
"Dad, aku udah sampe."
Seorang gadis berujar di muka pintu rumah Richard. Ia memiliki akses untuk masuk ketempat itu. Gadis itu tiada lain adalah sugar baby Richard yang baru saja tiba dari luar negri kemarin malam.
Hari ini ia mendatangi kediaman Richard, karena mereka memang telah berjanji untuk bertemu. Sebelum Richard akhirnya mendapat telpon untuk menemui anaknya.
"Dad, daddy dimana?"
Tiba-tiba Richard muncul dan menarik si gadis ke suatu sudut. Terlihat jelas kemarahan di wajah pria itu.
"Dad, ada apa ini?" tanya gadis itu penuh ketakutan.
"Kenapa kamu menyarankan Lea untuk masuk di agency yang menjual kamu."
Richard nyaris mencekik gadis itu, andai si gadis tak berusaha menghalanginya dengan tangan.
"Jawab Dian...!"
"Dad, kenapa harus semarah itu. Dia sendiri juga yang mau."
"She is my daughter."
Richard berteriak di muka Dian, sementara gadis itu tercengang dengan tatapan yang tak percaya.
"Ma, maksud daddy?"
"Lea itu anak kandung saya dan kenapa kamu menjerumuskan dia?"
Lagi-lagi Richard berteriak, membuat Dian ketakutan setengah mati. Dari tangga Lea bisa menyaksikan semua itu. Ia turun ke bawah, karena hendak mengambil tasnya yang tertinggal di sofa.
"Kak Dian?"
"Lea?"
Lea dan Dian saling bersitatap dengan tubuh yang nyaris membeku.
"Kamu pergi dari hadapan saya."
Richard menarik Dian keluar, Lea yang masih tercengang tanpa sengaja mengikuti.
"Dad, aku nggak tau apa-apa. Aku mohon maafin aku."
"Keluar kamu...!"
Richard mengeluarkan sugar baby nya itu dari pagar rumah, kemudian menguncinya. Dian hanya menangis dan terus berusaha meluluhkan hati Richard.
"Dad, maafin aku dad. Aku bener-bener nggak tau, daddy nggak pernah cerita kalau daddy punya anak."
Tak ada jawaban, mau tidak mau Dian pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Baru saja Richard hendak bernafas, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Richard melihat dari sela pintu pagarnya yang tinggi, ternyata itu adalah mobil Daniel.
"Lea, kamu ke kamar...!"
Richard menarik putrinya itu kembali ke atas, klakson kembali terdengar. Seperti sebuah kontak batin, Lea pun bertanya pada sang ayah.
"Ayah, itu siapa yang klakson di depan pagar?"
Richard tak menjawab dan terus saja menarik Lea, hingga kini mereka telah meniti anak tangga.
"Ayah, apa itu mas Dan?" tanyanya lagi.
Richard tetap tak menjawab.
"Ayah, aku belum ambil tas aku di sofa."
Richard terus melangkah dan tak melepaskan cengkraman tangannya.
"Ayah, aku mau ketemu mas Dan."
"Ayah."
__ADS_1
Richard memasukkan anaknya ke dalam kamar dan,
"Braaak."
Ia pun menutup, lalu mengunci pintu.
"Ayah, kenapa di kunci. Kenapa aku nggak boleh ketemu mas Dan?"
Lea menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Ayah."
Richard turun ke bawah, keluar dari rumah dan membuka pintu pagar. Tampak Daniel telah berdiri di sana bersama Ellio di belakangnya.
"Dimana Lea?" tanya Daniel dengan nada penuh kemarahan, namun volume suaranya masih berusaha ia redam.
"Lo jangan pernah menemui anak gue lagi."
"Richard, dia istri gue yang sah di mata hukum dan agama."
"Nggak usah bicara soal hukum dan agama, kalau lo aja nggak bisa bersikap baik terhadap dia."
"Gue tau gue salah, tapi nggak gini juga caranya. Lo nggak berhak menyembunyikan dia dari gue, gue suaminya."
"Dan gue bapaknya."
"Bapak yang nggak pernah ngurus dia dari kecil."
"Itu karena gue nggak tau ibunya hamil."
Richard membentak Daniel dengan suara yang keras dan lantang. Daniel pun berusaha masuk, namun Richard menghalangi. Sementara Ellio kini bingung harus membela yang mana. Dua-duanya adalah sahabat sekaligus saudaranya.
"Gue harus ketemu Lea."
"Gue nggak akan mengizinkan."
Richard terus mendorong Daniel yang berusaha menerobos pintu pagar.
"Leaaa."
Daniel berteriak, dari atas Lea berlarian ke arah kaca dan ternyata kaca tersebut tak bisa di buka. Perempuan itu menggedor-gedor kaca sambil melihat ke arah Daniel.
"Mas Dan." teriaknya.
Namun tak satupun yang mendengar, karena kaca tersebut ternyata kedap suara. Daniel yang melihat Lea, serasa lumpuh hatinya seketika.
"Richard, biarkan dia gue bawa. Lo nggak berhak mengurung dia disini."
"Nggak akan."
"Lo emang brengsek."
"Buuuk."
Daniel memukul Richard.
"Dan."
Ellio berteriak dan mencoba memisahkan. Tak lama Richard pun mendekat dan membalas.
"Elo yang brengsek."
"Buuuk." Ia memukul Daniel.
"Richard stop...!" teriak Ellio.
Dari lantai atas Lea berusaha memanggil dan masih mengedor-gedor kaca.
"Lo nggak pantes buat anak gue, lo kasar dan tukang selingkuh."
__ADS_1
"Gue nggak pernah selingkuh dari dia."
"Lo tidur dengan Clarissa."
"Itu dulu dan nggak berhasil. Itu dulu saat gue bahkan belum mengenal Lea."
"Gue nggak percaya sama orang brengsek kayak lo."
"Lo juga brengsek, Richard."
Daniel berteriak di muka Richard.
"Apa lo nggak sadar kelakuan lo selama ini, hah?" ujarnya penuh berapi-api.
Richard kini menatap Daniel dengan nafas yang memburu.
"Mas Dan." Lea masih berusaha memanggil meski itu sia-sia belaka.
"Berapa perempuan yang lo tiduri selama ini?" teriak Daniel lagi.
"Masih untung Lea nggak dapat laki-laki yang bejat kayak bapaknya."
"Buuuk." Richard kembali memukul Daniel. Ia merasa harga dirinya kini telah diinjak-injak.
"Ayah, jangan ayah." teriak Lea dari atas, namun tetap tak ada yang mendengar.
"Stop Richard, Dan." teriak Ellio lagi.
Daniel membalas Richard dan perkelahian sengit yang sejatinya sudah tersulut sejak tadi itu, kini tak dapat dihindarkan lagi. Daniel dan Richard berkelahi dengan penuh emosi. Mereka melupakan jika mereka sejatinya adalah sahabat, yang bahkan sudah seperti saudara selama ini.
Sementara Ellio terus berteriak, berusaha memisahkan mereka berdua. Ia terus menyerukan pada sahabatnya tersebut untuk segera berhenti, meski tak digubris sama sekali. Ia juga kerapkali terkena pukulan dari keduanya.
"Mas Dan." teriak Lea.
"Ayah." lanjutnya lagi.
Daniel dan Richard terus berkelahi sampai kemudian,
"Braaak."
Sebuah senjata api terjatuh dari dalam jas Daniel. Ketiganya terkejut, Lea pun melihat semua itu dari lantai atas.
Belum sempat Daniel meraih senjata itu, Richard sudah mendahuluinya. Dengan cepat pria itu mengambil senjata api milik Daniel dan menodongkannya pada si empunya. Daniel pun terdiam, meski darahnya kini naik ke ubun-ubun saking marahnya.
"Richard, dia temen kita, saudara kita."
Ellio mencoba mengingatkan, sementara di atas Lea telah menangis dengan kencang. Ia sangat takut jika terjadi apa-apa pada suami dan juga ayahnya itu.
Richard mengarahkan pistol tersebut ke kening Daniel. Daniel tak gentar sedikitpun, ia masih berdiri seperti tadi di hadapan Richard.
"Lo udah bawa senjata ini kesini, berarti niat lo udah nggak baik." ujar Richard pada Daniel.
"Seberapa sering kita bawa senjata api kemana pun kita pergi?."
Daniel melontarkan pertanyaan pada Richard.
"Lo cuma memanfaatkan situasi ini, supaya lo menang dan dianggap benar. Atas tindakan lo yang sudah memisahkan Istri dari suaminya." lanjut Daniel lagi.
Richard kian emosi dan bersiap menarik pelatuk senjata tersebut.
"Silahkan...!" ujar Daniel.
"Lo akan membuat cucu lo sendiri nggak punya bapak."
Langit terasa menggelegar, meski sedang tidak turun hujan. Tubuh Richard gemetaran ketika mendengar semua itu, begitupula dengan Ellio. Kini keduanya tau jika Lea tengah hamil.
Keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuh Richard, ia menoleh ke lantai atas. Dan pada saat yang bersamaan, mereka semua melihat Lea terjatuh didalam kamar. Perempuan itu pingsan.
Daniel hendak berlari ke dalam, namun Richard menggunakan senjata api yang masih ditangannya untuk menahan laju Daniel.
__ADS_1
"Jangan masuk, kalau lo masih mau melihat anak lo lahir."
Daniel menghentikan langkah, Ellio menahannya untuk tetap tinggal. Richard kini masuk ke dalam lalu mengunci pintu pagar.