
"Nin."
Lea memeluk Nina, ketika akhirnya perempuan itu menepati janji untuk pergi ke kediaman Vita. Hari itu tak ada jadwal Vita dan dan Nina kuliah, hingga mereka tak bisa bertemu di kampus seperti biasanya.
"Lo baik-baik aja kan?"
Lea bertanya pada Nina. Nina pun tersenyum, tampak temannya itu sangat tegar dan kuat sekali di mata Lea. Ia bahkan tak menangis sedikitpun.
"Gue mau cerai, Le." ujar Nina kemudian. Tepat setelah Lea menyerahkan makanan yang ia bawa kepada Vita.
"Lo serius, Nin?" tanya Lea.
"Lo kuat membesarkan anak itu sendirian?" lanjutnya lagi.
"Gue udah memantapkan hati, Le." ujar Nina sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang tipis.
"Ya kalau misalkan dia mau tanggung jawab atas nafkah dan masa depan anak ini. Gue akan terima, gue nggak akan berusaha menjauhkan anak gue dari bapaknya. Asal jangan diambil, karena gue nggak akan rela kalau anak gue dipisahkan dari gue."
Lea menghela nafas dan memperhatikan Nina.
"Kalau mau asuh bareng-bareng, nggak masalah. Yang jelas gue nggak mau di duakan, dan gue yakin Imelda juga nggak akan rela di duakan sama suaminya."
"Jadi bener, si Imelda-Imelda itu istrinya laki lo?" tanya Lea lagi.
"Bener." jawab Nina.
"Mereka udah nikah 6 apa 7 tahun gitu dan belum punya anak."
Lagi-lagi Lea menghela nafas. Vita mulai duduk di dekat mereka berdua, sambil memakan cemilan yang Lea bawa.
"Klasik ya masalahnya." ujar Lea seraya ikut makan. Nina pun akhirnya mencomot salah satu telur gulung dan melahapnya.
"Klasik, Le. Perempuan kan cuma pabrik anak, di mata sebagian laki-laki dan sebagian keluarga laki-laki." celetuk Vita.
"Kalau menikah tujuannya hanya mendapatkan anak, ya gitu deh jadinya. Ketika pasangan nggak bisa kasih anak, selingkuh menjadi solusi. Tanpa mikirin perasaan istri dan juga selingkuhan yang dibohongi. Kalau selingkuhnya terang-terangan kan beda lagi. Si selingkuhan tau kalau dia jadi selingkuhan. Nah ini si Nina kagak tau apa-apa, anjir." lanjutnya kemudian.
"Dari awal tuh laki lo emang udah rada aneh. Salah satunya ya itu, mampu nikahin lo secara sah, tapi malah nikah siri." ujar Lea.
"Gue pengen curiga tapi takut salah. Pengen bilang ke elo, takut lo kepikiran. Tanya Vita, dari awal gue udah bilang kalau laki lo itu nggak beres." lanjutnya kemudian.
Vita mengangguk, kali ini Nina menghela nafas.
"Biarin lah, Le. Udah nasib gue buruk kali ini, akibat terlalu ngebet pengen punya laki tajir melintir. Gue pikir kayak cerita di novel-novel online ya kan."
__ADS_1
Nina kembali melahap telur gulung, Lea kebetulan membeli 30 tusuk dan 6 bungkus cilor. Karena ia tau jika ia dan kedua temannya itu tak bisa makan sedikit. Apalagi dirinya dan Nina kini membawa biang lapar di dalam perut.
"Di novel online kan perfect semua tuh." Nina meneruskan perkataannya.
"Sugar baby ketemu sugar daddy. Awalnya saling benci, lama-lama saling bucin. Uwu-uwuan, diajak jalan-jalan naik private jet, naik helikopter. Eh taunya belum naik, gue udah nyungsep." lanjutnya kemudian.
Lea dan Vita antara mau tertawa namun sekaligus miris. Nina disini menjadi sosok yang terlihat begitu tegar, di usianya yang bahkan belum dewasa untuk sebagian orang.
Namun ia menganggap tragedi dalam hidupnya sebagai sebuah komedi. Sungguh sesuatu yang sangat patut di apresiasi. Mengingat ia bisa saja depresi atau bahkan bunuh diri. Namun Nina berani tampil sebagai wanita yang mampu menahan serangan kesakitan, yang diberikan oleh suaminya.
"Pokoknya lo jangan sampe berfikiran macem-macem ya Nin. Gue takut nanti pas lagi gue sama Vita nggak ada di dekat lo, lo jadi mikir yang aneh-aneh." ujar Lea.
"Nggak Le, gue tegar koq. Ya boleh dibilang sedikit banyak duit dan warisan dari bokap gue sangat membantu. Ada untungnya juga gue terima semua itu. Kalau nggak, gue mungkin akan merasa bingung dan stres. Di satu sisi gue nggak mau mempertahankan pernikahan, tapi disisi lain gue bingung gimana mau hidup. Mana gue bunting, masih kuliah, mana ada kantor yang mau memperkerjakan gue. Gue rasa gue bakalan gila kalau nggak ada tabungan dan simpanan."
"Itulah kenapa perempuan cari duit sendiri itu, penting." Vita nyeletuk sambil mengambil cilor.
"Bener banget." ujar Lea dan Nina di waktu yang nyaris bersamaan.
"Gue udah kapok mengejar laki-laki berduit, gue mau jadi cewek berduit dengan jalan kerja keras." lanjut Vita lagi.
***
Daniel, Richard dan Ellio beranjak, setelah kurang lebih dua jam beristirahat. Ketiga pria berusia matang itu hendak kembali ke kantor masing-masing. Daniel melangkah duluan, diikuti Ellio. Sedang Richard berada di line paling belakang.
"Braaak."
"Richard?"
Daniel dan Ellio terkejut, melihat Richard jatuh tak sadarkan diri. Sontak keduanya langsung menghampiri, bersamaan dengan beberapa karyawan lain yang juga ikut mendekat.
"Richard."
"Richard."
Daniel mencoba menyadarkan sahabatnya tersebut, sementara Ellio kini menelpon ambulans.
Waktu berlalu.
Richard membuka matanya di sebuah tempat yang bernuansa serba putih. Dimana lagi kalau bukan di rumah sakit. Tampak Daniel dan Ellio ada di sisi pria itu.
"Gue kenapa, Dan?" tanya Richard pada Daniel.
Daniel dan Ellio memperhatikan Richard dengan serius.
__ADS_1
"Gue kenapa?" tanya Richard mulai panik.
Ia takut dirinya terkena penyakit mematikan. Karena melihat ekspresi wajah kedua temannya yang tampak menyimpan sesuatu. Namun kemudian Daniel dan Ellio tertawa serentak.
"Takut kan lo." seloroh Daniel kemudian.
"Makanya hidup seimbang." timpal Ellio.
"Eh serius anjir, gue kenapa?" tanya Richard lagi. Ia sendiri kini tak kuasa menahan tawa, karena melihat Daniel dan Ellio yang masih terkekeh di dekatnya.
"Lo hipoglikemia." ujar Daniel kembali dengan mimik yang serius.
"Hipoglikemia?" tanya Richard bingung.
"Gula darah lo terlalu rendah, Bambang." celetuk Ellio.
"Untung nggak kejang lo tadi." lanjutnya lagi.
Richard terdiam, belakangan ia memang sangat mengurangi konsumsi gula.
"Pantes tadi lo pucat, abis makan juga ternyata nggak nolong. Orang lo makannya gitu doang." Daniel kembali berujar.
"Mana olahraga berat lagi lo." timpal Ellio.
"Orang tuh kalau olahraga berat, kalori yang keluar masuk juga di perhatiin. Kan tenaga yang lo dapat dari situ. Bagus lo nggak gangguan irama jantung, nggak kena Anxiety gara-gara itu." Lagi-lagi Daniel mengoceh.
"Braaak."
Terdengar suara pintu dibuka, ternyata Lea yang datang. Perempuan itu buru-buru meninggalkan kediaman Vita dan menuju ke rumah sakit, ketika mendapat pesan dari Daniel.
Sedang Vita dan Nina tak bisa ikut, karena Vita harus menemani Nina periksa kandungan. Tadinya Lea hendak ikut mereka, namun mendengat kabar Richard ia pun berubah haluan.
"Mas, om Ellio. Ayah kenapa?" tanya Lea pada Daniel dan Ellio.
"Ayah baik-baik aja." jawab Richard.
"Nggak, dia bohong." ujar Daniel, diikuti anggukan Ellio.
Richard kesal setengah mati untuk itu. Ia berharap kedua temannya tak begitu membesar-besarkan masalah.
"Kenapa mas?" tanya Lea mulai panik.
Daniel pun menjelaskan jika Richard pingsan, akibat gula darahnya yang terlalu rendah. Hal tersebut diakibatkan diet ketat yang dilakukan pria itu, demi menjaga bentuk tubuhnya.
__ADS_1
Lea seketika merasa geram dan kesal terhadap kelakuan sang ayah. Usai di ceramahi oleh Daniel dan juga Ellio, kini Richard harus menghadapi ocehan dari anaknya.