
Esok harinya ketika bertemu dengan Daniel dan Richard di kantor. Baik Ellio maupun Marsha jadi agak sedikit canggung. Sebab mereka telah mengetahui rahasia Richard, tanpa Richard sendiri sadar akan hal tersebut. Sementara Daniel masih mengira semuanya baik-baik saja.
Disisi lain Lea yang tengah menjalani ujian semester, tanpa sengaja melihat Shela saat ia dan teman-temannya habis makan di salah satu tempat yang terletak di seberang kampus.
Entah untuk apa Shela berada di tempat tersebut. Yang jelas kini keduanya tampak saling berhadapan satu sama lain.
"Tuh cewek ngeliatin lo mulu dah."
Adisty melirik ke arah Shela, sedang Lea dan Ariana mengikuti arah pandangan gadis itu. Keduanya juga kini tertuju pada Shela.
"Emang dari tadi ngeliatin gue." jawab Lea.
"Lo kenal?" tanya Ariana.
"Ya itu, yang coba godain laki gue. Yang sering gue kerjain juga." jawab Lea lagi.
"Oh itu orangnya."
Adisty memberi lirikan julid pada Shela sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"Sok cantik, anjir." timpal Ariana.
"Emang." Lea ikut-ikutan berbicara.
Shela menatap mereka semua dengan berani. Tampak ia dan teman-temannya tengah berbicara.
"Pasti lagi ngomongin kita tuh." ujar Adisty.
"Pasti." jawab Lea.
"Ya udah kit omongin juga sambil liatin muka mereka." ujar Ariana.
Kemudian mereka kompak melakukan hal tersebut. Tampak mereka saling berhadapan layaknya dua kelompok antagonis dalam sebuah drama Korea. Mereka saling membicarakan satu sama lain sambil saling menertawakan.
Saat saling menertawakan itu mereka memiliki skor satu sama. Sebab Shela dan kelompoknya juga tampak tidak mau kalah dari Lea. Namun kemudian Lea mengeluarkan jurus pamungkasnya, yakni permainan psikologis yang lebih dalam dan menyakitkan.
"Dis, Ar, kita belanja yuk!" ajak Lea pada kedua temannya itu.
"Belanja?" tanya Adisty dan Ariana bingung. Sungguh mereka tidak janjian soal ini. Akibatnya ekspresi yang dikeluarkan Adisty maupun Ariana sangatlah alami.
"Iya, gue yang traktir kalian mau beli apa aja. Kita kan nggak perlu godain laki orang dulu supaya bisa beli ini dan itu."
Adisty dan Ariana yang mengerti permainan Lea, langsung sumringah.
__ADS_1
"Oh iya, kita kan bukan perempuan murahan ya nggak sih say?"
Adisty makin menambah panas suasana. Sementara Shela dan teman-temannya yang rata-rata adalah simpanan para om-om itu kini makjleb sampai ke inti DNA.
"Lu mah, bapak lo kayak kan Le. Jadi nggak perlu begitu-begituan." ujar Ariana.
"Iya, dan kalian kalau mau duit kerja ya say. Jangan murahan dan merendahkan harga diri dengan ngejar-ngejar laki orang." ujar Lea.
"Yuk, kita cus." ajaknya kemudian.
"Yuk!" ujar Adisty dan Ariana secara serentak.
Shela benar-benar naik pitam.
"Brengsek." ujarnya kemudian.
Sejenak perhatian sekitar pun tertuju kepadanya. Para pengunjung tempat makan itu menjadi heran lalu menoleh.
"Padahal dia juga tadinya pengen jadi sugar baby, anjir. Menurut info yang gue dengar." Shela terus menggerutu dengan kesalnya.
"Beruntung aja tuh hidupnya, setelah tau dia anaknya Richard dan dinikahi oleh Daniel. Kalau nggak mah, sama aja kayak kita." ujarnya lagi.
Teman-teman Shela hanya diam, sebab mereka tak tau harus berkata apa lagi. Sementara di jalan lain, Lea dan kedua temannya tampak tertawa-tawa.
"Muka mereka udah kayak udang rebus anjay." Ariana menimpali.
Kemudian mereka kembali tertawa-tawa.
"Yuk!" ajak Lea mengarah ke halaman parkir kampus, tempat dimana supirnya tengah menunggu.
"Yuk kemana?" tanya Adisty heran diikuti tatapan mata Ariana yang turut menunggu jawaban.
"Ya kit belanja." jawab Lea.
"Lo serius ngajakin kita?" tanya Adisty lagi.
"Lo pikir gue peres?" Lea balik bertanya.
Adisty dan Ariana pun kian sumringah.
"Gue mah nggak mau manfaatin teman sambil berbohong." ujar Lea.
"Yeay, asik."
__ADS_1
Adisty dan Ariana sama-sama meloncat kegirangan. Tak lama mereka pun terlihat masuk ke dalam mobil Daniel yang dikendarai oleh supir.
Setelah itu mobil tersebut merayap meninggalkan pelataran kampus. Mereka melintas bahkan di depan Shela dan teman-temannya yang kini tampak menunggu taksi.
"Hahaha."
Adisty dan Ariana menertawakan Shela dari kaca mobil, meski Lea tak ikut-ikutan.
"Gue masih heran loh, tujuan dia sama temen-temennya kesini tuh apa?" tanya Adisty pada Lea dan juga Ariana.
"Mana gue tau." jawab Lea.
"Sengaja kali, Le. Mau cari masalah atau mengintimidasi elo." Ariana berspekulasi.
"Iya juga sih." Adisty menyetujui hal tersebut.
"Maybe." jawab Lea.
"Tanpa dia ketahui kalau dia salah alamat." tukas perempuan itu lagi.
"Iya, yang dia pengen bully juga bisa membully ternyata." seloroh Adisty.
"Hahaha." Lea tertawa.
"Gue inget banget dulu di SMA, gimana rasanya di bully sama Sharon dan satu sekolah." ujarnya kemudian.
"Bukan gue mau balas dendam deng membully orang miskin atau para simpanan. Gue nggak masalah dia mau jadi simpanan siapa aja, mau jadi perempuan nggak bener juga terserah." lanjutnya lagi.
"Gue berteman sama Vita dan Nina yang dulunya juga simpanan. Tapi gue nggak suka aja suami gue mau direbut, terus dia sok-sokan nantangin gue." imbuh perempuan itu.
"Istilahnya jangan saling ganggu ya, Le." ujar Adisty.
"Lah iya. Gue paham koq mereka begitu karena faktor ekonomi. Gue dulu juga sempat mau jadi sugar baby, saking pengen nyari duit instan. Gue nggak munafik." ujar Lea.
"Cuma dulu niat gue nggak ada mau sama laki orang. Gue juga masuk SB Agency, karena menurut informasi yang gue denger. SB Agency itu hanya menyediakan laki-laki single. Makanya waktu itu gue mau, gue pikir beneran. Nggak taunya mereka juga menjual ke orang-orang yang juga udah punya bini." lanjutnya kemudian.
"Kalau si cewek itu tadi beneran punya otak, dia harusnya malu sama kejadian tadi." ujar Ariana.
"Iya kalau punya malu, kalau nggak?" Adisty menimpali.
"Iya sih." jawab Ariana.
Maka mereka bertiga pun melanjutkan obrolan, sementara mobil yang membawa mereka terus melaju. Tiba disebuah mall, Lea mengajak mereka berbelanja banyak hal dan semuanya Lea yang membayar.
__ADS_1