Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Nyanyian Lele


__ADS_3

Kembali ke saat Marvin baru saja selesai berhadapan dengan Daniel dan juga Richard.


"Kamu nggak apa-apa kan?"


Clarissa bertanya pada pria itu.


"Nggak sayang, harusnya aku yang nanya ke kamu kayak gitu. Kamu nggak apa-apa?"


"Nggak." jawab Clarissa singkat.


"Mmm, kalau boleh tau. Kamu ada masalah apa sama mereka?"


Clarissa mulai mencoba mengorek keterangan.


"Aku..."


Marvin sepertinya ragu untuk mengatakan hal tersebut pada Clarissa. Ia baru mengenal perempuan itu dan takut jika pandangannya nanti jadi berubah.


"Apa?" tanya Clarissa lagi.


"Adalah masalah bisnis." jawab Marvin.


"Aku pernah kerja di perusahaan Daniel."


Clarissa membuat sebuah pengakuan yang mengejutkan Marvin. Pria tersebut tak menyangka jika Clarissa juga mengenal salah satu dari musuhnya itu.


"Kamu kerja di sana?" tanya Marvin kemudian


"Iya, tapi nggak lama. Karena aku ngerasa kurang nyaman aja." lanjut Clarissa.


Marvin memperhatikan perempuan itu, sambil masih terus mengemudi.


"Dia itu nikahin anak di bawah umur."


Lagi-lagi Clarissa membuat pernyataan yang membuat Marvin kembali terkejut.


"Oh ya, siapa?. Richard atau Daniel?" tanya Marvin.


"Daniel." jawab Clarissa.


"Dan yang dia nikahi itu anaknya Richard." lanjut nya kemudian.


"What?"


Marvin benar-benar terperangah dibuatnya.


"Daniel udah tinggal bareng saat istrinya itu saat Istrinya masih under age."


"Kamu tau dari mana?"


"Seisi kantor dia juga udah tau soal itu. Anaknya Richard itu sugar baby nya Daniel."


"Sugar baby?"


"Yup, Richard aja ada koq sugar baby nya yang dia pacarin saat masih di bawah umur."


Marvin memperlambat laju kendaraanya.


"Gila." ujarnya kemudian.


"Emang gila. Mereka tuh sok suci di luar doang. Dalamnya mah sama aja, busuk-busuk juga. Bersembunyi di balik kekuasaan dan kekayaan. Dibelakang itu mereka mengekploitasi anak di bawah umur, untuk dijadikan sumber kesenangan."


"Ini, ini bisa di percaya kan?" Marvin memastikan.


"Percaya sama aku, aku nggak bohong. Nanti aku ceritakan semuanya secara detail." ucap Clarissa.


"Oke, malam ini kamu pulang ke tempat aku." ujar Marvin.


Clarissa pun menyetujui hal tersebut. Kini selain mendapatkan laki-laki kaya dan tampan, ia juga mendapat orang yang memiliki tujuan sama dengannya. Yakni menghancurkan Daniel sampai ke akar.


***

__ADS_1


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


Darriel menangis dengan sangat kencang, bahkan terdengar seperti bayi yang tengah dianiaya oleh seorang pengasuh kejam.


Saking kerasnya tangisan tersebut, Daniel yang baru pulang kerja pada suatu ketika langsung berlarian ke atas.


Ia khawatir Lea mengalami semacam sindrom baby blues atau depresi pospartum, sehingga ia menyiksa bayinya sendiri.


"Kenapa Lea?"


Daniel langsung bertanya ketika ia membuka pintu dan masuk.


"Ini mas si Darriel. Orang aku nyanyi buat dia, malah nangis." jawab Lea.


"Nyanyi?"


Daniel kembali bertanya seraya mendekat.


"Iya, nyanyi doang. Niru artis yang nyanyiin anaknya. Shaka anak ayah-bunda."


"Coba gimana nyanyinya?" pinta Daniel.


"Darriel anak papa-mama. Mamanya ikan Lele, papanya Aqua man. Punya trisula yang bisa membunuh banyak ikan."


Darriel kian menjerit.


"Gimana nggak nangis coba, kamu nyanyinya gitu. Dari lirik aja udah serem, mana nadanya kayak psikopat lagi."


Daniel menggendong Darriel sambil tertawa. Sedang muka Lea masih datar, seakan tak bersalah sedikitpun.


"Emang kayak psikopat gimana?" tanya perempuan itu bingung.


"Ya kayak psikopat nadanya, capek kali kamu. Sana istirahat dulu, bikin susu kek, es coklat gitu di bawah biar fresh. Darriel biar aku yang jaga."


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


Daniel berujar sambil masih tertawa.


"Darriel drama."


Lea berujar lalu meninggalkan kamar dan turun ke bawah. Ia pergi ke dapur dan minta dibuatkan es coklat susu pada asisten rumah tangga.


"Kenapa Darriel?" tanya Richard yang baru keluar dari kamarnya. Daniel pun keluar dari kamar sambil menggendong anaknya tersebut.


"Di nyayiin sama Lea, tapi nyanyi serem." jawab Daniel.


"Maksudnya?" tanya Richard.


Daniel lalu menceritakan kronologi kejadian, dan hal tersebut juga membuat Richard tertawa-tawa. Mereka berdua lalu sama-sama turun ke bawah.


"Lo udah makan?" tanya Richard lagi.


"Belum." jawab Daniel.


"Makan dulu gih, kalau nggak sini Darriel biar gue yang gendong." ujar Richard.


"Udah nggak apa-apa, lo duluan aja. Setiap hari lo belakangan terus kalau makan. Biarin gue yang gendong Darriel, abis itu gantian." ucap Daniel pada sang mertua.


"Oke.


Richard beralih ke meja makan, sedang Daniel menggendong Darriel ke area ruang keluarga. Tampak Lea tengah meminum es susu coklat disana.


"Udah diem mas dia?" tanya Lea pada Daniel.


"Nih, udah anteng." jawab Daniel.

__ADS_1


"Darriel."


Lea mendekat, Darriel melihat ke arah ibunya itu.


"Darriel anak ikan lele."


"Oeeeeek."


"Le, dia baru diem loh." Daniel sewot.


"Hahaha, drama kamu Darriel. Mentang-mentang ada papa pulang, jadi cengeng kamu."


"Oeeeeek."


"Nggak sayang, papa jagain kamu dari ikan lele ya."


Tangis Darriel mulai mereda, sedang Lea merasa menang berhasil mengganggu anaknya itu.


"Darriel drama." ujarnya sekali lagi.


Es susu coklatnya telah habis dan kini ia berencana untuk menambah lagi.


"Hokhoa."


Darriel bersuara.


"Ih ada suaranya." Daniel berujar seraya menatap anaknya itu. Kemudian Darriel terlihat menguap.


"Ngantuk ya kamu?. Bobok ya."


Darriel bersuara sekali lagi.


"Papa jagain Darriel dari ikan lele nakal. Jangan nangis lagi."


Perlahan Darriel pun mulai memejamkan matanya. Daniel mencium kening anaknya itu sambil membelai lembut kepala serta rambutnya.


"Darriel anak ikan lele."


Lea kembali muncul. Daniel tak kuasa menahan tawa, namun ia juga kesal.


"Le, dia baru mau tidur Le. Jahil banget kamu."


"Kamu juga sama, mas. Kayak gitulah rasanya ketika aku berjuang menidurkan Darriel, tapi kamu datang-datang gangguin dia sampe dia bangun."


"Iya, iya. Aku nggak akan begitu lagi koq." ujar Daniel.


Lea kemudian pergi ke luar, dan duduk disana sambil menunggu pedagang keliling lewat. Saat ini dirinya tengah ingin makan siomay abang-abang.


***


"Ini..."


Marsha menatap Ellio yang saat ini tengah tersenyum padanya. Di tangan pria itu ada sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin.


"Will you marry me?" pinta Ellio pada Marsha.


Mendengar semua itu pun, air mata Marsha seketika merebak di pelupuk mata.


"Ini sebagai simbolis aja. Saya akan tetap datang ke orang tua kamu dan bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi diantara kita. Kamu mau kan nikah sama saya?" tanya Ellio lagi.


Marsha mengangguk, sambil tersenyum dan menyeka air mata yang keburu mengalir. Kemudian Ellio meraih tangan perempuan itu dan memakaikan cincin di jari manisnya. Ellio mengusap air mata Marsha dengan tangan. Sesaat kemudian keduanya saling berpelukan.


***


Yang mau tanya-tanya seputar KEPENULISAN, Yuk follow Yara di


Instagram : @p_devyara


YouTube : Devyara


Kalian bisa DM pertanyaan, nanti akan dijawab satu persatu.

__ADS_1


__ADS_2