Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kangen


__ADS_3

"Ma, om Richard nggak kesini?"


Arkana menanyakan Richard secara tiba-tiba. Membuat Nadya tersentak sekaligus menoleh pada anaknya itu.


"Om mungkin lagi sibuk, nak." jawabnya kemudian.


"Arka kangen sama om Richard." tukas anak itu lagi. Seumur-umur bahkan ia belum pernah mengatakan hal tersebut untuk Hanif.


"Coba papa Arka itu om Richard, pasti Arka senang banget jadi anaknya dia."


Nadya makin terkejut. Ingin rasanya ia mengingatkan Arkana, untuk tidak membenci Hanif secara berlebihan. Sebab biar bagaimanapun juga Hanif adalah ayah kandungnya.


Namun demi melihat kebahagiaan di mata sang anak, saat ia membicarakan Richard. Nadya pun jadi enggan mengatakan itu semua. Ia tak ingin menodai kebahagiaan anaknya.


"Nad."


Tiba-tiba Richard mengirim pesan singkat padanya.


"Arkana apa kabar?. Aku kangen sama dia. Maaf belum bisa kesana lagi, karena masih sibuk."


Nadya membaca lanjutan pesan tersebut, dan membuatnya ingin menitikkan air mata saat itu juga. Pernyataan bahwa perasaan kita itu terhubung memang benar adanya.


Arkana merindukan Richard, karena Richard juga merindukannya. Sedang ia tak merindukan Hanif, dan mungkin juga Hanif sebaliknya. Pria itu tak merindukan Arkana sama sekali. Sehingga tak ada koneksi diantara keduanya.


"Arka baik-baik aja, pak." jawab Nadya.


"Sebenarnya dia sudah boleh pulang, oleh dokter. Tapi saya pikir lebih baik dia istirahat lebih banyak disini. Dan lagi masalah di sekolahnya belum selesai 100%." lanjutnya kemudian.


"Masalah di sekolah sudah aku urus, Nad. Aku sudah ketemu dengan orang tua para siswa yang membully Arka. Mereka memastikan bahwa anak mereka akan meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatan mereka."


Nadya benar-benar merasa di berkati kali ini. Entah dari mana Richard berasal, mengapa ia begitu baik pada dirinya dan juga Arkana.


Mungkinkah Tuhan sengaja mengirim Richard untuk memenuhi hal yang selama ini tak lengkap dalam dirinya dan juga sang anak.


Nadya tak pernah punya pengalaman yang banyak dengan orang lain, terutama lawan jenis. Keluarganya yang ketat, melarang ia bahkan untuk bergaul dengan teman laki-laki.


Begitu mengenal laki-laki, ia langsung dihadapkan pada sosok brengsek seperti Hanif. Padahal ia adalah perempuan baik-baik. Kadang ia sendiri tak habis pikir, mengapa ia berjodoh dengan laki-laki bejat. Bukankah perempuan baik untuk laki-laki yang baik dan begitu pula sebaliknya.


Namun ia percaya takdir dan ujian dari yang maha kuasa. Bisa jadi Hanif adalah ujian untuknya. Sehingga ia diberikan kehidupan yang seperti ini.


Dan di setiap penghujung ujian akan selalu ada hadiah yang istimewa. Sepertinya Richard adalah hadiah istimewa tersebut. Namun lagi-lagi ikatan pernikahan membuat Nadya agak merasa takut. Ia hanya berharap akan menemukan jalan yang terbaik.


"Makasih banyak pak, sudah rela repot-repot mengurusi masalah ini. Saya nggak tau bagaimana membalas kebaikan bapak." ucap Nadya lagi.


"Nggak perlu di balas, Nad. Aku juga melakukan hal ini karena memang niat mau membantu koq. Lagipula kasus bullying itu adalah masalah yang harus diperangi bersama. Terutama oleh para orang tua dan siswa itu sendiri. Ini masalah semua orang." tukas Richard.


"Iya pak, sekali lagi terima kasih banyak. Arka juga menanyakan bapak, katanya kangen dengan om Richard."


Richard tersenyum.


"Nanti kalau misalkan udah nggak sibuk, aku pasti kesana." tukas pria itu.


"Iya pak."


Nadya membalas dengan senyum yang tanpa sadar terkembang di bibir.


***

__ADS_1


Sore hari di penthouse.


"Delil, oh Delil."


"Ikan lele-nya mama."


Lea menggendong Darriel dan bergerak kesana kemari sambil menimang-nimang anak itu. Darriel sendiri sudah berkerut keningnya demi mendengar kata ikan lele. Sebab kata itu masih tergolong kata yang buruk dalam pendengarannya.


"Di goreng, di geprek, lelenya di bejek-bejek mendalam cobek." ujar Lea lagi.


Darriel bingung, antara ingin tertawa namun juga ingin menangis.


"Delil anak ikan lele."


"Hekheee."


Ia mulai menangis.


"Di geprek."


"Oeeeeeek."


Akhirnya tangis itu mulai kencang. Lea tertawa-tawa, sedang Daniel yang baru selesai mandi dan berpakaian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lama-lama Darriel nanti minggat dan ngekost sendiri gara-gara kamu, Le." Pria itu berseloroh.


Lea makin tertawa-tawa, sementara Darriel masih menangis. Daniel lalu mengambil anak itu dari tangan sang istri, sebelum mentalnya rusak lebih lanjut.


"Darriel anak papa ya sayang. Anak kesayangan papa." ujarnya.


Darriel mendadak diam, lalu menatap Daniel dan seolah-olah ia berbicara.


"Mama nakal ya?" tanya Daniel.


Lea masih tertawa, kini perempuan muda itu makan rujak yang ada di meja makan. Kebetulan tadi ia mengorder via laman ojek online.


"Abisnya Delil terlalu gemesin, makanya mama suka gangguin Delil." ujar Lea.


"Hekheee." Darriel kembali hendak menangis.


"Oh nggak, sayang. Ada papa disini." ujar Daniel.


"Papa akan melindungi Darriel dari mama. Oke?"


"Heheee." Darriel tertawa.


"When you're down and troubled


And you need some lovin' care


And nothin', nothin' is goin' right


Close your eyes and think of me


And soon I will be there


To brighten up even your darkest night."

__ADS_1


Daniel menimang Darriel sambil menyanyikan lagu bertajuk "You've got a friend." dari Carole King.


Darriel diam menatap ayahnya itu. Kemudian ia tersenyum sambil berurai air mata. Seolah merasakan setiap emosi dari bait lagu tersebut.


"Le, terharu Le."


Daniel berbicara pada Lea sambil memperlihatkan Darriel. Lea pun lalu mendekat dan menyaksikan ekspresi dari anaknya tersebut.


"Halus banget hatinya, kayak kamu mas." ucap Lea.


"Nggak kayak emaknya, geradakan. Terus banyak polisi tidurnya." lanjut perempuan itu.


Daniel jadi terbahak demi mendengar semua itu. Kemudian ia mengganti lagu lain, yakni soundtrack dari Toys Story.


"You've got a friend in me


You've got a friend in me


When the road looks rough ahead


And you're miles and miles


From your nice warm bed


You just remember what your old pal said


Boy, you've got a friend in me


Yeah, you've got a friend in me."


"Heheee."


Darriel tertawa. Daniel dan Lea lalu sama-sama mencium pipi Darriel. Ia tersenyum pada Daniel, namun melirik sinis pada Lea.


"Lah, masih dendam." ujar Lea lagi.


Ia dan Daniel pun jadi tertawa-tawa.


"Punya anak itu rasanya campur-campur. Kadang capek, senang, sedih. Tapi yang pasti banyak senangnya. Love you Darriel."


Daniel mengambil foto Darriel yang terlelap dalam dekapannya. Ia kemudian memposting foto tersebut di lama insta story. Ia menempel stiker di wajah anaknya itu agar tak kelihatan. Kemudian ia menambahkan caption tersebut.


"Eh lihat deh story' nya Daniel.


Susi yang entah mengapa hari itu kepo pada Instagram Daniel menemukan insta story tersebut, dan mengirimkannya pada Shela.


"Iya, udah lihat gue. Palingan juga itu postingannya si Lea." balas Shela.


"Nggak mungkin banget cowok mau bikin insta story' model begitu." lanjutnya kemudian.


"Wkwkwkwk, halu si Lea. Pengen lakinya begitu. Gue yakin pasti sosmed lakinya, dia paksa minta password." Lagi-lagi Susi sok tau.


"Bener beb, pengalaman aja ya. Rata-rata mantan cowok gue mana mau bikin insta story' gitu. Sampe pake caption segitu puitisnya. Si Lea pengen dibilang keluarga harmonis tuh."


Shela terus saja dengan segala persepsinya. Tanpa ia ketahui bahwa pengalamannya dengan mantan-mantan kekasih, bisa jadi tak dialami orang lain.


Ia pernah memiliki kekasih yang cuek dan tak suka membuat insta story'. Tapi bukan berarti kejadian yang sama akan menimpa orang lain.

__ADS_1


Ia tak paham jika keberuntungan masing-masing orang itu berbeda dan tak semua orang bisa di pukul rata.


__ADS_2