
"Darriel anak ikan Lele, Lele nya hidup di empang, di dalam jaring ikan."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel menangis kencang, padahal tengah di timang-timang oleh sang ibu.
"Darriel bentar lagi tumbuh kumis, karena dia anak ikan Lele."
Bayi berusia satu bulan itu makin kencang menangis. Dari ruang keluarga tempat dimana kini ia, Daniel serta Ellio berada, Richard pun menoleh pada Lea.
"Dia lagi kenapa sih, Dan?" tanya nya pada Daniel.
"Biasa, lagi hobi liat anaknya nangis. Udah bagus si Darriel jarang nangis. Di gangguin mulu sama Lea."
"Biasalah bro, remaja udah punya anak. Ya gitu deh, dikira boneka kali ya." ucap Ellio.
Mereka semua lalu tertawa-tawa.
"Ah Darriel gitu aja nangis. Mama aja yang ikan Lele nggak nangis koq."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel masih saja mengeluarkan suara dan tangisan.
"Ya udah, ya udah. Nggak lagi deh, mama damai sama kamu. Minum susu ya?"
Tangis Darriel mereda, apalagi ketika mulutnya sudah di masukan ujung botol susu. Mendadak ia pun diam dan meminum susu dengan penuh semangat.
"Ntar nih, di tangisin lagi sama dia." ujar Daniel kemudian.
Richard dan Ellio kembali tertawa.
"Oh iya, katering lo mau yang mana?" tanya Daniel pada Ellio.
"Emang kandidatnya banyak?" Ellio balik bertanya.
"Iya, ada tiga." jawab Richard.
"Masing-masing udah ngirim sampel tuh." lanjut Richard seraya menoleh ke meja makan.
Ellio ikut menatap ke arah sana. Pantas saja ada banyak nasi kotak di tempat itu. Ellio pikir pembantu Richard tengah malas masak dan akhirnya Richard selaku tuan rumah membeli nasi kotak. Tapi ternyata itu adalah sampel dari tiga katering, yang rencananya akan dipakai di pernikahan Ellio nanti.
"Mbak, bawain satu-satu dari tiga kotak itu." ujar Richard pada asisten rumah tangganya. Maka asisten rumah tangga tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang majikan.
Tiga kotak dari tiga katering dibawa ke hadapan mereka.
"Nih, cobain dulu." ujar Richard.
Ellio membuka ketiganya dan mereka mulai mencoba makanan tersebut satu persatu.
"Ini enak." ujar Daniel seraya mengunyah dan merasakan.
"Iya, enak masakannya." timpal Richard.
__ADS_1
"Tapi menurut lo nasinya agak kering nggak sih?" tanya Ellio.
"Iya, tapi dengan lauknya jadi pas." ucap Daniel.
Richard mengangguk-anggukan kepala.
"Ok next." tukas Richard.
Mereka lalu mencoba kotak yang kedua dan memakannya secara bersama-sama pula.
"Yang ini nasinya pulen. Tapi enakan yang tadi ya masakannya."
Daniel memberikan pendapat yang pertama mengenai katering kedua tersebut.
"Iya." Richard sepakat.
"Tapi gue suka nasi yang ini." ucap Ellio.
"Menurut lo masakannya gimana?" tanya Richard pada temannya itu.
"Enakan yang tadi sih." jawab Ellio.
"Ok next." Daniel membuka kotak yang ketiga.
"Ini nasinya lembek banget nggak sih?" ujar Richard memberi pendapat.
"Iya, tapi masakannya enak." ujar Ellio.
Daniel masih mencoba merasakan.
"Iya masakannya enak, tapi nasinya gue kurang suka." ujarnya.
"Gimana menurut lo?" tanya Daniel pada Ellio.
"Nggak tau bingung gue. Kalau menurut pendapat lo berdua gimana?" tanya nya kemudian.
"Kalau gue sih yang pertama." ujar Daniel.
"Richard?"
Ellio melempar pertanyaan pada pria itu.
"Sama gue, yang pertama." jawab Richard.
Tak lama Lea turun.
"Le, tadi kan kamu udah makan dua kotak. Menurut kamu yang mana yang paling enak?" Daniel bertanya pada istrinya tersebut.
"Mmm, enak semua koq mas. Ini aku mau makan yang ketiga." ujar Lea mendekati meja makan.
"Ini mbak-mbak nggak pada makan?" tanya Lea pada salah satu asisten rumah tangga yang tengah melintas.
"Bentar lagi mbak Lea. Masih pada ngerujak di belakang." jawab asisten rumah tangga tersebut.
"Pagi-pagi ngerujak, ntar pada sakit perut loh." ujar Lea.
Asisten rumah tangga tersebut hanya tertawa lalu berlalu. Sementara kini Lea mengambil kotak makan yang belum ia cicipi. Ia membawanya ke meja yang tak jauh dari Daniel dan membukanya disana.
__ADS_1
"Gimana Le, enak nggak yang itu?" tanya Richard, setelah Lea menyuap makanan.
"Sama aja, enak juga yah." Lea makan dengan lahap.
"Dia mah, apa juga enak." seloroh Daniel sambil tertawa.
"Namanya juga emak-emak menyusui, mas. Nasi sama sambel terasi dan sayuran rebus aja, rasanya udah kayak dapat surga. Abis di sedot anak tuh rasanya tenaga habis, mata kunang-kunang kalau nggak banyak makan." ujarnya kemudian.
Daniel dan yang lain hanya tertawa, sementara Lea lanjut makan. Akhirnya setelah melalui pembicaraan lebih lanjut. Di sepakati jika Ellio akan memakai jasa katering yang pertama.
"Deal ya yang pertama ini." ujar Daniel.
"Ok." jawab Ellio.
Lalu Daniel memberitahu pihak katering tersebut, bahwa mereka yang terpilih. Tentu saja mereka senang. Sebab rencana Ellio akan mengundang banyak orang. Dan pastilah orderan makanannya pun akan banyak. Hal tersebut bisa memberi banyak keuntungan pada pihak katering.
"Udah, pada makan dulu mas." ujar Lea.
"Iya, ini mau makan." jawab Daniel.
"Maka ia beserta Richard dan Ellio pun melanjutkan yang tadi, dan menambah masing-masing satu kotak lagi. Sebab di dalam kotak porsinya tak terlalu banyak. Sedang mereka makan harus porsi besar, sesuai dengan postur dan tinggi badan.
***
"Maksudnya nanya-nanyain pernikahan gue gimana?"
Lea bertanya pada Leo, ketika akhirnya Leo datang dan membicarakan soal perempuan yang ia temui kemarin.
"Iya dia kayak kepo gitu, pengen tau tentang kehidupan lo. Kapan lo menikah, kayak gimana lo bisa ketemu sama mas Daniel."
Lea bingung kali ini.
"Siapa ya kira-kira itu orang?" Ia kembali bertanya.
"Mana gue tau, makanya tadi kan gue tanya. Elo ada nggak temen lama, namanya Chika."
Lea mengerutkan dahi sambil mengingat-ingat. Apakah ia memiliki seorang teman bernama Chika atau tidak sebelumnya.
"Nggak ada." jawabnya kemudian.
"Temen SD, temen TK gitu?"
"Hmmm." Lea kembali berpikir dan mencoba mengingat.
"Nggak ada juga." ujarnya lagi.
"Mungkin orang dengan maksud tertentu." Lea menambahi.
"Tapi apa maksudnya?. Emang ada benefitnya mengetahui kehidupan rumah tangga orang?" Kali ini Leo yang bertanya.
"Mungkin bagi dia, ada kepuasan batin tersendiri kali." ucap Lea seraya tertawa.
"Atau musuh lo nggak sih?" ujar Leo.
Lea kembali terdiam dan berpikir.
"Gue mah akhir-akhir ini nggak punya musuh. Gue ngerasanya ya. Tapi nggak tau kalau ada orang yang menganggap gue ini adalah musuhnya dia. Dia nggak suka sama gue, kesel sendiri, dan akhirnya pengen melakukan sesuatu terhadap gue." ujar perempuan itu.
__ADS_1
"Pokoknya lo hati-hati aja. Lo sendiri cerita kan kalau keluarga ayah Richard juga banyak di serang orang akhir-akhir ini. Untung gue nggak ember loh orangnya. Kalau ibu yang didatangi orang kayak gitu, pasti keluar semua itu cerita termasuk rahasia."
"Iya sih." jawab Lea sambil menatap sang adik.