
Richard membantu pencarian Clarissa. Sebab Clarissa adalah kunciannya untuk menyerang Marvin.
Ia tak ingin Marvin menemukan perempuan itu terlebih dahulu, kemudian menghilangkan barang bukti. Seperti membuat Clarissa keguguran misalnya.
Richard tak akan punya bahan lagi untuk menyerang musuhnya itu. Untuk itulah ia harus mati-matian mencari dan melindungi Clarissa.
Ia ingin Marvin di penjara atas perbuatannya, atau paling tidak membuatnya malu dan kapok untuk menyerang Daniel, Ellio, maupun Richard sendiri.
"Tadi terakhir dia terlihat dimana pak?"
Richard bertanya pada sekuriti kompleks, tempat dimana kediaman kakak Clarissa berada. Sebab perempuan itu disembunyikan disitu tadinya.
"Di sekitaran tempat ini pak. Bisa dilihat ini tayangan CCTV nya." ucap sekuriti tersebut.
"Kami benar-benar tidak tau kalau mental mbak Clarissa itu sedang terganggu. Kami pikir dia hanya berkunjung seperti sebelum-sebelumnya. Jadi kami biarkan saja dia berjalan keluar. Kami pikir habis berkunjung ke kakaknya dan pulang. Kakaknya juga tidak ada komunikasi apa-apa sebelumnya dengan pihak kami." lanjutnya kemudian.
Richard memperhatikan CCTV tersebut. Di depan gerbang tampak Clarissa menyetop sebuah taxi. Kebetulan plat nomor kendaraan taxi tersebut tertangkap kamera.
"Baik kalau begitu, saya harus pergi sekarang." ujar Richard.
"Baik pak."
"Kalau ada informasi lebih lanjut mengenai Clarissa, tolong hubungi saja di nomor ini pak."
Richard memberikan kartu namanya.
"Baik pak, akan segera kami informasikan kalau kami mendapatkan informasi lebih lanjut."
"Baik, terima kasih."
Richard lalu pergi meninggalkan tempat itu dan mencari keberadaan Clarissa di tempat lain.
***
Sementara sang kakak Clarita. Selain mencari keberadaan sang adik, ia juga kini tengah memperkarakan istri sah dari sugar daddy nya yang telah membuat ia mengalami keguguran.
Sang sugar daddy pun mendukung langkah yang diambil oleh perempuan itu. Bahkan ia juga akan turut memberatkan dan ingin agar istri sahnya di jebloskan ke dalam penjara.
Ia sangat menyayangkan dan peduli pada anaknya yang telah tiada. Tetapi lupa jika ia juga punya anak-anak dengan Else. Ia tak memikirkan anak-anak tersebut akan kehilangan sosok ibu, apabila ibu mereka di penjara.
Ia malah memiliki misi untuk mendekatkan anak-anaknya yang itu dengan Clarita. Sebuah cita-cita yang ada di hampir semua otak pria yang berselingkuh.
Bahwa mereka menginginkan anak-anak dari istri sah dekat dengan selingkuhan mereka. Kalau bisa membenci ibu kandung mereka sendiri dan lebih mendukung si selingkuhan.
Entah apa yang merasuki benak para laki-laki yang berselingkuh itu. Hingga anak-anak pun mereka harap untuk menormalisasi perbuatan mereka.
Else, istri dari sugar daddy Clarita itu memang salah. Tapi yang membuat dia bersalah kembali lagi adalah tingkah suaminya sendiri. Sang suami sangat boleh memperkarakan kasus tersebut ke meja hijau, sebab sudah merupakan tindak kriminal.
__ADS_1
Tetapi mempunyai misi untuk membuat anak-anak kandung membenci ibu mereka sendiri, adalah perbuatan laki-laki yang pengecut. Laki-laki yang hanya ingin menang sendiri, tanpa menyadari kesalahan besar apa yang telah ia perbuat sebelum itu.
"Pokoknya mas, aku nggak terima dengan perlakuan istri kamu itu."
Begitulah Clarita akhirnya memanfaatkan momen. Sebagai wanita biasa tentu ia sangat sakit kehilangan bayinya. Namun sebagai perusak rumah tangga orang, inilah kesempatan baginya untuk menyingkirkan sang istri sah secara cepat dan mudah.
"Iya, aku yang akan menuntut dia. Kamu tenang aja, aku nggak akan tinggal diam dengan perbuatan perempuan itu."
Sang sugar daddy berkata dengan penuh berapi-api. Tak lama kemudian ia menghubungi pengacaranya, lalu mereka sepakat untuk membuat laporan kepada pihak yang berwajib.
***
Di lain pihak istri sahnya juga ditemani pengacara. Meski ia tau dirinya akan berat dan kemungkinan masuk penjara. Namun ia telah mempersiapkan segala sesuatu, terutama untuk anak-anaknya.
"Kenapa mama lakukan semua itu tanpa berpikir panjang, ma. Kalau kayak gini mama bisa dipenjara."
Salah satu anak laki-lakinya berujar pada wanita itu.
"Mama tau mama gegabah, mama tau mama jahat. Tapi mama terlanjur sakit hati. Dari nol mama menemani papa kalian. Dari mama yang punya segalanya saat masih gadis, kemudian menikah dengan papa kalian meninggalkan semuanya. Bahkan keluarga pun membuang mama, karena memilih laki-laki yang belum punya apa-apa."
Else menatap ketiga anaknya. Sementara ketiga anak itu kini terdiam.
"Di awal-awal menikah, saat hamil kamu Edward. Mama sering cuma makan nasi sama sayur rebus dan garam. Saking kami nggak ada uangnya saat itu."
Air mata Else mengalir, begitupula dengan anak-anaknya.
Nafas Else naik turun, ia terlihat begitu emosional ketika mengingat masa lalu.
"Mama temani papa kalian sampai sukses, mama dampingi dia di saat susah dan melarat. Tapi setelah sukses dia membahagiakan perempuan lain. Dia memeluk perempuan lain, bahkan sampai punya anak. Kalian bisa membayangkan bagaimana sakit dan hancurnya hati mama."
Elke anak perempuan satu-satunya dalam keluarga itu, kini tampak menyeka air matanya dengan tissue.
"Kamu Elke, kamu perempuan. Kalau ada laki-laki susah datang ke kamu, minta ditemani dari nol. Berkaca dari mama dan dari semua perempuan di dunia ini yang menemani dari nol. Dari sepuluh perempuan yang melakukan hal tersebut, mungkin hanya satu yang suaminya tetap bersama dia di saat sukses. Sembilan lainnya bernasib sama seperti mama."
Elke makin menangis. Tak lama pintu depan rumah mereka seperti di buka secara kasar. Dan kebetulan juga memang tidak dikunci.
"Braaak."
Semuanya menoleh, ayah mereka datang dengan wajah penuh kemarahan. Ia mendekat secara serta merta dan langsung memukul Else.
"Perempuan brengsek kamu, kamu membunuh calon anak saya."
"Elo yang brengsek, bangsat."
Salah satu anak laki-lakinya mendorong pria itu hingga terjatuh. Sugar daddy Clarita itu pun terkejut.
"Edward, kamu berani melawan papa?"
__ADS_1
"Lo bukan bapak gue lagi, lo nggak lebih dari sekedar peselingkuh nggak tau diri." teriak Edward.
"Apa yang sudah kamu tanamkan ke benak anak-anak saya?" Sugar daddy Clarita berteriak pada istri sahnya.
"Nggak usah berteriak sama mama." Anak laki-lakinya yang satu lagi balas membentak sang ayah.
"El, kamu juga ikut-ikutan?. Kamu membela perempuan kriminal ini?"
"Papa yang membuat mama jadi kriminal. Hati perempuan mana yang nggak sakit, sudah menemani laki-laki busuk kayak papa dari nol. Setelah sukses papa menemani perempuan murahan di luar sana."
"Ibu kamu ini sudah membunuh calon adik kamu."
"Dan papa sudah membunuh keluarga kita. Walau kita nggak mati secara harfiah."
Sugar daddy Clarita terdiam.
"Kamu menormalisasi perbuatan ibu kamu?" tanya nya lagi.
"Dan papa menormalisasi perselingkuhan." jawabnya kemudian.
"Calon anak papa mati, itu karena perbuatan papa sendiri. Siapa suruh papa selingkuh."
Sugar daddy Clarita makin naik darah. Ia mendekat dan mendorong serta mencekik istrinya.
"Kamu apakan anak-anak saya?" teriaknya kemudian, sementara Edward dan El mencoba menarik pria itu dan melindungi ibu mereka.
"Kamu apakan pikiran mereka, sehingga mereka membela kamu yang jelas-jelas kriminal. Perempuan brengsek kamu."
"Aaaaaargh."
Anak perempuan mereka memberontak dan mendorong sang ayah. Tenaganya menjadi begitu kuat hingga sang ayah nyaris terjatuh. Ia juga mengambil vas bunga dan memukulkan vas bunga itu sampai pecah ke tubuh ayahnya.
"Pergi dari sini laki-laki brengsek."
Sugar daddy Clarita terdiam dengan hati yang hancur. Sebab Elke selama ini sangat dekat dengannya.
"Pengkhianat!" seru Elke kemudian.
"Anda adalah cinta pertama yang membuat saya jijik sama laki-laki." lanjutnya lagi.
"Pergi dari sini, kami akan membawa ibu kami untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kami tidak akan melindungi dia dari pihak yang berwajib. Tapi anda tolong enyah dari hadapan kami. Sejak anda memutuskan selingkuh, anda bukan ayah saya lagi."
"Elke."
"Jangan sebut nama saya, pergi dari sini!"
Sugar daddy Clarita menjauh dengan hati yang hancur berkeping-keping. Tadinya ia ingin menjemput anak-anaknya, agar tak serumah lagi dengan ibu mereka yang kriminal. Namun malah kekecewaan seperti ini yang ia dapatkan.
__ADS_1