Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kutukan Ellio


__ADS_3

Daniel menatap layar monitor ultrasonografi dengan penuh haru. Pasalnya lagi-lagi ia bisa melihat sebuah kehidupan didalam rahim sang istri.


Dari hari ke hari perkembangan janin mereka semakin baik. Rasanya tak ada yang lebih menggembirakan dari pada mengetahui hal tersebut.


"Seneng banget mas kayaknya." ujar Lea pada sang suami, ketika mereka telah keluar dari ruangan dokter.


Daniel tak menjawab dan hanya terus tersenyum. Dalam hati ia bahagia melihat perkembangan bayinya yang sudah kian bertambah besar. Mereka pun lalu berjalan menuju ke parkiran.


Saat masuk ke dalam mobil Daniel mencium bibir Lea beberapa kali, sambil memberikan usapan lembut pada bayinya yang ada didalam.


"Mas."


"Hmm?"


"Aku tuh takut tau."


"Takut kenapa?" tanya Daniel.


"Tiga bulan lagi aku bakal melahirkan."


"Terus?"


"Rasa sakitnya kayak apa ya mas?. Aku takut nggak kuat."


Daniel menghela nafas, ia juga tidak tahu rasa sakitnya nanti akan seperti apa. Tapi yang jelas, ia hanya ingin istrinya itu merasa tenang.


"Kamu pasti kuat, hampir semua perempuan melahirkan dan mereka baik-baik aja koq. Malah abis itu hamil lagi." ujar Daniel.


"Ih aku mah nggak mau banyak-banyak mas. Satu aja udah, nggak mau aku."


Daniel tertawa.


"Iya, aku juga nggak maksa mesti banyak koq." ujar Daniel seraya membelai rambut dan pipi Lea.


"Tapi mas nanti harus ada di samping aku ya, pas aku melahirkan."


"Iya kamu tenang aja, aku selalu ada koq." jawab Daniel.


Lea diam sejenak, namun tak lama kemudian ia pun memeluk Daniel sambil merengek layaknya anak kecil.


"Takut mas, aku ngebayangin rasanya gimana. Semalem aku nonton orang melahirkan di YouTube."


Daniel mengusap-usap punggung Lea demi mencoba menenangkannya.


"Lagian kamu nonton begituan. Coba nonton yang lain, yang bikin kamu happy. Bukan malah nonton sesuatu yang bikin kamu takut."


"Kan aku mau liat gimana caranya, teknik pernafasannya dan lain-lain. Aku tuh mau belajar mas, eh malah ketakutan sendiri."


Daniel tersenyum kecil dan kembali mengusap-usap punggung Lea.


"Kita pulang sekarang ya." ujarnya kemudian. Ia tak ingin berlarut-larut membicarakan hal tersebut, karena tak ingin Lea menjadi kian ketakutan.


Lea mengangguk, Daniel melepaskan pelukan lalu menghidupkan mesin mobil. Tak lama mereka pun sudah terlihat meninggalkan pelataran rumah sakit.


***

__ADS_1


Ellio bangun dari tidur dengan tubuh yang terasa begitu lemas. Ia sudah tidur sejak semalam dan baru terbangun sore ini. Kebetulan ini hari libur, jadi tak masalah jika ia bangun saat hari kembali menjelang malam.


"Duh, kenapa ya badan gue kayak abis digebukin masal?"


Ellio bertanya pada dirinya sendiri, ia kemudian beranjak ke dapur dan mengambil segelas air putih. Namun tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh sesuatu. Ya, ia melihat ada banyak benjolan-benjolan kecil di sekujur tangannya.


"Hah, gue kenapa ini?"


Ellio melihat tangan yang satunya dan ternyata sama saja. Karena panik, ia pun berlarian ke arah kaca dan,


"Hah?"


Ellio terkejut bukan alang kepalang.


"No, gue kenapa ini?"


Ia mulai panik dan mengambil handphone, sesaat kemudian.


"Dan, lo kesini sekarang Dan. Gue di tumbuhi kutukan, gue di kutuk Dan."


"Lo kenapa sih?" Daniel panik lantaran mendengar suara Ellio yang penuh ketakutan.


"Pokoknya lo kesini, gue dikutuk Dan. Seluruh badan gue totol-totol, kayaknya gue di santet saingan bisnis gue deh."


Daniel mengerutkan kening. Namun tak lama kemudian,


"Ok, ok gue kesana sekarang."


"Kenapa mas?" tanya Lea cemas.


"Nggak tau dia kenapa, kita kesana sekarang aja."


"Ok, stay fokus mas. Hati-hati."


Daniel mengangguk, lalu ia pun membelokkan mobil menuju ke arah rumah Ellio. Sesampainya disana, mereka buru-buru masuk. Daniel bisa mengakses kediaman Ellio sejak lama. Ia khawatir karena Ellio saat ini tinggal sendirian.


"Ellio."


Daniel membuka pintu kamar Ellio, Ellio yang tengah berdiri itu pun menoleh. Seketika Daniel menahan Lea agar tak mendekat. Ia sendiri pun berjarak dengan sahabatnya itu.


"Om Ellio kenapa mas?" tanya Lea dengan nada cemas.


"Dia cacar air." ujar Daniel.


"Gue cacar air, Dan?"


"Iya, kita ke rumah sakit aja. Tapi gue nganter Lea dulu, lo tunggu disini." ujar Daniel lagi.


Daniel berbalik, namun kemudian Ellio berteriak.


"Dan, bisa sembuh nggak sih gue?. Terus ninggalin bekas nggak ini?"


"Ninggalin banget, muka lo bakal penuh bekas cacar. Ntar warnanya item-item dan biasanya permanen." Daniel menjawab seraya terus melangkah dan menggandeng lengan Lea.


"Serius lo?" tanya Ellio panik. Ia mendekat ke arah pintu kamar untuk bisa terus berbicara pada Daniel yang sudah berada di bibir tangga.

__ADS_1


"Serius dong."


"Gue nggak mau, ntar muka gue jelek." Ellio makin panik..


"Lagian, udah tua masih aja kena cacar."


"Buruan pokoknya, gue harus ke rumah sakit." teriak Ellio.


"Iya."


Daniel melangkah sambil tak henti tertawa.


"Kamu mah jahil banget mas." ujar Lea pada Daniel. Sementara suaminya itu cekikikan.


"Ellio pasti akan cari segala cara tuh, biar mukanya mulus lagi."


"Lagian kamu, ngerusak mental orang aja. Udah tau dia lagi sakit.".


"Halah sekali-kali, udah lama juga aku nggak ngeliat Ellio sewot."


Lea tertawa, sesaat kemudian mereka pun kembali ke mobil. Daniel mengantar Lea pulang ke rumah, setelah itu ia pamit untuk mengurusi Ellio.


"Hati-hati di jalan mas." ujar Lea.


"Iya, nanti aku segera pulang koq." tukas Daniel.


Maka pria itu pun kini menemui sahabatnya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ellio selalu merengek. Bukan karena merasakan sakit atau apa, tapi karena khawatir pada keadaan wajahnya apabila cacar air itu nanti meninggalkan bekas.


"Terus gue nanti gimana?. Berapa lama cacar ini bakal hilang, terus penanganan bekasnya gimana?"


"Ya ntar tanya aja ke dokter langsung. Kan ada tuh nanti solusinya gimana. Yang penting lo nya sehat dulu. Belum apa-apa udah mikirin bekas."


"Gue nggak mau sampe ini mempengaruhi penampilan gue."


"Makanya sakit cacar tuh pas kecil, udah tua masih aja kena cacar."


"Ya mana gue tau bisa begini. Lo kata gue peramal, bisa meramalkan ini semua."


"Udah lo tenang dulu pokoknya. Kita jalan dulu, kejar sampe dulu. Jangan berisik, gue lagi konsentrasi biar cepet sampe."


Ellio menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di jok mobil.


"Brengsek nih emang penyakit. Ini nular nggak sih?"


"Nular, makanya lo gue suruh di belakang."


"Hhhh." lagi-lagi Ellio menghela nafas.


Saat tiba di rumah sakit mereka langsung mendaftar, dan tak menunggu waktu lama Ellio pun di panggil menuju ruangan dokter.


"Jadi dok, ini bakal meninggalkan bekas?" Ellio bertanya ketika pemeriksaan sudah usai.


"Asal di rawat dengan benar, biasanya tidak meninggalkan bekas." ujar dokter tersebut.


Ellio menghela nafas lega, karena yang paling ia pikirkan itu adalah ketampanan wajahnya yang paripurna. Usai mendapat resep, ia keluar dari ruangan dokter. Daniel menemaninya menebus obat, kemudian mengantarkan ia pulang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Daniel mengurus beberapa keperluan Ellio. Saat temannya itu sudah tertidur, Daniel pun pulang ke rumah.


__ADS_2