Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Masih Memarahi Richard


__ADS_3

"Yah, orang diet itu juga ada aturannya. Jangan ngasal."


Lea memulai ocehannya terhadap Richard. Tampak Richard terlihat mulai gusar, terutama pada Daniel dan Ellio yang tertawa namun tak bersuara di belakang Lea. Ingin rasanya Richard melempar kedua temannya itu dengan tabung oksigen.


"Lea, ayah tau aturannya. Ayah cuma mengurangi sedikit koq, dari porsi yang biasa."


"Mengurangi juga diliat dong yah, ayah butuh energi berapa sehari, dihabiskan buat apa aja. Kalau kalori yang masuk dan energi yang di keluarkan nggak seimbang, ya gini deh jadinya. Untung nggak kenapa-kenapa."


"Dengerin tuh." celetuk Ellio.


Richard menarik nafas, menahan kesal pada sahabatnya itu. Sementara Lea terus saja mengoceh panjang lebar kali tinggi.


***


Sore hari sepulang kerja, Marsha yang tempo hari mendapatkan bunga dari kantor Daniel itu pun mulai mengerjakan craft yang ingin ia buat.


Ia memanfaatkan bunga tersebut untuk membuat flower dome ala bunga beauty and the beast. Kebetulan bunga tersebut ternyata adalah bunga yang sudah di awetkan. Jadi ia tak perlu mengeringkannya lagi.


Marsha mulai mengambil kaca dome, gunting, lem tembak dan berbagai peralatan lainnya termasuk sebuah lampu LED. Karena nantinya bunga tersebut juga akan dihiasi lampu di bagian dalam.


Marsha membongkar buket bunga yang ada dihadapannya. Namun kemudian ia menemukan semacam amplop kecil di bagian dalam. Mirip seperti amplop yang biasa digunakan untuk angpao di hari raya Imlek.


Marsha diam, di raihnya amplop tersebut kemudian ia buka. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada potongan kuku, rambut, bunga kantil dan juga seperti dupa yang di patah jadi tiga bagian.


Marsha makin terdiam, kemudian pikirannya menjalar kemana-mana. Seketika perempuan muda itu pun terkejut. Pasalnya terlintas di benaknya, jika ini adalah semacam guna-guna.


"Ini buat pak Daniel, berarti ada yang mau mengguna-guna dia dong?" gumamnya dalam hati.


"Hah?"


Marsha menutup mulutnya karena lagi-lagi ia kaget. Jika memang hal tersebut benar, lalu siapa pelakunya dan untuk apa. Apakah menyangkut masalah bisnis. Atau...?


"Ah."


Marsha kemudian tertawa. Dukun mana yang sakti di jaman ini, pikirnya. Kebanyakan dukun sekarang adalah dukun palsu, yang menghalalkan segala cara demi uang.


Marsha lalu membuang amplop berserta isinya tersebut ke dalam asbak rokok dan membakarnya. Kebetulan ia adalah seorang perokok yang cukup aktif, jadi selalu ada asbak di dekatnya. Tak lama kemudian, ia mulai melanjutkan pekerjaan dalam membuat kerajinan tangan.


Malam hari, Marsha baru menyadari jika bahan makanan yang ia miliki ternyata sudah habis. Maka ia pun lalu pergi ke sebuah mini market yang cukup jauh dari rumahnya. Karena yang terdekat hanya itu saja.


Marsha membeli berbagai keperluan, ia juga membeli satu cup kopi dan sosis bakar. Usai membayar ia lalu duduk di kursi dan meja yang tersedia di sisi kanan minimarket tersebut. Ia minum dan makan, sambil menscroll toko online dan sosial media tentunya.


"Gue yakin banget hidupnya Daniel sama kandungan si Lea udah mulai bermasalah tuh sekarang."

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara yang sepertinya Marsha kenal. Marsha yang berada di pojokan dan tertutup tumpukan kardus berisi air mineral tersebut, menongolkan sedikit kepalanya.


Ternyata benar apa yang ia duga, itu adalah suara Clarissa. Mantan pacar sekaligus karyawan Daniel tersebut datang bersama kedua temannya. Mereka juga duduk sambil membawa cup berisi kopi.


"Pasti dong, Ris. Dukun yang gue rekomendasikan itu bagus punya." ujar salah satu teman Clarissa dengan penuh percaya diri.


Marsha mengerutkan kening, ia mulai curiga pada sesuatu.


"Bagus juga ide lo masukin itu jimat di bunga abadi." celetuk salah seorang temannya yang lain.


"Degh."


Jantung Marsha pun berdetak. Berarti perempuan inilah yang mengirim bunga tersebut.


"Ntar gue mau ke paranormal itu lagi." ujar Clarissa.


"Oh pasti dong, dengan senang hati kita temenin."


Kedua teman Clarissa sangat bersemangat. Karena itu artinya mereka akan menipu gadis itu lagi dan mendapatkan uang. Tiba-tiba di benak Marsha muncul sesuatu yang jahat, lalu gadis itu pun tersenyum penuh racun.


Waktu berlalu, Clarissa telah pulang ke kediamannya. Begitupula dengan Marsha. Namun Marsha kini bertanya pada salah seroang karyawan, di divisi tempat dimana dulu Clarissa bekerja.


"Lo masih punya nomor Clarissa nggak?" tanya nya pada karyawan tersebut via WhatsApp.


"Ada buat apa emangnya?" balas karyawan tersebut tak lama setelahnya.


Marsha berdusta, namun itu merupakan jalan pintas agar semuanya menjadi mudah. Sebab tak lama berselang, karyawan tersebut memberikan nomor Clarissa pada Marsha.


Gadis itu makin tersenyum penuh maksud. Diraihnya handphone yang satu lagi, lalu ia catat dan save nomor Clarissa disana. Tak lama Marsha pun mengirim sebuah pesan ke nomor Clarissa.


"Anda butuh layanan paranormal hebat?. Untuk urusan percintaan, kekayaan dan dendam. Semua bisa di selesaikan oleh Ki Joko Mangkulangit. Silahkan balas pesan ini dengan mengetik kata "Yes", jika anda berminat. Tarif bisa di negosiasikan."


Marsha menahan senyumnya, saat pesan tersebut terkirim. Namun tak lama kemudian, terdengar notifikasi balasan.


"Ting, tong."


Marsha membuka dan melihat balasan pesan tersebut.


"Yes." Begitulah bunyi jawabannya.


Ia pun lalu terkekeh-kekeh.


"Hahaha, bego sumpah." ujarnya sambil masih tertawa-tawa.

__ADS_1


Marsha pun kian menggila, gadis tersebut lalu menelpon salah seorang temannya.


"Jeffry."


"Woi, apaan Sha?"


"Mau duit nggak?" tanya Marsha pada Jeffry.


"Duit apaan, duit monopoli?" Jeffry berseloroh.


Marsha lalu menceritakan rencananya untuk mengerjai Clarissa. Seketika keduanya pun tertawa-tawa.


"Masih ada aja anjir, orang yang percaya gituan." ujar Jeffry.


"Masih, tuh buktinya ada." tukas Marsha.


"Hahaha." Jeffry terus tertawa-tawa.


"Mau nggak Jeff?" tanya Marsha lagi.


"Lumayan loh, duit." lanjutnya kemudian.


"Gue sih ayo aja, lo aturlah tuh si calon customer. Masalah tempat dan siapa yang bisa cosplay jadi dukun, pokoknya itu urusan gue."


"Ok deal ya berarti."


"Sip."


Keduanya kembali tertawa-tawa dan lanjut berbincang.


***


Sementara di rumah sakit, Lea tengah menyuapi Richard makan. Kali ini tak lagi pakai mengomel. Karena seharian ini Richard sudah mendengar ocehan dari tiga orang sekaligus. Lea, Daniel dan juga Ellio.


"Nih yah, dikit lagi." ujar Lea, seraya menyodorkan satu sendok lagi bubur kacang hijau pada ayahnya.


"Udah Lea, ayah tuh nggak bisa makan manis banyak-banyak. Ayah nggak suka."


Lea diam dan menatap mata Richard dalam-dalam. Begitupula dengan Daniel dan juga Ellio.


"Ok." jawab Richard kemudian.


Pria tampan itu menyerah pada intimidasi yang diberikan padanya. Dan ia menerima suapan terakhir tersebut, meski rasanya seperti ingin muntah.

__ADS_1


"Nah gitu dong." ujar Lea seraya tersenyum.


Richard kemudian buru-buru meminum air putih sampai habis. Hingga rasa manis yang tersisa didalam mulutnya berangsur hilang.


__ADS_2