Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Ellio Masih Teraniaya


__ADS_3

Maksud hati ingin makan romantis dengan Marsha. Namun apa daya ada dua kecoa yang ikut nimbrung sambil makan dengan lahap.


Ya, siapa lagi kalau bukan kecoa Daniel dan juga kecoa Richard. Ellio si manusia teraniaya hanya bisa menghela nafas panjang sambil menahan dongkol di hati. Apalagi Daniel serta Richard memaksa satu meja dengannya dan juga Marsha.


"Koq lo diem sih, nggak makan?" tanya Daniel pada Ellio.


Elio diam, namun memberikan lirikan kesalnya pada Daniel dan juga Richard. Namun seperti hilang kepekaan, baik Daniel maupun Richard terus saja makan. Bahkan Richard terlihat menjilat jari-jarinya di depan Marsha.


"Gimana Sha, enak kan makan Padang di jam segini?"


Richard bertanya pada Marsha.


"Iya pak, manteb." ujar Marsha.


"Nggak usah mau kalau Ellio ngajakin makan siang romantis, porsinya dikit." timpal Daniel.


Marsha tertawa, sementara Ellio masih sewot. Sejatinya ia ingin mengajak Marsha untuk makan di sebuah restoran yang mewah.


Namun sejak rencana itu muncul di benak Ellio, dua kecoa yakni Daniel dan juga Richard malah mengacaukannya.


"Udah Ellio kita makan Padang aja, lebih seru." ujarnya mempengaruhi. Lebih tepatnya memaksakan kehendak.


Sebab ia berbicara di depan Marsha. Tak mungkin Ellio menunjukkan sifat jahatnya, dengan menolak permintaan Daniel. Karena ia takut dianggap egois oleh Marsha.


Akhirnya Ellio pun terpaksa menunjukkan sifat kesetiakawanan di depan gadis yang ia sukai tersebut.


"Sha, maafin Daniel dan Richard ya. Mereka jadi ganggu kita berdua."


Ellio berujar ketika Daniel dan Richard telah kembali pada pekerjaan masing-masing. Sedang kini Ellio juga harus kembali pada urusan kantornya, begitupula dengan Marsha.


"Nggak apa-apa koq pak. Saya juga senang bisa duduk satu meja sama kalian. Ngeliat kalian berbicara, bercanda. Walaupun bapak sewot sama mereka berdua." Marsha berujar sambil tertawa.


"Emang kamu tau kalau tadi aku sewot sama mereka?"


"Tau dong pak, kan saya liat ekspresi wajah bapak."


Ellio menarik nafas dan masih tak menyangka, jika Marsha paham akan gerak-geriknya.


"Kalian itu pertemanannya lucu, saya suka liat kalian begitu." ujar Marsha lagi.


"Oh ya?"


Ellio ragu dengan ucapan Marsha, namun gadis itu tersenyum demi meyakinkan Ellio.


"Iya pak, saya nggak bohong koq."


"O, ok. Lain kali kita jalan berdua ya." ujar Ellio.

__ADS_1


"Iya pak."


Marsha menjawab dengan senyuman yang tak mereda sedari tadi.


"Mmm, kalau gitu saya balik ke kantor ya." ujar Ellio.


"Iya pak, saya juga."


Ellio hendak berbalik menuju ke lorong koridor yang mengarah ke kantornya. Namun kemudian Marsha mendekat dan mencium pipi Ellio secara serta merta.


Sontak Ellio pun terkejut, pipi laki-laki itu langsung bersemu merah laksana udang rebus. Tak lama ia dan Marsha menjadi sama-sama salah tingkah.


"Eee..."


Ellio dan Marsha hendak berbicara, namun bingung harus berkata apa. Akhirnya mereka jadi terus tertawa, sambil sesekali membuang pandangan ke arah lain.


"Saya kerja dulu." ujar Ellio masih dengan gayanya yang salah tingkah.


"Sa, saya juga pak." jawab Marsha.


Tak lama kemudian keduanya saling meninggalkan satu sama lain, dan menuju ke ruang kerja masing-masing.


***


Di lain hari, Ellio mengajak Marsha untuk jalan hanya berdua saja. Beberapa kali berhasil, namun ada juga yang gagal. Lantaran keduanya tanpa sengaja bertemu Richard, atau Daniel yang tengah berjalan bersama Lea.


"Eh new couple."


Daniel menghentikan langkah dan menggoda keduanya. Sementara Lea hanya senyum-senyum.


"Ngapain sih, gue mesti ketemu Lo berdua segala?"


Ellio menggerutu. Daniel yang sejatinya hanya menyapa, langsung muncul sifat kejahilannya. Ia dan Lea yang tidak ada rencana untuk menonton, tiba-tiba mendadak ingin menonton.


"Lo mau nonton kan pasti?" Daniel menjadi peramal atas tindakan Ellio.


"Kagak, orang gue cuma melintas doang disini." ujar Ellio seraya melirik bioskop Yanga dan di sisi kirinya.


"Loh pak, katanya tadi dari rumah kita mau nonton."


Marsha protes, Daniel pun memberikan tatapan bangsatnya pada Ellio.


"Hhhh." Ellio menghela nafas.


"Iya, iya kita mau nonton." Akhirnya ia mengaku.


Daniel tersenyum penuh maksud dan terlihat sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Sayang kita nonton ya." ujar Daniel pada Lea.


"Filmnya serem-serem tau, Le. Thriller semua, nanti kamu kepikiran. Nggak bagus loh buat bayi kamu."


Ellio coba menghentikan Daniel dengan menanamkan pengaruhnya pada Lea.


"Ah nggak koq, ini film banyak yang romantis."


Daniel menyangkal ucapan Ellio, membuat Ellio Ingin melempar kepala Daniel dengan tabung gas 25 kg.


Akhirnya mereka nonton bersama-sama, karena tak ada pilihan lain. Otomatis Ellio tak enak hati untuk menjalankan aksinya dalam bermesra-mesraan dengan Marsha, lantaran malu pada Daniel dan juga Lea. Padahal bermesraan di dalam bioskop adalah salah satu hal yang menjadi favorit Ellio.


Sementara Marsha senang-senang saja, karena perempuan itu sama sekali tak merasa terganggu. Ia sangat suka ketika bisa dekat dengan teman, maupun orang yang sudah Ellio anggap seperti keluarganya sendiri.


Marsha adalah tipikal perempuan yang suka apabila tengah berdua, namun tak masalah apabila sang kekasih memilih waktu bersama teman-temannya.


Toh Daniel dan Richard juga tidak setiap hari mengganggu mereka. Mereka mengacaukan hari Ellio hanya jika mereka sedang mau saja. Selebihnya Ellio masih menjalani waktunya bersama Marsha dengan aman dan nyaman.


***


"Sha, sorry again buat kelakuan sahabat saya. Daniel sama Richard tuh nggak ada habisnya kalau soal jahil sama saya. Dari dulu, dari kami masih kecil."


Ellio berujar ketika ia mengantar Marsha pulang ke rumah. Marsha selalu tersenyum menanggapi permintaan maaf Ellio mengenai sahabat-sahabatnya itu.


"Pak, saya kan selalu bilang sama bapak. Saya nggak apa-apa. Saya itu bukan tipikal cewek yang melulu harus berdua setiap hari. Lagipula sejauh ini, teman-teman bapak itu mengganggu masih dalam tahap yang wajar koq. Dalam seminggu ini aja, cuma tadi pak Daniel gangguin kita. Sisanya kita berdua terus."


"Iya sih, tapi Daniel tuh mesti di basmi sama pestisida. Nyebelin soalnya."


Marsha tertawa, dan akhirnya Ellio juga melakukan hal yang sama. Lalu tiba-tiba hening menyeruak, keduanya terdiam dalam tatapan yang sama-sama dalam.


Tak lama Ellio mendekat, begitupula dengan Marsha. Perlahan tapi pasti keduanya pun akhirnya berciuman.


Nafas Ellio memburu, begitupula dengan Marsha. Keduanya kini sama-sama terdiam dengan tubuh yang gemetaran.


"Bapak hati-hati ya pulangnya."


Marsha berkata di detik berikutnya. Ellio yang masih mengatur nafas itu hanya mengangguk.


"Kamu juga hati-hati, kemanapun kamu pergi tolong kabari aku." ujarnya.


"Iya pak."


Ellio lalu menggenggam tangan Marsha dan begitu juga sebaliknya.


"Saya, masuk ke dalam ya pak." ujar Marsha kemudian.


"Iya."

__ADS_1


Ellio mencium kening Marsha, Marsha tersenyum lalu membuka pintu mobil. Setelah memastikan Marsha sudah masuk ke kediamannya, Ellio menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.


__ADS_2