
"Mas nggak kerja hari ini?"
Lea bertanya pada keesokan harinya. Saat ia bangun agak siang dan mendapati Daniel yang tengah sibuk membersihkan rumah.
"Hari ini aku libur dulu, kan udah lama kita pisah. Jadi aku pengen seharian di rumah sama kamu."
Lea diam, namun kemudian ia memeluk Daniel dengan gembira.
"Aku senang." ujar perempuan itu.
Daniel pun tertawa kecil. Tak lama setelahnya, Lea membantu pria itu membereskan rumah. Kemudian mereka membuat sarapan pagi secara bersama-sama.
"Ayo mas, sarapan dulu." ujar Lea ketika meja makan telah dipenuhi berbagai penganan.
"Iya bentar, aku ke toilet dulu." ujar Daniel.
Tak lama ia kembali dan duduk di meja makan bersama Lea. Mereka sama-sama menikmati sarapan pagi itu.
"Mas."
"Hmm?"
"Koq aku mimpiin ayah ya semalem?"
Daniel tersentak, ia agak memperlambat makannya dan menatap Lea.
"Aku khawatir sama ayah." lanjut Lea lagi.
Daniel menghela nafas, sebenarnya ini bukan baru kali ini terjadi. Sebelum-sebelumnya, jika sudah lama Richard tak kelihatan di depan mata. Lea pasti menanyakan kabar pria itu pada Daniel. Seperti sebuah kontak batin yang terhubung.
"Richard baik-baik aja. Kalau kamu kurang yakin, nanti aku suruh Ellio buat menghubungi dia."
Lea mengangguk, karena tak mungkin juga ia menghubungi ayahnya itu. Ia tidak tahu apakah saat ini Richard telah diberitahu, perihal kepergian dirinya atau belum. Yang jelas Lea ingin cari aman dulu.
***
"Dian."
Seseorang menepuk bahu Dian. Ketika perempuan itu tengah bengong di sebuah tempat. Ia tengah berbelanja, namun blank karena tiba-tiba ingat pada Richard. Seperti sebuah firasat, ia begitu gelisah ketika mengingat kekasihnya itu.
"Eh...?"
Dian diam sejenak, ia memperhatikan orang yang baru saja mengajaknya berinteraksi tersebut.
"Dian ini gue Sherly, anak SB."
"Astaga, Sherly. Pangling gue." ujar Dian lalu tersenyum.
"Apa kabar lo?"tanya Sherly kemudian.
"Baik, eh ngopi yuk." ajak Dian.
"Mm, boleh. Kebetulan gue lagi nggak ada kegiatan banyak." ujar Sherly.
"Tapi gue bayar dulu ya." ujar Dian.
"Ayo bareng aja, gue juga udah mau bayar."
Mereka pun sama-sama membayar di kasir, tak lama setelah itu keduanya sudah terlihat duduk di sebuah kafe dan berbincang.
"Jadi, semuanya menuntut?"
Dian yang baru mengetahui berita terkini mengenai SB Agency tersebut pun, bertanya pada Sherly.
"Iya, banyak yang zonk, terutama angkatan yang baru-baru ini."
__ADS_1
Dian berfikir, jika angkatan baru maka itu berarti termasuk angkatan Lea.
"Zonk nya gimana sih?" tanya Dian kemudian, ia masih kurang mengerti.
"Ya, banyak yang ternyata punya istri. Ada juga yang kekerasan, penyimpangan seksual, pelit, pokoknya banyak deh."
Dian mengenal nafas. Ia kini berfikir apakah dirinya termasuk beruntung, atau malah zonk juga. Mengingat Richard yang kadang masih sering bersama perempuan lain, dan belakangan ini mereka bertengkar.
"Lo baik-baik aja kan, sama sugar daddy lo." Sherly bertanya.
"Mm, iya. Ba, baik-baik aja koq." Dian berkilah, dia belum akan membawa masalahnya kemana-mana. Karena Richard pun belum ada kejelasan, apakah masih ingin lanjut atau berakhir.
Dian terus mempertanyakan perihal korban SB Agency. Ia benar-benar tidak mengetahui kejadian tersebut, dan kini ia kepo untuk tahu lebih banyak lagi.
***
Sebuah teriakan dan tangisan terdengar, Rangga yang baru saja tiba dari kampus itu pun langsung meletakkan tas dan keluar. Ia menuruni anak tangga dan berlarian ke arah sumber suara tersebut.
"Mami."
Rangga panik, melihat ibunya histeris di dekat mobil yang baru saja terparkir. Sementara ada pembantu dan supir yang coba menenangkan wanita itu.
"Mami kenapa, mi?" tanya Rangga kemudian.
Ibunya masih menangis.
"Mbak, mami kenapa?" Rangga mulai mendesak jawaban kepada pembantunya.
"A, anu mas Rangga."
Pembantunya sedikit ragu-ragu.
"Anu apa?" tanya Rangga dengan penuh penekanan.
"Bapak, mas."
Pembantu dan supir saling bersitatap, membuat Rangga menjadi makin khawatir.
"Papi kenapa?" Bentaknya kemudian.
"Papi punya simpanan, Rangga."
Ibunya berujar diiringi tangis yang kian memecah. Mendadak semua menjadi suram, Rangga seperti berada di bawah kumpulan awan hitam yang pekat. Ia terkejut, syok, sekaligus tak percaya. Bagaimana mungkin sang ayah bisa melakukan semua ini terhadap mereka.
"Brengsek...!" ujarnya kemudian.
Sementara sang ibu masih menangis, lalu...
"Mi, mami."
"Mi."
Ibu Rangga jatuh tak sadarkan diri. Kini mereka semua sibuk mengurus wanita itu.
***
Lea dan Daniel tengah berada dalam sebuah ciuman panas. Bahkan tangan mereka kini sama-sama bergerilya di daerah-daerah sensitif, milik lawan jenis mereka.
"Hmmh."
"Hmmh."
Nafas keduanya kian memburu. Kemudian Daniel menghentikan aktivitas itu, sambil tersenyum menatap Lea.
"Kemaren abis kram, jangan ngapa-ngapain dulu." ujar Daniel.
__ADS_1
Lea mengangguk, sambil tersenyum.
"Padahal enak tau mas, kalau di lanjut." ujarnya kemudian.
"Makanya jangan pecicilan, biar nggak kram. Kalau abis kram gitu, harus istirahat dulu dari aktivitas begituan. Ntar bayi nya kenapa-kenapa loh."
Lea tertawa.
"Ketawa aja kamu." Daniel mencubit hidung istrinya itu.
"Aku tuh bukan pecicilan, mas. Kadang lupa, kalau perut aku ada isinya. Abisnya kadang aku merasa kayak biasa aja. Orang perutnya masih segini."
Daniel tersenyum lalu menyingkap baju yang dipakai sang istri. Ia mengusap-usap perut Lea dengan lembut.
"Bentar lagi juga dia gede." ujar Daniel lalu mencium bibir istrinya.
"Perut kamu nanti Segede ini." lanjutnya kemudian. Ia mengira-ngira akan sebesar apa perut istrinya itu nanti.
"Ntar aku jelek, mas. Kalau buncit."
Daniel tertawa, ia terus mengelus perut sang istri sambil mencium bibirnya.
"Menurut aku, kamu akan jadi makin sexy. Kalau perut kamu makin gede."
Daniel kembali mencium istrinya, ciuman tersebut disambut oleh Lea. Makin lama semuanya semakin panas dan agak tak terkontrol. Nafas keduanya memburu, rasa nikmat mulai menjalar di sekujur tubuh.
"Le, udah Le. Aku nggak kuat nahan." ujar Daniel seraya menyudahi semuanya. Terlihat jelas jika ia sangat-sangat bekerja keras untuk itu.
"Ntar aku hajar beneran, kamu." lanjutnya lagi.
Lea tertawa, Daniel segera beranjak.
"Mas mau kemana?" tanya Lea.
"Mau ambil laptop, nonton aja yuk kita."
"Drakor?"
"Terserah." ujar Daniel.
"Tunggu ya." lanjutnya lagi.
"Bawa cemilan, mas."
"Dapur kan deket, wahai Lea."
"Mager."
"Ya udah, tunggu...!"
Daniel bergegas naik ke lantai atas dan mengambil laptop. Setelah meletakkan laptop tersebut di kamar Lea, ia beranjak ke dapur dan mengambil beberapa makanan ringan serta air minum.
"Mas, nonton Then Medium aja yuk...!" ajak Lea.
"Yakin nggak penakut?. Kamu lagi hamil loh, nanti kepikiran sama adegannya, kebawa mimpi."
Daniel berbicara sambil menghidupkan laptop.
"Penasaran." ujar Lea.
"Tapi nontonnya nggak boleh tutup mata, mau?. Nanti malah banyakan tutup mata, terus kamu nanya ke aku adegannya apa."
"Hehe, mas koq tau?"
"Cewek rata-rata kan gitu, kalau nonton horor."
__ADS_1
"Hehehe, nggak jadi deh mas. Yang lain aja." ujar Lea kemudian.