Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pesta Usai (Extra Part)


__ADS_3

"Kami pulang dulu ya pak."


Nadya berpamitan pada Richard, saat acara pernikahan ibu Lea dan ayah Leo telah selesai digelar.


"Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, suruh Putri mengabari saya." ucap Richard pada wanita itu.


Nadya pun tersenyum. Bukan tanpa alasan Richard menyuruh Putri yang mengabari dirinya. Hal tersebut dilakukan agar tidak menimbulkan fitnah dan membuat Nadya bersalah di mata Hanif. Sebab bila itu ketahuan bisa jadi Hanif akan murka.


Walaupun Richard sejatinya lebih ingin Hanif tau. Tapi takutnya nanti Nadya malah dijadikan sasaran kemarahan.


"Saya jalan dulu ya pak." ujar Nadya sekali lagi.


Richard mengangguk.


"Iya." jawabnya kemudian.


"Om kami pulang ya."


Arkana yang saat ini berada agak jauh dan tengah bersama dengan putri tersebut, turut berujar.


"Iya, Arka jangan nakal ya." ujar Richard.


"Iya om."


Maka Nadya, Putri, dan juga Arkana pun berlalu. Mereka masuk ke dalam mobil, kemudian mobil tersebut merayap meninggalkan halaman parkir.


"Richard."


Tiba-tiba ibu Lea dan ayah Leo mendekat. Richard sontak menoleh.


"Mau pulang sekarang?" tanya ayah Leo.


Sebelum itu Richard telah pamit pada ibu Lea dan ibu Lea menyampaikan pada sang suami, yang sebelumnya tengah berbicara dengan orang lain.


"Iya." jawab Richard.


"Makasih atas semuanya." tukas ayah Leo.


Terima kasih itu mencakup semua bantuan. Baik yang terjadi sebelum pernikahan maupun selama proses pernikahan ini berlangsung.


Richard diketahui telah membantu ibu Lea secara keuangan, jauh sebelum ayah Leo kembali. Dan untuk acara pernikahan ini juga, dia ada memberikan sejumlah uang melalui Lea.


"Sama-sama." ujar Richard.


"Semoga kalian bahagia selalu." tukasnya lagi.


Kemudian keduanya saling berpelukan, lalu Richard memeluk ibu Lea yang juga ada disana. Tak lama pria itu pun berpamitan.


"Ayah, mau pulang?" Lea menghampiri Richard yang telah tiba di dekat mobil.


"Iya, mau ikut ke rumah ayah?" tanya pria itu ada sang anak.


"Mmm, belum tau. Nanya mas Dan dulu ya." ujar Lea.


"Daniel-nya mana?" tanya Richard lagi.

__ADS_1


"Tuh, lagi ngajak Darriel ke samping sana. Dari tadi ngamuk mulu tuh anak." jawab Lea.


"Kecapean kali dia." ujar Richard.


"Iya, dan udah bosen sama keramaian juga kayaknya." Lea menimpali.


"Ya udah, ayah jalan duluan ya. Banyak kerjaan nunggu juga di rumah." tukas Richard.


"Hati-hati di jalan ya yah."


"Iya."


Richard mencium Lea, kemudian berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Tak lama Lea pun kembali pada Daniel. Saat itu Darriel sudah reda tangisnya dan tengah memakai kaos singlet saja. Bajunya telah ditanggalkan oleh Daniel.


"Panas ya kamu?" tanya Lea.


"Heheee."


Bayi itu tertawa.


"Tadi merah semua badannya. Kayak nggak tahan banget panas." ucap Daniel.


"Oh ya?"


"Iya."


Lea kembali menatap Darriel.


"Owalah, kasihannya anak orang kaya ini. Terbiasa di ruangan AC sendirian ya?" ledek Lea kemudian. Lagi-lagi Darriel pun tertawa.


"Heheee."


"Sana makan!"


"Malu ah, nggak enak diliatin orang. Kan aku menantunya tuan rumah. Masa makannya banyak." tukas Daniel lagi.


"Ngapain malu, orang kateringnya masih sisa banyak koq. Ibu aja nyuruh orang buat bungkusin, supaya kita bisa bawa pulang." ujar Lea.


Daniel melirik sekitar, ia masih malu karena sisa undangan yang belum pulang masih banyak.


"Bro." Ellio dan Marsha menghampiri.


Ellio sendiri membawa piring berisi nasi berserta lauk pauk, yang tampaknya baru diambil. Daniel kaget, sementara Lea kini tertawa.


"Tuh, om Ellio aja nggak malu. Sana makan mas!"


"Kenapa dia, Le?" tanya Ellio heran.


"Pengen makan lagi, tapi malu diliatin orang." jawab Lea.


"Elah, ngapain malu. Ambil aja kali." seloroh Ellio kemudian.


"Nggak enak gue diliatin, makan mulu dari tadi." tukas Daniel.


"Biarin aja, orang pesta ya emang tujuannya buat makan." ujar Ellio.

__ADS_1


"Tau, mas Dan mah gengsian orangnya." Lea menimpali.


Daniel yang tertawa kali ini.


"Temenin pak." Marsha berbicara pada Ellio.


"Ya udah ayo, gue temenin." ujar pria itu


Tak lama ia dan Daniel pun sudah terlihat kembali mendekati meja prasmanan. Setelah itu mereka kembali dengan posisi Daniel sudah mengambil makanan.


"Katanya malu, Le. Tapi ngambilnya porsi Hulk." ujar Ellio pada Lea.


Lea dan Marsha jadi tertawa, begitupula dengan Daniel dan Ellio sendiri.


"Udah, berisik aja lo. Orang gue laper." tukas Daniel.


Tak lama mereka terlihat makan bersama. Sementara Lea dan Marsha mengobrol, sambil bermain dengan Darriel.


***


"Nggak, nggak boleh. Pokoknya aku ngamuk kalau sampai mas nginep dirumahnya si Yayah.


Susi si istri ketiga songong, mulai bersikap bak ratu rayap. Dirinya marah besar ketika Hanif bermaksud untuk menginap di rumah Yayah, istri keduanya. Hanif menyampaikan hal tersebut via telpon.


"Tapi kan sebagai suami, aku harus adil." ucap Hanif lagi.


"Pilih adil, atau gugat cerai sekarang juga." ancam Susi.


"Loh koq kamu gitu sih. Kan selama honeymoon, aku selalu ada buat kamu. Bahkan aku nggak meladeni istri aku yang lain loh."


"Oh jadi udah mulai berubah sekarang. Mau ke istri yang lainnya, iya?"


Susi makin marah, kemudian memutuskan panggilan secara sepihak.


"Tuuuuuut."


"Halo."


"Halo."


Hanif kesal, namun ia masih bucin pada istri ketiganya itu. Sementara Yayah si istri kedua kini sudah menelpon-nelpon. Sebab Hanif ada memberitahu wanita itu bahwa ia akan datang.


"Huh."


Hanif berpikir keras kali ini. Dan ia mendadak menjadi potret, sepandai-pandainya laki-laki yang beristri banyak. Suatu saat akan pusing juga akibat istri-istrinya tersebut. Kini Hanif benar mengalami.


"Mas dimana?. Jadi nginep kan?" tanya Yayah melalui WhatsApp.


Hanif hanya melihat pesan tersebut melalui layar depan. Kini ia benar-benar bingung harus kemana.


Sementara di lain pihak, Nadya pulang dengan hati gembira. Sebab tadi ia banyak menghabiskan waktunya bersama Richard.


"Mbak, Arka belum pernah liat mama senyum-senyum kayak gitu."


Arkana berkata pada Putri, ketika merek telah sampai di rumah. Putri hanya tersenyum seraya memperhatikan Nadya.

__ADS_1


"Biarin aja, sudah saatnya mama dan kamu bahagia." ujarnya kemudian.


__ADS_2