Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Baju Delil (Bonus Part)


__ADS_3

"Kesel banget gue sama si Lea. Sok banget, anjir. Kayak dia udah paling bener aja hidupnya."


Shela tetap pada pendirian serta egoisme yang ia miliki. Meski telah disindir habis-habisan oleh yang bersangkutan. Agaknya perempuan muda itu tetap membenarkan tindakannya dalam hati.


Sungguh suatu perbuatan yang sangat-sangat tidak tau diri, mengingat sindiran yang dilontarkan Lea serta Adisty dan juga Ariana cukup pedas.


Memang dimana-mana, praktek pelakoran terjadi karena si pelakor dan si suami orang selalu merasa tindakan mereka benar. Mereka memiliki segudang alasan untuk melakukan hal tersebut.


"Kenapa lagi dia?"


Susi bertanya di telpon. Shela memang tak punya teman curhat lain yang lebih ia percayai ketimbang Susi. Susi adalah suhu atau panutan baginya.


"Tadi gue ketemu dia." jawab Shela.


"Eh, ralat ding. Gue yang pengen banget bikin tuh anak sakit hati. Makanya gue sama temen-temen yang lain datangi dia ke kampusnya. Niat gue mau bikinin down dan berantem sama Daniel. Eh, malah dia yang nyolot nyindir gue." ujar Shela lagi.


"Nyindir gimana?"


Susi kembali bertanya lalu Shela pun menjelaskan panjang lebar. Susi kemudian seperti naik pitam, mendengar kekalahan yang diterima oleh temannya itu.


Seperti yang telah di ungkapkan di atas tadi, pelakor memang rata-rata egois. Tetapi keegoisannya ini tidak dibarengi dengan pemikiran yang luas dan juga panjang.


Mereka mengira segala sesuatu bisa di putar balikkan dengan mudah. Tanpa mereka sadari jika orang lain juga sama memiliki power untuk melakukan perlawanan.


***


"Le, gue ambil ini ya." ujar Adisty seraya memperlihatkan baju yang ia inginkan.


Sama seperti Ariana, mereka tak secara serta merta langsung mengambil ini dan itu meskipun Lea mengizinkan.


"Ya udah, ambil aja. Ambil dua atau tiga kek, boleh variasi." ujar Lea.


"Oke deh, thank you." ucap Adisty sambil tersenyum.


Gadis itu pun lanjut memilah, begitupula dengan Ariana. Lea sendiri kemudian masuk ke bagian baju bayi dan anak. Tentu saja ia membelikan untuk Darriel.


Ada banyak koleksi baru dan lucu-lucu hari itu.


"Le."


Ariana yang sudah selesai, kini datang mendekat.


"Eh lucu nggak sih ini?"


Lea bertanya pada temannya itu sambil menunjukkan baju setelan bayi yang ia pilih.


"Ih, gemes banget." ucap Ariana seraya memperhatikan dan memegang baju tersebut.


Tak lama kemudian Adisty tiba dengan barang belanjaannya. Ia juga turut membantu Lea dalam memilah-milah pakaian untuk Darriel.

__ADS_1


Usai membayar, mereka lanjut membeli yang lainnya lalu makan. Mereka juga menonton bersama di bioskop, setelah itu baru pulang.


Sesampainya di kediaman Richard, Lea langsung mengambil Darriel. Kemudian lanjut kembali ke penthouse.


"Heheee."


Darriel tampak senang di pakaikan baju baru. Untung saja ukurannya pas, untuk bayi yang terus tumbuh dan bertambah berat badan seperti dirinya.


"Ih, lucu banget anak mama." puji Lea.


"Heheee." Darriel tertawa.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


Lea mengambil foto Darriel. Bayi itu antusias dengan menggerak-gerakkan kaki serta tangannya.


"Udah ah, lepas bajunya ya. Mau mama cuci dulu, biar nggak ada bakteri. Habis ini Darriel mandi ya." ujar Lea.


"Heheee."


Lea lalu melepas baju yang dipakai sang anak, untuk kemudian di cuci. Tak lama ia pun memandikan Darriel. Untung saja Darriel tidak menangis dan anteng saat dimandikan. Setelah itu ia dipakaikan baju lalu diberi susu.


Daniel pulang saat anak itu tampak tengah berguling-giling di atas tempat tidur kamarnya.


Daniel mendekat lalu mencium bayi itu.


"Heheee."


Darriel lagi-lagi tertawa, ia tampaknya senang denga kepulangan sang ayah.


"Mau makan sekarang mas?" tanya Lea.


"Ntar aja, mau mandi dulu. Biar bisa main sama Darriel."


"Oh, ya udah."


Daniel bergegas mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia memilih untuk berada di tempat tidur selama beberapa saat. Ia bermain bersama Darriel, hingga bayi itu meredup dan tertidur lelap.


Lea kemudian menyiapkan makan untuk sang suami. Daniel kini terlihat duduk di meja makan sambil menikmati makanannya.


"Ini kamu beli, Le?" tanya Daniel.


"Iya, tadi aku ngampus terus jalan-jalan sama Adisty dan Ariana. Jadi aku sekalian beli ini juga." jawab Lea.


"Oh, kemana tadi?" tanya Daniel lagi.

__ADS_1


"Ke mall, mau kemana lagi coba?"


Lea berujar sambil tertawa. Daniel lalu tersenyum dan melanjutkan makan.


***


"Bu, ibu harus tegas memilih."


Putri memberanikan diri untuk memberi nasehat pada Nadya mengenai kehidupannya saat ini.


"Pak Richard itu orang baik." lanjutnya lagi.


Nadya melempar pandangannya ke arah depan. Mereka tengah berada di meja makan saat ini.


"Arkana juga udah sayang dan suka sama beliau." lanjut Putri lagi. Kali ini Nadya menghela nafas panjang.


"Saya tau, Put. Tapi saya butuh waktu sedikit saja. Saya harus benar-benar memastikan kalau saya tidak salah langkah." jawab Nadya.


Putri diam dan mencoba memahami. Ini pasti berat bagi Nadya yang di besarkan dalam keluarga, yang menjunjung tinggi pasangan serta pernikahan. Dengan berani mengakui perasaannya terhadap Richard saja, itu sudah merupakan sesuatu yang besar dan patut di rayakan.


Mengingat selama ini Nadya selalu saja dihantui ketakutan dari ucapan-ucapan sang ibu yang melemahkan dirinya. Kini ia sedang menata diri dan juga menata hati, agar lebih siap lagi menerima banyak cinta yang tercurah dari semesta.


***


"Cie, senyum-senyum mulu kayak nonton pelawak."


Lita dan para asisten rumah tangga lainnya menggoda Richard yang baru turun dari lantai dua. Sementara Richard makin tak kuasa menahan itu semua, namun ia masih saja ngeles.


"Kenapa emangnya?. Nggak boleh orang senyum?" tanya nya kemudian.


"Cieee."


Mereka lagi-lagi menggoda Richard. Pria itu kini tertawa lalu mengambil gelas dan air minum.


"Jadi gimana nih pak?. Kapan Darriel punya nenek?" tanya Siti.


"Nggak tau, orangnya aja belum cerai." jawab Richard.


"Pepet terus pak, jangan kasih kendor. Biar cepet bisa ada yang nemenin bapak." tukas yang lainnya.


"Iya, bener. Biar kita juga bisa resign dan nikah pak."


Salah satu dari mereka nyeletuk dan itu membuat Richard kaget sekaligus berubah menjadi sedih wajahnya. Para asisten rumah tangga itu pun mendadak merasa begitu bersalah.


"Maafin ucapan saya tadi pak." ucap si asisten rumah tangga itu.


"Nggak apa-apa." jawab Richard.


"Saya juga nggak akan menahan kalian, kalau kalian mau menikah dan nggak mau kerja disini lagi. Tapi terus terang saya bakalan sedih. Karena kalian kerja disini sudah lama, dan kalian mengerti segala tugas yang diberikan. Belum tentu kalau dapat yang baru, semua akan sama." ujarnya lagi.

__ADS_1


Lalu ruangan tersebut hening. Mereka semua berada dalam perasaan yang benar-benar emosional.


__ADS_2