
Daniel mengemudikan mobil, Richard duduk disisinya sementara Ellio di belakang. Mobil tersebut melaju kencang. Daniel tampak begitu fokus ke jalan, sementara Richard dan Ellio sama-sama mengamati Daniel.
"Dan."
Richard mulai mengingatkan Daniel yang hampir lepas kendali. Daniel terus saja berusaha fokus, sementara hatinya begitu resah memikirkan Lea. Ia takut Sharon telah mencelakakan istrinya tersebut.
Meski di dalam video terdapat banyak orang dan mustahil mereka tidak melerai jika ada pertikaian, namun tetap saja Daniel merasa cemas. Apalagi saat ini Lea tengah mengandung anaknya.
"Dan, pikiran. Jangan runyam." ujar Ellio.
Daniel mengangguk dan terus menyusuri jalan demi jalan. Akhirnya mereka tiba di kampus. Saat keluar dari dalam mobil, mata Daniel langsung menangkap Iqbal yang tengah terburu-buru ke suatu arah.
"Iqbal."
Iqbal menghentikan langkah dan menoleh.
"Om Daniel?"
"Lea mana?" tanya Daniel kemudian. Terlihat sekali ia ingin segera mengetahui kabar istrinya tersebut.
"Nemenin Nina ke rumah orang tuanya, om." jawab Iqbal.
"Mereka berdua aja?"
"Ada Adisty tadi."
"Kamu tau dimana rumahnya Nina?. Soalnya om telpon Lea, Adisty, Ariana, nggak ada yang ngangkat."
"Kalau Ariana dia nggak ikut, saya juga nggak tau dimana rumah Nina. Coba deh saya telpon."
Iqbal mengeluarkan handphone dan mencoba menelpon Adisty, namun tak ada yang mengangkat.
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."
"Yah nggak diangkat lagi."
"Makanya dari tadi juga om telpon, tapi nggak diangkat."
Iqbal mencoba sekali lagi dan tersambung. Namun jaringannya agak bermasalah.
"Hallo Dis?"
"Iya Iqbal kenapa?"
"Zrzrzrzrzr." terdengar suara jaringan yang kusut.
"Lo dimana, ini ada suaminya Lea nyariin Lea."
"Apaan?. Nggak kedengeran." ujar Adisty lagi.
"Lo sama Lea dimana sekarang?" tanya Iqbal.
"Dirumah sakit Citra Medika."
"Hah?"
"Tuuuuut."
__ADS_1
"Yah."
Nafas Daniel memburu, Richard kini terlihat begitu ketakutan. Hal yang sama juga terjadi dengan Ellio dan Iqbal.
"Iqbal thank you, kami harus kesana sekarang." ujar Daniel terburu-buru.
"Maaf om saya nggak bisa ikut, saya..."
"It's ok, nanti om kabari."
Daniel bergegas kembali ke mobil, diikuti Richard dan juga Ellio. Pikiran mereka kini sudah kemana-mana.
"Dan buruan tapi fokus." ujar Richard.
Daniel mengangguk lalu menginjak pedal gas. Dalam sekejap mobil mereka sudah menyusuri jalan demi jalan. Tak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara di mobil tersebut, mereka semua tegang memikirkan Lea. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada perempuan itu ataupun bayi yang sedang dikandungnya.
"Tiiiiin."
Sebuah klakson mengejutkan datang dari arah belakang, membuat Daniel terkejut dan sedikit oleng. Namun kemudian entah karena suasana yang tegang atau apa, ia jadi naik darah. Daniel menyusul dan menyalip kembali orang yang tadi minta di beri jalan.
Karena orang tersebut sudah diberi jalam, malah melambat seusai menyalip. Seakan sengaja hendak membuat Daniel kesal.
"Tiiiiin."
Ia balas memberi klakson panjang dan kencang. Hingga orang tersebut kaget, lalu membawa kendaraannya ke kiri. Daniel melesat mendahului, hingga sampailah ia pada rumah sakit yang dimaksud.
Daniel, Richard, dan Ellio buru-buru keluar dari dalam mobil, entah karena kebetulan atau apa. Daniel tiba-tiba melihat Adisty yang tengah melintas. Maka segera pria itu berlarian ke arah Adisty, diikuti Richard dan juga Ellio.
"Adisty Lea dimana, gimana keadaanya?" tanya Daniel panik.
"Om eh, mas Daniel?"
Adisty yang terkejut dengan kehadiran Daniel yang secara serta merta itu pun, menoleh ke arah belakang.
"Mas?. Ayah?. Om Ellio?."
Lea muncul dan tercengang.
Daniel kemudian mendekat secara serta merta dan,
"Lea, kamu kemana aja?"
Ellio berseloroh, sementara Daniel dan Richard tak mampu berkata apa-apa. Daniel menghela nafas berkali-kali, dengan wajah yang begitu tegang. Ia telah panik sepanjang perjalanan mencari perempuan itu.
"Maaf om, mas, ayah. Tadi aku nggak liat hp, kita sibuk ngurusin Nina. Nina tadi pendarahan, tapi untung bayinya nggak kenapa-kenapa."
Daniel memperhatikan Lea dengan nafas yang masih begitu tersengal, ia belum mampu berbicara sepatah pun saking syok nya ia pada keadaan ini. Ia sudah mengira jika Lea yang masuk rumah sakit.
"Lain kali kalau ada apa-apa cek handphone, ok?" Ellio kembali memarahi Lea.
"Kamu tau nggak suami kamu hampir nabrak sana-sini di jalan, ayah kamu banyakan diem dari tadi. Mereka mikirin kamu." lanjutnya kemudian.
"Ayah, maafin aku." Pinta Lea pada Richard.
Richard mengangguk sambil masih mengatur nafas. Lalu pria itu memberi kode pada Lea, agar beralih pada Daniel.
"Mas, maaf." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Daniel masih diam dan berusaha menurunkan ketegangan dalam dirinya. Nafas pria itu masih naik turun, sama seperti tadi.
"Mas." Lea memegang tangan Daniel.
"Kamu tau Lea, aku sampe mikir apa jangan-jangan Richard yang ambil kesempatan untuk menyembunyikan kamu lagi dari aku. Kalau kamu nggak ada kabar, kamu bisa merusak pertemanan di antara kami. Aku cemas mikirin kamu, pikiran aku kemana-mana."
"Maaf."
Lea menatap suaminya itu penuh harap. Sementara Adisty membeku sejak tadi, ia takut dimarahi juga oleh tiga laki-laki tersebut.
Ketika suasana sudah perlahan kondusif, mereka memutuskan untuk pulang. Tadinya baik Daniel, Richard, maupun Ellio berencana menemui Nina terlebih dahulu.
Namun Adisty mengatakan jika saat ini dokter belum memperbolehkan Nina untuk di jenguk, kecuali oleh suami dan keluarga terdekatnya. Dikarenakan Nina butuh istrinya total, maka mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Nih, bawa mobil gue." ujar Daniel seraya menyerahkan kunci mobil pada Ellio.
"Lo anter Adisty juga." ujarnya lagi.
"Lo sama Lea?" tanya Ellio.
"Naik taxi. Gue langsung pulang ke rumah, pengen istirahat." jawab Daniel.
"Ok."
"Lea dan Daniel berpamitan pada Richard, Ellio dan juga Adisty."
Mereka kemudian menyetop sebuah taksi di depan gerbang rumah sakit.
"Maaf ya mas."
Lea tampaknya masih di hantui rasa bersalah, ketika taksi yang mereka tumpangi telah berjalan. Daniel menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Lalu mereka lebih banyak diam, hingga taksi membawa mereka sampai ke rumah.
Sesampainya di rumah Lea berganti pakaian, begitupula dengan Daniel. Tak lama setelahnya pria itu mendatangi Lea dan menariknya ke atas tempat tidur.
"Mas."
Daniel tak berkata apa-apa, ia mencium bibir Lea sambil mengelus perutnya yang membuncit.
"Mas."
"Jangan ngomong apa-apa Lea, aku mau pelukan." ujar Daniel.
Lea pun berhenti bersuara dan memeluk suaminya tersebut. Mereka berbaring di atas tempat tidur dan saling memberikan sentuhan.
"Jangan buat aku khawatir lagi, janji!"
Daniel berujar setelah beberapa menit berlalu. Lea menganggukkan kepalanya dan mencium dada sang suami. Daniel lalu balas mencium dan mengelus perut istrinya itu.
"Aku takut kalian Kenapa-kenapa." lanjut Daniel lagi.
"Iya mas, aku minta maaf ya?"
Daniel mengangguk.
"Sharon itu harus dikasih pelajaran." ujar Daniel kemudian.
"Iya mas, dia kelewatan banget. Nina tadi tuh pendarahan karena stress, aku sama Adisty panik banget. Mana di rumah ibunya itu cuma ada ibunya doang. Ibunya juga lagi nggak bisa jalan, karena jatuh dari motor. Bapaknya lagi kerja, untung ada tetangga yang bantuin ngangkat dia ke taksi."
__ADS_1
Daniel menghela nafas, mereka lanjut membicarakan Nina. Termasuk soal pasangan Nina, yang Lea nilai seperti bersikap aneh.