Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Syok


__ADS_3

Richard mengajak Lea untuk makan di luar, Lea menurut saja. Meski ia sangat ingin untuk segera tiba dirumah. Ia ingin mengakses mata kuliah dan juga menghubungi Daniel via chat atau telpon. Lea masih merindukan suaminya itu, rasanya pertemuan tadi masih sangat kurang sekali.


"Lea, ayah mau tanya sama kamu." ujar Richard seraya memperhatikan puterinya yang tengah makan.


"Tanya apa, yah?"


Lea berujar seraya menyuap makanannya. Ia selalu merasa sangat lapar semenjak hamil.


"Kamu yakin, mau melanjutkan kehamilan kamu?"


Lea memperlambat gerakan makannya dan tampak membuang pandangan ke arah piring.


"Bisa nggak yah, kita nggak usah membicarakan hal ini lagi?. Aku kehilangan selera makan mendadak loh, ayah tega liat aku begini?"


"Bukan gitu, ayah tuh kepikiran terus sama kamu. Ayah takut kamu nggak siap, kamu itu masih muda Lea."


Kali ini Lea menghela nafas.


"Aku bakalan meneruskan kehamilan ini, dan aku nggak mau bercerai dari mas Daniel. Terserah ayah mau suka atau nggak, yang jelas aku sayang sama dia."


"Lea."


"Yah, aku mau makan. Tolong jangan terus menurunkan selera makan aku."


Lea menyuap makanannya dengan sendok penuh. Richard pun akhirnya tak mampu berkata apa-apa lagi.


***


Ketika tiba di rumah, Lea buru-buru masuk ke kamar dan mengunci pintu. Segera ia berlarian ke arah laci, tempat dimana ia menyimpan handphone dan juga MacBook pemberian sang suami.


Tiba-tiba langit Lea seakan runtuh, pasalnya kedua benda itu sudah tak ada di sana lagi. Jantung perempuan itu pun berdetak sangat cepat, dan seketika tubuhnya menjadi lemas. Pastilah maid yang bertugas hari ini telah menemukan benda tersebut, saat mereka tengah membersihkan kamar.


Mendadak kepala Lea menjadi runyam, apalagi tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


"Tok, tok, tok."


Jantung Lea seakan berhenti berdetak, pastilah itu Richard yang akan segera menghakimi dirinya.


"Tok, tok, tok."


"Lea."


"Tok, tok, tok."


Keraguan menyeruak, Lea seakan terpaku ditempat dimana ia berdiri kini.


"Lea."


"Lea buka...!"


Lea berjalan perlahan ke arah pintu, kemudian membukanya.


"Lea, kamu kenapa?" tanya Richard heran.


Lea mengangkat wajahnya dan menatap pria itu.


"Koq muka kamu pucat gitu?" tanya Richard lagi. Ada nada cemas dalam pertanyaan yang ia lontarkan.

__ADS_1


Lea benar-benar bingung kali ini. Sebab ia sudah mengira jika Richard akan marah pada dirinya. Tetapi sampai detik ini, Richard belum menunjukkan tanda-tanda akan hal tersebut.


"Lea?"


"Mm, aku kecapean yah." ujarnya berkilah.


"Ya udah istirahat, ayah kesini cuma mau nanya. Kamu mau makan apa lagi?"


"Nggak deh yah, mau tidur." ujar Lea.


"Ya udah, istirahat ya." Richard membelai kepala dan rambut Lea.


Perempuan itu pun mengangguk, Richard kembali menutup pintu kamar dan Lea kembali menguncinya dari dalam.


Ia kemudian beralih ke dalam dan duduk di pinggiran tempat tidur. Ia benar-benar resah kali ini, siapa yang telah mengambil kedua perangkat miliknya tersebut. Namun kemudian Lea teringat akan sesuatu.


Ya, perempuan itu bergegas menuju lemari dinding yang ada di kamar mandi. Ia kemudian bernafas lega, karena menemukan dua perangkat tersebut di sana. Ia sendirilah yang memindahkannya ke tempat itu, dan ia juga yang melupakan.


"Oh, God."


Lea terduduk lemas pada lantai kamar mandi. Ia bersyukur kedua benda itu ternyata bukan diketemukan oleh maid.


***


"Kamu tuh, Le. Untung nggak pingsan kamu, kamu kan nggak boleh cemas, capek apalagi stress."


Daniel berbicara pada Lea saat mereka akhirnya video call. Hal tersebut dilakukan, ketika Lea sudah mengikuti perkuliahan secara online.


"Abis lupa, mas. Aku nggak inget kalau aku sendiri yang mindahin MacBook sama handphone itu, ke dalam lemari yang ada di kamar mandi. Disini kan banyak handuk, jadi nggak keliatan."


Daniel menghela nafas, dan saling bersitatap dengan Lea. Tak lama kemudian, keduanya sama-sama tertawa.


"Iya, sini aku peluk." ujar Daniel.


Lea pun tersenyum.


"Pengen di elus kayak tadi, perutnya. Pengen berdua sama mas sampe pagi."


Daniel tersenyum, namun ada kesedihan di kedua mata pria itu. Kesedihan yang bahkan tak bisa ia sembunyikan.


"Sabar ya aku janji secepatnya."


"Oh ya mas, ayah terus-terusan aku singgung tau." ujar Lea setengah tertawa.


"Oh ya, singgung soal apa?" tanya Daniel.


Lea pun mulai menceritakan, jika dirinya telah beberapa kali menyerang mental Richard dengan ucapan. Daniel sendiri tak menyangka jika Lea melakukan hal tersebut.


"For your information nih ya, Richard itu emang paling nggak bisa di gituin. Aku sama Ellio dari dulu, kalau kesel sama dia, pasti kita begitu. Karena dia nggak mungkin dihadapi secara terang-terangan, jadi harus mentalnya yang diserang."


Kali ini Lea tertawa.


"Aku sebenarnya bukan mau bermaksud kurang ajar sih, mas. Biar bagaimanapun dia orang tua aku. Tapi ya gimana lagi, kadang aku terdesak sama omongannya dia. Apalagi saat dia nyuruh aku untuk aborsi."


"What?"


Daniel terkejut mendengar hal tersebut, Lea keceplosan kali ini.

__ADS_1


"Richard bilang itu ke kamu?" tanya nya kemudian, Lea kini bisa mendengar nafas Daniel yang mendadak tak teratur.


"I, iya mas tapi."


"Brengsek, aku mau ketemu dia sekarang. Aku akan buat perhitungan sama dia."


Daniel benar-benar marah kali ini.


"Mas, dengerin dulu."


"Dengerin apa, Lea?. Ini menyangkut keselamatan kamu dan anak kita. Kamu pikir aborsi itu nggak beresiko Kematian?"


"Mas, aku nggak akan mau. Aku pasti ngelawan."


"Tapi Lea, Richard harus diberi pelajaran. Ini udah sangat-sangat kelewatan."


Daniel beranjak dan mencari kunci mobilnya, kebetulan panggilan tersebut ia loud speaker dari awal. Karena Daniel gak bisa menemukan headset di dekatnya.


"Mas, please. Nanti kalau mas marah-marah kesini, belum tentu mas bisa bawa aku pulang. Terus bakalan ketahuan kalau aku komunikasi sama mas."


"Aku bisa bawa polisi kesana." Daniel mengambil jaket dan memakai jaket tersebut.


"Mas, aku mohon. Aku nggak mau ayah memutarbalikkan fakta. Soal mas yang pernah membawa aku, saat aku masih dibawah umur. Kalau mas yang kena jerat gimana?"


"Aku nggak peduli."


"Seenggaknya peduli sama aku."


Lea berkata dengan penuh penekanan, bahkan kini ia menangis.


"Bisa nggak sih, mas. Kamu tuh tenang, jangan kayak gini. Aku, aku...."


Lea menarik nafas dan tangisnya kian pecah. Daniel pun jadi tidak tega pada istrinya itu.


"Jangan ada keributan dulu, bisa nggak sih mas?. Aku capek."


Daniel menghela nafas dan kembali mendekat ke arah handphone.


"Maafin aku, Lea. Aku bener-bener emosi." ujarnya seraya mengatur nafas.


Lea makin menangis, bahkan terdengar begitu sedih.


"Maafin aku, aku takut kalau sampai Richard memaksa kamu untuk aborsi."


Lea tak menjawab dan terus saja menangis. Saat ini ia ingin sekali dipeluk, entah oleh siapapun itu.


"Maafin aku, Le. Please."


Lea mengusap air matanya.


"Rasanya aku mau mati aja kalau kayak gini, mas."


"Hei, ngomong apa sih kamu?"


"Aku capek, mas."


Lea kembali menangis, Daniel benar-benar menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Maafin aku, aku minta maaf. Aku mohon jangan nangis lagi, aku salah."


Lea kembali menyeka air matanya dan mengangguk. Untuk selanjutnya Daniel berupaya, supaya istrinya itu kembali tenang.


__ADS_2