
"Le, sini aku fotoin."
Daniel meraih handphone dan berniat mengambil foto istrinya. Mereka masih nongkrong di sebuah kafe bernuansa vintage, yang bagian interiornya sangat aesthetic bila di foto.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
Foto tersebut berhasil diambil.
"Ih mas, aku gendut banget yang ini. Yang ini bagus, yang ini nggak."
Daniel tertawa, ia ingin sekali mengatakan jika saat ini Lea memang sudah menjadi gembul. Namun takut kafe tersebut malah porak-poranda nantinya, karena perempuan itu pasti akan mengamuk.
"Ya udah aku ambil lagi." ujar Daniel.
Lea berpose, Daniel kemudian kembali mengarahkan kamera.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
"Liat mas hasilnya."
Daniel pun menunjukkan.
"Nah ini baru bagus. Oke semua nih." ujar Lea.
"Ya udah, sama Leo sini." ujar Daniel.
Leo mendekat pada Lea, meski sejatinya la tak terlalu suka di foto. Tapi demi agar Lea tidak jadi baperan, ia pun menuruti keinginan kakak-kakaknya itu. Lea berpose dengan memeluk Leo.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
Foto Lea bersama adiknya itu pun berhasil di abadikan.
"Sama mas dong." pinta Lea.
"Ok."
Daniel berfoto dengan Lea, dengan dibantu pengambilan oleh Leo. Tak lama mereka pun berfoto bertiga.
"Cekrek."
Usai berfoto, mereka lanjut berbincang dan memakan dessert serta minum minuman yang menyegarkan. Setelah di rasa cukup, Daniel dan Lea mengajak Leo ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka membebaskan Leo untuk membeli apa saja, termasuk pakaian dan berbagai keperluan.
"Lea, ini mahal-mahal banget." bisik Leo pada sang kakak, ketika ia melihat harga yang tertera di price tag. Mereka tengah berada di sebuah tempat yang menjual pakaian.
"Ambil aja, mas Dan yang bayar. Waktu itu juga kan udah pernah." ujar Lea.
"Iya tapi ini lebih mahal dari yang waktu itu, gue nggak enak." jawab Leo.
"Jiwa irit ku meronta-ronta." lanjutnya sambil tertawa. Lea pun jadi ikut tertawa.
__ADS_1
"Kenapa Leo?" Daniel yang tak sengaja mendengar hal tersebut pun bertanya.
"Ini mas, kata Leo mahal banget." Lea berujar pada suaminya.
"Udah nggak apa-apa, nggak usah banyak mikir. Ambil aja mana yang kamu mau, mas yang bayar." ujar Daniel.
Leo pun kemudian mengambil apa yang ia ingin beli. Namun ia masih membatasi diri, karena tak mau terkesan aji mumpung dan memanfaatkan kesempatan.
Ia mengambil sewajarnya saja, yang kira-kira tidak begitu menarik atau tidak begitu diperlukan, ia tak jadi ambil.
Lea tau adiknya banyak menahan diri, namun ia membiarkan saja. Sekalian itu untuk mendidik Leo, agar menjadi pribadi yang tidak memanfaatkan kebaikan orang lain.
Usai berbelanja keperluan Leo, mereka pun mampir ke sebuah restoran untuk makan besar. Karena di kafe sebelumnya mereka hanya minum dan memakan dessert dalam jumlah kecil. Sedang mereka amat sangat membutuhkan nasi saat ini.
***
"Gimana mas, kita jadi kan ke mangrove?"
Lea bertanya pada Daniel, ketika mereka telah selesai makan dan berada di mobil.
"Jadi dong, kita kesana sekarang."
Daniel menghidupkan mesin mobil, Leo tampak rebahan di belakang.
"Jiah dia rebahan." ujar Lea.
Daniel tertawa kecil.
"Biarin lah, capek kali dia." ujarnya kemudian.
Tak lama mobil mereka pun mulai berjalan. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat, akhirnya mereka tiba di area hutan mangrove.
Meskipun hutan bakau ini terbilang masih berada di dalam kota, namun cukup memberikan kesan tersendiri bagi Lea.
"Mas, disini bukannya ada vila yang di atas air gitu ya mas?" tanya nya kemudian.
"Iya, ini kita mau kesana." jawab Daniel.
"Leo, bangun. Udah sampe." Lea membangunkan adiknya.
"Hmm." jawab Leo sambil masih memejamkan mata.
Daniel tertawa.
"Masih ngantuk banget kayaknya dia." ujarnya kemudian.
Mereka tiba di sebuah area parkir. Setelah menemui pihak pengelola dan menyewa dua buah rumah segitiga di atas air, mereka pun mulai berjalan-jalan di atas jembatan kayu yang membentang di sepanjang hutan. Lea tampak begitu antusias, sedang Leo nyambung tidur di dalam penginapan.
"Baca doa dulu Le." ujar Daniel pada sang istri.
"Ini lagi baca mas, dalam hati." jawab Lea.
"Iya, soalnya ini kan hutan. Ntar kesambet."
"Emang mas percaya gitu-gituan?" tanya Lea.
"Nggak sih, tapi kan doa itu baik buat melindungi kita dari hal apapun." jawab Daniel.
"Iya mas."
Lea kemudian berlari-lari kecil ke arah depan.
__ADS_1
"Hati-hati, takut kayunya ada yang patah. Ntar jeblos aja ke bawah."
"Iya emak Daniel." ujar Lea lalu melangkah dengan hati-hati.
Sementara Daniel hanya tertawa dan mulai mengeluarkan kamera. Pria itu mengabadikan gambar di setiap sudut hutan yang terhampar.
Malam itu meski sedikit ngeri-ngeri sedap, karena menginap di tengah hutan bakau. Namun Lea tetap bisa merasa aman dan tenang, lantaran Daniel dan Leo terjaga cukup lama. Mereka berdua bermain kartu bersama, di dekat Lea yang mulai di serang kantuk.
"Mas, aku tidur ya." ujar Lea.
"Ya udah tidur aja, aku jagain." tukas Daniel.
Lea memejamkan mata, sedang Daniel lanjut bermain kartu dengan Leo.
"Esok harinya mereka mengelilingi hutan mangrove atau bakau tersebut dengan menyewa perahu. Leo tampak berbincang-bincang dengan seorang gadis remaja seusianya, yang kebetulan satu perahu dengan mereka.
"Udah mulai dapat gebetan nih?" bisik Lea pada Daniel. Suami Lea itu pun tersenyum seraya melirik sekilas pasa Leo dan si gadis.
"Dari semalem itu kenalnya." ujar Daniel.
"Oh ya?" Lea sedikit tak percaya.
"Iya, pas kamu tidur kan aku duduk di luar. Si Leo jalan-jalan di sekitar penginapan. Terus aku liat mereka udah ngobrol gitu."
"Bisa kenalan sama cewek juga si Bambang. Padahal kan dia irit banget kalo ngomong."
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Siapa tau Leo emang sedikit bicara, banyak aksinya. Makanya cewek cepet akrab sama dia."
Lea melebarkan bibir menahan tawa.
"Iya kali." ujarnya kemudian.
Perahu kembali berjalan, Lea dan Daniel menikmati keindahan hutan bakau tersebut.
"Mas."
"Hmm?"
"Sehat-sehat, jangan mati cepet." ujar Lea.
Daniel terbahak mendengar semua itu.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?"
"Soalnya mas tuh baik banget. Jarang loh ada cewek seberuntung aku, yang bisa dapat suami kayak mas."
Daniel agak tersipu mendengar semua itu. Namun ia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
"Baik itu kan tergantung penilaian orang yang menerima, Le. Mungkin bagi orang lain yang nggak suka dengan sikap aku, bisa jadi aku jahat di mata mereka."
"Iya, tapi bagi aku mas itu baik banget. Semoga anak kita nanti bisa jadi anak yang sebaik bapaknya."
Daniel menatap Lea, lalu menghela nafas. Sesaat kemudian ia merangkul istrinya tersebut. Untuk beberapa saat mereka terdiam, meresapi suara alam yang mengalun syahdu bersama suara hati.
***
BACA :
__ADS_1