aja." ujar Daniel.
Lea masih menghadap ke sisi jalan.
"Maafin aku." ujar Daniel lagi.
__ADS_1
Lea segera berbalik sambil menyeka air mata, dan kini ia menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.
Mobil terus melaju, membawa mereka menuju kepada Richard.