Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kos


__ADS_3

Daniel mengajak adik iparnya untuk makan di sebuah warung tenda. Karena hanya itu yang mereka temukan di jalan tersebut. Sebenarnya Daniel bisa saja mengajak Leo makan di tempat lain. Namun akan memakan waktu lebih banyak lagi, untuk mencapai tempat itu.


Ia kasihan pada Leo, takut remaja itu sudah kelaparan. Karena ia tidak tahu sejak kapan Leo berada di halte tersebut, dan membawa uang atau tidak. Mereka memesan makanan dan juga teh hangat, karena malam ini udara dingin sekali.


"Lea dimana, mas?" tanya Leo ketika mereka mulai makan.


"Lea, masih sama ayahnya." jawab Daniel.


Leo menatap sang kakak ipar, ia tidak tahu permasalahan yang terjadi. Namun Daniel memilih untuk merahasiakannya dari Leo. Karena ia masih terlalu muda untuk memahami semuanya.


"Ayahnya Lea, dia mau memperbaiki kesalahan. Dia mau mengenal kakak kamu lebih dekat, makanya Lea diajak tinggal di sana untuk sementara waktu."


"Oh." ujar Leo lalu tersenyum, ia kemudian lanjut makan.


Usai makan, Daniel menghisap pod vape miliknya dan meminum teh hangat sesekali.


"Abis ini kamu mau kemana?" tanya Daniel.


Leo menggelengkan kepala.


"Nggak tau." jawabnya kemudian.


"Kamu tinggal sama kami aja, mau?"


Leo kembali menggeleng.


"Kalian kan menikah, aku nggak mau memberatkan. Aku nggak mau nanti kalian jadi canggung kalau ada aku."


"Itu nggak masalah, aku punya kamar satu lagi dibawah."


Leo tetap menggelengkan kepalanya.


"Aku akan cari tumpangan di rumah teman aja." ujarnya.


"Kamu mau tinggal sendiri?" tanya Daniel lagi.


"Nggak tau." jawab Leo. Ia sangat bingung karena ia juga tidak mempunyai uang sepeserpun.


"Ayo ikut...!" ajak Daniel kemudian.


Leo diam dan menatap kakak iparnya itu.


"Ayo...!" ajak Daniel lagi.


Leo pun menurut dan mengikuti langkah Daniel. Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan mobil itu kini berjalan. Leo tak tahu kemana Daniel akan membawanya.


***


Beberapa saat berlalu.


Daniel memarkir mobil di pelataran parkir sebuah gedung yang tak cukup tinggi, mungkin cuma sekitar 7 lantai. Gedung tersebut kembar, letaknya bersebelahan, memiliki lahan parkir cukup luas dan ada pihak keamanan.


"Selamat malam pak Dan."


Seorang sekuriti menyapa Daniel.


"Malam pak." ujar Daniel sambil tersenyum.


"Fredy sama Naya sudah pulang?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


"Masih pak Dan, didalam. Soalnya ada yang mau ngekost, baru beberapa menit yang lalu mereka datang."


"Ok, makasih ya pak."


"Baik pak."


"Ayo...!"


Daniel kembali mengajak Leo. Mereka kini melangkah ke sebuah ruangan, yang tampaknya adalah kantor.


"Fred." Daniel menyapa Freddy yang tengah sibuk mendata.


"Eh pak Dan, koq tumben datang."


Freddy langsung beranjak dan menjabat tangan Daniel. Tak lama kemudian seorang perempuan keluar dari dalam toilet.


"Eh si bos datang, kagak ngomong dulu." ujar perempuan itu.


"Kan bisa kita siapin makanan." lanjutnya lagi.


"Kalian yang siapin makan atau request sama saya, suruh saya yang bawain?" Daniel bercanda pada mereka berdua.


"Maksudnya sih gitu, pak." ujar mereka berdua nyaris serentak.


Daniel pun tertawa.


"Saya mau satu kamar, masih ada yang kosong kan?" tanya Daniel.


"Buat siapa pak?" tanya Freddy diikuti tatapan Naya. Mereka juga kini kompak menatap Leo.


"Ini, adeknya istri saya."


"Beneran bapak udah nikah, kayak gosip yang beredar?" tanya Freddy.


Daniel menghela nafas dan mengangguk, kedua orang itu tampak bahagia.


"Traktiran dong." ujar keduanya serentak.


"Iya abis ini." ujar Daniel.


"Siapin kamar dulu." lanjutnya kemudian.


"Buat dia?" tanya Naya.


"Iya, Naya." ujar Daniel memperjelas.


"Daripada dia ngontrak tempat lain, kan sayang uangnya."


"Emangnya dia nggak tinggal sama orang tua, pak?" tanya Freddy.


"Lumayan jauh dari sekolah, kalaupun naik kendaraan pasti telat." ujar Daniel berbohong. Ia tak ingin menceritakan aib orang tua istrinya sendiri pada orang lain.


"Ya udah, langsung aja yuk ke atas." ujar Naya.


"Lantai tiga ada yang kosong, satu." lanjutnya lagi.


Mereka pun menuju ke lantai tersebut dengan menggunakan sebuah lift. Leo baru tau jika ini adalah kos-kosan, namun vibesnya seperti hotel.


Naya membukakan pintu, tampak sebuah kamar yang lumayan besar. Ada sebuah tempat tidur, televisi berikut meja, sebuah kulkas dan sebuah kamar mandi dengan shower room dan juga kloset serta wastafel. Benar-benar persis seperti kamar hotel.

__ADS_1


"Silahkan." ujar Naya.


Daniel mempersilahkan Leo untuk masuk, sedang Daniel berbicara dengan Naya di luar. Tak lama Naya pun turun ke bawah.


"Gimana Leo, atau mau yang lebih besar lagi?. Ada di lantai 6 kalau mau." ujar Daniel.


Leo menggeleng.


"Ini nanti siapa yang bayar, mas?. Kalau aku tinggal disini?" tanya nya kemudian.


Daniel tersenyum.


"Nggak usah bayar, ini kan punya aku."


"Hah, serius?" tanya Leo tak percaya. Ia kini menghitung-hitung dalam hati, seberapa kaya kakak iparnya tersebut.


"Iya, serius." jawab Daniel.


Pria itu kemudian mengeluarkan dompet. Ia mengambil uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar dan sebuah kartu. Kemudian ia memberikan itu semua untuk Leo.


"Kamu pegang cash ini, kartu ini sudah ada isinya. Kamu tinggal pake dimana pun tempat, yang mendukung pembayaran dengan menggunakan ini."


Leo mengangguk.


"Kalau mau menarik cash, pin nya 232221. Tapi gunakan dengan bijak, karena mas nggak akan mengisi banyak ke kartu ini. Mas cuma akan mengisi sesuai perhitungan mas, untuk kamu hidup setiap bulan. Kalau ini habis sebelum tanggal yang sama di bulan berikutnya, mas nggak akan isi. Karena salah sendiri kalau kamu nggak bisa mengatur keuangan."


Leo kembali mengangguk, ia kemudian berterima kasih pada kakak iparnya itu. Setelah berbincang beberapa saat, Daniel pun berpamitan. Ia menitipkan Leo pada Freddy dan juga Naya.


Tak lupa ia memberikan uang kepada dua orang karyawannya itu, sebagai ganti traktir makanan karena Daniel sudah harus pulang. Ia ingin beristirahat dan mempersiapkan kondisi tubuhnya, guna.menghadapi Richard.


***


"Mas koq baru bisa ditelpon?"


Lea bertanya ketika akhirnya ia dan Daniel berada dalam panggilan video call. Daniel lalu menceritakan perihal pertemuannya dengan Leo, serta menceritakan pula dimana Leo sekarang berada.


"Ya ampun mas, makasih banyak ya. Maafin aku sama keluarga aku yang selalu nyusahin." ujar Lea kemudian.


"Nggak apa-apa, sayang. Kebetulan aku bisa bantu, ya aku bantu. Kalau aku nggak bisa, nggak akan aku bantu." jawab Daniel.


"Ibu tuh suka banget usir-usirin anak. Ntar kalau tua dan balas di usir anak, bilangannya anak durhaka. Padahal dia duluan yang ngajarin."


"Udah nggak usah marah, Le. Emosi itu nggak bagus buat kesehatan, kamu juga kan lagi hamil."


Daniel mencoba meredam kemarahan istrinya.


"Abisnya kesel, mas. Leo tuh masih kecil, ibu kayak nggak punya rasa keibuan sama sekali.."


"Iya, sabar. Udah, sekarang kan Leo udah aman."


Lea kemudian menangis, lantaran hormon kehamilannya yang bergejolak.


"Kenapa sih ibu aku nggak sama dengan ibu-ibu yang lain?" Ia berujar dengan penuh penekanan, sedang tangisnya kian pecah.


Daniel mencoba memaklumi, sebab wanita hamil memang gampang emosional.


"Aku mau peluk kamu." ujar Daniel kemudian. Lea menyeka air matanya dan mengangguk.


Ia membiarkan istrinya itu mengoceh dan marah terhadap sang ibu. Daniel setia mendengarkan, hingga semua uneg-uneg Lea keluar. Setelah itu, ketika Lea mereda. Daniel mulai menyusupi dengan pandangan dan juga nasehat. Hingga akhirnya suasana kembali kondusif.

__ADS_1


Untuk selanjutnya obrolan kembali normal, bahkan mereka kembali tertawa-tawa. Ketika menceritakan sesuatu yang lucu.


__ADS_2