
"Kita ngapain kesini mas?"
Lea bertanya pada Daniel ketika Daniel mengajak perempuan itu ke sebuah klinik psikiatri, di rumah sakit yang sama tempat dimana Lea biasa periksa kandungan.
"Ya kamu biar kamu bisa curhat." jawab Daniel kemudian.
"Curhat?" tanya Lea bingung.
"Iya, kan katanya kamu takut melahirkan. Kamu harus cerita sama orang yang tepat, biar ketakutan kamu itu nggak berkembang menjadi gangguan kecemasan. Sebab kalau sampai kamu di kuasai rasa takut yang berlebihan, kamu sendiri yang akan susah nantinya."
Lea diam, benar apa yang dikatakan Daniel. Maka ketika giliran Lea tiba, perempuan itu segera masuk ke dalam dan berkonsultasi.
Ia menceritakan segala ketakutan dan juga uneg-unegnya selama beberapa bulan terakhir. Dokter psikiater tersebut menanggapi curahan hatinya dengan baik. Sementara Daniel dengan setia menunggu di luar.
Saat sesi usai, wajah Lea kelihatan lebih sumringah dan lebih bercahaya ketimbang sebelumnya. Seolah separuh ketakutannya sudah hilang.
"Gimana?" tanya Daniel pada Lea, ketika perempuan itu mendekat.
"Lega mas." jawab Lea.
"Nanti kita kesini lagi, supaya kamu nggak harus hidup dalam ketakutan terus."
"Iya mas." Lea kembali menjawab sambil tersenyum.
"Yuk kita jalan...!" ajak Daniel kemudian.
"Kita jadi kan mas mau belanja?"
"Jadi dong. Eh, tapi kamu kuat nggak?. Kalau nggak, kamu istirahat aja di rumah. Biar aku yang pergi."
"Nggak mau, enak aja." Lea cemberut.
"Masa aku dirumah, sementara mas enak-enakan di mall."
Daniel tertawa.
"Kamu tuh kalau soal belanja, langsung semangat."
"Iya dong, kan itu normal. Cewek mana coba yang nggak suka belanja. Munafik banget kalau ada yang bilang gitu."
Lagi-lagi Daniel tertawa, mereka kini melangkah ke halaman parkir. Daniel membukakan pintu untuk Lea. Setelah Lea masuk, barulah ia masuk ke sisi kemudi. Ia juga bantu memasangkan seat belt untuk istrinya itu. Sesaat setelahnya mobil pun mulai berjalan.
Hari ini Daniel dan Lea akan berbelanja keperluan bayi yang masih kurang. Sebab sudah sebentar lagi anak mereka akan lahir. Lea mengatakan jika mereka masih kekurangan baju, selimut, serta berbagai perlengkapan seperti perlengkapan mandi dan yang lainnya.
Ketika tiba di sebuah mall, mereka menuju ke baby shopping center. Yang kebetulan menjual segala perlengkapan bayi dan anak super lengkap. Sampai ke susu ibu hamil dan menyusui juga ada di tempat itu.
"Ambil yang bener-bener perlu ya, Le. Bukan apa-apa, bukan aku nggak sanggup bayarin. Sayang kalau nggak terpakai. Dan lagi bayi itu cepet gedenya, lewat sebulan aja bajunya udah pada nggak muat biasanya."
__ADS_1
"Iya mas, ini juga aku cari yang ukuran 0 sampai 3 bulan koq. Biar agak lamaan dikit makenya."
"Ya udah, kamu mau cari apa?. Ntar aku bantu." ujar Daniel.
"Perlengkapan mandi, pompa ASI, sama selimut yang kayak kantong tidur gitu mas. Yang kayak ulat kalau dipake."
"Ya udah tunggu disini...!" ujar Daniel.
"Ok."
Daniel mencari apa yang Lea inginkan. Lea sendiri kembali berkutat memilih baju. Selang beberapa saat Daniel kembali dan membawa semua permintaan perempuan itu.
"Ini bener kan?" tanya Daniel seraya menunjukkan barang-barang tersebut.
"Iya bener mas." jawab Lea.
"Oh ya apa lagi?" Daniel kembali bertanya.
Lea melihat daftar list yang sudah ia tulis sejak masih di rumah tadi. Lalu Daniel pun kembali mencari apa-apa yang belum di dapatkan. Setelah semuanya selesai, Daniel menyuruh Lea untuk tetap di tempat. Sedang Daniel membawa barang belanjaan mereka ke mobil dan memasukkannya ke dalam bagasi.
"Udah mas?" tanya Lea pada Daniel ketika pria itu kembali.
"Udah, makan yuk!. Kalian pasti laper." Daniel mengelus perut Lea, sementara Lea kini tersenyum.
"Papa tau aja ya dek, kalau mama udah gemeteran." ujar Lea.
"Makan Jepang ya mas."
"Ok." jawab Daniel.
Maka Lea pun berdiri, dengan dibantu oleh suaminya tersebut. Sesaat kemudian mereka pun berjalan. Menuju ke arah restoran Jepang yang juga terletak di kawasan mall tersebut.
"Hmm, wangi."
Lea berkata bahkan ketika langkah mereka masih jauh. Daniel mengerutkan kening, karena ia belum mencium bau apa-apa.
"Emang kecium ya bau masakannya dari jarak segini?" tanya Daniel heran.
"Masa mas nggak nyium sama sekali, orang wangi banget begini." ujar Lea.
Daniel makin mengerutkan kening, sesaat kemudian ia pun sadar.
"Oh iya, kamu lagi hamil." ujarnya kemudian.
Lea terkekeh.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di restoran tersebut.
__ADS_1
"Duh mas makin laper." ujarnya kemudian.
Daniel tertawa sambil melihat menu.
"Ya udah buruan pilih, biar cepet di bikin." ujarnya.
Lea pun segera memilih, dan ia kali ini memesan rice bowl dengan daging slice teriyaki plus sayuran tumis dan juga sup miso. Lea memesan porsi besar ditambah satu porsi kecil. Daniel juga memesan dua, karena makanan di tempat itu adalah favoritnya.
"Itu anak urus dulu, suami mau makan anak di diemin."
Seorang wanita tua tampak memarahi seorang perempuan muda yang tengah hamil. Lantaran anaknya bergelantungan pada sang suami yang tengah hendak makan.
Maka perempuan itu menghentikan makan lalu menarik anaknya. Anaknya memberontak dan tak mau, namun si perempuan berusaha membujuk. Pemandangan ini terjadi di meja samping tempat dimana Lea dan Daniel berada.
"Jadi istri itu harus cekatan, ibu dulu waktu hamil suamimu ini. Masih bisa ngurus tiga anak lainnya. Rumah bersih, pakaian rapi, masak tiga kali sehari. Kamu apa-apa lemah, jadi istri itu harus multitasking dan cekatan."
Perempuan itu terdiam, Lea yang kesal ingin menjawab si ibu yang diperkirakan adalah seorang mertua tersebut. Namun Daniel menghalanginya dengan memberi kode. Lea kesal sekali dengan sikap ibu mertua dari perempuan muda itu. Yang membandingkan dirinya dengan sang menantu.
Tak lama makanan pesanan Lea dan Daniel pun tiba. Lea yang dongkol hati tetap makan, meski ia ingin melempar makanannya ke wajah si ibu mertua itu.
"Apa banget sih itu tadi ibu mertuanya."
Lea menggerutu ketika keluarga itu telah selesai makan. Bahkan di sesi terakhir, si perempuan muda di buru-buru oleh suaminya. Karena mereka akan segera pulang. Padahal tadi ia menghentikan makan demi suaminya agar bisa makan.
"Udah Le, kan bukan mertua kamu." ujar Daniel.
"Ya abis aku kesel mas. Jijik banget nggak sih dengernya, ibu dulu waktu hamil suamimu ini, masih bisa membangun gedung 100 lantai, membantu Spiderman membasmi kejahatan."
Daniel terbahak mendengar semua itu, sementara Lea masih mengoceh.
"Dikira semua orang itu bisa di samakan kali ya?. Aku aja nih hamil, bawaannya pengen rebahan dan tidur mulu kadang. Suaminya juga nggak pengertian banget, istri hamil itu harusnya di dahulukan untuk makan. Minta banget dianggap raja. Keseringan main raja-rajaan sih waktu kecil."
Daniel makin tertawa menatap Lea.
"Iya, aku ngerti kamu kesel. Tapi kan segala sesuatu itu kadang di luar kendali kita, Le. Kita nggak bisa menyadarkan orang lain, karena kita nggak bisa ikut campur urusan mereka terlalu dalam. Apalagi nggak kenal sama orangnya. Kenal aja kadang kita nggak enak buat nasehatin."
"Ceweknya nurut lagi. Kalau aku dari sebelum punya anak udah cerai kali. Itu modelan cewek-cewek pengkhayal tuh. Yang mikir kalau udah nikah sifat suaminya bakalan berubah. Menciptakan neraka dalam hidupnya sendiri, bodoh."
"Iya iya, udah-udah ya. Kalau kamu marah-marah gini, kasian baby D dong."
Lea menarik nafas dan menghembuskannya.
"Yang penting itu nggak terjadi sama kamu. Aku bukan suami jahat, kamu juga nggak di kintilin sama mertua yang modelnya nyebelin kayak gitu." ujar Daniel lagi.
Lea mengangguk.
"Oh ya mas, ngomong-ngomong soal mertua. Mas udah nemuin ibunya mas lagi belum?" takutnya udah pulang loh ke Turki."
__ADS_1
Daniel terdiam, kali ini ia teringat pada ibunya.