
Sebuah apartemen yang tak begitu mewah, bahkan tergolong biasa bagi sebagian orang kaya. Disana tampak seroang wanita tengah berbicara pada kedua anaknya dalam bahasa Turki.
Dia adalah ibu Daniel. Besok mereka akan bertolak meninggalkan negri ini untuk kembali ke Turki. Hari ini mereka tengah mempacking barang.
"Tok, tok, tok, tok."
Sebuah ketukan terdengar di pintu. Si anak perempuan yang bernama Hatice bertanya pada ibunya dalam bahasa Turki. Ia menanyakan perihal siapa yang datang. Sebab mereka tak ada janji dengan siapapun sebelumnya.
Ibu Daniel yang juga ikut bingung tersebut, kini melangkah ke arah pintu. Mungkin petugas pengelola apartemen pikirnya.
"Braaak."
Ia membuka pintu tersebut, dan betapa terkejutnya ia menyaksikan Daniel ada di depan matanya.
"Dan?" ujarnya dengan suara yang gemetaran.
Daniel tak menjawab, namun ada air mata yang merebak di pelupuk mata anaknya itu. Seketika sang ibu pun langsung memeluk Daniel sambil menangis.
Hatice dan Kuzey mendekat, mereka menyaksikan pemandangan itu sambil berpegangan tangan.
"Maafin mama, Dan. Mama banyak dosa sama kamu."
Wanita itu terisak. Daniel tetap tak menjawab, namun ia membalas perlukan ibunya tersebut dan ikut menangis. Tak lama ibunya melepaskan pelukan dan menoleh ke arah Hatice dan juga Kuzey. Daniel menatap mereka dan begitupun sebaliknya.
"Sini...!"
Sang ibu memanggil kedua anaknya tersebut, mereka pun mendekat ke arah Daniel. Daniel tersenyum lalu memeluk keduanya, dan mereka semua menangis.
Beberapa saat berlalu, Daniel sudah terlihat duduk di sebuah sofa sambil memeluk ibunya. Terlihat jelas jika ibunya masih merasa begitu bersalah. Sedang Daniel tengah berusaha melupakan semua kesakitan yang ia miliki.
"Maafin mama, Dan. Mama memang orang tua yang jahat. Tapi bukan berarti mama nggak pernah mikirin kamu selama ini. Mama terus menanyakan kabar kamu ke papa kamu. Tapi dia selalu bilang kalau kamu udah nggak butuh mama lagi."
Daniel terkejut mendengar semua itu, berarti selama ini ibunya tak begitu melupakan dirinya. Hanya saja semua tertutup oleh keegoisan yang dimiliki oleh Edmund. Pria itu marah ketika sang mantan istri sudah menemukan kebahagiaan yang baru. Sedang kebahagiaan mereka, ia sendiri yang merusak. Ibu Daniel terus memeluk puteranya itu, seakan tak ingin berpisah barang sedetik pun.
Siang harinya Daniel mengajak mereka bertiga jalan-jalan dan membeli apapun yang mereka mau. Kedua adik Daniel sangat bahagia, karena mereka telah melihat ibu mereka bahagia. Mereka mengatakan dalam bahasa Inggris, jika selama ini ibu mereka sangat ingin bertemu dengan Daniel.
Namun selalu tak memiliki kesempatan untuk pulang. Sebab mereka adalah keluarga dengan ekonomi yang biasa saja di Turki sana. Mereka bahkan tak pernah terpikir bisa pergi keluar negri seperti ini.
Terakhir Lea datang dan bergabung bersama mereka, ketika mereka tengah makan. Lea sengaja tidak ikut sejak awal, sebab ia ingin memberikan ruang bagi Daniel. Agar bisa leluasa berbicara dengan keluarganya. Dan lagipula Lea masih harus kuliah, sebab ada dosen killer yang tadi bisa mentolerir ketidakhadiran mahasiswa maupun mahasiswinya.
__ADS_1
"Dan makasih untuk semuanya."
Ibu Daniel berujar pada keesokan harinya. Tepat di saat mereka akan segera memasuki terminal untuk check in di Bandara.
"Sama-sama." jawab Daniel lalu tersenyum.
Ibu Daniel memeluk anaknya itu sambil menangis. Namun ia tak sehisteris kemarin, saat Daniel baru datang ke hadapan wajahnya. Ia kini bisa bersikap lebih tegar, sebab salahnya telah termaafkan. Ibu Daniel kemudian membelai pipi Lea sambil tersenyum.
"Kalian harus saling menjaga, jangan sampai bercerai." ujarnya kemudian.
Lea mengangguk lalu memeluk ibu mertuanya itu dengan erat dan begitupun sebaliknya. Daniel juga memeluk Hatice dan Kuzey, di susul kemudian oleh Lea.
"Nanti kalau anak kami lahir dan sudah berumur beberapa bulan, kami akan kesana." ujar Daniel lagi.
"Janji ya." ujar Kuzey dalam bahasa Inggris.
Daniel mengangguk, lalu mereka berpisah di tempat itu. Daniel dan Lea masih berdiri ditempat, bahkan saat keluarga mereka tersebut tengah check in.
Terakhir mereka melambaikan tangan sebelum masuk gate. Daniel dan Lea kini kembali ke mobil dengan perasan lega.
"Mas, nanti ke Turki nya beneran sama aku loh. Soalnya aku mau ke Cappadocia." ujar Lea.
"Iya, aku tau it's your dream." ujar Daniel.
"Ngajaknya Lea ya mas, bukan Lidya Danira si pelakor nggak tau diri."
"Hahaha." Daniel tertawa.
"Iya paus biru sayang." seloroh Daniel.
Pria itu kemudian menghidupkan mesin mobil, sesaat setelahnya mereka pun tancap gas.
***
"Kamu tinggal sama ayah aja, dirumah ini. Mau ya?"
Richard akhirnya bisa bertemu Leo, setelah hampir seabad menunggu kesempatan. Benar kata Lea, adiknya itu sedikit pendiam dan agak susah di temui. Seperti mencari tikus tanah di dalam lubang. Namun kini berkat bantuan Lea, mereka akhirnya bertemu.
"Terus ngomong ke mas Danielnya gimana?. Aku nggak enak, karena dia udah kasih aku tempat tinggal." jawab remaja itu.
__ADS_1
"Ntar gue yang bilang deh." ujar Lea. Lo kalau tinggal di rumah ayah, minimal ada yang mengawasi kenakalan lo."
"Emang gue nakal?" tanya nya pada sang kakak.
Richard tertawa melihat semua itu.
"Ye, siapa tau aja di depan gue lo kayak batu. Tapi di belakang gue kelakuan lo kayak kesurupan Reog."
Lagi-lagi Richard tertawa, bahkan hampir tersedak makanannya sendiri. Sementara Leo kini lanjut makan. Mereka tengah berada di rumah Richard saat ini.
"Mau ya, biar rumah ayah rame lagi. Kakak kamu sama suaminya nggak mau ayah ajak tinggal disini." ujar Richard.
"Gimana mau nggak?" tanya Lea memimpali.
"Boleh mikir dulu?" tanya Leo.
"Ya boleh, silahkan. Mau mikir sampe tahun depan juga nggak apa-apa." ujar Lea lagi.
Maka otak dan perasaan Leo pun mulai berputar-putar memikirkan hal tersebut.
***
"Lo udah nemuin nyokap lo?" tanya Richard pada Daniel, diikuti tatapan Ellio. Ini terjadi pada keesokan harinya.
Daniel mengangguk.
"Mereka udah pulang." ujarnya.
"Oh."
Richard Ellio terkejut, sebab mereka pikir ibu dan adik-adik Daniel masih beberapa hari lagi disini.
"Gue sama Lea yang nganter mereka." ujar Daniel lagi.
Richard menghela nafas lega.
"Syukur deh kalau gitu. Setidaknya lo udah nggak akan menyesal lagi kedepannya. Karena lo udah melakukan hal yang benar." ujar pria itu kemudian.
"Lagian kan lo juga pernah ngomong ke Lea. Sesalah-salahnya orang tua, itu tetap orang tua. Kecuali orang tuanya punya kesalahan kayak melecehkan atau memperkosa anak, atau menyiksa anak secara fisik, verbal, maupun mental. Baru lo boleh berfikir mau maafin apa nggak. Nggak dimaafin juga nggak apa-apa sih, kalau kasusnya orang tua melecehkan dan memperkosa mah." seloroh Ellio.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Daniel mengangguk.
"Iya." jawabnya kemudian.