
Sejak kepulangan dari menghadiri acara resepsi pernikahan Hanif, Richard jadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan tak jarang ia terlihat lebih banyak merenung.
Saat ini saja misalnya. Ia mengundang Daniel, Lea, Ellio, dan Marsha untuk makan siang. Berhubung ini weekend dan semua tak memiliki rencana.
Mereka semua datang, dan kini sedang menikmati makanan di meja makan. Namun Richard duduk di sofa ruang tengah sambil menggendong Darriel. Ia bengong menatap ke gorden kaca.
"Bro, sebagian arwah mertua lo di sedot Dementor kali." Ellio nyeletuk.
Tentu saja Daniel, Lea, dan Marsha kini nyaris tersedak lantaran menahan tawa. Bahkan Lea sampai minum karena rasa pedas sambal kini berpindah ke telinganya.
"Kemaren lusa waktu aku datang buat nitipin Darriel, ayah juga gitu tau mas." ucap Lea.
"Apa dia ada masalah ya?" tanya nya kemudian.
Daniel dan Ellio diam lalu berpikir.
"Ah nggak ya, bro?"
Daniel dan Ello mengeluarkan kata-kata yang sama dan terdengar saling bertanya satu sama lain.
"Iya." jawab Ellio.
"Richard kalau ada masalah itu pasti cerita, belum pernah sekalipun dia nggak jujur ke kita berdua." lanjutnya lagi.
"Iya bener." Daniel menimpali.
"Heheee."
Tiba-tiba Darriel yang ada dalam pangkuan Richard tertawa. Ia tampak mengangkat tangan seolah hendak di sambut. Sontak suasana pun berubah menjadi horor.
Lea dan Marsha kembali pada persepsi mistis mereka. Padahal Darriel tengah melihat ke arah luar, dimana ada salah seorang asisten rumah tangga yang berdiri jauh di halaman dan melambaikan tangan padanya.
"Apa jangan-jangan pak Richard kesambet setan tempat nikahan Hanif tempo hari?" tanya Marsha.
"Mungkin, kan si Hanif kelakuannya kayak setan. Pasti setan pada ngumpul lah, karena mengira Hanif bagian dari mereka." timpal Lea.
Daniel dan Ellio tertawa.
"Nggak ada yang begitu-begituan." ujar Daniel.
"Tau nih berdua, malah jadi mistis terus." Ellio menimpali.
"Heheee." Lagi-lagi Darriel tertawa, sementara Richard masih diam.
"Tuh kan, bener itu sebagian arwah pak Richard di culik. Ada di alam lain." ujar Marsha.
Lagi-lagi Daniel dan Ellio tertawa.
"Emang arwah itu martabak, bisa setengah-setengah." celetuk Ellio.
__ADS_1
"Ih si bapak mah, mending ambil jahatnya dulu." ujar Marsha.
"Iya bener, siapa tau emang kesambet setan setempat."
"Nggak, lagi banyak pikiran doang kali itu." ucap Daniel.
"Tapi kata mas, ayah kalau lagi ada masalah pasti cerita. Ini nggak kan?"
Daniel diam, sebenarnya hal tersebut memang benar adanya. Ia juga tak tau apa yang menimpa Richard kini.
"Apa Richard baru di diagnosa penyakit serius dan nggak mau ngomong ke kita ya?"
Tiba-tiba saja Ellio membuat semua orang yang ada di meja makan itu mendadak terdiam. Ini lebih masuk akal ketimbang persepsi mistis yang tadi diungkapkan oleh Lea dan juga Marsha.
Masalah kesehatan seseorang memang tidak pernah ada yang tau. Terlihat sehat-sehat saja, tapi tiba-tiba didiagnosa memiliki penyakit tertentu. Dan biasannya penderita akan cenderung merahasiakan hal tersebut, jika itu memang parah.
Alasannya tentu saja tak ingin menyusahkan sekitar. Terutama keluarga besar dan juga para sahabat.
"Ajak ayah bicara, mas, om. Kan dia lebih dekat ke kalian tuh." ujar Lea.
"Jangan sampai penyakitnya udah parah, kita baru tau." lanjutnya kemudian.
Daniel menggenggam tangan istrinya tersebut dengan erat. Suasana meja makan yang tadinya seru, kini berubah menjadi sendu.
Persepsi memang selalu bisa mengubah suasana dan keadaan dalam sekejap. Untuk itu janganlah suka menyimpulkan sesuatu yang belum jelas.
Richard beranjak, ia melangkah ke arah meja makan. Kali ini ia memiliki senyum dan kesadaran di wajahnya.
Para penghuni meja makan yang mengira Richard sakit itu pun saling bersitatap. Seakan janjian untuk bersikap biasa saja di depan Richard.
"Enak." jawab mereka semua dengan diiringi tawa, namun terasa janggal.
"Lo kenapa nggak makan sih?" tanya Ellio.
"Ini kan tadi nangis." Richard mengingatkan.
Tadi ia memang ingin ikut makan, namun Darriel mengamuk dan tak mau digendong asisten rumah tangga mana saja.
Di gendong Lea dan Daniel serta Ellio dan Marsha pun tetap mengamuk. Akhirnya setelah sang kakek turun tangan, ia mendadak diam.
Kini Richard mengambil gelas dan mencoba menuang air dingin ke dalamnya. Namun tiba-tiba ia kembali bengong dan air itu malah tumpah ke meja. Marsha yang berada paling dekat refleks membantu membenarkan.
"Sorry, sorry." ujar Richard seakan mendapatkan kembali kesadarannya.
"Ngeblank lagi gue." ujarnya kemudian minum.
Ia mengambil tissue dan mengelap semua itu.
"Sini Delil sama papa, papa Rich mau makan itu."
__ADS_1
Daniel mengambil Darriel. Awalnya kening Darriel berkerut ingin menangis. Namun untungnya tak jadi, sebab kini Daniel mengajaknya keluar rumah.
"Ayah makan ya." ujar Lea.
Richard mengangguk, lalu Lea pun melayani ayahnya itu. Marsha dan Ellio tetap di tempat guna menemani Richard. Richard yang sejatinya tak berpenyakit apa-apa tersebut kini makan.
Ia hanya tengah memikirkan Nadya. Baru kali ini ia merasakan jatuh cinta lagi yang begitu besar. Tetapi menjadi sulit karena adanya tembok tinggi yang menghalangi.
Masih lebih gampang jika jatuh cinta pada pacar orang. Masih bisa ditikung dengan mudah. Tapi ini istri orang yang sah. Ada hukum yang mengikat pernikahan mereka.
Richard telah mencoba untuk menepis semua itu dengan mengingat banyak wanita lain. Yang lebih cantik, lebih segala-galanya dari Nadya. Tapi kembali lagi wajah Nadya yang menghantui pikirannya.
***
"Bro, gue belum mau kehilangan salah satu dari kalian."
Ellio berujar dengan nada terisak, dan pandangan mata yang terlempar jauh ke depan. Tepatnya di barisan pepohonan yang tumbuh di dekat pagar.
Saat ini ia dan Daniel duduk di dekat kolam renang dan sengaja menjauh agar bisa membicarakan Richard.
"Apalagi gue, bro. Gue nggak akan kuat tanpa salah satu dari kalian." tukas Daniel.
"Kita harus tolong Richard, kita harus paksa dia untuk jujur sama kita." ucap Ellio lagi.
Daniel mengangguk, dengan perasaan hati yang begitu campur aduk.
"Nanti kita ajak dia bicara empat mata." ujar pria itu.
"Kita akan sama-sama hadapi semua ini." lanjutnya lagi.
"Kenapa harus Richard, coba?"
Ellio melontarkan pertanyaan yang bernada menyayangkan. Persepsi telah benar-benar menguasai benak keduanya.
"Gue yakin keluarganya juga nggak tau." ujar Daniel.
Kali ini Ellio yang mengangguk. Tiba-tiba Richard muncul dan langsung mengambil rokok Daniel.
"Bro!"
Daniel dan Ellio seperti melarang.
"Lo jaga kesehatan, jangan ngerokok.!" ucap Daniel.
"Tau lo, ini bahaya tau nggak." Ellio menimpali.
Richard menatap kedua temannya itu dan merasa aneh.
"Kalian kenapa sih?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
Ia lanjut membakar rokok. Sementara Daniel dan Ellio kini menganga bibir mereka. Lantaran kaget Richard masih juga melakukan hal tersebut.