
Daniel benar-benar marah pada Lea. Bahkan ketika telah kembali ke rumah pun, ia tak menggubris istrinya itu sama sekali.
Ia telah dipermalukan oleh Lea di depan calon investor. Harga dirinya seakan terinjak-injak, oleh orang yang bahkan sangat ia sayangi saat ini.
"Mas makan dulu." ujar Lea mengirim pesan singkat pada Daniel. Sebab ia telah dua kali naik ke atas dan mengetuk pintu ruangan Daniel. Namun suaminya itu tak membuka sama sekali.
"Mas, ya udah kalau kamu nggak mau ada aku. Aku makan di kamar, kamu jangan nggak makan ya."
Lea kembali turun ke bawah, ia mengambil makanan dan makan di dalam kamar. Ketika ia telah selesai dan keluar untuk meletakkan piring, Daniel tak ada di meja makan.
Bahkan hingga pagi menjelang, masakan yang dibuat Lea tak disentuh Daniel sedikitpun. Lea begitu sedih, namun ia menahan diri untuk tidak menangis.
Ia tau ia telah salah, perempuan itu kemudian membereskan meja makan dan menggantinya dengan menu sarapan.
Daniel turun beberapa menit kemudian, namun sikapnya tak jua berubah. Ia masih acuh tak acuh terhadap Lea. Hingga membuat selera makan pagi Lea, mendadak hilang. Ia tak bisa di diamkan seperti ini, lebih baik Daniel marah aja atau bahkan berteriak padanya.
"Mas nggak sarapan?" tanya Lea.
Daniel cuek dan mengambil sebotol air dingin di kulkas, pria itu meminumnya lalu kemudian ia menuju lift. Daniel berangkat pagi itu tanpa menyapa Lea sedikitpun. Membuat hati Lea begitu terpukul.
***
"Lagian elo sih, harusnya cari tau dulu kebenarannya. Gue yakin itu perbuatannya Clarissa. Soalnya kata lo, dia ikut laki lo kan ke luar kota.
Lea mengangguk.
"Hati-hati terhadap emosi, Le. Orang yang mau ngancurin kita, bakalan seneng banget kalau kita sama pasangan kita itu ribut. Apalagi di depan umum, mereka tepuk tangan. Karena itulah yang mereka inginkan. Ini kata nyokap temen gue yang sering gue mintain nasehat."
Lea menghela nafas, ia sendiri tak ada tempat meminta nasehat. Kecuali Nina yang juga sama-sama masih bocah seperti dirinya. Ingin meminta nasehat pada ibunya pun tak mungkin, sebab isi kepala ibunya hanyalah uang semata.
"Gue bener-bener nyesel, Nin. Kenapa gue lakuin semua itu, akhirnya suami gue malu di depan orang banyak."
"Makanya lain kali lo mikir dulu, Le. Mana lo juga lagi hamil."
"Hamil?"
Tiba-tiba Iqbal muncul diikuti Rama, Dani, Adisty dan juga Ariana. Iqbal tampak membawa buket bunga, membuat bingung Lea dan juga Nina.
"Lo hamil?" tanya Iqbal pada Lea dengan wajah terkejut sekaligus marah.
"Iqbal?" Lea berujar sambil memperhatikan mereka semua.
__ADS_1
"Gue baru mau nembak elo, Lea. Lo hamil sama siapa?" Iqbal berkata dengan nada setengah berteriak dan nafas yang memburu.
"Ne, nembak gue?"
Lea berkata seraya menatap Iqbal, ia beralih menatap Nina dan kembali menatap pemuda itu.
"Ma, maksud lo apa Bal?" tanya Lea.
"Lo yang maksudnya apa, lo hamil sama siapa?"
"Lea itu udah nikah."
Nina membuat semua yang ada disitu terkejut.
"Lo udah nikah?" tanya Adisty tak percaya.
"Yang sering kalian liat jemput gue itu, dia suami gue." ujar Lea.
"Nggak, nggak mungkin."
Iqbal menjatuhkan buket bunga yang ia bawa, lalu pergi begitu saja. Rama dan Dani menyusul teman mereka itu.
"Iqbal."
"Iqbal."
Lea bertanya pada Adisty dengan nada hampir menangis. Ia lelah pada permasalahan hidupnya yang ada-ada saja. Tak lama kemudian Adisty pun duduk bersama Ariana di dekat Lea, dan gadis itu mulai menjelaskan.
"Jadi selama ini Iqbal suka sama gue?" tanya Lea pada Adisty dan juga Ariana. Sedang Nina memperhatikan.
"Iya, Le. Bahkan dia itu minta pendapat kita berkali-kali, gimana caranya nembak elo."
Ariana berujar, Lea terdiam. Pantas saja selama ini Iqbal selalu perhatian padanya.
"Emang kalian nggak ngeh, Lea di jemput kadang juga dianter sama suaminya?" tanya Nina.
"Mana kita tau, orang Iqbal bilang itu bapak lo. Dia bikin gosip kalau bapak lo itu menikah muda dan punya anak di usia muda juga."
Lea menghela nafas, jujur ini semua membuat pikirannya makin runyam.
"Ntar gue coba bicara deh sama Iqbal." ujarnya kemudian.
__ADS_1
***
Sementara itu di lain pihak, Iqbal mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia nyaris beberapa kali tertabrak lantaran menerobos lampu merah.
Tentu saja hal ini membuat kedua temannya begitu marah. Rama dan Dani mengikuti Iqbal dengan mobil Rama. Kemudian pada suatu titik, mereka bisa menyalip dan menghentikan Iqbal.
"Lo ngapain sih?" tanya Iqbal gusar. Ia menongolkan kepalanya dari kaca mobil.
"Pinggirin mobil lo dan keluar."
Rama berujar dengan nada tegas, Iqbal pun akhirnya mengalah dan menuruti keinginan kedua temannya itu. Mereka kini duduk di pinggir jalan yang sepi, mulanya mereka bertiga terdiam. Sampai kemudian Rama membuka pembicaraan.
"Lo harus terima kenyataan, Bal. Lea itu istri orang."
Iqbal diam, ia menjatuhkan pandangan ke suatu sudut.
"Gue marah karena dia merahasiakan itu dari gue."
"Apa lo pernah nanya?" Kali ini Dani menimpali.
"Nggak kan?" lanjutnya lagi.
Iqbal kembali terdiam, selama ini bahkan ia pun tak begitu banyak ngobrol berdua dengan Lea. Dia benar-benar tak mengetahui jika perempuan seusia Lea sudah menikah. Dengan pria yang menurutnya lebih cocok jadi ayah Lea.
Ya meskipun tampan maksimal, aura kedewasaan Daniel tetap tak bisa di bohongi. Ia adalah tipikal pria matang yang seharusnya memiliki pasangan yang seumur. Bukan dengan perempuan bau kencur seperti Lea. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Iqbal.
Ia tidak mengetahui jika Daniel adalah tipikal impian bagi para gadis yang suka membaca novel online. Ia adalah laki-laki yang diinginkan hampir semua wanita di dunia ini.
"Lo harus menyudahi perasaan lo terhadap Lea. Dia juga nggak mungkin selingkuh dari suaminya, Bal. Lo liat aja mobil suaminya, entah kapan orang kayak kita bakalan sanggup beli. Udah pasti lakinya kaya banget, dari segi tampang aja kita kalah jauh." ujar Rama.
Iqbal tak menjawab sepatah kata pun, ia masih membuang pandangannya ke suatu sudut yang menghadirkan kehampaan. Ia benar-benar masih syok dengan semua kenyataan ini. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi belaka.
Ia sudah menginginkan Lea, bahkan sejak hari pertama mereka bertemu. Iqbal pernah beberapa kali jatuh cinta, namun perasaan itu tak seperti yang pernah ia rasakan terhadap Lea.
***
"Le, lo mau kemana abis ini?" tanya Nina. Saat ini Adisty dan Ariana telah pamit pulang.
"Gue nggak tau, Nin. Rasanya semua tempat sama aja, kalau pikiran lagi kusut.
"Iya sih, tapi mungkin lo main ke rumah gue. Sebab suami gue sama keluarganya pergi ke luar kota."
__ADS_1
"Ntar deh, besok ya." ujar Lea.
"Ok." jawab Nina.