
"Mas ini apa lagi?"
Lea bengong melihat tumpukan kado yang menggunung di lantai bawah penthouse Daniel. Tepatnya dekat kamar anak mereka.
"Dari kantor aku, Richard, sama Ellio." ujar Daniel seraya turut memandangi tumpukan kado tersebut.
"Sebanyak ini mas?" Lea yang masih tercengang itu pun bertanya.
"Iya." jawab Daniel.
Lea menggaruk-garuk kepalanya, namun ternyata menggaruk kepala tak memberi solusi apapun.
"Kepala aku muter mas ngeliatnya." ujar Lea.
"Sama Le, aku juga." timpal Daniel.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Tiba-tiba Darriel bangun. Dengan sigap Daniel langsung berlarian ke kamar anaknya itu.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Ia makin kejar menangis.
"Kenapa sayang?" tanya nya sambil memeriksa popok bayi itu. Ternyata cukup penuh.
"Pipis mas?" Lea masuk dan menghampiri.
"Iya, ini mau aku gantiin." ujar Daniel.
"Mau aku bantu mas?" tanya Lea.
"Nggak usah, biar aku aja. Oh ya, ASI ini baru?" tanya Daniel pada Lea. Ia melihat botol ASI yang terisi penuh di botol.
"Baru mas, baru beberapa menit lalu. Sakit soalnya. Dia maunya sebelah kiri doang." jawab Lea.
Daniel tersenyum.
"Ya udah, ntar biar aku yang kasih susu." ujarnya kemudian.
"Oeeeeek."
"Iya, papa disini sama Darriel ya. Jangan nangis lagi."
Daniel tersenyum pada anaknya, sementara bayi Darriel yang belum bisa memberi respon itu hanya diam dan memperhatikan sang ayah.
"Mas mau minum atau makan?" tanya Lea.
"Emangnya ada apa?" Daniel balik bertanya.
"Aku masak koq mas tadi."
"Serius?"
"Serius."
__ADS_1
"Makasih ya. Tapi lain kali kalau emang capek, nggak usah masak dulu, beli aja. Kamu kan belum pulih banget, mana nyusuin Darriel lagi."
"Iya mas." jawab Lea.
"Aku siapin makan ya." ujarnya lagi.
"Iya, makasih ya sayang." ucap Daniel.
"Makasih juga udah ngurusin Darriel." ujar Lea.
Keduanya sama-sama tersenyum, kemudian Lea keluar dan menyiapkan makan bagi sang suami. Sedang Daniel yang sudah selesai membersihkan Darriel dan mengganti popoknya, kini menggendong bayi itu dan membawanya duduk di sebuah kursi.
"Minum susu dulu ya." ujarnya kemudian.
Darriel masih bengong menatap sang ayah.
"Koq bengong ngeliatin papa?. Papa ganteng ya?" tukas Daniel sambil tertawa.
"Oeeeeek."
"Oh iya, iya. Ini susunya, nih."
Daniel memasukkan ujung botol susu ke mulut bayi itu. Seketika Darriel pun langsung menghisapnya dengan kuat.
"Waduh, abis membangun jembatan ya nak. Haus banget kayaknya."
Daniel berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Sementara sang anak terus minum susu dengan penuh semangat.
***
"Dan, lo dimana?"
"Di kantor gue, kenapa bro?" jawab Daniel.
"Buruan ke sekolahnya Darriel sekarang, anak lo bikin ulah lagi."
"Apa?. Lo tau dari mana?"
"Dia barusan chat gue kayak gini."
Ellio memforward chat dari Darriel ke laman WhatsApp milik Daniel.
"Om Ellio, tolongin dong. Darriel disuruh bawa orang tua, Darriel takut ngadu ke papa. Bulan kemaren Darriel tawuran, papa nyita handphone dan laptop gaming Darriel. Tolong ya om El, please!"
"Elu sih suka nolongin dia." Daniel kembali berujar di telpon, usai membaca pesan tersebut.
"Ye, kan tadinya gue kasian liat dia. Tau kan mukanya yang very good looking, polos kayak anak baik-baik itu. Selalu berhasil bikin gue jadi nggak tega liat dia kesusahan." jawab Ellio.
"Udah gue bilang, dia itu emang look-nya bagus parah. Tapi dalamnya uler, awas aja tuh anak."
Daniel berujar dengan kesal. Ia lalu meraih kunci mobil dan pergi meninggalkan kantor. Ia menuju ke sekolah Darriel. Sesampainya disana Darriel kaget, sebab yang datang ternyata bukan Ellio melainkan Daniel.
Darriel yang semula petantang-petenteng di hadapan guru akhirnya menunduk. Sebab ia takut pada ayahnya itu.
"Pak Daniel, ini anaknya udah nggak bisa dibilangin. Nakalnya luar biasa. Dia ngajakin seluruh anak kelas satu kabur di saat guru rapat."
Daniel tak bisa membela anaknya, ia terus saja mendengarkan guru BP yang mengoceh panjang lebar. Pada akhirnya Daniel jua lah yang meminta maaf atas kelakuan remaja berusia lima belas tahun tersebut.
"Berapa kali papa bilang, kurang-kurangin kelakuan kamu yang luar biasa itu. Papa bosen dengar kamu dikit-dikit bikin kasus gini, mau jadi apa kamu?"
__ADS_1
Daniel mengoceh dengan nada sangat marah, ketika mobil sudah hampir dekat dengan rumah. Setelah tadi di jalan mereka sama-sama saling diam, lantaran Darriel tak berani dan Daniel sendiri kesal pada anaknya itu.
"Orang emang nggak ada kegiatan, ngapain bengong doang di sekolah. Mending pulang ke rumah, bisa main game online. Jalan-jalan di metaverse."
"Ya kalau emang belum jam nya pulang, ngapain pulang. Hidup tuh nggak cuma soal apa yang kamu pikirkan aja. Hidup itu ada aturan, jangan egois. Nggak bener."
Daniel menghentikan mobil tepat di depan rumah. Kini mereka tak lagi tinggal di penthouse, melainkan di rumah Daniel yang satunya. Darriel keluar dan,
"Braaak."
Ia membanting pintu mobil, Daniel yang masih emosi menyusul anaknya itu.
"Gitu caranya kamu sama orang tua ya."
Darriel tak menjawab. Ia terus berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke atas.
"Braaak."
Lagi-lagi terdengar suara pintu yang dibanting, kali ini pintu kamar.
"Papa nggak akan kasih kamu uang jajan selama dua bulan. Denger nggak kamu Darriel?"
"Mas, mas."
Lea membangunkan Daniel dari tidurnya yang lelap. Daniel bingung dan melihat ke sekitar.
"Mana Darriel." ujarnya dengan nada marah.
"Nggak bisa di bilangin itu anak." lanjutnya kemudian.
Lea tertawa, lalu melirik Darriel yang masih berada dalam dekapan Daniel. Seketika Daniel pun tersadar jika barusan ia sedang bermimpi.
Ia menghela nafas panjang, lalu tertawa kecil. Dilihatnya Darriel yang masih tertidur pulas dan terlihat seperti ulat kecil.
"Mas mimpi ya?" tanya Lea kemudian.
"Iya." Daniel kembali menarik nafas.
"Ngeselin pokoknya." lanjut pria itu lagi.
Ia lalu beranjak ke arah box bayi. Dan sebelum meletakkan Darriel ke dalam tempat tersebut, ia terlebih dahulu mencium bayinya itu dengan lembut.
"Jadi anak baik ya, jangan bikin sebel papa. I love you."
Ia memperhatikan anaknya itu sejenak, takut kalau-kalau ia bangun. Namun setelah memastikan semuanya aman terkendali, ia dan Lea segera keluar.
"Makan dulu yuk mas." ajak Lea.
"Iya." jawab Daniel.
"Sini jasnya lepas dulu."
Lea bantu melepaskan jas sang suami.
"Makasih ya." ujar Daniel.
"Sama-sama." jawab Lea seraya meletakkan jas tersebut di atas sofa.
"Udah kena susu Darriel tuh." tukas Daniel seraya menggulung kemejanya, lalu menarik salah satu kursi.
__ADS_1
Lea tertawa, lalu ia pun menarik kursi dan duduk di hadapan Daniel.