
Musik mengalun syahdu di kediaman Daniel. Saat itu ia dan Lea tampak saling berhadapan dan berdansa bersama.
Entah ada angin apa dan siapa yang memulai. Yang jelas kini mereka terlihat mesra di ruangan bawah. Dengan Darriel yang terbaring didalam ayunan elektrik sambil memperhatikan ayah dan ibunya.
"Tumben anak lele nggak julid matanya."
Lea melirik ke arah Darriel. Sementara Daniel kini tertawa.
"Lagi adem mungkin hatinya." ucap pria itu.
Mereka terus berdansa, sambil sesekali Daniel mencium bibir Lea.
"Inget nggak mas waktu pertama kali kita ketemu?" tanya Lea pada Daniel.
"Oh inget dong, kan pernah kita bahas kalau nggak salah. Mana mungkin aku melupakan ada ceker ayam di mobil aku yang mahal itu."
"Hahaha."
Lea tertawa, sementara Daniel masih setia dengan senyum manisnya.
"Ntar kalau Darriel gede dan nanya, papa sama mama gimana ketemunya. Pas kita cerita, dia ngakak kali ya mas?"
"Pastilah, di cengin nanti kita sama dia." jawab Daniel seraya melirik sekilas ke arah Darriel.
"Hal yang paling aku inget itu adalah, ketika kamu nyosor aku duluan di rumah sakit." ucap Daniel.
Wajah Lea pun mendadak memerah bak udang rebus.
"Ih mas, kamu mah." ujarnya sambil tersenyum dan menunduk.
"Nggak tahan ya sama kegantengan aku?" Daniel berujar kembali dengan kepedean tingkat dewa sambil terus memperhatikan wajah Lea.
"Ih, aku malu."
Lea membenamkan wajahnya di dada sang suami. Ia benar-benar malu diingatkan soal itu. Daniel tertawa kecil lalu mencium bibir Lea, dan dibalas oleh perempuan itu.
"Di lihat Darriel mas." ujar Lea menghentikan aktivitas, sebab terasa mulai panas.
Daniel lalu menarik sang istri agak menjauh, agar tak dilihat oleh bayi mereka. Kemudian mereka kembali berciuman.
"Kalau yang paling aku ingat, waktu mas pertama kali..."
Lea menjeda ucapan dengan pipi yang makin memerah.
"Pertama kali coba bikin Darriel?" Daniel melempar pertanyaan, Lea tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu kaget kan saat itu?" tanya Daniel.
"Iya, takut juga tapi gimana."
Daniel tertawa.
"Tapi enak kan?" godanya kemudian.
"Sakit sih di awal, tapi enak lama-lama."
Daniel menarik pinggang Lea dan merapatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya.
"Abis itu kamu malah yang minta terus?" Goda Daniel lagi.
"Iya, aku pikir karena enak aja. Eh nggak taunya ada Darriel di perut aku."
"Hahahaha."
__ADS_1
"Enak tapi berbahaya." ucap Daniel.
Lea tersenyum lalu mereka kembali berciuman, dan berpelukan.
"Mas."
"Hmm?"
"Aku sayang sama mas Daniel."
Daniel agak terdiam mendengar semua itu. Meskipun ia telah mengetahui perkara tersebut, namun mendengarnya secara langsung seakan mampu membuat hatinya menjadi lemah seketika. Lemah untuk melawan dan ingin terus menerima perkataan tersebut. Sebab ia merasa jiwanya begitu damai.
"Makasih ya, Le. Kamu udah mau sayang sama orang kayak aku."
Daniel menarik nafas panjang.
"Walaupun awalnya aku ngeselin." ujarnya sambil tertawa. Lea pun jadi ikut-ikutan tertawa. Suasana yang semula romantis malah menjadi lawak.
"Darriel tumben nggak nangis?" ujar Lea.
"Biasanya kalau bangun dan dicuekin lama kayak gini, dia langsung drama." lanjut perempuan itu.
Maka keduanya kini menilik ke arah Darriel. Ternyata bayi itu sudah tertidur lelap.
"Hmmm, pantes." ujar Daniel.
"Keduanya memperhatikan Darriel."
"Mukanya kamu banget ini mas, plek ketiplek. Harusnya dia mirip aku, kan anak cowok."
"Itu bibirnya kayak kamu, Le. Rambutnya juga, bentuk kupingnya kayak kamu." ujar Daniel.
"Iya sih." Lea mengamati look puteranya itu.
"Kamu lah." jawab Daniel sambil menahan senyum.
"Enak aja, aku nggak gitu. Kamu nih pasti." Lea menuduh sang suami.
"Aku mah baik, lembut, sopan santun sama orang."
"Apaan?. Orang ayah bilang kamu judes dulu di sekolah. Udah judes, jahil lagi."
Daniel terbahak, sejatinya banyak sifat Darriel yang mirip dengan dirinya. Salah satunya yakni suka menaruh curiga dan julid pada orang lain meski hanya dalam hati.
"Iya kan, kamu kan?" ujar Lea sekali lagi.
Daniel yang berusaha menahan senyum malah kini tertawa. Suara tawanya yang cukup kencang membangunkan Darriel. Seketika Darriel menatap dengan lirikan ke arah Lea.
"Koq ke mama lirikannya?. Papa noh yang ketawa." ujar Lea.
Darriel masih saja melirik ke arah Lea.
"Kalau sama papanya di beliin banget ya, heran deh." ucap Lea lagi.
Daniel pun kian tertawa.
"Sayang papa ya Darriel?" ujar Daniel.
"Kamu tuh sembilan bulan di perut mama tau nggak?" Lea berseloroh.
"Tapi kan papa yang capek dan keringetan menanam."
Lea memukul lengan Daniel dan Daniel pun kian tertawa-tawa.
__ADS_1
"Capek tapi enak ya kan. Aku capek, sakit, begah kadang."
"Iya sayang."
Daniel mencium kening Lea.
"Tapi kan aku sayang sama kamu. Kalau nggak sayang nggak mungkin aku bikin sampai hamil."
Lea tersenyum lalu mereka kembali berpelukan. Sementara Darriel kembali memejamkan mata.
***
"Aaak"
Marsha menyuapi Ellio. Dengan senang hati pria itu pun menerima hal tersebut.
"Makan yang banyak, biar cepet sembuh." ucap Marsha.
"Iya sayang, maaf ya ngerepotin." tukas Ellio.
Marsha tersenyum.
"Nggak apa-apa koq, kan kita udah suami-istri sekarang." ujarnya kemudian.
Ellio membelai kepala dan rambut Marsha.
"Kamu nggak mual lagi kan?" tanya pria itu. Ia memperhatikan perut Marsha yang sedikit membuncit.
"Nggak, baik-baik aja." jawab Marsha.
"Papa sama mama kamu gimana?" tanya Ellio lagi.
"Baik, mereka jadi sering nanyain kabar aku sekarang."
"Oh ya?"
Marsha mengangguk sambil tersenyum.
"Mama jadi sering nasehatin. Sha, kalau lagi hamil tuh gini, gini, gini. Kayak gitu-gitu lah."
Ellio terus tersenyum. Jujur ada rasa haru yang membuncah dihatinya kini. Ia berharap kedepannya semua akan baik-baik saja.
"Nih makan lagi." ucap Marsha seraya menyodorkan sendok berisi nasi. Maka Ellio pun kini makan dengan lebih semangat.
***
Grace tengah mengerjakan sesuatu di kantornya. Ia telah mendapat pekerjaan sejak Daniel membantunya waktu itu. Kini ia dan anaknya telah hidup tenang dan tinggal menata segala sesuatu, agar menjadi lebih baik lagi ke depannya.
"Grace, Edmund ingin ketemu anaknya."
Grace membaca pesan singkat tersebut. Itu adalah pesan dari pengacara Edmund. Grace sempat memiliki kontaknya, sebab pernah bertemu dan mengadakan mediasi. Saat pertama Grace menjebloskan laki-laki itu ke penjara.
"Buat apa?" tanya Grace didalam chat.
"Bukannya dia udah menolak anak ini sejak lahir, kenapa sekarang ditanyain lagi?"
"Dia udah berubah pikiran." jawab pengacara itu lagi.
"Telat."
Grace kembali menjawab. Ia mengetik kata-kata tersebut dengan penuh rasa sakit di hatinya. Ia ingat betapa Edmund dulu mengabaikan anak mereka sendiri.
"Anak saya nggak butuh bapak kayak dia." lanjutnya kemudian.
__ADS_1