
Lea masuk ke dalam penthouse, ia kini menaiki lift yang menuju ke ruangan pribadi Daniel. Ketika pintu lift tersebut terbuka, Lea sempat tertegun. Pasalnya ia baru pertama kali masuk keruangan itu.
Disana ada kaca besar di dua sisi, yang memperlihatkan pemandangan berupa gedung-gedung tinggi menjulang. Sedang di lantai tempat dimana ia berada, hanya ada satu kaca dan itu tidak terlalu besar. Pemandangannya pun tak seindah ditempat ini.
Lea terdiam sejenak menatap sekitar, terutama pada foto Daniel dan Grace yang masih terpajang didinding hingga saat ini. Gadis itu juga terkagum-kagum dengan desain interior yang begitu aesthethic, diruangan tersebut.
Ia terus menikmati pemandangan, sampai kemudian ia menyadari jika ada yang harus segera di cari. Lea pun bergegas membuka laci meja kerja Daniel, yang berada di sebuah sudut. Tak sulit menemukan kartu yang dimaksud. Karena begitu membuka laci, sebuah kartu dengan logo dan nama sebuah rumah sakit terlihat nyata dihadapan mata Lea. Di kartu tersebut juga tertulis nama Daniel.
Tak lama Lea menerima pesan dari Ellio, yang berisi alamat rumah sakit. Meski di kartu telah tertera, Ellio mengirimkannya kembali agar jelas. Supaya Lea tinggal copy paste ketika mengorder ojek online.
Lea tadinya hanya ingin mengirimkan kartu tersebut. Namun ia terpikir akan kondisi kesehatan Daniel. Hingga ia pun memutuskan untuk ikut saja kesana.
Lea berganti pakaian, dan memesan ojek online. Ia tiba dirumah sakit, tepat sesaat setelah Daniel sampai di instalasi gawat darurat.
"Om Ellio."
Lea menghampiri Ellio, ia langsung saja menuju instalasi tersebut. Karena berfikir jika setiap orang yang baru masuk rumah sakit, pasti dilarikan kesana terlebih dahulu. Ellio terkejut melihat kehadiran gadis itu.
"Lea?"
"Ini kartunya om." ujar Lea seraya menyerahkan kartu yang diminta Ellio.
"Oh, ok. Tunggu disini ya, om mau kasih ini ke om Richard dulu." ujar Ellio kemudian.
Lea mengangguk, Ellio lalu menyambangi Richard yang tengah berada di bagian pendaftaran. Setelah menyelesaikan semuanya, Ellio kembali pada Lea. Kali ini didampingi oleh Richard.
"Om Dan, gimana?" tanya Lea pada kedua pria itu
"Kita belum tau, masih dilakukan pemeriksaan." jawab Ellio.
Sementara di sebuah jalan, Rangga kini begitu antusias mengendarai mobil milik nya. Ia akan segera bertemu dengan Lea. Setelah beberapa bulan terakhir, seakan ada tembok yang menghalangi.
Rangga bahkan sudah mempersiapkan bunga untuk Lea. Karena sejak mereka berhubungan, Rangga belum pernah memberikan hadiah apa-apa untuk gadis itu. Ini adalah kesempatan baginya, untuk memperbaiki segala kesalahpahaman yang terjadi belakangan ini.
***
"Richard."
Seorang dokter menghampiri Richard, Ellio dan juga Lea yang tengah terpaku di ruang tunggu. Ini terjadi setelah beberapa saat pemeriksaan terhadap Daniel berlangsung. Kebetulan dokter yang datang tersebut adalah dokter Aidan, sepupu Richard.
__ADS_1
"Daniel gimana?" tanya Richard cemas.
"Seperti biasa, demam dan peradangan." ujar dokter Aidan.
"Dia melanggar beberapa aturan yang sudah dibuat selama ini. Dan juga sangat kurang beristirahat." lanjutnya lagi.
Richard dan Ellio menghela nafas, sementara Lea hanya diam memperhatikan. Karena ia sendiri tak mengerti, apa yang tengah orang-orang tersebut bicarakan.
Singkat cerita, akhirnya Daniel pun dipindahkan ke ruang rawat. Richard, Ellio dan Lea kini bergerak, guna menyambangi ruangan tersebut.
Daniel membuka mata, ia mendapati Richard dan Ellio ada disisinya. Ia terkejut dan merasa asing dengan suasana sekitar.
"Gue dimana?" tanya Daniel dengan suara pelan.
"Dimana lagi, siapa suruh lo pingsan." canda Richard.
"Gue?"
Richard menghela nafas, lalu duduk disisi sahabatnya itu. Sementara Ellio kini duduk dipinggiran tempat tidur Daniel.
"Lo pasti begadang mulu kan." ujar Richard lagi.
"Kerja boleh, bro. Tapi inget kesehatan juga." Kali ini Ellio menimpali.
"Dokter bilang, gue kenapa?" tanya Daniel lagi.
"Ya, apalagi kalau bukan demam, peradangan dan segala komplikasinya." ujar Ellio.
Daniel menarik nafas.
"Gue bisa dirawat dirumah aja nggak?" tanya nya kemudian..
"Nggak." Richard menjawab dengan tegas, sementara Ellio turut mendukung Richard.
"Gue banyak kerjaan, bro." Daniel membela diri.
"Kan orang yang kerja di elo, banyak. Serahkan dulu aja sama mereka." ujar Richard.
"Iya, kalau lo masih maksa mau pulang. Gue akan marah." timpal Ellio.
__ADS_1
Daniel pun hanya bisa pasrah, karena sejak 24 tahun lalu. Richard dan Ellio lah yang selalu bertindak sebagai orang tua, sekaligus pengawas dari Daniel. Meski mereka seumuran.
Terhitung sejak ibu kandung Daniel memutuskan pergi dengan laki-laki lain, dan sang ayah yang sibuk dengan dunianya sendiri. Richard dan Ellio tak pernah meninggalkannya.
Daniel begitu sensitif terhadap sesuatu. Salah makan sedikit saja, ia bisa mengalami demam serta peradangan yang cukup parah. Maka dari itu Richard dan Ellio selalu bertindak sebagai pengawas bagi kesehatannya.
Itu juga lah yang membuat Daniel selalu menjaga makannya selama ini. Karena ia memiliki sensitivitas tinggi terhadap banyak hal.
"Lo istirahat aja. Bentar lagi, gue sama Richard pulang dulu. Ntar malem kita kesini, kita nginep buat nemenin lo." ujar Ellio.
Daniel pun mengangguk, kondisi nya masih cukup lemah saat ini.
"Le."
"Iya, om." tiba-tiba Lea muncul dari balik tembok yang mengarah ke pintu. Daniel terkejut, ia tak menyangka jika Lea ada disitu.
"Kamu jagain om Dan, ya." ujar Richard pada Lea.
"Mm, iya om." jawab Lea.
"Bro, nggak usah. Suruh pulang aja." ujar Daniel seakan menolak kehadiran Lea disana.
"Nggak apa-apa koq, om. Nanti kalau om Richard sama om Ellio udah balik lagi, saya pulang."
Lea berusaha meyakinkan Daniel, akhirnya Daniel pun hanya bisa pasrah. Richard dan Ellio kemudian pamit. Kini hanya tinggal ia dan Lea saja.
"Om butuh sesuatu?" tanya Lea pada Daniel. Pria itu menggeleng lemah.
"Ya udah, kalau gitu om istirahat aja."
Daniel mengangguk, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, detik berikutnya ia pun terlelap. Karena masih berada dibawah pengaruh obat.
Rangga tiba ditempat janjian. Meskipun agak sedikit telat, karena tadi ia terjebak kemacetan yang cukup panjang. Namun pemuda itu telah mengirim pesan singkat pada Lea, dan telah mengatakan bagaimana keadaannya. Rangga yakin Lea juga akan mengerti situasi yang tengah ia hadapi.
Rangga melangkah, masuk ke dalam. Ia ingin segera bertemu dengan Lea. Namun ketika sampai pada meja yang telah di reservasi, ternyata Lea sudah tidak ada disana.
"Ah, ke toilet mungkin." pikir Rangga.
Maka pemuda itu duduk dan menunggu di meja tersebut. Namun sampai beberapa saat berlalu, Lea tak kunjung hadir.
__ADS_1