
"Kalian semua harus bersaksi dengan sebenar-benarnya. Nggak usah takut."
Sherly berujar di dihadapan beberapa sugar baby, ex SB Agency yang akan segera memberatkan mami Bianca di pengadilan.
Beberapa diantara mereka berkata, jika mereka takut berkata yang sesungguhnya. Mereka khawatir tak mendapat perlindungan hukum yang pasti.
Namun Sherly meyakinkan mereka, bahwa mereka akan dijamin keamanannya. Mereka harus bekerjasama dalam mengungkap kejahatan yang telah dilakukan oleh Bianca.
"Ada satu lagi korban, temen kita yang angkatan baru."
Salah satu ex sugar baby berkata.
"Siapa dan kenapa?" tanya Sherly kemudian.
"Namanya Nina, mbak. Dia dinikahi secara siri, dan sekarang anak yang dia lahirkan meninggal kabarnya. Karena ulah sugar daddy nya itu."
"Gimana-gimana?"
Sherly meminta penjelasan lebih lanjut. Ex sugar baby tersebut lalu bercerita mengenai kabar yang berhembus tentang Nina. Tentu saja Sherly merasa tersentuh hatinya. Ia menjadi sedih atas kejadian tersebut.
"Pemerintah dan pihak-pihak terkait sudah harus menaruh perhatian lebih terhadap hal semacam ini." ujar Sherly.
"Boleh saya tau dimana Nina itu sekarang?" tanya nya kepada ex sugar baby yang memberi informasi.
"Saya sih nggak terlalu tau, mbak. Tapi nanti saya coba cari tau deh." ujarnya lagi.
"Ok." jawab Sherly.
***
Masih soal sidang. Tak jauh berbeda dari Bianca yang kini menghadapi dakwaan. Edmund ayah Daniel pun sedang berhadapan dengan tuntutan dari istrinya, Grace.
Mengenai kejadian yang menimpa Puteri kecil mereka, Danisha. Dan juga perihal hak-hak Grace dan sang anak, yang belum dipenuhi oleh Edmund.
Sejatinya sidang ini sudah berjalan sebanyak beberapa kali, terhitung sejak Edmund ditahan waktu itu. Dan kabar baiknya kini, Edmund serta kekasihnya telah dinyatakan terbukti bersalah dan akan dituntut hukuman penjara. Sementara hak-hak Grace sebagai istri akan dipenuhi.
"Jadi perkaranya udah jalan?" tanya Daniel pada Grace di telpon.
"Sudah selesai, Dan." jawab Grace.
Daniel menghela nafas lega, walaupun yang dihukum adalah ayah kandungnya sendiri.
"Aku senang mendengar semua ini, Grace. Semoga kamu dan Danisha bahagia." ujar Daniel.
Grace menyeka air matanya.
"Kapan kamu mau jenguk Danisha?. Dia udah sehat sekarang." ujar Grace lagi.
"Aku akan segera kesana, dalam waktu dekat. Maaf ya, aku belakangan jarang menemui kamu. Aku lagi banyak urusan." ujar Daniel.
"Nggak apa-apa, Dan. Makasih banyak tetap mau baik dan membantu aku. Walaupun aku pernah nyakitin hati kamu."
Daniel menghela nafas.
"Aku udah maafin kamu soal itu. Kalau ada apa-apa, jangan ragu buat ngomong sama aku."
"Ok." jawab Grace lalu tersenyum tipis.
Telpon tersebut pun diakhiri.
"Mas, anak kamu tuh nunggu di lobi kata sekuriti." ujar Lea pada Daniel.
"Nic udah datang?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Udah." jawab Lea.
"Aku jalan dulu ya, Le."
"Ya udah hati-hati."
"Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Daniel lagi.
"Nggak apa-apa, orang Adisty sama Ariana bentar lagi sampe koq."
"Mereka udah jalan?" Lagi-lagi Daniel bertanya.
"Udah, udah deket. Paling sekitar lima menit lagi sampe." jawab Lea.
"Oh ya udah, aku pergi ya."
Daniel hendak mencium pipi Lea, namun kemudian ia mengurungkan niatnya itu dan malah mencium bayi yang ada di perut Lea.
"Ih curang, mamanya nggak di cium."
Lea menyilangkan tangan di dada sambil memasang wajah yang cemberut. Daniel pun tertawa dibuatnya.
"Dek, mama marah tuh." Daniel berbicara sambil menatap dan mengelus perut Lea.
"Ih, mamanya mau dicium juga." rengek Lea manja.
Daniel makin tertawa, lalu pria itu mencium bibir Lea cukup lama.
"Ntar malem aku mau ya." bisik Daniel di telinga Lea. Perempuan muda itu pun tersenyum.
"Nggak mau ah, males." ujar Lea kemudian. Ia sengaja ingin jual mahal pada suaminya itu.
"Oh ya?. Beneran?"
"Nggak kangen sama ini?"
Daniel menunduk ke bawah, melihat kearah miliknya yang sengaja ia tempelkan ke milik Lea. Lea bisa merasakan benda tersebut, Meski terhalang oleh pakaian.
"Nggak kangen?" goda Daniel lagi.
Nafas Lea mulai memburu, seakan gairahnya mulai terusik. Ia gampang sekali di goda semenjak hamil. Sebab seluruh bagian tubuhnya menjadi lebih peka serta sensitif.
"Kamu udah ditunggu Nic loh, mas." ujarnya kemudian.
"Oh iya."
Daniel tertawa lalu mencium bibir Lea sekali lagi. Kemudian pria tampan itu melangkah ke arah lift.
"Bye Lele, baik-baik ya di rumah."
"Bye, hati-hati di jalan mas." ujar Lea.
"Iya, sayang."
Daniel pun kemudian menghilang di balik pintu lift. Sesampainya di bawah, ia langsung bertemu dengan Nic dan memeluk anak itu.
"Maaf ya, kalau papa lama. Soalnya ngurusin mama kamu dulu tadi."
Nic tertawa mendengar pernyataan tersebut.
"It's ok." jawabnya kemudian.
"Oh ya, kita langsung jalan?" tanya Daniel pada Nic.
__ADS_1
"Ayo." jawab Nic penuh semangat.
Tak lama mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu.
***
"Leleee."
Adisty dan Ariana heboh, ketika tiba di kediaman Daniel dan juga Lea. Sebagai remaja yang memang masih piyik, mereka pun berteriak sambil cipika-cipiki. Tak jauh berbeda dengan remaja-remaja lainnya, apabila tengah bertemu dengan teman sebaya.
"Eh Le, nih kita bawain makanan." ujar Adisty.
"Wah tau aja kalau gue lagi butuh asupan micin."
Lea berujar dengan wajah gembira, ketika melihat apa-apa yang dibawa oleh Adisty dan juga Ariana.
"Ayo sini, masuk-masuk...!" Lea mempersilahkan.
Kedua gadis itu pun masuk, mereka duduk di bagian tengah. Tepatnya pada sebuah karpet bulu tebal yang lebar.
"Eh, Le. Di depan tuh ada ibu-ibu tau tadi. Dia ngintip-ngintip gitu ke arah sini."
Adisty berujar ketika mereka sedang membuka-buka makanan. Dan bertepatan pada saat Lea menyediakan minuman dan juga cemilan lain untuk kedua sahabatnya itu.
"Oh ya, kayak apa ibu-ibunya?" tanya Lea kemudian.
"Udah lumayan tua." ujar Ariana.
"Cantik dan rambutnya segini. Punya tahi lalat di atas bibir." lanjutnya lagi.
"Degh."
Lea teringat pada sosok wanita, yang beberapa kali bertemu dengannya dan juga Daniel. Wanita itu kerapkali kedapatan tengah memperhatikan suami dari Lea tersebut.
"Apa dia masih dibawah?" tanya Lea.
"Kayaknya masih deh, emang dia siapa Le?" tanya Adisty penasaran.
"Mmm nggak sih, bukan siapa-siapa. Cuma pernah ketemu aja kayaknya." jawab Lea.
"Oh." Adisty dan Ariana berkata secara serentak.
"Eh iya Le, Ariana ada mau ngomong sama lo." ujar Adisty.
"Ngomong apaan?" tanya Lea seraya menatap ke arah Ariana.
Ariana pun saling menatap dengan Adisty. Terlihat jelas keraguan di wajah gadis itu.
"Gue minta maaf, Le. Soal gue yang jalan sama Hans tempo hari. Gue..." Ariana menarik nafas.
"Gue sama Hans jadian." lanjut gadis itu.
Lea tersenyum bahkan tertawa kecil.
"Nggak apa-apa, Ar. Kan udah mantan gue. Lagian gue suka koq kalau Hans akhirnya jadian sama lo. Lo cewek yang baik, cocok sama Hans yang juga baik."
"Jadi lo beneran nggak marah sama gue?" Ariana memastikan.
Lea tersenyum dengan tulus.
"Nggak, gue seneng untuk lo berdua." jawab Lea meyakinkan.
Ariana dan Adisty pun saling bersitatap sambil tersenyum.Terlihat jelas kini Ariana benar-benar merasa lega.
__ADS_1