
"Le, kamu hamil lagi?"
Daniel bertanya ketika ia tanpa sengaja menyentuh bagian perut Lea yang terasa membuncit. Saat mereka tengah tidur-tiduran di kamar.
"Hamil apaan, orang ini lemak." seloroh Lea seraya tertawa.
Maka Daniel pun ikut-ikutan tertawa.
"Kirain kamu melendung lagi tiba-tiba." ucap pria itu.
"Darriel aja belum gede mas. Trauma pas melahirkan waktu itu juga masih kerasa sampai sekarang." jawab Lea.
"Oh ya, kamu trauma emangnya?" tanya Daniel seraya mendekat dan mencium bibir istrinya itu.
"Hmm." jawab Lea seraya balas menikmati bibir sang suami.
"Kalau bikinnya trauma nggak?" tanya Daniel dengan tatapan yang nakal.
Kemudian tangan pria itu terasa menyentuh dan mengelus-elus bagian yang paling sensitif dari sang istri. Sehingga Lea pun jadi menggeliat dan mengeluarkan suara.
"Hmmh, ssshhh."
Daniel beranjak dari samping kemudian mengambil posisi menindih. Tak lama keduanya pun bergumul dalam kehangatan yang penuh cinta.
"Mau aku bikinin adiknya Darriel?" tanya Daniel.
"Hmm, mau mas."
"Ssshhh."
Maka permainan itu pun lalu terjadi. Mereka tidak tau jika di dalam kamarnya Darriel tidak sedang tidur. Ia fokus mengamati mainan gantung di atas box bayi, dan sesekali ia pun tertawa.
***
Di lain pihak, sama halnya dengan Daniel dan juga Lea. Ellio saat ini juga tengah melakukan adegan serupa dengan Marsha. Tentu Ellio sangat berhati-hati, sebab saat ini istrinya itu tengah mengandung bayi mereka.
"Pak, hmmh, ssshhh."
Marsha meracau demi menerima hujaman-hujaman nikmat dari sang suami. Sedang Ellio sendiri merasa miliknya seperti di pijat-pijat dengan hangat.
"Aaaaaah."
"Paaaaak."
Marsha mengerang ketika ****** ***** suaminya telah keluar dan memenuhi rahim. Ketika permainan telah berlangsung sekian lama.
Hal tersebut bertepatan pula pada berakhirnya sesi hubungan yang dilakukan Daniel dan juga Lea. Mereka semua sama-sama terhempas ke pelukan pasangan masing-masing.
"Uwawawa."
Darriel mendadak bersuara. Lea dan Daniel terkejut namun keduanya sama-sama tertawa. Meski nafas mereka kini masih tersengal.
"Udah bangun tuh anak." ujar Daniel.
"Iya, kita mandi dulu aja yuk mas." ajak Lea.
"Bentar lagi." jawab Daniel.
Mereka pun lalu beristirahat sejenak, kemudian pergi mandi dan berganti pakaian. Tak lama setelah itu mereka menyambangi kamar Darriel.
__ADS_1
"Delil, kamu nggak bobok?" tanya Lea seraya mendekat dan hendak menggendong bayi itu. Namun Darriel menolak. Tetapi ketika Daniel yang mengulurkan tangan, ia langsung antusias.
"Dasar anak papa." ujar Lea kemudian.
"Heheee."
Darriel tertawa.
"Mas laper lagi nggak?" tanya Lea.
"Nanti aja. Kamu laper emangnya?" tanya Daniel.
"Sayangnya iya." jawab Lea seraya tertawa.
"Aku mau bikin sphagetti aja, mas mau?"
"Kamu bikin agak banyak aja, nanti aku minta sedikit. Aku nggak laper-laper banget sih soalnya." ucap pria itu.
"Oh ya udah deh."
Lea kemudian mencium pipi Darriel. Setelah itu ia menuju ke dapur untuk memasak sphagetti.
***
Sama halnya dengan Ellio, saat ini dirinya dan Marsha telah selesai mandi. Mereka hendak makan namun masih berpelukan di ruang tengah.
"Sayang sama bapak." ucap Marsha dengan nada manja.
"Iya, aku juga sayang kamu." seloroh Ellio.
"Mau dipeluk agak lama." rengek Marsha lagi.
"Iya ini kita pelukan. Pokoknya walau bumi gonjang-ganjing sekalipun kita akan tetap kayak gini." ujar Ellio..
***
Lain Daniel dan Ellio, lain pula Richard. Pria itu memang tak sedang melakukan hubungan yang memberi kenikmatan. Namun saat ini ia tengah membayangkan diri berdua dengan Nadya.
Mereka berjalan di suatu tempat sambil bergandengan tangan dengan mesra. Berbincang mengenai masa depan dan kehidupan mereka kelak.
Ia jadi terlihat senyum-senyum sendiri. Tentu saja hal tersebut mengundang perhatian Lita dan juga para asisten rumah tangga yang lainnya. Saat ini mereka semua tengah berkumpul di suatu titik.
"Pak Richard kenapa dah?" tanya Farida pada Lita.
"Biasa, lagi kasmaran. Kayak nggak pernah ngerasain aja lo." ucap Lita.
Mereka terus memperhatikan majikan mereka tersebut.
"Nih biasanya nih, kalau lagi begini. Kita mau salah sekalipun, nggak bakal dia marah. Gue jamin." ujar asisten rumah tangga yang lain.
"Ember." timpal yang lainnya lagi.
"Lita."
Tiba-tiba Richard memanggil.
"Iya pak." jawab Lita kemudian mendekat.
"Tuh ada suara tukang bakso lewat. Kalian nggak pada mau beli apa?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Bakso apa kang nasgor keliling itu pak?" Lita balik bertanya. Sebab suara tingtingnya terdengar sama.
"Nggak tau, coba kamu cek. Kalian mau makan apa terserah malam ini. Apapun pedagang yang lewat panggil sama gerobak-gerobaknya." ujar Richard.
Para asisten rumah tangga pun kini sumringah. Tak lama dihalaman rumah sudah ada gerobak nasi goreng dan bakso. Mereka pun lalu memesan dan makan sesuai pilihan.
***
"Ma, cucunya om Richard lucu banget ya."
Arkana yang malam itu ditemani Nadya untuk tidur, berujar pada sang ibu.
"Emang Arka ketemu sama dia?" tanya Nadya kemudian.
"Iya, pas tadi makan sama om Richard. Ketemu sama anak dan cucunya di tempat makan." jawab Arkana.
"Emang tadi kalian makan apa?" tanya Nadya lagi.
"Makan ayam krispy sama nasi, kentang goreng, terus sama minum es merah deh."
"Oh, banyak nggak tadi makanya?" Lagi-lagi Nadya bertanya.
"Banyak dong. Mau nambah tapi malu sama om Richard." seloroh Arkana seraya tertawa.
"Kamu makannya banyak ya." ucap Nadya kemudian.
Maka ia pun ikut-ikutan tertawa.
"Oh ya ma. Kalau mama nanti nikah sama om Richard, cucunya om Richard panggil Arka om dong?"
Arkana membuat Nadya agak terdiam dan serba salah. Saat ini jangankan menikah lagi, mengurus perceraian saja baru dimulai.
"Iya kan ma?" Arkana meminta jawaban.
"Iya dong sayang. Panggilnya om ke kamu." jawab Nadya.
"Kapan mama nikah sama om Richard?"
Lagi-lagi pertanyaan Arkana tersebut membuat Nadya terdiam dan kebingungan. Tetapi ia berusaha untuk terus memberikan respon.
"Pokoknya nanti pasti terjadi, tapi nggak sekarang." ujar wanita itu.
"Kenapa nggak?" tanya Arkana heran.
Nadya makin gelagapan. Ia berpikir keras untuk mencari jawaban atas pertanyaan sang anak.
"Ya, karena kan menikah harus pesan baju dulu. Bikin baju itu lama loh prosesnya, banyak yang ngantri soalnya. Udah gitu mesti cari wedding plannernya dulu. Biar acaranya lancar, ramai, dan menarik." jawab Nadya.
"Oh gitu."
Arkana manggut-manggut seolah mengerti.
"Arka tidur ya, udah malem loh ini." ujar Nadya.
Arkana pun mengangguk lalu memejamkan matanya.
"Jangan pergi dulu sebelum Arka tidur ya ma."
"Iya sayang."
__ADS_1
Nadya menyelimuti sang anak dan membiarkan hingga anak itu terlelap dengan sendirinya.
***