
"Nanti kalian boleh memilih rumah mana saja yang papa punya. Kalau kalian sudah menikah."
Ayah Marvin berkata pada Marvin dan juga Helen. Saat ini kedua orang itu ada di kediamannya, karena ia yang meminta.
Helen tentu saja ia datang, sebab ia tak keberatan dijodohkan dengan Marvin. Helen tak punya pertentangan dengan keinginan orang tuanya mengenai pasangan.
Lagipula ia sudah mengenal Marvin sejak lama, sehingga tak masalah apabila mereka menikah. Justru yang jadi masalah kini adalah marvin-nya sendiri.
Ia tak tau apakah ia benar-benar mencintai Clarissa atau tidak. Yang jelas di perut wanita itu kini tumbuh darah dagingnya. Marvin tak tau harus bagaimana dan harus menuruti keinginan siapa. Hatinya atau ayahnya sendiri.
"Kamu mau kan, Marvin?" sang ayah seolah memastikan hal tersebut pada Marvin.
"Pokoknya yang penting papa sembuh dulu." ucap Marvin.
"Kamu tenang aja, sekarang ini papa sudah semakin membaik. Apalagi melihat kalian berdua begini."
Ayah Marvin tersenyum, begitupula dengan Helen. Sedangkan Marvin harus benar-benar memaksakan semua itu.
"Iya pa." jawabnya kemudian.
***
"Ya lo jadiin aja simpanan yang satunya. Susah amat."
Salah satu sahabat Marvin memberi ide yang menurutnya brilian. Ketika akhirnya mereka bertemu dan Marvin bercerita.
"Masalahnya gue udah janji mau nikahin Clarissa." ujar Marvin lagi.
"Lo sih pake hati, selama ini nggak pernah begitu perasan." ujar temannya itu mengingatkan.
Marvin menghela nafas panjang. Ia juga tak tau mengapa bersama Clarissa ia bisa menggunakan perasaan. Padahal sebelum-sebelumnya ia tak pernah seperti itu.
"Sekarang tuh dia lagi hamil, bro." ucap Marvin membuat sang teman menjadi kaget setengah mati.
"Apa, hamil?" tanya nya dengan suara yang cukup kencang.
Marvin sangat khawatir sekitar akan mendengar, sebab mereka tengah berada di sebuah kafe yang kebetulan pengunjungnya cukup ramai saat itu.
"Dia hamil?" teman Marvin bertanya sekali lagi, namun kali ini dengan suara pelan.
"Iya, dia hamil." jawab Marvin.
__ADS_1
"Lo yakin itu anak lo, bro?"
Marvin sontak menatap temannya itu lekat-lekat.
"Maksud gue, gue bukan meragukan kemampuan lo dalam menghamili seorang perempuan. Tapi...."
Teman Marvin menarik nafas, lalu melanjutkan perkataan.
"Lo tau kan cewek jaman sekarang. Banyak yang udah nggak perawan lagi. Ya walaupun nggak masalah sih, nggak perawan juga bukan berarti dia nggak baik. Yang perawan juga nggak selalu hatinya murni. Perawan tapi hatinya busuk juga banyak. Tapi ya, apa lo yakin cewek lo itu pacarnya cuma lo doang?"
Kali ini Marvin terdiam. Sejauh ini memang ia belum mengenal Clarissa dengan baik. Bahkan siapa keluarganya pun Marvin belum sempat mencari tau.
"Sorry, bro. Gue begini karena gue temen lo." ujar temannya itu lagi.
Marvin pun hanya bisa mengangguk, lalu menghisap batang rokok yang terselip diantara kedua jarinya. Sejenak pikiran pria itu jadi melayang-layang.
***
"Lo mau kemana minjem jet pribadi gue?"
Ellio bertanya ketika dirinya baru tiba dari kantor dan langsung mendarat di rumah Richard. Marsha sendiri ia suruh istirahat di rumah karena ia merasa pusing dan mual hebat hari ini.
Lea dan Daniel yang tengah berada di sofa sebelah itu pun menoleh.
"Ayah mau pergi?" tanya Lea.
Richard mengangguk.
"Paling lama lima hari dipotong perjalan pulang pergi." ujar pria itu lagi.
"Oh, oke." jawab Lea.
"Lo mau minta kejelasan sama dia?" tanya Ellio pada sahabatnya itu.
Lagi-lagi Richard mengangguk.
"Biar semuanya clear dan gue nggak mengganti Darriel sama biawak lagi." jawab Richard.
Mereka semua pun lalu tertawa. Memang beban pikiran belakangan ini telah membuat Richard menjadi orang yang lebih banyak termenung. Sehingga cucunya sendiri pun pernah tertukar dengan biawak.
"Terus disana nanti lo mau gimana?" Lagi dan lagi Ellio melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Apapun kenyataannya, gue udah nggak peduli. Misalkan Dian emang terbukti selingkuh dan dia udah nggak mau lagi sama gue, ya udah."
"Sepasrah itu?" tanya Ellio.
"Bukan pasrah, gue mau hidup gue lebih simpel aja. Gue sekarang lagi nggak mau ribet, urusan kerjaan gue udah banyak. Belum lagi masih ngurusin orang-orang yang selalu ngurusin dan mengancam kita semua. Banyak yang gue pikirin. Sekarang kalau perempuannya masih mau, silahkan. Nggak, ya udah bodo amat. Dia berhak atas hidupnya sendiri."
Ellio mengangguk-anggukan kepala, sementara kini Darriel tertawa dalam gendongan Daniel.
"Kamu papa Rich ngomong koq malah ketawa?" tanya Daniel dengan suara pelan. Namun Darriel masih saja melebarkan bibir mungilnya.
"Lucu?" tanya Daniel."
"Hokhoo." Darriel mulai mengeluarkan suara dan itu membuat Daniel jadi sangat bahagia.
***
Esok hari.
Sharon menoleh ke belakang dan menatap Nina. Namun Nina meyakinkan gadis itu untuk terus maju ke depan.
Ia pun kembali melangkah, dan berusaha melawan rasa takut yang saat ini tengah berkecamuk di hati dan benaknya. Sharon duduk di hadapan hakim, yang memimpin persidangan atas kasus dugaan pelecehan yang dilakukan Herman.
Sharon menarik nafas panjang. Pertanyaan demi pertanyaan mulai dilontarkan padanya. Meski ragu dan sempat diam selama beberapa detik, akhirnya Sharon pun berbicara.
Ia mengungkapkan kepada hakim jika Herman berkali-kali meminta dirinya untuk menjadi sugar baby. Herman membelikan ia kostum-kostum seperti kostum anak sekolah, maid, kostum kerja kantoran, bahkan kostum pramugari.
Herman memiliki fantasi terhadap perempuan dari berbagai profesi tersebut. Tetapi yang paling penting ia sangat menyukai gadis muda.
"Apakah saudari Sharon tau, jika ada banyak perempuan lain yang juga di sekap oleh saudara Herman di tempat itu?"
"Saya tidak tau yang mulia. Yang saya tau hanya saya yang di sekap di rumah itu." jawab Sharon.
Pertanyaan terus bergulir satu demi satu, dan Sharon menjawabnya dengan baik. Dengan tidak ada yang ditambahi maupun dikurangi.
Pengacara terdakwa tentu saja mengungkapkan sebuah pembelaan. Yang paling menyakitkan adalah ketika muncul sebuah pernyataan, yang mengatakan jika Sharon sebelum itu memang merupakan seorang sugar baby. Padahal ia tidak seperti itu.
Sharon hampir menangis demi melawan semua itu semua saking kesalnya. Namun ia sadar seroang tersangka sekalipun memang harus didampingi lawyer, dan seorang lawyer memang di didik untuk membela kliennya, meski kliennya salah dan walau itu semua bertentangan dengan hati nurani.
Para pengunjung sidang mengutuk perbuatan Herman. Mereka terlihat ricuh apabila kuasa hukum Herman mengungkapkan pembelaan.
Dan andai kasus ini dimenangkan oleh pihak Herman. Ini akan menjadi bukti lain betapa lemahnya perlindungan terhadap perempuan di negri ini. Pasti akan muncul berbagai aksi protes baik secara langsung maupun melalui sosial media.
__ADS_1