
Pagi itu Lea terbangun lebih dulu, ia mendapati Daniel yang masih tertidur lelap disisinya. Lea diam, diperhatikannya wajah pria itu sejenak. Perlahan tangannya pun bergerak, menyentuh wajah serta membelai kepala Daniel.
Entah mengapa, Lea jadi merasa begitu sayang pada Daniel. Mungkin karena sikap pria itu akhir-akhir ini, yang lebih sering menunjukkan sisi gentlenya.
Lea yang tak pernah tumbuh bersama figur ayah kandungnya tersebut, merasa Daniel adalah tempat. Tempat untuk kembali dan bernaung dari segala hal yang terjadi diluar sana.
"Om, bangun."
Lea membangunkan Daniel di beberapa menit setelahnya. Ketika ia telah selesai membuat sarapan untuk mereka berdua.
"Om."
"Hmm." Daniel bergerak dan membuka matanya perlahan.
"Bangun om, udah pagi." ujar Lea.
Daniel menarik nafas lalu bangun, namun ia masih bersandar pada bantal. Ia ingin mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.
"Kamu gimana?. Udah lumayan?" Daniel bertanya pada Lea, gadis itu mengangguk.
"Tapi aku belum mau sekolah." ujarnya kemudian.
"Kamu mau pindah dari sana?" tanya Daniel lagi, Lea menggeleng.
"Udah nanggung, om. Udah semester dua juga, dan mepet kelulusan."
Daniel mengangguk.
"Ya udah, kalau belum mau sekolah hari ini juga nggak apa-apa. Nanti aku suruh orang kepercayaan aku untuk menemani kamu, kalau udah siap."
Lea mengangguk, Daniel beranjak. Ia kemudian pergi ke lantai atas dan mandi. Lama setelahnya ia turun, Lea kemudian mengajak pria itu untuk sarapan pagi.
"Ini kamu yang bikin?" tanya Daniel pada Lea, ketika mereka sudah berada di meja makan.
Lea mengangguk, Daniel tersenyum kepadanya. Tak lama setelah itu mereka pun makan bersama. Usai makan Daniel mengambil tas kerjanya dan berpamitan pada Lea.
"Aku pergi dulu, jangan macem-macem ya."
__ADS_1
Daniel mencium kening Lea, gadis itu memejamkan sejenak matanya lalu kembali menatap Daniel.
"Aku boleh nggak ketemu temen-temen aku?" Lea bertanya kepada Daniel, ketika pria itu sudah mendekat ke arah lift.
"Siapa?"
"Vita sama Nina."
"Ok, tapi jangan kemana-mana. Kalau pun mau pergi, minimal kasih tau aku. Telpon atau WhatsApp dan jangan pulang malem."
Lea mengangguk, kemudian Daniel masuk ke dalam lift.
***
"Duh parah banget sih." ujar Vita, ketika ia dan Nina telah sampai ke kediaman Daniel dan sudah mendengarkan semua cerita Lea.
"Coba lo sekolah di sekolah kita." lanjutnya lagi.
"Bener, Le. Sekolah gue sama Vita, sekolah biasa. Tapi anak-anaknya nggak norak." timpal Nina.
"Nggak suka ikut campur urusan pribadi orang, dan jarang juga sih labrak-labrakan." Lanjutnya kemudian.
"Nggak terima sogokan juga ya, Vit." Lagi-lagi Nina menimpali.
"Bener, semua diperlakukan sama. Mau lo anak orang kaya kek, nggak kek, sama aja di sekolah gue mah." lanjut Vita.
"Sekolah lo elite, tapi kelakuan siswa dan guru nya kayak berasal dari pulau barbar." ujar Nina.
Lea menghela nafas, semua yang dikatakan temannya itu benar adanya.
"Seandainya kejadian ini pas gue kelas 1, gue udah pindah dari dulu kali." ujar Lea.
"Tapi sayangnya sekarang gue udah kelas tiga, semester dua lagi. Udah nggak bisa pindah juga." lanjutnya kemudian.
"Iya pokoknya lo tahanan dulu lah, sampe kelar. Kalau ada apa-apa lo tinggal ngadu aja, om lo baik ini." ujar Nina, sementara di part ini Vita diam. Mendadak ia merasa jika dirinya tak seberuntung Lea, betapa enaknya mendapatkan sugar daddy yang seperti Daniel.
Baik, pengertian, gentleman, pemberani dan tentu saja tidak egois. Tidak seperti sugar daddy nya yang hanya bersikap manis di awal. Makin lama makin kelihatan, jika ia hanya memanfaatkan Vita untuk kepuasan seksual semata.
__ADS_1
***
"Setiap jalan hidup yang kita pilih itu, semua ada resikonya. Kitalah yang bertanggungjawab atas apa yang menjadi pilihan kita."
Seorang perempuan tua tampak tengah berbicara pada seorang anak muda. Anak muda itu adalah cucu laki-lakinya yang kebetulan baru pulang kuliah, dan menyempatkan diri untuk mampir.
"Apa menurut nenek, yang Arsen lakukan ini salah?"
Arsenio bertanya pada sang nenek.
"Menurut kamu sendiri?"
"Arsen cuma mau mereka yang pernah jadi korban kekerasan itu, bisa mendapatkan hidup mereka lagi nek." ujar Arsen seraya melahap makanannya.
"Sekarang nenek dengar pesertanya bertambah. Bukan hanya sekedar dari mantan istri tapi juga mantan simpanan, apa itu benar?"
"Iya nek, karena ternyata perempuan itu nggak dimana aja. Pasti selalu ada yang jadi korban kekerasan, Lily temen Arsen yang awalnya mendapat informasi tentang mereka. Terus Arsen sama yang lain mencoba mendekati, untuk mengorek keterangan lebih jauh. Sama ada juga temen komunitas yang lagi nulis buku tentang kekerasan terhadap perempuan.
"Nenek bangga sama kamu, tapi selalu ingat pesan nenek. Untuk melepaskan seseorang dari jerat kekerasan itu, harus didukung segala aspek. Ya misalkan menyuruh perempuan simpanan yang jadi korban kekerasan untuk tidak di jalan itu lagi, ya kalian harus mencarikan alternatif hidup untuk mereka."
Sang nenek mereguk air putih, lalu kembali melanjutkan.
"Bagaimana kedepannya mereka bisa hidup di jalan yang lain. Jangan hanya sekedar memberi petuah, nasehat, dan berbicara soal dosa semata di depan mereka. Petuah, nasehat, dan dosa akan kalah sama uang. Orang rela berbuat dosa karena uang."
Arsen tertawa.
"Iya nek, kan komunitas kita selain mengajarkan keterampilan. Ada juga yang mencarikan pekerjaan, menyekolahkan kembali beberapa diantaranya. Dan masih banyak lagi hal yang kita sudah lakukan. Para perempuan korban kekerasan itu sekarang banyak yang sudah memiliki bisnis sendiri, yang dimulai dari nggak seberapa sampai bisa sebesar itu. Ada yang punya akun YouTube channel sukses, jadi selebgram berbayar fantastis. Ada juga yang kerja di kantoran, ada yang malah dapat beasiswa keluar negri dan sekolah di sana sambil kerja dan lain-lain. Ya walaupun masih banyak juga yang sedang dalam proses saat ini."
Nenek Arsen menghela nafas.
"Semoga anak-anak kita atau keluarga kita dijauhkan dari kekerasan, terutama yang perempuan." ujar neneknya lagi.
"Iya, nek. Cukup Ariska yang dulu begitu."
Pandangan mata Arsen terlempar ke suatu sudut. Ariska adalah kakak perempuannya yang juga jadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Padahal mendiang ibu mereka sudah meminta Arsen untuk menjaga Ariska, namun Ariska kemudian jatuh cinta pada pria yang salah lalu menikah. Akibat memergoki suaminya selingkuh, Ariska yang tengah hamil di tendang dan dipukuli suaminya sendiri.
__ADS_1
Akibatnya, bayi yang ia kandung tak tertolong. Parahnya lagi rahim Ariska harus diangkat, karena kondisinya yang mengalami kerusakan parah. Meski sang suami akhirnya di penjara, namun kini Ariska hidup seperti tidak hidup. Ia bahkan seolah mati bersama bayinya.
Arsen kehilangan sang kakak, meski raga kakaknya itu masih ada. Dan masih berada di sebuah rumah sakit jiwa, untuk itulah Arsen melakukan ini semua. Ia tak ingin mendengar segala macam bentuk kekerasan lagi terhadap perempuan.