Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sebuah Nyayian


__ADS_3

"Mas."


"Hmm."


"Mas waktu itu pernah nyanyi kan di ulang tahunnya ayah."


"Iya, kenapa?" tanya Daniel pada Lea.


"Nyanyi dong mas, buat aku."


"Nyanyi apaan?"


Lagi-lagi Daniel bertanya, namun di selingi dengan tawa.


"Ya nyanyi apaan kek, pengen dengar mas nyanyi buat aku sendiri."


"Bayar." ujar Daniel kemudian.


"Iya ntar aku bayar, tapi ngutang dulu." jawab Lea. Daniel kembali tertawa.


"Mas punya gitar nggak sih?"


"Ada, di rungan sebelah kiri dapur, terus masuk ke kanan."


"Ruangan yang mana?" tanya Lea seraya mengerutkan keningnya.


"Ntar aku ambil." ujar Daniel lalu beranjak.


"Ikut mas." Lea juga ikut beranjak.


"Takut soalnya." lanjutnya kemudian.


"Takut sama apa?" tanya Daniel heran.


"Kalau ada kuntilanak terbang gimana?. Kan aku lagi hamil."


Daniel menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya.


"Le, Le. Percaya aja kamu sama takhayul."


"Ih mendingan jaga-jaga tau mas. Daripada tau-tau dia muncul depan muka."


Daniel tertawa kecil, kemudian melangkah ke dalam. Sedang Lea mengekor pada sang suami. Pria itu masuk ke ruangan yang ada di sisi kiri dapur dan mengambil arah, ke sebuah ruangan yang ada di sisi kanan berikutnya.


"Braaak."


Daniel membuka pintu ruangan tersebut, lalu masuk diikuti Lea.


"Loh, ini ruangan bagus ya, ada pianonya juga. Aesthetic banget." ujar Lea pada Daniel. Mata perempuan itu menjelajah ke sekitar.


"Koq aku nggak tau mas?" lanjutnya lagi.


"Salah sendiri kamu nggak pernah masuk." ujar Daniel lalu mengambil gitarnya, yang tergantung di sebuah sisi.


"Ya aku pikir, ini kamar pesugihan."


Seketika Daniel terbahak, Lea jadi ikutan tertawa akibat ucapannya sendiri.


"Abisnya tertutup mulu." ujar Lea lagi.


Daniel membawa gitarnya dan kini hendak melangkah kembali ke luar. Begitupula dengan Lea, perempuan itu mengikuti langkah sang suami. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika melihat beberapa foto yang terpajang di salah satu sisi dinding.

__ADS_1


"Degh." Batin Lea bergemuruh.


Foto-foto tersebut adalah foto Daniel dengan mantan kekasihnya, Grace. Terlihat di sana mereka tengah bermain musik bersama. Daniel memegang gitar, dan Grace tampak memainkan piano. Ada pula foto dimana mereka memainkan piano secara bersama-sama.


Daniel yang sudah keluar duluan, tiba-tiba menyadari jika Lea sangat lambat. Ia kembali ke dalam dan seketika ia pun tertegun. Melihat sang istri menatap foto-foto tersebut.


"Eh, sorry. Aku belum buang foto-foto ini, aku lupa."


Daniel menurunkan foto-foto tersebut, namun Lea mencekal lengannya.


"Mas, aku nggak apa-apa. Jangan dibuang kalau kamu merasa terpaksa."


"Aku nggak terpaksa koq, Le. Aku bener-bener lupa kalau foto ini masih ada disini. Kamu liat kan debu di ruangan ini?. Itu artinya aku juga jarang masuk."


"Karena ini ruangan favoritnya Grace?" tanya Lea.


Daniel mendadak terdiam, namun kemudian ia menghela nafas dan mengangguk.


"Iya." jawabnya pelan.


Seketika Lea terpaku.


"Sorry." ujar Daniel sekali lagi.


"Oh, it's ok." jawab Lea kemudian.


"Beneran kamu nggak apa-apa?" tanya Daniel cemas, ia takut jika Lea akan marah padanya. Bukan karena ia mulai menjadi budak cinta. Tapi karena ia sedang malas untuk bertengkar dengan siapapun.


"Aku nggak apa-apa mas, yuk ah...!"


Lea beranjak, Daniel mencekal lengan istrinya itu. Lea berbalik dan secara serta merta mencium bibir sang suami.


Daniel pun membalas perbuatan istrinya itu, ciuman mereka perlahan menjadi cukup panas. Hingga keduanya sama-sama merasa cukup yakin, bahwa mereka tak sedang berada dalam sebuah kecanggungan. Grace tak akan menjadi perusak suasana hati Lea, dan Daniel tak perlu mencemaskan hal itu.


"Iya, tapi nggak 100%." jawab Daniel.


"Kenapa?"


"Aku tau kamu lagi berusaha untuk terlihat dewasa, dalam menyikapi sesuatu. Mustahil seumur kamu bisa sedemikian tenang menghadapi semua ini. Biasanya cewek lain udah mencak-mencak. Tapi aku hargai usaha kamu and thank you, untuk tidak membuat suasana jadi runyam. I love you, Lea."


Daniel menatap sang istri, Lea tersenyum pada detik berikutnya. Kemudian mereka kembali berciuman untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mereka kembali ke balkon.


***


"Nih mas, kopinya."


Lea membawakan segelas kopi untuk Daniel dan segelas susu untuk dirinya sendiri. Berikut beberapa makanan ringan.


"Panas banget nggak itu?" tanya Daniel yang masih sibuk menyetem gitar.


"Iya, orang pake air mendidih."


"Oh ya udah deh, ntar aja minumnya." ujar Daniel kemudian.


"Itu udah selesai?"


"Udah nih, mau lagu apa." Daniel balik bertanya.


"Hmm, apa ya?" Lea tampak berfikir.


"Judi, teeet."

__ADS_1


Tiba-tiba Daniel bernyanyi dan membuat Lea seketika ingin melempar suaminya itu dari balkon.


"Mas, koq lagunya itu sih." Lea merengek dengan nada yang sewot, namun menahan tawa.


"Ini lagunya bang haji loh, Le. Maknanya bagus, kamu nggak boleh gitu. Cintailah produk-produk negri kita."


"Iya, tapi kan aku maunya lagu romantis." Lea bertambah sewot.


Daniel tertawa karena telah berhasil berbuat iseng pada istrinya itu.


"Dasar bapak-bapak." ujar Lea lalu memakan kue kacang dari dalam toples.


Ia membeli kue tersebut di sebuah warung beberapa hari lalu, karena itu merupakan cemilan favoritnya.


"Izinkanlah ku kecup keningmu."


Tiba-tiba Daniel memetik gitar dan bernyanyi, lalu mencium kening Lea sejenak. Membuat perempuan itu seketika terdiam dengan jantung yang dag, dig, dug.


"Bukan hanya ada, di dalam angan. Esok pagi kau buka jendela, kan kau dapati seikat kembang merah."


Lea mendadak tersenyum dan tersipu malu.


"Tau nggak lagu ini?" tanya Daniel kemudian.


"Tau, Elegi Esok Pagi. Lagu nya Ebiet G Ade." jawab Lea.


"Kirain anak seumur kamu nggak tau." ujar Daniel lagi. Ia kemudian lanjut bernyanyi.


"Engkau tau, aku mulai bosan. Bercumbu dengan bayang-bayang. Bantulah aku, temukan diri. Menyambut pagi, membuang sepi."


Daniel menganggukkan kepalanya, seakan mengajak Lea untuk bernyanyi. Untungnya Lea hafal sedikit lagu tersebut, hingga ia pun kini ikut mengeluarkan suara.


"Izinkanlah aku kenang, sejenak perjalanan. Ho, ho, ho ,ho. Dan biarkan ku mengerti, apa yang tersimpan di matamu. Ho, ho."


Lagu tersebut mengalun sampai habis, dengan menghadirkan banyak senyuman di wajah keduanya. Selesai dari situ, Daniel kembali memetik gitarnya. Karena ternyata kopi masih begitu panas untuk di minum, maka ia ingin mengulur waktu lebih lama lagi.


Ia pun menyanyikan lagu bertajuk Eternal Flame, namun dengan arransmen versi Shane Filan. Agar terdengar lebih soft dan cocok dengan suasana malam itu.


Close your eyes, give me your hand, darling.


Do you feel my heart beating


Do you understand


Do you feel the same


Am I only dreaming


Is this burning an eternal flame.


Sepanjang lagu dinyanyikan, Lea terus tersenyum menatap suaminya itu. Ada damai yang tiba-tiba menyeruak di hati keduanya, seakan enggan apabila waktu akan berakhir.


Lalu lagu-lagu berikutnya kembali mengalir, disela-sela obrolan sambil menikmati minuman yang hangat. Hingga kantuk pun akhirnya membuat mereka menyerah.


"Tidur disini aja, Le." ujar Daniel ketika semua mulai dibereskan.


"Iya mas, mau gosok gigi dulu." jawab Lea.


"Iya, aku juga mau ngerokok dulu. Tutup pintunya."


"Ok."

__ADS_1


Lea menutup pintu, setelah ia masuk ke dalam. Perempuan itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi, sedang Daniel menghidupkan sebatang rokok.


__ADS_2