
Beberapa hari telah berlalu.
Malam itu sekitar pukul 3 dini hari. Daniel memberikan remasan, pada salah satu dari dua gundukan di dada istrinya. Sambil tak henti meracau dan memompa tongkat miliknya ke dalam liang hangat sang istri.
"Lea, hmmh, ah."
"Mas, ah, sshh, ah."
Daniel mempercepat gerakannya, hingga ia dan Lea makin mendesah-desah. Mereka sudah melakukan ini sejak tadi. Ruang kamar yang ditempati Lea, penuh dengan suara erangan mereka berdua.
Ia terus bergerak maju mundur, sambil sesekali mengelus perut istrinya yang sedikit membuncit. Memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi Lea.
"Mas."
"Kamu mau bayi lagi, hmm?"
"Sshh, iyaaa."
"Aaaakh."
Keduanya berteriak, seiring dengan tubuh mereka yang bergetar hebat. Cairan hangat menyembur dan membasahi rahim Lea yang tengah hamil tersebut.
Sejenak keduanya melayang di udara, dengan mata terbelalak dan bibir menganga. Sampai kemudian kesadaran kembali menguasai, dan keduanya sama-sama terhempas. Lea tersenyum pada sang suami dan begitupun sebaliknya.
"Bayinya udah aku masukin ke dalam, sekarang jadi banyak." ujar Daniel lalu mencium pipi Lea.
Perempuan itu tak menjawab, ia hanya terus tersenyum dan memeluk sang suami. Tak lama mereka pun tertidur, hingga matahari mulai muncul ke permukaan.
***
"Kayaknya anak gue laki-laki."
Daniel berujar pada Ellio pada keesokan harinya di kantor. Ketika seperti biasa, Ellio melipir ke ruangan sahabatnya itu meski tanpa Richard.
"Dari mana lo bisa mengira-ngira?. Peramal lo sekarang?. tanya Ellio.
Daniel tertawa lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi meja kerja. Ia tampak tengah memakan sebuah permen, karena sedang tidak ingin merokok.
"Emaknya ganas banget di ranjang. kayak bukan yang biasanya." ujar Daniel lagi.
"Emang emaknya minta mulu?" tanya Ellio.
Daniel menaikkan kedua alisnya, pertanda jika ia menjawab iya.
"Agresif banget lagi sekarang." lanjut Daniel.
Kali ini Ellio tertawa.
"Bisa jadi, sebab kalau emaknya menggebu-gebu. Itu pertanda lagi hamil anak cowok, siap-siap aja lo punya saingan dirumah." seloroh Ellio.
Daniel kembali tertawa, tampak ia begitu bahagia akhir-akhir ini.
"Braaak."
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka. Seseorang melangkah masuk dan membuat Daniel serta Ellio tercengang.
"Richard?"
Ellio berujar tanpa sadar, sedang Daniel menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tak percaya.
__ADS_1
"Lo mau jadi menantu durhaka?" ujar Richard dengan nada yang serius. Sementara Daniel masih terpaku.
"Lo nggak ada mendatangi gue, bicara sama gue, atau ngajak gue kesini. Lo udah nyaman berdua doang sama Ellio?. Nggak apa-apa, nggak ada gue?"
Daniel menatap sejenak ke arah Ellio, sahabatnya itu tersenyum dengan wajah yang penuh haru. Seketika Daniel pun mendekat pada Richard dan keduanya saling berpelukan. Suasana penuh emosional mendadak terasa di ruangan itu.
"Gue minta maaf." ujar Richard kemudian.
"Gue juga." ujar Daniel.
Mereka lalu saling melepaskan pelukan, tampak mata keduanya sama-sama berair.
"Gimana kabar Lea?" tanya Richard
"Dia sehat."
"Her baby?"
"Sama." jawab Daniel.
Keduanya kembali berpelukan, mereka tak pernah bermusuhan dan saling mendiamkan dengan durasi yang selama ini. Biasanya hanya dalam hitungan jam atau paling lama 4 hari, mereka sudah berbaikan. Tapi ini sudah memakan begitu banyak waktu.
"Hallo, Romlah datang."
Tiba-tiba Ellio muncul dengan memakai sebuah kerudung. Membuat Daniel dan Richard yang tengah berada dalam suasana emosional tersebut, mendadak menjadi tertawa geli.
"Bangsat." seloroh Daniel lalu mengeplak kepala Ellio.
"Perusak momen nih si kadal." timpal Richard.
"Abisnya lo berdua serius amat, kayak lagi mau nyaleg tapi modalnya dikit tau nggak lo."
"Pak Ellio, itu kerudung saya."
Salah seorang karyawan Daniel masuk dan berteriak pada Ellio.
"Salah sendiri kenapa dilepas." Ellio berusaha menghindar, namun karyawan itu mengejarnya.
"Kan saya lagi nyobain kerudung yang ini, baru dateng dari toko online."
"Ya udah pake yang itu aja, jangan ganggu yang di Romlah dong. Ini punya Romlah."
Ellio tetap mempertahankan kerudungnya, hingga karyawan tersebut terpaksa melilitkan kerudung itu ke kepala dan leher Ellio. Semua yang ada di ruangan itu, termasuk Ellio sendiri pun akhirnya tertawa.
"Gimana kalau ntar malem kita makan bareng, sama Lea dan Ellio." ujar Richard.
"Ok." jawab Daniel.
Kedua sahabat itu akhirnya sama-sama duduk dan membicarakan beberapa hal. Sementara Ellio masih sibuk mengganggu karyawan Daniel.
***
"Ayah mau ajak kita makan bareng, mas?" tanya Lea pada Daniel, ketika suaminya itu akhirnya menelpon dan memberitahu rencana Richard.
"Iya, nanti aku jemput kamu dirumah." jawab Daniel.
"Ke kampus aja mas, aku jadwal sampe jam 6 sore."
"Oh ya udah, nanti aku jemput di sana ya."
__ADS_1
"Iya mas."
"Bye Lele."
"Bye mas."
"Cium aku dong...!" ujar Daniel.
"Malu mas, lagi banyak temen aku. Ada dosen juga deket sini."
Daniel tertawa.
"Ya udah, aku balik kerja ya."
"Iya mas."
Daniel menyudahi panggilan, sementara Lea kembali pada teman-temannya.
***
Malam itu sesuai kesepakatan, Lea dijemput oleh Daniel dan mereka langsung bergerak menuju tempat yang telah di reservasi oleh Richard. Ellio sendiri sudah sampai di sana sejak beberapa menit yang lalu, termasuk juga Richard.
Saat bertemu muka, Richard memeluk Lea cukup lama. Mereka berbicara berdua, Daniel sendiri tak tau apa yang ayah dan anak itu bicarakan.
Ia tak ingin ikut campur, itu urusan antara Lea dan juga ayahnya. Sesaat kemudian mereka sudah berada di satu meja yang sama.
"Lea, ntar kalau bayinya lahir. Kasih nama Ellio aja, biar ganteng dan cool kayak omnya." ujar Ellio dengan penuh percaya diri.
"Pede lu, Bambang." seloroh Richard.
"Lo itu seumur gue, dan lo itu omnya Lea. Berarti anaknya Lea, manggil lo kakek. Sama kayak manggil gue." lanjutnya kemudian.
"Enak aja gue kakek, om lah. Masih muda, masih ganteng kayak gini." Ellio tak terima.
"Lo seumur gue, ya kakek lah."
"Kan gue juga temennya Daniel, om dong manggilnya."
"Berisik anjay." Daniel menengahi kedua sahabatnya, sementara Lea hanya tertawa-tawa.
"Ntar kita semua di panggil nama aja, biar nggak riweh." ujar Daniel lagi.
"Ngajarin anak kurang ajar lo, Dan." ujar Ellio.
Daniel dan Richard pun tertawa.
"Lagian itu perutnya Lea, melendung juga belum. Masih piyik di dalam, udah ribut masalah panggilan aja lo berdua." seloroh Daniel lagi.
"Pokoknya om." ujar Ellio.
"Kakek Ellio." ujar Richard.
"Nggak mau, papa aja deh. Papa El, keren kan. Gimana Lea?"
"Terserah kalian deh, suka-suka." ujar Lea.
"Abisnya bingung." lanjutnya kemudian.
Mereka berempat pun kembali tertawa. Sesaat kemudian makanan datang. Mereka lalu sama-sama makan dan lanjut berbincang.
__ADS_1