Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Waspada


__ADS_3

"Itu tadi siapa ya, Sen?" tanya Lea pada Arsen.


"Nggak tau gue, tapi ngeliatnya ke kita terus." jawab Arsen kemudian.


"Apa kita kasih tau ayah sama yang lainnya aja?" tanya Lea lagi.


Arsen diam.


"Kayaknya nggak usah deh, soalnya takut kita berdua aja yang kepedean. Kita ngira mereka ngeliatin kita, padahal nggak."


"Iya sih, tapi kan waspada itu perlu. Takutnya itu orang ada mau mencelakakan salah satu dari kita." ucap Lea lagi.


Arsen kembali diam dan berpikir kali ini. Ia baru ingat jika di jalan tadi juga, supir yang membawa mereka berujar pada Reynald.


"Kayaknya kita diikutin deh pak."


Supir tersebut melihat ke arah kaca spion. Reynald dan Arsen sama-sama menoleh, ada sebuah mobil yang memang gerak-geriknya sangat mencurigakan.


"Coba agak melambat pak." pinta Reynald.


Supir menurunkan kecepatan. Dan mobil tersebut bukannya menyalip, malah ia ikut-ikutan melambat.


"Ngebut lagi pak." perintah Reynald


Sang supir pun menaikkan kecepatan dan mobil itu juga melakukan hal yang sama.


"Sen."


Lea menyadarkan lamunan Arsen.


"Ah iya."


"Udah belum?"


Lea bertanya seraya melirik piring Arsen yang sudah kosong.


"Oh iya, udah gue."


Arsen meletakkan piring ke atas meja, bertumpuk dengan piring bekas para security.


"Nanti tolong bayarin sekalian ya pak."


Arsen mengeluarkan uang selembar seratus ribuan dan meletakkannya di dekat piring.


"Iya mas." jawab salah satu security.


Tak lama ia dan Lea pun masuk ke dalam.


"Yah, tadi di luar ada orang yang gerak-geriknya mencurigakan deh." Lea berujar pada Richard, seraya menatap yang lainnya.


"Orangnya gimana?" tanya Daniel.


Arsen lalu menjelaskan dan menghubungkan dengan apa yang ia dan Reynald alami tadi di jalan.


Richard dan yang lainnya meminta penjelasan Reynald lebih lanjut. Sebab mereka takut itu adalah orang-orang yang hendak mencelakakan Arsen. Mereka tak tau jika saat ini juga ada orang yang hendak mencelakai Daniel.


"Ya sudah. Kalian kalau mau tidur, tidur aja." Reynald berujar pada Lea dan juga Arsen.

__ADS_1


"Semuanya aman." lanjutnya kemudian.


Lea dan Arsen pun naik ke lantai dua dan masuk ke kamar masing-masing. Sementara kini yang di bawah mulai bergerak dan mengintai sekitar.


Richard menyuruh security berpatroli di luar dan menghubungi security kompleks yang bertugas. Richard dan Ellio mengendarai sebuah mobil dan mengitari seluruh area. Sementara Daniel dan Reynald ia suruh berjaga dirumah.


***


Esok hari di toko kue ibu Lea.


Seseorang tampak masuk dan membeli minuman serta beberapa potong roti. Kemudian ia duduk di sebuah meja sambil mengamati sekitar.


"Bu, itu food vlogger yang mau meliput tempat ini."


Salah seorang karyawan berujar pada ibu Lea. Ibu Lea lalu menghampiri orang tersebut.


"Selamat pagi mbak." sapa nya ramah.


"Selamat pagi, ibu pemilik toko ini ya?" tanya perempuan itu.


"Iya." jawab ibu Lea.


"Kenalin bu, saya Asti dari YouTube channel Keep-Asti-an rasa." ujar si perempuan lagi.


"Saya mau minta izin buat meliput tempat ini, untuk dijadikan konten saya. Saya akan review makanannya dengan jujur."


"Oh baik silahkan, untuk food vlogger sendiri kita akan berikan beberapa menu baru secara gratis." ujar ibu Lea.


Maka Asti pun sumringah dan berterima kasih. Tak lama kegiatan vlog itu di mulai. Selain mencoba beberapa menu gratis, Asti dan team nya juga tampak membeli beberapa lagi.


Mereka mereview makanan dan minuman ditempat tersebut dengan gaya khas food vlogger, yang seakan hendak meninggal ketika tengah mencicipi makanan. Tak lupa dengan sentuhan gaya bahasa khas Jakarta Selatan yang dicampur-campur dengan bahasa Inggris.


Begitulah kata-kata yang digunakan, membuat semua orang yang mendengar ingin melemparkan mesin pembuat roti ke kepalanya.


Usai acara review tersebut, Asti kembali mendekati ibu Lea untuk berbincang. Awalnya ia mempertanyakan seputar kue dan roti serta perkembangan bisnis. Namun lama-kelamaan jadi menjurus ke ranah pribadi.


"Ibu anaknya ada berapa, bu." tanya Asti dengan gaya santai, namun menyimpan maksud.


"Anak saya ada lima, yang nomor tiga kembar." jawab ibu Lea.


"Ibu masih muda banget, anaknya masih kecil-kecil ya pasti." ujar Asti lagi.


"Yang besar sudah 18 masuk 19 dan udah punya anak juga." Ibu Lea berkata jujur tanpa beban.


"Oh ya, nikah umur berapa anaknya bu?"


Asti seolah kaget mendengar semua itu. Namun nada bicaranya agak lain terdengar, seperti telah direncanakan sebelumnya.


"Sekitar 16 tahun." jawab ibu Lea.


"Wah muda sekali ya bu, harusnya itu belum usia pernikahan loh. Bisa dipidana kalau ketahuan."


Ibu Lea seketika tersadar, jika pertanyaan Asti sudah terlalu dalam ikut campur urusan keluarganya. Mendadak Asti pun juga ngeh jika pertanyaannya mengundang kecurigaan.


"Saya harus pergi ke tempat review lainnya bu. Terima kasih atas waktunya."


Asti dan team buru-buru pamit dan meninggalkan tempat itu. Sementara ibu Lea tetap diam di tempat dengan pikiran yang mulai bertanya-tanya.

__ADS_1


***


"Lea, pokoknya jangan kemana-mana dulu. Kalaupun mau kemana-mana kasih tau aku atau ayah kamu."


Daniel berkata pada Lea di telpon. Sebab perempuan itu baru saja terbangun dari tidur pada pukul setengah sebelas. Sedang Daniel dan yang lainnya sudah berangkat ke kantor sejak jam 9 tadi pagi.


Lea agak banyak terbangun malam ini karena Darriel yang bangun terus-menerus. Meski Daniel juga ikut menghandle sang anak, namun karena mereka sekamar dengan Darriel. Akibatnya tangisan Darriel terdengar di telinga Lea dan memaksa ia untuk ikut terbangun juga.


"Semalam itu siapa sih mas, yang beredar di depan rumah?" tanya Lea kemudian.


"Aku nggak tau. Tapi kata Richard mending waspada dulu aja, daripada nanti kita lalai tau-tau ada apa-apa."


"Iya sih."


"Takutnya itu orang yang dendam sama Arsen. Terus semalam kayaknya mereka ngikutin Reynald sama Arsen ke rumah Richard."


Lea menarik nafas dan agak takut dengan semua itu.


"Terus Arsen gimana mas?. Dia kan masih kuliah tatap muka." ujarnya lagi.


"Itu udah di urus sama Richard. Udah nambah lagi koq, personel yang jagain dia. Bahkan Richard maunya melibatkan aparat kalau bisa."


"Ngeri deh mas, aku. Arsen itu kan sakit, kalau dia terluka gimana. Dan kalau dia kenapa-kenapa, bisa gila tuh om Rey." ujarnya kemudian.


"Iya makanya, ini juga lagi berusaha kita selidiki koq. Kamu tenang aja, yang jelas jangan kemana-mana sendirian. Walau itu sekedar keluar pagar mau beli apa. Minta temenin sama mbak atau security."


"Iya mas."


"Darriel mana?" tanya Daniel.


"Tidur."


"Udah minum susu?"


"Udah, makasih ya mas udah dimandiin Darriel nya tadi."


"Yang mandiin Richard."


"Oh." Lea tertawa.


"Emang bisa?" tanya nya kemudian.


"Ya gitu lah, Ellio si tukang hebohnya. Yang marah-marahin Richard kalau salah. Sampe dilempar Richard pake body wash."


"Ih koq aku nggak bangun sih tadi, pasti seru."


Daniel tertawa.


"Pokoknya Darriel sampe julid banget ngeliatin Richard sama Ellio. Sebel kali ya, mau mandi doang tapi malah pada berisik kakek-kakeknya."


Lea makin tertawa.


"Ya udah Le, aku mau kerja dulu. Kalau nggak kerja nanti masa depan suram."


"Hahaha." Lagi-lagi Lea tertawa.


"Ya udah, selamat bekerja papanya Darriel. Kerjanya buat anak-istri ya. Jangan buat pelakor."

__ADS_1


"Hahaha, nggak lah. Aku sayang kalian." ujar Daniel.


Maka telpon tersebut pun disudahi, Lea kini bergegas turun ke bawah untuk mengambil sarapan yang lebih tepatnya makan siang.


__ADS_2