Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kejadian Mengejutkan


__ADS_3

Lea akhirnya datang ke toko kue milik sang ibu. Setelah semalaman bergulat dengan pikirannya sendiri.


Lea tak ingin menjadi seolah kurang dididik dengan baik oleh suaminya. Karena apapun sikap yang ia tampilkan, adalah cerminan bagaimana Daniel bisa membimbing dirinya atau tidak. Ia tak mau ada yang beranggapan macam-macam terhadap suaminya tersebut.


"Silahkan...!"


Seorang karyawan toko yang berdiri di depan mempersilahkan Lea. Pagi itu R2R bakery yang merupakan singkatan nama Ryan dan Ryana cukup ramai dipadati pengunjung. Aroma khas kue dan roti, serta berbagai toping menyesaki hidungnya yang peka semenjak hamil.


Mendadak ia merasa lapar dan ingin memakan semuanya. Namun ia masih menahan diri, lantaran ia memiliki tujuan lain di tempat itu.


"Selamat pagi."


Lea menyapa, sang ibu yang tampak tengah sibuk membantu karyawan pun menoleh. Wanita itu diam sejenak, begitupula dengan Lea. Mata ibunya berkaca-kaca menahan tangis, Lea mencoba tersenyum meski tipis.


Dalam sekejap, mereka sudah terlihat duduk di kursi dan meja yang tersedia. Karena konsep toko kue itu seperti kafe. Dimana pembeli juga bisa makan dan minum di tempat.


"Kamu sendirian?" tanya ibu Lea membuka pembicaraan.


"Iya bu." jawab Lea.


Keduanya masih sedikit canggung, karena tak pernah berada dalam situasi obrolan yang sedekat itu. Sehari-hari biasanya mereka selalu berdebat dan tak akur. Kini mereka harus berusaha mengakurkan diri dan merubah pola hubungan yang telah mereka bangun selama ini.


"Silahkan...!"


Seorang pelayan menyerahkan es choco cheese yang dipesan oleh Lea. Katanya itu adalah menu andalan toko kue tersebut.


"Terima kasih." ujar Lea kemudian.


"Sama-sama." Pelayan itu menjawab lalu pergi.


"Ibu sehat kan?" Lea mulai membuka pembicaraan.


"Iya, ibu sehat. Kamu sendiri?" Sang ibu balik bertanya.


"Sehat." jawab Lea.


Lalu hening menyeruak, mereka kembali masuk dalam mode awkward.


"Ibu."


"Kamu."


Keduanya berujar di waktu yang bersamaan, hingga membuat momen suasana semakin canggung. Namun kemudian mereka sama-sama berusaha untuk tersenyum.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya ibunya pada Lea.


"Lupa bu." jawab Lea.


"Mmm."


Keduanya sama-sama menarik nafas. Lea lalu meminum minuman yang ia pesan.


"Mmm, enak bu." ujar Lea memuji.


Bukan sekedar isapan jempol semata, minuman tersebut memang nyata enaknya.


"Kamu suka?" tanya sang ibu padanya.


"Suka bu." jawab Lea.


"Ini sudah jalan berapa lama?" Lea kembali melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"Udah dua hari, tapi yang paling rame kemarin." ujar Ibu Lea.


"Oh."


Lea tertawa lalu meminum kembali minumannya. Selanjutnya obrolan pun mengalir begitu saja. Lea tak begitu lama ada di sana, namun itu cukup membuat kebekuan yang terjadi diantara mereka selama ini mencair.


Sebelum beranjak, Lea membeli beberapa kue. Sebab ia akan segera menemui Nina di kediaman Vita.


***


"Le, dimana? Nanti temenin aku beli kemeja, mau nggak?"


Daniel mengirim pesan singkat pada Lea, ketika Lea telah sampai di kediaman Vita.


"Kemeja?"


"Iya."


"Kenapa nggak kekursi mas?"


Daniel diam sejenak, sesaat kemudian ia pun tersadar jika Lea tengah bercanda.


"Nggak, Kelemari aja." balas ya sewot.


"Wwkwkwk, mau beli dimana sih?" tanya Lea lagi.


"Di tempat biasa aku beli lah."


"Di mall?" tanya Lea.


"Nggak, di toko bangunan." Lagi-lagi Daniel sewot dan Lea terkekeh.


"Hehehe." balasnya kemudian.


"Aku di rumah Vita, mas. Lagi nemuin Nina, katanya pengen kue. Aku beliin dari tempat ibu."


"Udah ketemu sama ibu kamu?"


"Udah."


"Terus gimana tadi?" Daniel kepo.


"Ya biasa aja, ngobrol dan lain-lain."


"Oh, bagus deh kalau gitu." ujar Daniel.


"Iya mas."


"Mau nggak nemenin aku?"


"Ya udah, ntar jemput aja mas ke tempat Vita."


"Ya udah, ntar aku kesana." balas Daniel.


Tak lama pria itu pun tak menjawab lagi, karena sibuk mengurus pekerjaan. Lea lanjut berinteraksi dan berbincang dengan Vita dan juga Nina.


Awalnya mereka hanya bersenda gurau. Membahas kelucuan di kampus, atau sekedar membicarakan tentang drama Korea yang sedang hits. Sampai kemudian, sesi curhat pun di mulai. Nina menceritakan jika suaminya datang dan memohon ia untuk kembali.


"Udah dua kali, Le. Tanya Vita noh."


Nina berujar di ikuti anggukan Vita.

__ADS_1


"Sampe mohon-mohon banget sama Nina." ujar Vita menimpali.


"Terus, elo nya gimana?" tanya Lea pada temannya itu.


"Ya gue tetap nggak mau, kayak prinsip gue di awal aja. Dia harus pilih salah satu. Kalau masih mau sama Imelda, ya ceraikan gue. Kalau mau sama gue, ya ceraikan Imelda. Gue nggak mau di dua-dua kan begitu. Enak di dia, nggak enak di gue dong." ujar Nina.


Lea menghela nafas.


"Nyebelin banget ya itu laki lo." ujarnya kemudian.


"Emang." Vita kembali menimpali.


"Kalau gue nggak bunting aja, udah gue ajak berantem tuh dia." Lea kembali berujar.


"Jangankan elu, Le. Gue yang istrinya aja geregetan, nggak ada ketegasan gitu loh. Maunya apa, kemana, gimana. Plain plan banget jadi cowok." Nina berujar dengan kekesalan yang tertahan.


Mereka pun lanjut berbincang dan makan. Pada suatu titik akhirnya mereka mengakhiri topik dalam membahas suami Nina, sebab mereka jadi begitu kesal. Agak tidak baik jika hal tersebut dibiarkan berlama-lama. Karena dikhawatirkan akan memicu ketegangan dalam hati, dan akan berakibat buruk pada diri mereka semua nantinya.


Mereka pun lalu memutuskan untuk nonton drakor bersama, sambil memesan makanan via ojek online.


Jam demi jam pun berlalu, Lea sendiri sempat tertidur selama beberapa saat. Sebelum akhirnya ia terbangun dan mendapati Nina serta Vita yang baru selesai membuat pisang goreng.


"Wah, ada aja ya kegiatan ibu-ibu ini." ujar Lea seraya mendekat.


"Duduk di depan yuk...!" ujar Vita kemudian.


"Ayok, Lea mengambil orange juice yang ada di atas meja makan."


"Ini di bawa juga kan?" tanya nya kemudian.


"Iya."


Nina dan Vita menjawab di waktu yang nyaris bersamaan. Sejatinya Vita telah pindah ke sebuah rumah kontrakan, sejak beberapa waktu belakangan. Ia merasa suntuk tinggal di apartemen. Kontrakan ini memiliki teras dan halaman depan cukup luas. Sehingga mereka bisa bersantai di sana.


"Nin."


Tiba-tiba suami Nina kembali muncul, pada saat mereka semua sedang berfoto-foto di teras depan. Padahal Nina sendiri sudah mengingatkan suaminya tersebut untuk tidak datang.


"Mau apa lagi kamu?" tanya Nina dengan nada gusar.


"Nin, ayo pulang. Jangan bikin aku kepikiran dan khawatir terus."


"Koq kamu jadi sok peduli gitu sih?. Dulu waktu aku belum tau semuanya dan diem dirumah, kamu malah pergi terus kesana sini. Bahkan aku sering sendirian di rumah. Saat itu kamu cuek aja sama aku."


"Aku mohon Nin, jangan sampai aku berbuat kasar sama kamu."


"Kasar ya kasar aja kali, nggak usah ngancem. Lebih enak aku laporin ke polisi."


Lea dan Vita saling menatap, mereka kini mulai berdiri dari duduk mereka. Karena Nina sendiri berdiri dihadapan suaminya itu.


"Please Nin, kita bisa bicarakan ini baik-baik."


"Baik-baik kamu bilang?. Dari awal aja kamu udah nggak baik. Sok mau membicarakan kebaikan."


"Nin, aku nggak mau ribut."


"Maka dari itu pergi dari sini...!" perintah Nina.


Perempuan itu pun hendak beranjak ke dalam. Sang suami menarik Nina dan Nina refleks menepis tangan laki-laki itu lalu mendorongnya.


Namun kemudian suami dari Nina malah menarik Lea dan secara serta merta menodongkan pisau di leher perempuan itu. Mendadak waktu pun terhenti seketika.

__ADS_1


Vita dan Nina terkejut, sementara Lea berada di dalam ketakutan.


__ADS_2