
"Mas menyerahkan om Ellio sama Marsha?"
Lea bertanya pada Daniel, ketika pria itu sudah tiba di rumah.
"Iya, biar si kecoa ada yang ngurus. Aku tuh sampe hari ini masih suka khawatir sama dia. Kayak khawatir ke anak kecil." jawab Daniel.
Lea pun tertawa. Ia mengerti hubungan diantara Daniel, Richard dan juga Ellio sangatlah erat. Mereka sudah seperti saudara kandung, lantaran selalu bersama sejak kecil.
"Tapi Marsha nya nggak ngerasa terpaksa kan, kamu mintain tolong begitu?" tanya Lea lagi.
"Nggak, karena kayaknya dia suka sama Ellio."
"Oh ya?. Dari mana mas bisa menyimpulkan hal itu?"
"Ya, dari saat aku kasih tau kondisi Ellio. Dia kaget banget dan khawatirnya itu nggak wajar kalau menurut aku. Kayak khawatirnya orang yang suka terhadap orang lain."
"Emang keliatan banget ya mas?"
Daniel mengangguk, lalu tertawa meski kecil.
"Cewek tuh ada, yang kalau salting keliatan banget. Ya kayak Marsha gitu." ujar Daniel kemudian.
Lea menghela nafas dan tersenyum.
"Semoga aja om Ellio berjodoh sama Marsha." ujarnya kemudian.
"Iya, atau kalau nggak, Ellio pasti dijodohin sama nenek kamu."
Kali ini keduanya sama-sama tertawa. Sementara di kediaman Ellio, akhirnya bubur kacang hijau buatan Marsha telah siap. Ia cukup beruntung karena ada banyak bahan makanan di rumah Ellio. Semua itu karena Ellio sangat suka memasak. Meski bagi Daniel maupun Richard, masakan Ellio adalah sumber malapetaka.
Marsha lalu mengambil mangkuk dan mewadahi bubur tersebut secukupnya. Tak lupa ia membuatkan segelas susu untuk laki-laki yang ia sukai tersebut. Tak lama, ia pun menyambangi kamar Ellio. Saat itu Ellio tengah berbaring sambil bermain handphone.
"Pak Ellio, makan dulu ya pak." ujarnya kemudian.
Ellio pun lalu meletakkan handphone dan mengubah posisinya, dari berbaring menjadi setengah duduk. Ia tersenyum pada Marsha, sementara Marsha masih terlihat malu-malu.
"Ini pak, buburnya."
Marsha meletakkan bubur tersebut ke atas meja, yang ada di samping tempat tidur Ellio. Kemudian perempuan itu menjauh dan duduk di sebuah kursi sudut.
"Kamu nggak mau suapin saya?" goda Ellio pada Marsha.
"Kan bapak kena cacar. Nanti kalau saya ketularan gimana?"
Ellio menghela nafas, jujur dalam hati ia sangat dongkol dan mengumpat pada penyakit yang ia derita. Gara-gara hal tersebut ia gagal lebih dekat dengan Marsha. Usaha dan rayuannya menjadi sia-sia belaka.
"Ya udah nggak apa-apa, saya makan sendiri aja. Makasih ya udah susah payah bikinin buat saya."
Ellio berusaha melanjutkan rayuan kedua, dan tampaknya itu cukup berhasil.
"Iya pak, sama-sama." jawab Marsha.
Ellio mengangkat mangkuk bubur.
"Aw, panas ya ternyata."
__ADS_1
Ia meletakkan lagi mangkuk berisi bubur tersebut ke atas meja. Tangannya benar-benar seperti terbakar.
"Iya, orang itu baru ngangkat." ujar Marsha menjelaskan.
Jika Marsha adalah Daniel atau Richard, pastilah Ellio sudah melayangkan sumpah serapah dan kebun binatang sejak tadi. Berhubung yang ada di hadapannya kini adalah gadis yang menyukai dirinya, Ellio pun sangat menahan diri untuk tetap bersabar. Ia kini meraih gelas berisi susu.
"Aw, ini juga panas banget."
Ia terjebak dua kali.
"Iya pak, orang itu juga baru bikin. Airnya mendidih banget." Marsha kembali menjelaskan.
Lagi-lagi Ellio menghela nafas. Ini rumahnya, wilayahnya. Tapi entah mengapa kini ia yang menjadi canggung atas sikapnya sendiri. Ellio diam sambil menunggu bubur dan susunya agak dingin, begitupun dengan Marsha. Wanita itu tak tau harus berkata apa dan mulai dari mana.
"Krik, krik, krik."
Jangkrik pun seolah mewarnai keheningan.
"Kamu tadi kerja?" Akhirnya Ellio berinisiatif memecah kebisuan. l
"I, iya pak." jawab wanita itu sambil menunduk, lalu melirik sekilas ke arah Ellio
"Kamu tinggal dimana sih?" tanya Ellio lagi.
Marsha lalu bercerita mengenai dirinya dan Ellio mendengarkan secara seksama. Lambat laun suasana yang tadinya awkward mulai mencair, ada banyak canda tawa dalam obrolan tersebut. Hingga tanpa terasa bubur dan susu pun mulai dingin. Ellio lalu meraih bubur tersebut dan mulai memakannya.
"Uhuk, ehm."
Elio meminum segelas air putih yang memang telah ia persiapkan, bahkan sebelum Marsha datang.
"Nggak enak ya?" lanjutnya lagi.
"Ehm."
Ellio masih merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Enak koq." ujarnya kemudian.
"Tapi jahe yang kamu masukin banyak banget." lanjut pria itu.
"Masa sih?"
Marsha mendekat lalu memakan bubur tersebut.
"Haaah, ssssh. Iya ya pak, pedes banget."
Gadis itu berujar dengan penuh rasa bersalah. Ia telah memberi kesan buruk, pada kesempatan pertamanya.
"Eh kamu makan dari sendok bekas saya?" tanya Ellio seakan baru menyadari.
"Emang kenapa pak, nggak boleh ya?" Marsha balik bertanya.
"Kan saya cacar."
"Oh iya." Marsha mendadak khawatir, ia benar-benar lupa jika Ellio tengah menderita penyakit menular.
__ADS_1
"Gimana dong pak, gimana kalau saya sampe kena cacar juga?"
Gadis itu kini mondar-mandir, sementara Ellio tertawa.
"Ya kamu totol-totol kayak saya."
"Ih nggak mau pak." rengeknya kemudian.
"Nanti saya jelek." lanjutnya lagi.
"Nggak apa-apa, aku tetap suka koq."
Ellio mengeluarkan sebuah perkataan yang membuat Marsha seketika terdiam.
"Ba, bapak. Bapak suka sama saya?" tanya nya kemudian.
Ellio menatap Marsha sambil menghela nafas, agaknya pria itu terjebak ucapannya sendiri.
"Mmm, boleh kan?" tanya Ellio.
Marsha makin terperangah tak percaya.
"Ya, ya boleh dong pak. Bo, boleh banget malah."
Lagi-lagi Ellio tertawa, ia kemudian lanjut makan.
"Jangan pak, biar saya bikin yang baru aja."
"Udah nggak usah, ini udah jadi koq. Nanti kamu capek dua kali." ujar Ellio.
"Ya nggak apa-apa pak, buat bapak apa sih yang nggak."
"Udah nggak apa-apa, saya makan aja pelan-pelan."
Pria itu pun lalu memakan bubur buatan Marsha secara perlahan, sedang Marsha kini tertegun memperhatikan.
***
"Nah Rangga, udah makin lancar jalan kamu."
Perawat yang biasa merawat Rangga, berujar pada pemuda itu. Rangga begitu senang mendengarnya. Meski masih sedikit susah payah, ia mencoba melangkah kesana kemari.
Ia senang karena dirinya tak mengalami kelumpuhan. Ia berjanji ke depannya tak akan melakukan tindakan yang bodoh lagi. Sejak bertemu perawat yang merawatnya, ia merasa kembali hidup.
"Hati-hati."
Perawat itu dengan sigap menangkap tubuh Rangga yang nyaris terjatuh. Namun Rangga malah memeluk perawat tersebut sambil menatap matanya.
"Rangga, kita di rumah sakit dan saya lagi kerja." ujar perawat itu.
"Kalau lagi nggak kerja dan nggak di rumah sakit, boleh dong?" tanya Rangga kemudian.
"Boleh soal apa?" Perawat itu balik bertanya.
"Soal suka sama kamu."
__ADS_1
Perawat itu pun terdiam, namun pipinya kini bersemu merah. Ia tak mengiyakan, namun juga tak menampik. Dengan begitu Rangga seperti diberi lampu hijau. Ia pun melepaskan pelukan tersebut dan kembali belajar berjalan, kali ini menjadi lebih bersemangat lagi.