Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Daniel Over Protektif


__ADS_3

Reynald melangkah ke arah meja makan untuk mendapatkan sarapan pagi. Ini bertepatan dengan saat Daniel, Richard, dan Ellio yang telah berangkat ke kantor masing-masing.


Reynald memang agak sedikit kesiangan hari ini. Tetapi itu tak masalah, sebab kantornya tak begitu jauh dari rumah.


Ia meraih gelas lalu membuat kopi. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit pada bekas luka tusuk di bagian perutnya. Rasa sakit itu benar-benar menyiksa, hingga membuat ia mengeluarkan keringat dingin.


"Huh."


Reynald menahannya dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba bersikap tenang dan mengafirmasi diri jika semua ini baik-baik saja.


Namun rasa sakit itu semakin bertambah hingga menyebabkan ia terjatuh ke lantai. Sekuriti yang baru saja selesai memeriksa area sekitar rumah, tanpa sengaja melihat Reynald yang tergeletak di lantai dari kaca samping.


"Pak Rey?" ujar sekuriti tersebut seraya memastikan.


Segera saja ia masuk dan menolong Reynald. Awalnya ia kira Reynald pingsan, namun ternyata tidak. Ia membantu pria itu untuk kemudian duduk di atas sofa ruang tengah.


"Bapak kenapa pak?. Perlu ke rumah sakit." tanya security itu kemudian. Reynald meletakkan jari di bibirnya sendiri.


"Jangan sampai Arsen tau pak." ujarnya kemudian. Tanpa Reynald sadari Arsen yang baru turun mendengar percakapan tersebut.


"Tapi apa bapak nggak apa-apa, nggak perlu ke rumah sakit?" Sekuriti itu memastikan lagi.


"Saya nggak apa-apa. Mungkin ini karena saya berkelahi kemarin." ucap Reynald.


Hati Arsen mendadak hancur. Namun ia menahan diri untuk berpura-pura tidak tahu menahu mengenai itu semua. Meski rasa khawatirnya terhadap Reynald begitu besar, namun ia menghargai perasaan ayahnya itu.


Reynald hanya takut Arsen membuatnya berhenti untuk melindungi anak itu. Ia takut Arsen merasa makin bersalah dan akhirnya tak mau lagi tinggal bersama sang ayah ataupun menyusahkan dirinya.


Sedang Reynald akan melakukan apa saja untuk puteranya tersebut. Ia akan terus melindungi Arsen selama nafasnya masih berhembus. Reynald memejamkan matanya sejenak.


"Bapak kalau butuh bantuan saya, nanti panggil saya saja pak." ucap sekuriti itu lagi.


Reynald mengangguk dengan mata uang masih terpejam. Sekuriti itu berlalu, Arsen kini mendekat ke arahnya dengan berusaha bersikap biasa saja.


"Pa."


Reynald kaget dan membuka mata.


"Hei."


Reynald berusaha keras untuk tersenyum. Ia masih menahan sakit saat ini, meski tidak separah tadi.


"Papa nggak kerja?" tanya Arsen masih berpura-pura tidak tahu.


"Mungkin nanti, papa masih ngantuk." Reynald beralasan.


"Ya udah, papa tidur lagi aja dulu." ucapnya kemudian. Lagi-lagi Reynald berusaha tersenyum.


"Ini papa mau tidur lagi dulu. Nanti bangunin papa sepuluh menit lagi ya."


Arsen mengangguk dan membiarkan ayahnya itu beristirahat untuk sejenak, walau dalam hatinya begitu berantakan.


***


"Le, Darriel mana?"

__ADS_1


Daniel tiba-tiba video call Lea, beberapa saat setelah ia tiba di kantor. Sebuah hal yang sangat jarang sekali dilakukan oleh pria itu.


"Ada tidur." jawab Lea.


"Mana, aku mau liat." ujarnya lagi.


Lea menahan senyum, ini adalah efek kesalahan yang dilakukan Daniel kemarin. Terlihat jelas jika pria itu kini menjadi sangat khawatir, dan terkesan over protektif terhadap anak mereka.


"Nih."


Lea menunjukkan Darriel yang tengah tertidur di dalam box. Daniel tampak menarik nafas lega dan memperhatikan Darriel dalam-dalam.


"Syukur deh kalau dia baik-baik aja." ujarnya kemudian.


Lea masih menahan tawa. Namun ia pura-pura tidak menyadari kekhawatiran dalam diri suaminya tersebut. Ia membiarkan saja setiap perubahan perilaku Daniel, terhadap ia dan anak mereka.


Memang hal tersebut tak baik bagi kesehatan Daniel. Ia bisa saja menjadi paranoid atau mengalami gangguan kecemasan. Jika terus-menerus khawatir berlebihan terhadap Darriel.


Namun kali ini Lea hendak menikmati dulu suasana di perhatikan dan di protektif oleh suaminya tersebut.


"Nanti kalau kemana-mana, dipastikan dulu dia aman Le." ujar Daniel lagi.


"Iya mas, tenang aja." jawab Lea.


"Aku juga nggak kemana-mana koq hari ini." lanjutnya kemudian."


"Oke, ya udah aku lanjutin kerjaan dulu ya."


"Iya mas, selamat bekerja."


"Bye papa Dan."


Daniel lalu menyudahi telpon tersebut, sementara kini Lea cekikikan.


***


Marvin melangkah memasuki rumah orang tuanya. Sebab ada beberapa hal yang mesti ia ambil dari tempat itu. Terutama baju dan beberapa barang.


Diketahui ia selalu menginap entah itu sebulan sekali atau sebulan dua kali di rumah orang tuanya tersebut. Dan setiap kali kesana, ia selalu membawa pakaian.


Kadang pakaiannya itu sengaja ia tinggal. Namun kadang tiba-tiba ia ingin memakainya kembali, kemudian ia akan datang untuk mengambil seperti hari ini.


"Hei."


Ayah Marvin muncul dan menyapa sang putera. Marvin yang sejatinya manja tersebut langsung mendekat dan memeluk sang ayah.


"Papa nggak kerja?" tanya nya kemudian.


"Hari ini nggak, ada kunjungan ke acara lelang sama mama kamu."


"Mama mana?" tanya Marvin seraya memperhatikan sekitar.


Sang ayah pun menoleh, tampak ibunya yang masih segar itu berjalan dengan anggun dan cantik. Mengenakan sebuah long dress dari desainer ternama.


"Hai mam."

__ADS_1


Marvin mencium pipi ibunya tersebut.


"Kamu kemana aja, nggak kesini-kesini?" tanya sang ibu.


"Ada, sibuk." jawab Marvin sambil tersenyum.


"Oh iya, kamu udah tau kalau Helen pulang?" ibunya bertanya.


"Helen?"


"Iya." jawab ibunya lagi.


"Belum, bisa inget pulang juga itu anak." selorohnya kemudian.


Ayah dan ibu Marvin tertawa.


"Kamu hubungi lah dia, nanti kalau ada waktu kita ajak makan malam sama keluarganya." ucap sang ayah."


"Oke." jawab Marvin.


"Oh ya ma, pa. Marvin..."


Pemuda itu menatap ke arah ayah dan ibunya. Sementara ayah dan ibunya kini menunggu kelanjutan.


"Marvin sudah punya pacar."


"Oh ya?"


Kedua orang tuanya terkejut, dan berusaha untuk terlihat gembira.


"Orang mana, anak siapa?" tanya ibunya lagi.


Sejatinya tak mengapa jika Marvin tak ingin dijodohkan dengan Helen. Tapi paling tidak wanita itu harus setara atau lebih dari Helen. Minimal dari segi pendidikan dan status sosial.


"Boleh nanti Marvin ajak kesini kapan-kapan?"


"Boleh." ujar sang ayah.


"Kita harus mengenal dulu siapa dia. Iya kan ma?" Sang ayah bertanya kepada ibu Marvin.


"Iya, kami perlu mengenal dia lebih jauh. Supaya kami juga bisa memiliki hubungan yang baik dengan dia kedepannya." timpal sang ibu.


"Makasih ya ma, pa."


Kedua orang tuanya itu pun mengangguk. Meski dalam hati mereka kini seperti berkecamuk.


"Ya sudah papa sama mama mau jalan dulu." sang ayah kembali berujar.


"Hati-hati dijalan ya pa, ma. Marvin memeluk keduanya.


"Kamu nggak usah buru-buru pulang. Makan dulu aja sana." tukas sang ibu kemudian.


"Iya ma." jawab Marvin.


Maka mereka pun kemudian berpisah. Ayah dan ibu Marvin berangkat, sedang Marvin masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2