Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kejadian


__ADS_3

"Mas."


Lea menghambur ke pelukan Daniel ketika ayah dari anaknya itu tiba di rumah. Daniel tersenyum dan membalas pelukan Lea.


"Over thinking ya kamu." goda Daniel kemudian.


Lea mengangguk, namun kemudian ia mengusap air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.


"Loh koq nangis?" tanya Daniel heran sekaligus kaget.


"Nggak tau mas, dari tadi tuh aku kepikiran banget sama kamu."


"Iya, ini kan aku udah di rumah. Aku baik-baik aja." ujar Daniel.


Lea masih terus memeluk suaminya itu dan Daniel membiarkan saja sampai Lea merasa tenang. Tak lama Richard tiba dan menemukan pemandangan tersebut.


"Kenapa?" tanya Richard pada Daniel tanpa suara. Daniel hanya melirik Richard dan Richard pun mengerti.


"Lea."


Panggilnya kemudian.


Lea berbalik dan memeluk sang ayah. Richard pun membalas pelukan anaknya tersebut dan mencoba menenangkan.


"Ayah disini." ujar Richard seraya mengusap-usap punggung Lea.


"Semuanya akan baik-baik aja." lanjutnya lagi.


Tiba-tiba Darriel menangis, Lea bergegas menuju ke lantai atas. Kini hanya sisa Daniel dan Richard lagi yang kemudian menarik kursi meja makan, lalu duduk disana bersama-sama.


"Coba lo tanya Dan, dia kenapa. Barangkali ada hal yang bikin emosi dia jadi naik turun. Soal pengasuhan Darriel atau apa." ujar Richard.


"Iya, ntar gue tanya." jawab Daniel lalu mengambil gelas dan menuang air minum.


"Kayaknya dia terlalu banyak di rumah, jadi stres dan berpikir macem-macem." ujar Daniel lagi.


"Sekali-kali ajaklah jalan, biar Darriel gue yang jaga." tukas Richard.


"Iya, selepas minggu ini deh. Kan kita mau nemenin Ellio dulu ngelamar si Marsha."


"Iya sih." jawab Richard.


Pria itu lalu ikut menuang air minum ke dalam gelas dan meminumnya.


***


Sementara di jalan lain, Ellio kembali mengemudikan mobil untuk mengantar Marsha. Mereka masih romantis-romantisan layaknya remaja alay yang sedang di mabuk cinta.


"Pak, kalau nanti kita punya anak. Bapak maunya anak cewek apa cowok?" tanya Marsha ketika mobil telah berjalan cukup jauh, dari tempat terakhir mereka berhenti.


"Apa aja, yang penting anaknya adalah hasil perbuatan saya. Bukan hasil orang lain." jawab Ellio.


"Koq jawabnya gitu?" tanya Marsha sambil tertawa.


"Ya bener dong. Mau cowok atau cewek kan yang penting anak saya, bukan anak orang."


"Ya kalau nikahnya sama bapak, pastinya anak bapak lah. Masa anak orang."


"Hahaha." Ellio tertawa.


"Iya juga sih."

__ADS_1


"Tapi kamu mau kan nikah sama saya?"


Ellio bertanya sambil menoleh sesekali.


"Ya mau dong, kan sayang." jawab Marsha dengan wajah bersemu merah.


"Cinta nggak sama saya?" tanya Ellio lagi.


"Ya cinta. Kalau nggak cinta nggak mungkin sedekat ini kan."


Ellio menggenggam tangan Marsha, kemudian melepaskannya kembali untuk fokus mengemudi. Mereka terus berjalan sambil berbincang. Sampai kemudian,


"Braaak...!"


Mobil Ellio di hantam seseorang dari sisi kanan. Hingga menyebabkan ia hilang kendali dan nyaris menabrak sebatang pohon. Ellio menghentikan mobil dan keluar, diikuti Marsha.


Orang dari dalam mobil itu juga keluar dan langsung mendekat. Secara serta merta ia pun melakukan penyerangan terhadap Ellio. Hingga perkelahian tak dapat dihindari.


Kebetulan jalanan sepi, Marsha yang juga mempunyai kemampuan beladiri turut membantu Ellio. Namun tiba-tiba muncul mobil lain dan dari dalam mobil tersebut keluar orang-orang yang turut menyerang Ellio.


"Marsha kamu lari, bawa mobil aku dan cepat pergi."


"Tapi pak."


"Ini bahaya Sha, please."


"Saya masih mampu menghadapi mereka


"Kita nggak tau mereka bersenjata atau nggak."


"Tapi pak."


"Pergi!"


Para penyerang mulai mendekati Marsha. Namun perempuan itu buru-buru masuk ke mobil dan mengemudikannya dengan secepat kilat. Sebagian masih menyerang Ellio, sebagian lagi mengejar Marsha dengan mobil.


***


Handphone Richard berbunyi ketika ia, Daniel dan Lea tengah duduk di ruang keluarga. Posisi Richard saat itu tengah menggendong Darriel.


"Hallo."


Richard mengangkat telpon.


"Pak Richard, ini saya Marsha pak."


Marsha berbicara dengan nada panik, cemas bercampur menangis. Hingga membuat Richard di dera rasa khawatir yang teramat sangat. Terlebih ia menggunakan nomor Ellio.


"Marsha kamu kenapa?" tanya Richard kemudian. Daniel dan Lea kini memperhatikan Richard.


"Pak, saya dan pak Ellio di serang orang pak. Sekarang saya sendirian di mobil dan sepertinya saya juga di serang pak."


"Ini posisi kamu dimana, Ellio dimana?"


"Saya di jalan pak. Pak Ellio nyuruh saya kabur, karena tadi banyak yang menyerang dia."


"Oke, posisi Ellio dimana sekarang?" tanya Richard.


Daniel dan Lea kini tampak cemas menanti jawaban. Sementara Marsha memberitahu posisi Ellio ada dimana.


"Oke, sekarang kamu lebih dekat kemana?" Kira-kira ada kantor polisi terdekat nggak disekitar kamu?"

__ADS_1


"Ada pak."


"Ya sudah kamu kesana, amankan diri kamu dulu dan buat laporan. Biar saya yang ke tempat Ellio sekarang."


"Baik pak, saya mohon segera pak. Saya takut terjadi apa-apa sama pak Ellio, pak."


"Iya, kamu tenang ya. Kalau kamu nggak tenang nanti kamu kenapa-kenapa di jalan."


"Iya pak."


Richard menyudahi telpon tersebut dan bergegas. Sebelum itu ia menyerahkan Darriel pada Lea.


"Ellio kenapa, bro?" tanya Daniel khawatir.


"Dia di serang orang, nggak tau siapa."


Richard menjawab seraya meraih kunci mobil. Daniel dan Lea sendiri terkejut serta menjadi kian cemas.


"Terus dia sekarang gimana?"


"Lo tunggu disini, jaga istri dan anak lo, jaga rumah."


"Tapi lo sendiri gimana?"


"Ada banyak orang kepercayaan yang bakal nemenin gue, lo tenang aja."


"Ok." jawab Daniel kemudian.


"Lo harus pastikan orang-orang di rumah ini aman." ujar Richard lagi.


Daniel mengangguk, Richard kemudian berlarian ke arah mobilnya yang terparkir di halaman. Tak lama setelah itu ia meninggalkan rumah dengan iring-iringan dari beberapa orang kepercayaannya.


***


"Mas, gimana ini?. Sebenarnya ada apa sih?. Kenapa rumah ayah diintai orang, sekarang om Ellio di serang."


Lea bertanya pada Daniel ketika Richard sudah pergi.


"Aku juga nggak tau ada apa, Le. Ini lagi selidiki sama teman aku, ada atau nggak korelasinya antara masalah Reynald dan juga Arsen.


"Tapi kalian bertiga nggak ada masalah?" tanya Lea lagi.


"Nggak ada."


"Sama orang?"


"Kalau menurut aku nggak ada, Richard sama Ellio juga nggak ada. Mereka kalau ada masalah itu pasti cerita ke aku, dan aku pasti tau itu."


"Terus kenapa kalian di incar dan diserang orang kayak gini?"


"Ya mana aku tau, mungkin ada beberapa orang yang merasa bermasalah sama Ellio atau sama Richard, atau mungkin juga sama aku. Mungkin masalah itu muncul dalam diri mereka sendiri, bukan dari kami bertiga."


Lea diam dan masih menatap Daniel.


"Bisa aja kan ada orang yang iri atau benci sama kami bertiga, dan kami nggak tau itu."


"Iya sih, kita kan nggak bisa menghalau prasangka dan perasaan orang lain." tukas Lea.


"Maka dari itu. Kalau dari kami pribadi nggak ada. Masalah perusahaan aman, klien bisnis dan lain-lain semuanya aman."


Lea menghela nafas.

__ADS_1


"Ya semoga semuanya baik-baik aja mas. Jangan sampe ada apa-apa terhadap kalian bertiga." ujar perempuan itu.


__ADS_2