Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Party


__ADS_3

Seorang pengusaha kaya-raya, lagi-lagi mengadakan sebuah party. Di sebuah resort mewah pinggir pantai, yang menjadi kawasan tempat para sultan menginvestasikan uangnya di bidang properti.


Tempat itu cukup terkenal, dengan pemandangan indah dan menghadap langsung ke bibir pantai. Ada juga beberapa perumahan di sana, rata-rata pemiliknya memiliki yacht atau kapal pesiar berukuran kecil.


Pesta ini adalah pesta yang sering di gelar. Si empunya acara biasanya merasa bosan pada kehidupannya, yang hanya meliputi seputar bekerja, meraih achievement, bekerja dan meraih achievement.


Yang di undang tentu saja para bos pemilik perusahaan beserta sekretaris, dan beberapa jajaran teratas. Boleh juga membawa pasangan kalau mau. Namun rata-rata yang datang, tak membawa pasangan sah mereka. Lantaran biasanya si penyelenggara pesta telah menyiapkan para gadis, yang bisa di ajak bersenang-senang.


Daniel tak mengajak Clarissa, ia pergi dengan para petinggi perusahaannya yang lain. Namun gadis itu entah bagaimana ia bisa ada di sana. Sepertinya ia mendaftarkan diri sebagai ladies pemanis, pada si pemilik acara. Sebab ia terlihat memakai pakaian seragam, sama seperti gadis-gadis pemanis yang tersedia.


"Eh, itu kan bos Daniel."


Beberapa wanita yang mengenal Daniel pun berbisik, disaat pria itu tengah mengambil minuman pada nampan seorang pelayan. Ia kini tengah menunggu kedatangan Ellio, sementara Richard ada di sudut lain.


"Bener nggak sih gosipnya, dia menerapkan syarat supaya calon karyawannya di tidurin dulu?" tanya salah seorang dari mereka.


"Hush, gosip aja lo." Wanita lainnya menegur.


"Ya kan gosip dari para karyawannya sendiri." ujar si pembuka gosip.


"Emang beneran ada?"


"Lah, emang lo nggak tau?"


"Nggak."


"Ivanka, lo beneran nggak tau gosipnya?" Salah seorang gadis lain yang semula diam, kini ikutan berujar.


"Nggak." jawab Ivanka.


Dari tempatnya berdiri, Daniel bisa tau jika ia tengah di bicarakan. Meski tak begitu terdengar jelas di telinga. Namun gestur dan mata mereka selalu melihat ke arah Daniel, ketika berbicara.


"Feni tuh yang tau persis. Ceritain, fen...!"


Feni mereguk minumannya dan menatap ke arah Daniel sekilas, sebelum akhirnya melihat ke arah Ivanka dan menceritakan semuanya.


"Lo dapat gosip itu dari mana?" tanya Ivanka.

__ADS_1


"Dari salah satu karyawan kantornya." jawab Feni.


"Ah masa sih, nggak percaya gue." lanjut Ivanka lagi.


"Ye, bos besar kayak Daniel mah bisa aja nidurin cewek yang dia mau." celetuk Mira.


"Justru karena dia itu bos, mustahil dia sampe segitunya. Mau nidurin cewek aja, sampe dibikin syarat untuk masuk kerja segala. Emangnya dia nggak sanggup cari cewek, untuk sekedar di tidurin doang?. Orang kayak dia mah tinggal nongkrong aja di klub malam atau dimana. Bukan dia yang nyamperin, cewek yang malah nyamperin dia." ujar Ivanka membela Daniel.


"Iya juga sih." Vivi yang membuka pembicaraan di awal, ikut berujar.


Mira dan dua orang lainnya saling bertatapan, mereka tetap tak sepaham dengan Ivanka. Sedang Feni, berada dalam bimbang.


"Hayo, gosipin apaan sih?" Gina muncul dan kepo akan apa yang dibicarakan oleh teman-temannya."


"Itu loh gosipnya bos Daniel." ujar Feni.


"Lah kan korbannya itu tuh." ujarnya seraya melirik ke arah Clarissa.


"Yang mana?" tanya mereka serentak.


"Noh yang pake seragam sama dengan para ladies, tapi yang berdirinya sebelah kiri meja prasmanan. Yang rambutnya pirang."


"Itu ceweknya?" tanya Vivi.


"Iya, namanya Clarissa kalau nggak salah."


"Namanya sih gue tau, tapi nggak tau orangnya." ujar Vivi.


"B aja, anjir." ujar Ivanka.


"Ember." jawab Gina.


"Gue sih nggak yakin sama gosip yang dia sebarkan. Masa iya Daniel sampe mengajukan syarat bobo bareng, untuk masuk ke perusahaannya. Cewek kayak gitu tanpa di minta juga, pasti mau ditiduri." lanjutnya lagi.


Ia, dan Ivanka serta Vivi tertawa-tawa. Sementara yang lainnya diam sambil memperhatikan Clarissa.


***

__ADS_1


"Hai Dan, gimana rasanya. Perlahan nama baik kamu tercoreng."


Clarissa berujar, ketika Daniel melangkah ke suatu sudut dan mencoba menikmati pantai.


"Ssstt, liat tuh."


Para wanita yang tadi menggosipkan Daniel pun mengintip. Clarissa tak tahu jika ada sekumpulan orang di dekat mereka. Mereka terhalang sebuah tembok dan beberapa tanaman bunga dalam pot besar.


Daniel mereguk minuman beralkohol yang ada di ditangannya, lalu dengan lantang ia menatap Clarissa.


"Kamu terlalu percaya diri Clarissa, kamu harusnya banyak-banyak berkaca." ujarnya lalu mendekat ke arah gadis itu.


"Beberapa bulan yang lalu, saat kita berdua di dalam kamar hotel. Yang fotonya masih kamu simpan sampai sekarang dan kamu klaim sebagai foto baru. Saat itu aku udah mau serius sama kamu, aku udah mulai belajar mencintai kamu. Tapi apa balasan kamu?. Kamu mengkhianati aku, kamu bergabung ke agency yang menyalurkan kamu untuk bertemu sugar daddy. Saat kamu liat aku malam itu di sana, kamu bersikap seolah tidak mengenal aku. Asal kamu tau, aku sakit saat itu."


"Kamu mencintai aku?" tanya Clarissa sambil menatap Daniel.


"Ya, saat itu." ujar Daniel.


"Aku janji akan memperbaiki semuanya, kita bisa mulai dari awal lagi."


"Kamu sudah mencemarkan nama baik aku, Clarissa." ujar Daniel dengan nada kecewa.


Seketika hati Clarissa pun menjadi terusik. Ia telah menyakiti pria yang masih mencintainya.


"Aku bisa menyelesaikan masalah itu, aku berani bilang ke semua orang kalau itu bohong. Itu cuma trik, agar kamu mau menceraikan istri kamu dan kembali ke aku."


Daniel tersenyum, lalu mereguk habis minuman beralkohol yang ada di tangannya. Kemudian pria itu tertawa, bahkan makin lama makin terbahak-bahak. Hingga mengundang perhatian sekitar.


Clarissa kini merasa aneh, sedang Daniel berlalu meninggalkan gadis itu. Tak lama Ellio datang dan menghampirinya, mereka duduk satu meja dengan si empunya acara. Kemudian mereka berbincang dan Daniel kembali tertawa-tawa.


Clarissa belum beranjak dari tempat dimana ia tadi berdiri. Ia masih bingung atas sikap Daniel barusan. Namun kebingungan tersebut akhirnya terjawab, tatkala semua orang mendengar sebuah suara.


"Kamu terlalu percaya diri Clarissa, kamu harusnya banyak-banyak berkaca."


Clarissa terkejut, begitupula dengan yang lainnya. Itu adalah suara saat tadi dimana ia berbicara dengan Daniel.


"Beberapa bulan yang lalu, saat kita berdua di dalam kamar hotel. Yang fotonya masih kamu simpan sampai sekarang dan kamu klaim sebagai foto baru. Saat itu aku udah mau serius sama kamu, aku udah mulai belajar mencintai kamu. Tapi apa balasan kamu?. Kamu mengkhianati aku, kamu bergabung ke agency yang menyalurkan kamu untuk bertemu sugar daddy. Saat kamu liat aku malam itu di sana, kamu bersikap seolah tidak mengenal aku. Asal kamu tau, aku sakit saat itu."

__ADS_1


Jantung Clarissa seakan berhenti, apalagi rekaman itu merecord segala yang ia ucapkan. Termasuk soal kebohongannya yang memfitnah Daniel.


Seluruh pasang mata kini menghujat ke arahnya. Ellio merekam suasana dan juga suara itu, lalu mengirimkannya di grup WhatsApp kantor Daniel.


__ADS_2