
Esoknya Lea sekolah seperti biasa. Namun yang membuat tak biasa adalah tatapan mata Rangga terhadap dirinya.
Pasalnya kini mereka bertemu muka di depan sebuah ruangan. Rangga terpaku menatap Lea dan begitupun sebaliknya.
Pikiran kedua anak manusia itu berkecamuk. Lea teringat pada Rangga yang kemarin jalan dengan Sharon. Sedang Rangga teringat akan Lea yang jalan dengan si pemuda tampan, yang ia sendiri tak tahu siapa namanya.
Baru saja Rangga hendak mempertanyakan hal tersebut, tiba-tiba Sharon muncul dan menghampiri rangga.
"Rangga kamu ngapain disini?" tanya Sharon pada Rangga. Ia menatap sinis ke arah Lea sambil menyilangkan tangan di dada. Sementara yang ditatap diam terpaku.
Rangga lalu melangkah dengan gusar meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Sharon yang sebelumnya sempat menabrak sedikit bahu Lea.
"Braak."
Lea tak begitu peduli, ia kini berjalan masuk ke dalam kelas.
***
"Lea, ini Ryan. Ibu lagi sakit dan harus ke dokter, ibu butuh uang dua juta."
Lea menatap pesan tersebut, ketika ia telah cukup lama pulang dari sekolah dan kini tengah bersiap menuju ke rumah sakit.
Lea tahu, jika itu adalah ketikan ibunya. Pasalnya anak seusia Ryan tak mungkin tata bahasanya sebegitu rapi. Tapi mungkin ibunya gengsi untuk mengutarakan sendiri keinginannya. Sehingga Ryan lah yang dijadikan kambing hitam.
"Besok Lea kasih." ujar Lea berpura-pura tidak tahu jika itu adalah ibunya.
"Besok Lea ke sekolah Ryan." ujarnya lagi.
Lea sejatinya bisa saja tak peduli, namun ia tak ingin terus di rong-rong dan di kejar-kejar oleh sang ibu. Maka ia akan berikan saja uang yang diminta tersebut, agar masalah selesai.
Lea lalu menuju ke rumah sakit, ia sebenarnya ingin langsung menyambangi kamar tempat dimana Hans dirawat. Namun, masih ada kedua orang tua Hans disana. Lea merasa tidak enak menganggu waktu mereka, maka Lea pun kini menuju ke kamar Daniel. Sekalian melihat keadaan sugar daddy nya tersebut.
"Om, Dan."
Lea menyapa Daniel yang tengah fokus pada handphonenya. Daniel sedikit bereaksi, dan menatap gadis itu. Namun tetap dengan ekspresi wajahnya yang biasa saja.
"Koq nggak dimakan?" tanya Lea ketika melihat makan siang Daniel yang masih utuh.
Daniel tak menjawab.
"Kalau kayak gini gimana bisa sembuh coba?"
"Nih, kan ada infus." ujar Daniel membela diri dengan santai.
"Ya tetap harus makan, kalau ngandelin infus doang bisa lama sembuhnya."
Lea duduk dipinggir tempat tidur lalu mengambil makanan tersebut.
"Makan...!" ujarnya kemudian.
"Lea, saya nggak suka makanan itu."
__ADS_1
"Ya udah maunya apa?"
"Ya yang lain, pokoknya jangan makanan itu."
"Nanti saya beliin, tapi makan ini dulu."
"Lea."
Daniel masih mencoba menghentikan gadis itu, namun Lea melotot ke arahnya. Daniel pun akhirnya menurut meski kesal.
Saat Lea tengah menyuapi Daniel. Ellio masuk ke ruangan itu, namun langkahnya di tahan oleh Richard di dekat pintu. Richard pun langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir, agar Ellio tak membuat suara gaduh. Kini mereka berdua memperhatikan Lea dan juga Daniel, sambil tersenyum tipis.
"Lea, please." Daniel agaknya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan makan.
"Dikit lagi ya." Lea masih berusaha.
"No, please."
"Sekali ini aja." pinta Lea lagi.
Daniel pun akhirnya membuka mulut dan merima suapan terakhir itu. Ia sudah ingin muntah, namun berusaha keras ia tahan. Lea lalu memberikan minum untuk dirinya.
"Om udah minum obat?" tanya Lea.
Daniel mengangguk.
"Lain kali tuh makan dulu, baru minum obat. Jangan kebalik." ujar Lea lagi. Gadis itu lalu membereskan bekas makan Daniel.
Ellio oleng dan nyaris terjatuh, keberadaan dirinya dan Richard akhirnya diketahui oleh Daniel dan juga Lea.
"Om?" ujar Lea seraya menatap mereka.
"Sejak kapan lo berdua disitu?" tanya Daniel penuh kecurigaan.
"Nggak baru koq, bro." Ellio mencoba berbohong. Kini ia dan Richard mendekat.
Selang beberapa detik kemudian, tiba-tiba Frans dan istrinya Hana datang ke kamar Daniel.
"Dan."
"Hei, Frans."
"Hana."
Daniel menyapa keduanya, Hana mendekat dan memeluk Daniel barang sesaat.
"Tadi gue udah liat Hans." ujar Daniel.
"Iya, Hans cerita koq." ujar Frans kemudian.
"Oh ya Lea, kamu dicariin Hans." ujar Frans pada Lea. Daniel diam mendengar hal tersebut.
__ADS_1
"Oh ini keponakanmu, Ellio?" tanya Hana pada Ellio.
"Mm, iya." ujar Ellio lalu tersenyum. Karena senyum bisa mengaburkan sebuah kebohongan.
"Cantik." ujar Hana menatap gadis itu.
"Makasih tante, tante juga cantik." ujar Lea.
Hana tampaknya begitu senang melihat Lea.
"Ini mamanya Hans." ujar Richard pada Lea.
"Iya om, keliatan koq. Mereka mirip." ujar Lea lagi.
"Sana Lea, liatin Hans nya. Nanti sedih loh dia."
Hana berujar dengan nada yang begitu renyah. Lea merasakan atmosfer yang berbeda. Sangat jauh bila dibandingkan saat berhadapan dengan ibu Rangga.
Belakangan Lea berfikir apa jangan-jangan Rangga itu anak angkat. Karena sifatnya yang bertolak belakang dengan orang tuanya.
"Ya udah, Lea kesana dulu ya tante, om-om. Tadi Lea soalnya niat kesini tuh, buat ketemu Hans. Tapi nggak enak, karena om sama tante lagi nemenin dia."
Daniel seperti dihantam batu besar, mendengar semua itu. Entah mengapa tiba-tiba rasa irinya terhadap Hans kembali memuncak, meski berusaha ia tepis.
Ia tak suka mendengar jika Lea datang hanya untuk melihat Hans. Sedang dirinya hanya diprioritaskan oleh Richard dan juga Ellio.
Lea meninggalkan ruangan tersebut, sementara kini mereka semua kembali berbincang dan membahas perihal kondisi kesehatan Daniel.
***
"Lo ngerasa nggak sih, bro. Kalau Daniel itu cemburu sama Hans."
Ellio berujar pada Richard, ketika kini keduanya tengah makan di kantin rumah sakit. Richard mengangguk sambil tertawa.
"Dan Daniel tetap bersikukuh sama pendiriannya. Bahwa dia nggak punya perasaan apa-apa terhadap Lea." ujar Richard.
"Lo kayak nggak tau Daniel aja, emas sepuhan." seloroh Ellio.
"Bangsat, emas sepuhan." Richard nyaris tersedak karena tak kuasa menahan tawa.
"Ya iya, luarnya keliatan kokoh ya kan. Padahal dalamnya imitasi. Perasaan Daniel itu dilapisi gengsi, susah bikin dia mengakui kalau dia lemah." ujar Ellio.
"Gimana kalau momen ini kita manfaatin." lanjutnya lagi seraya tersenyum penuh maksud.
"Maksud lo, kita bikin Daniel cemburu abis sama Hans. Sampe akhirnya dia mau mengakui, kalau dia suka sama Lea?" tanya Richard.
"Yoi, kapan lagi dapat kesempatan bagus kayak gini. Inilah saatnya kita ngancurin seluruh perasaan Daniel ke Grace. Biar nggak ada lagi tuh nenek lampir di hatinya dia." ujar Ellio.
"Ok, gue setuju." ujar Richard kemudian.
Kedua sahabat itu kini sama-sama tersenyum penuh maksud.
__ADS_1