
Nina masih menangis, sementara kini Lea dan teman-temannya mencoba menenangkan perempuan itu.
"Selama ini nyokap lo nggak pernah cerita?" tanya Lea pada Nina. Sementara Nina terus saja mengambil tissue dan menghapus air matanya.
"Nggak pernah Le, gue tuh punya bokap di rumah. Gue nggak pernah tau kalau dia itu bokap tiri, gue nggak pernah di beda-bedakan sama anak yang lain selama ini."
"Nih lo minum dulu." ujar Adisty seraya memberikan sebotol air mineral.
Iqbal dan yang lainnya serta beberapa teman sekelas Nina, turut ada di sana dan mendengar curahan hati perempuan itu.
"Minum dulu...!"
Ariana ikut berujar. Nina akhirnya berusaha untuk minum, meski harus melawan rasa sesak di dadanya.
"Gua harus menanyakan ini ke nyokap gue, temenin gue ya Le." ujar Nina dengan pandangan yang begitu mengharap.
"Ya udah deh, ntar gue temenin." jawab Lea.
Suasana di tempat itu pun tak lantas mereda begitu saja, sebab Nina terlihat belum bisa menerima kenyataan. Teman-temannya terus mencoba menghibur dan menasehati perempuan itu.
***
"Brengsek, gue nggak terima dengan semua ini. Enak aja bokap gue main kasih aset ke tuh cewek bunting."
Sharon masih menggerutu di dalam mobilnya, meski kini mereka telah jauh dari tempat di mana tadi ia menemui Nina.
"Tuh cewek beneran anaknya bokap lo?" tanya Maya.
"Gue udah selidiki, namanya sama dengan yang tertera di dalam surat wasiat. Tau beneran anak bapak gue atau simpanan bokap gue, nggak ngerti. Tuh cewek kan sama cabe nya dengan si Lea. Miskin nggak terima miskin, makanya menghalalkan segala cara demi dapat duit. Nggak tau malu."
Sharon terus menekan pedal gas mobilnya dengan penuh kebencian. Sementara kedua temannya hanya bisa saling menatap satu sama lain, tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
***
"Jawab jujur, bu. Apa benar Nina bukan anak kandung bapak?. Apa benar Nina anak dari laki-laki lain?"
Lea terdiam di tempat duduk, bersama Adisty, disaat Nina menyambangi kediaman orang tuanya dan meminta penjelasan dari sang ibu.
Ini sudah yang kedua kalinya Nina melontarkan pertanyaan, tetapi sang ibu masih juga bungkam.
"Bu, anak dari laki-laki itu melabrak Nina dan marah-marah di depan orang banyak. Nina butuh tau apa yang sebenarnya terjadi."
Ibu Nina menunduk, dan kini ia beralih menatap sang anak.
"Ayahmu tersangka kasus korupsi yang baru-baru ini ditangkap. Namanya Roni Hendra Wijaya."
Nina seakan membeku, ia ingin mengingkari kenyataan ini namun tak bisa.
"Ibu dan dia bertemu di suatu tempat, kami saling jatuh cinta dan menjalin hubungan. Roni serius dengan ibu dan begitu juga ibu. Tapi ternyata Roni dijodohkan dengan perempuan dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi, oleh orang tuanya. Mereka tidak mau memiliki menantu seperti ibu, yang hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai SPG pakaian."
__ADS_1
Tubuh Nina gemetar mendengar semua itu, sementara Lea dan Adisty makin terdiam.
"Roni tidak bisa melawan, padahal saat itu kami sudah mau bersiap untuk pergi dan kawin lari. Tapi ibu Roni ingin bunuh diri, akhirnya dia kembali ke rumah dan menyetujui perjodohan. Setelah itu Roni masih sering menemui ibu, dia bahkan tidak rela melepaskan ibu begitu saja. Sampai akhirnya ibu hamil. Mendengar ibu hamil, orang tua ibu murka sekali. Ibu di jodohkan dengan bapakmu yang sekarang, untuk menutupi malu. Awal-awal ibu menikah, Roni masih sering menemui ibu. Lalu kemudian hubungan kami tercium oleh orang tua Roni. Setelah itu entah apa yang terjadi, Roni tidak pernah menemui ibu lagi."
Air mata Nina mengalir deras, ia sedih dan ditambah hormon kehamilannya tengah bergejolak. Ia pun jadi kian tersedu-sedu.
Sementara didekat sana Lea dan Adisty makin larut dalam diam, sungguh ini semua adalah kenyataan yang begitu mengejutkan. Pastilah Nina merasakan kaget dan sakit di waktu yang bersamaan.
***
"Pak."
Marsha sang sekretaris Daniel tiba-tiba masuk, lalu memperlihatkan handphonenya pada pria itu.
"Ini Lea kan?" tanya nya seraya menunjuk pada seseorang di dalam sebuah rekaman.
Daniel memperhatikan secara seksama, itu adalah rekaman dimana Sharon melabrak Nina. Di dalam video tersebut juga ada Lea, yang tengah marah kepada Sharon. Daniel buru-buru mengambil handphone.
"Thank you, Marsha." ujarnya kemudian.
Marsha mengangguk dan kembali ke meja kerjanya, karena ia di panggil oleh karyawan lain yang hendak meminta bantuannya mengenai pekerjaan.
Daniel segera menelpon istrinya.
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."
"Hhhh."
Daniel menghela nafas, ia mencoba menelpon. Adisty dan Ariana. Namun kedua gadis itu sama tak menjawab. Daniel memiliki kontak keduanya, karena urusan bodyguard dan pengawalan waktu itu.
"Richard."
Daniel menyambangi kantor Richard dan masuk ke ruangan ayah mertuanya itu.
"Hei Dan."
Richard yang tengah sibuk bekerja, menyapa Daniel.
"Apa lo tau dimana Lea?"
"Sopan dikit kek lo, sama mertua. Orang kek nanya tuh, "Ayah, ayah tau nggak dimana Lea."
Ellio yang saat itu entah mengapa bekerja dari ruangan Richard pun berseloroh. Ia menggoda Daniel yang tengah resah, hingga membuat Richard menahan tawa.
"Ellio, gue serius. Lea nggak menjawab telpon gue, barusan ada berita viral tentang dia dan temannya."
Ellio dan Richard saling menatap satu sama lain.
"Berita apaan?" tanya Ellio kemudian.
__ADS_1
Daniel lalu menelpon Marsha.
"Sha, kirim video yang tadi ke saya. Sekarang...!"
"Baik pak."
Marsha segera menuruti perintah Daniel. Dalam sekejap video itu kemudian terkirim, dan langsung diperlihatkan Daniel pada Richard serta Ellio.
"Sekarang dia nggak bisa dihubungi. Apa dia ada menghubungi lo?" tanya Daniel pada Richard.
"Gue dari tadi, handphone gue disini. Nggak ada telpon masuk atau apapun yang ngabarin gue, apalagi soal video ini." ujar Richard.
Daniel terlihat makin resah.
"Tadi terakhir dia ke kampus kan?" tanya Richard.
"Iya, itu juga kejadian di kampusnya dia."
"Punya kontak temennya, udah coba Lo hubungi?"
"Udah tapi nggak ada yang ngangkat."
"Ya udalah kita cari aja."
Richard beranjak dan meraih kunci mobil.
"Gue ikut." ujar Ellio seraya menatap kedua temannya itu.
"Ellio, lo tinggal dan tolong bantu kerjaan gue." ujar Richard.
"Tapi gue mau ikut."
Suara Ellio terdengar penuh harap serta seperti minta di dilempar meteor. Mendadak Daniel dan Richard teringat masa kecil dan remaja mereka. Dimana ketika Daniel dan Richard pergi berdua, Ellio akan ngambek berhari-hari. Bahkan ia sampai mengira jika ia tidak dibutuhkan dan dibuang dari persahabatan mereka.
"Ellio, lo udah tua. Bukan lagi elo di belasan tahun yang lalu." ujar Daniel.
"Awas lo kalau marah nggak jelas." ujar Richard.
Kedua sahabat itu melangkah ke arah pintu, namun kemudian entah mengapa keduanya kembali menoleh menatap Ellio.
"Gue mau ikut." ujar Ellio seperti anak kecil yang putus asa.
Daniel dan Richard ingin sekali mengangkat kursi, lalu memukul sahabat mereka itu.
"Ya udah deh, buruan...!"
Daniel dan Richard berkata secara serentak, dengan nada yang begitu gusar. Sementara Ellio nyengir lebar hingga kuping.
"Asik diajak." ujarnya kemudian.
__ADS_1