Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Dua Bocah


__ADS_3

Daniel mengajak Lea dan juga Ellio ke sebuah store yang terletak di dalam mall. Disana mereka berdua tampak antusias memilah-milah alat virtual reality atau VR.


Sementara Daniel mengekor dari belakang, dan tentu saja siap dengan segala jenis pembayaran. Sebab posisinya adalah ATM berjalan hari ini.


"Om Ellio, mau yang merk ini aja?" tanya Lea sambil menunjuk merk yang sejak tadi di perhatikan oleh Ellio secara detail.


"Iya, om lebih tertarik sama yang merk ini."


"Tapi orang-orang banyak yang menggunakan merk ini loh om."


Lea menunjuk merk yang banyak digunakan baik oleh influencer maupun youtuber. Daniel sendiri agak kaget, ternyata Lea mengetahui cukup banyak tentang alat tersebut.


"Ini tuh spesifikasinya lebih bagus, Le. Nih baca nih!"


"Orang tulisannya Jepang begitu, mana aku ngerti."


"Oh sorry, hahaha. Om lupa." seloroh Ellio.


"Emang om Ellio bisa bacanya?"


"Bisa dong."


"Ngerti gitu bahasa Jepang?" tanya Lea lagi.


"Ngerti, kan om emang belajar."


"Oh, aku yang ini aja deh om." ujar Lea.


"Tetap yang itu?" Ellio bertanya.


"Iya tetap yang ini aja."


Keduanya lalu mengambil dengan dua merk yang berbeda. Tak lama mereka sama-sama menoleh ke arah Daniel, lalu nyengir.


"Hehehe, bayar mas." ujar Lea kemudian.


"Ini juga mas." Ellio berujar seakan minta di pukul kepalanya dengan batu.


"Iya, ini om bayar nih. Kalian kan simpanan om." ujar Daniel sewot.


Orang-orang yang ada di tempat itu pun tertawa-tawa mendengar celotehan Daniel. Sementara Lea dan Ellio sudah terbahak sejak tadi.


Usai membayar dan mendapatkan barang, Daniel dan Ellio mengikuti keinginan Lea yang hendak berjalan-jalan di sekitar.


"Si Lea kagak ada capeknya ya kalau ke mall."


Ellio berseloroh seraya memperhatikan Lea yang begitu antusias.

__ADS_1


"Ya gitu lah, kayak ada tenaga pendorong cadangan tau nggak. Perut udah segede apa, masih aja jalan."


"Ngomongin aku ya mas?"


Lea yang cukup jauh itu pun menoleh. Seakan di telinganya terdapat sensor suara jarak jauh. Daniel dan Ellio seketika tertawa.


"Nggak, udah sana jalan hati-hati." ujar Daniel kemudian.


Lea kembali melangkah, diikuti oleh Daniel dan juga Ellio.


Sementara di sudut lain, masih di mall yang sama. Clarissa tengah berjalan bersama kedua temannya. Perempuan itu melangkah sambil tak henti berceloteh.


"Gue besok rencana mau ngestalking si Daniel. Gue mau liat apa aja yang udah dilakukan oleh Ki Joko Mangkulangit terhadap semua permintaan gue." ujarnya.


"Lo minta apa aja sih waktu itu?" tanya Kinar pada Clarissa.


"Gue minta Daniel dibuat jadi doyan selingkuh, dan buntingin cewek lain selain Lea. Mudah-mudahan udah berhasil sih sekarang. Biar cerai dan sakit hati seumur hidup tuh si Lea. Hahahaha."


Ia tertawa layaknya nenek sihir. Namun kemudian tawa itu menjadi kecut, tatkala matanya menemukan Lea yang tengah di rangkul oleh Daniel sambil berjalan. Di sisi Daniel ada Ellio yang juga tengah melangkah.


Saat itu Lea berjalan sambil sesekali mengelus perutnya, yang sudah begitu membesar. Waktu pun seketika membeku, Clarissa dengan begitu terkejutnya menatap semua itu.


"Halo, Ki."


Clarissa kemudian menelpon Ki Joko Mangkulangit yang tiada lain adalah Jeffry. Teman dari Marsha, sekretaris Daniel.


"Ini aki gimana sih?. Katanya Daniel bakalan selingkuh dan Lea akan di cerai. Koq sekarang mereka mesra banget saya lihat."


Clarissa mengoceh panjang lebar, kali tinggi. Suaranya hampir saja memekakkan telinga Jeffry.


"Memangnya mbak Clarissa ketemu sama mereka?" tanya Jeffry kemudian.


"Iya ketemu, itu masih di depan mata saya. Kesel saya lihat mereka." lanjutnya lagi.


Jeffry berpikir keras mencari jawaban, ia tak ingin Clarissa kehilangan kepercayaan terhadap dirinya. Sebab pemuda itu masih ada rencana untuk membeli alat virtual reality. Dan ia masih membutuhkan uang Clarissa.


"Kan yang mbak Clarissa minta adalah perselingkuhan. Bisa aja dong tau-tau si Daniel nya selingkuh, mungkin itu lagi baik-baikin istrinya aja biar salahnya ketutupan."


Clarissa diam sejenak.


"Iya juga sih, lanjutnya kemudian.


"Iya mbak, soalnya cowok kalau menyimpan kebusukan itu pasti pake wangi-wangian. Salah satu contohnya rajin merayu istri, rajin menemani belanja, kasih uang. Sebab buat nutupin kesalahannya dia sendiri." ujar Jeffry lagi.


"Iya sih, iya bener-bener."


Clarissa lalu berpamitan serta menutup telpon. Kini matanya kembali tertuju pada Daniel dan juga Lea yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Boleh aja laki lo memperlakukan elo kayak ratu, Lea. Tapi dibelakang itu gue yakin burung laki lo bersarang dimana aja." ujarnya kemudian.


Clarissa kembali tertawa, sementara kedua temannya terus memperhatikan dan merasa khawatir. Khawatir jika gadis itu telah benar-benar gila.


***


"Dan."


Seseorang menyapa Daniel, ketika ia dan Lea tengah berada di sebuah tempat yang menjual peralatan bayi. Pria itu menoleh, begitu juga dengan Lea. Sementara Ellio saat ini tengah berada di lain counter, untuk membeli barang yang ia inginkan .


"Marcell." tukas Daniel seraya menjabat tangan pria itu dan Marcell pun membalasnya. Lalu Marcell juga menyapa Lea.


"Le, ini Marcell. Dia temenku, temen ayah kamu dan temen Ellio juga." lanjutnya menjelaskan.


Lea hanya terus tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Dia ini punya jasa detektif." ujar Daniel lagi.


Marcell tertawa.


"Tepatnya kerja sih, karena masih ada big bos yang memimpin." ujar pria itu.


"Om pasti yang dibilang ayah kan?. Yang buat bantu nyari keberadaan teman saya yang menghilang."


Marcell menatap Daniel, dan kembali menatap Lea. Lalu keduanya sama-sama tersenyum.


"Iya, Richard memang meminta saya untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Semoga teman kamu hanya menghilang untuk menenangkan diri." ujarnya.


Mereka pun lalu terlibat obrolan yang cukup serius setelah itu.


***


Waktu berlalu.


Sesaat setelah berpamitan pada pada Lea dan juga Daniel, Marcell perlahan menjauh. Pria itu hendak melanjutkan pekerjaannya dalam menyelidiki sesuatu. Tak lama kemudian big bosnya menelpon.


"Iya pak Herman." ujarnya menyapa.


"Cell, bagaimana performa semuanya dalam sebulan terakhir ini?" tanya pria bernama Herman itu pada Marcell di telpon.


Lalu mereka pun berbincang-bincang dengan serius. Membicarakan soal kinerja para detektif yang dinaungi oleh Herman.


Di lain pihak, Dian yang berada di luar negri tengah mempacking beberapa helai baju. Dalam waktu dekat ia akan segera kembali untuk sejenak.


Namun kali ini ia tak memberitahu Richard sama sekali. Ia sengaja dan telah menyiapkan semacam surprise untuk pria tersebut.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Richard di telpon, Dian pun tersenyum.

__ADS_1


"Iya dad." jawabnya kemudian.


__ADS_2