Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Panik


__ADS_3

"Udalah bro, nikahin aja Dian. Udah lo tidurin juga, daripada keburu hamil. Urusan mami mah, lo kan nggak perlu wali. Lagian papi juga, gue rasa setuju-setuju aja dia. Yang ribet kan mami."


Daniel berujar pada Richard. Mereka bertiga bersama Ellio terlihat tengah berada di satu mobil, dengan Daniel yang menyetir. Mereka baru saja membuat kerjasama dengan seorang klien, untuk salah satu usaha yang mereka tengah bangun bersama.


"Gue juga khawatir." ujar Richard.


"Kayaknya dia bakalan hamil deh kali ini. Soalnya dia lagi subur katanya." lanjut pria itu.


"Ya udah nikahin, nggak enak sama Lea. Dia kemaren ada ngomong ke gue. Katanya ayah kalau gitu terus, nggak enak sama Leo. Gimana kalau sampai Leo dengar elo lagi begituan sama Dian di rumah, mana lo berdua belum nikah. Untung Leo masih suka balik ke kosan yang gue kasih. Dan lagi pula katanya, kalau lo nggak berubah, nanti bisa-bisa punya anak di luar nikah lagi."


"Lea ngomong gitu?" tanya Richard.


Sementara Ellio terus mendengarkan percakapan kedua sahabatnya itu dari kursi tengah.


"Iya, makanya ini gue sampaikan ke elo. Biar lo mikir juga. Walaupun Lea udah nikah dan udah ngerti begituan. Tapi kan tetap aja dia ngerasa nggak enak, bapaknya nidurin perempuan tanpa nikah. Ya walaupun itu hak individu, mau berdosa kayak apa juga itu urusan lo. Bukan urusan gue, Lea, maupun orang lain. Cuma nggak enak aja sama anak lo. Dia pengen lo hidup berumah tangga. Ada yang lo jagain, dan ada juga yang care terhadap lo."


Richard diam, selalu saja ada keraguan dalam diri pria itu.


"Bro, Cassandra itu udah nggak ada. Belasan tahun yang lalu lo udah kehilangan dia. Mau sampai kapan lo menyendiri dan ragu terus?"


Daniel mengorek luka lama yang sejatinya telah mereka kubur dalam-dalam. Baik Daniel maupun Ellio sudah berjanji tak akan menyinggung soal Cassandra lagi di depan Richard, walau apapun yang terjadi.


Tetapi hari ini Daniel benar-benar ingin Richard menyadari semua itu. Cassandra adalah cinta pertama Richard, bahkan jauh sebelum ia melakukan one night stand dengan ibu Lea.


"Dan, kita udah janji." Ellio mengingatkan.


"Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat itu. Namanya ada di daftar manifest penumpang. Dia udah nggak ada, lo mau nunggu apa lagi?"


"Dan, stop. Please!"


Ellio sedikit membentak Daniel, sementara Richard perlahan membeku.


"Richard harus sadar, El. Mau sampai kapan dia kayak gini terus. Ini udah belasan tahun berlalu, lo nggak kasihan apa sama dia?. Mau sampai kapan dia begini?"


"Gue tau, tapi nggak semudah itu juga untuk Richard ngelupain Cassandra."


"Mau sampai berapa cewek yang dia tiduri?. Sementara hatinya udah mati buat Cassandra. Sampai kapan kita akan membiarkan semua itu. Dia nggak harus melupakan Cassandra, dia boleh mencintai perempuan itu seumur hidupnya, tapi dia harus sadar Cassandra udah nggak ada. Yang dia tunggu kepulangannya udah nggak ada."


"Cukup!"


Kali ini Richard yang membentak, membuat seisi mobil mendadak hening.

__ADS_1


"Stop!" ujarnya kemudian.


Daniel masih terus mengemudi.


"Stop Dan...!"


Daniel tak punya pilihan selain menghentikan kendaraannya di bahu jalan. Richard kemudian keluar lalu melangkah ke pinggir jembatan. Kebetulan saat itu mereka berhenti di sebuah jembatan.


"Elu sih."


Ellio kesal pada Daniel dan ikut keluar dari mobil. Sementara Daniel kini menarik nafas dan mencoba menenangkan hatinya sendiri. Jujur ia menyesal mengungkit hal ini setelah sekian lama, namun ia harus melakukannya.


Sebab dalam hati Richard selalu menantikan kepulangan Cassandra. Hal tersebutlah yang membuat dirinya menjadi sering plin-plan. Kadang berjanji untuk menikahi Dian, kadang terlihat serius namun kadang ia ragu sendiri untuk itu


Tak pernah ada kepastian dan ketegasan dalam diri Richard, sebab ada luka lama yang ia simpan dan terus ia ingkari sampai detik ini.


"Aaarrrggghhh."


Richard berteriak di luar sana, membuat Daniel terkejut sekaligus hancur. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Pria itu hanya menoleh dengan posisi masih berada di dalam mobil. Sedang Ellio menatap Richard dengan hati yang begitu sedih.


"Aaarrrggghhh."


Air mata Richard mengalir deras. Mengingkari sebuah hal besar selama bertahun-tahun, menjadikan luka yang ia simpan semakin besar dan dalam.


Cassandra berjanji untuk bertemu dengan Richard dan Richard sudah menyiapkan cincin pertunangan untuk perempuan itu. Namun pesawat yang ia tumpangi dari luar negri mengalami sebuah insiden mati Engine.


Berdasarkan laporan badan terkait, menyatakan pesawat itu juga mengalami beberapa hal yang membuatnya menjadi fatal. Hingga jatuh di sebuah perairan dalam keadaan hancur lebur. Sudah barang tentu tak ada satupun yang selamat, tak terkecuali Cassandra sendiri.


"Dert."


Tiba-tiba handphone Daniel berbunyi, ada sebuah panggilan dari Lea disana.


"Iya Le."


"Mas, ini Iqbal."


Daniel terkejut.


"Iya kenapa Iqbal?" tanya Daniel kemudian.


"Lea di rumah sakit mas, tadi perutnya sakit."

__ADS_1


"Apa?"


Jutaan rasa panik mendadak menyerbu Daniel. Ia lalu bertanya dirumah sakit mana Lea sekarang berada dan Iqbal pun mengatakannya.


"Ok, tolong kamu jangan kemana-mana dulu ya Iqbal. Mas on the way kesana, titip Lea."


"Iya mas."


"Daniel keluar dari mobil dan berteriak.


"Bro, Lea di rumah sakit sekarang. Kayaknya dia udah kontraksi."


Richard menoleh seraya menghapus air matanya, begitupula dengan Ellio. Dalam sekejap Richard sudah menggantikan Daniel di posisi kemudi.


Sebab Richard memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal kecepatan. Daniel berpindah ke sisi kiri dengan perasaan yang campur aduk. Sementara Ellio tetap berada di tengah.


***


Sesampainya di rumah sakit, tak sulit menemukan Iqbal. Sebab pemuda itu menunggu di dekat instalasi gawat darurat.


"Lea dimana?" tanya Daniel panik.


"Di dalam mas, ayo!"


Mereka semua mengikuti langkah Iqbal dan ada seorang dokter yang menghampiri lalu menjelaskan kondisi Lea. Daniel bernafas lega, ketika dokter menyatakan jika Lea hanya mengalami sedikit gangguan.


"Lea."


Daniel akhirnya masuk ke ruangan tempat dimana Lea di rawat. Di sana ada Adisty, Ariana, Vita, Rama dan juga Dani. Saat Daniel masuk, mereka pun keluar.


"Sayang kamu baik-baik aja kan?" Daniel memeluk Lea dengan erat.


"Iya mas, kata dokter aku nggak apa-apa. Cuma tadi panik, jadinya ya ke rumah sakit."


Daniel menghela nafas berkali-kali.


"Aku pikir kamu udah mau melahirkan tadi. Aku panik banget."


"Aku juga ngira gitu mas, tapi kata dokter masih lama. Lagian kan maternity shootnya belum, masa iya udah lahir. Nggak ada kenangannya dong." ujar Lea.


"Kamu kecapean itu pasti. Besok-besok nggak usah kuliah dulu ya." ujar Daniel.

__ADS_1


"Iya mas."


Daniel kembali memeluk Lea dan mengusap-usap perutnya. Tak lama Richard dan Ellio pun masuk, mereka sama-sama menanyakan kabar Lea.


__ADS_2